Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Malam semakin larut. Hujan rintik mulai turun membasahi arena latihan tembak yang sudah sepi.
Evelyn yang baru selesai berlatih duduk di bangku panjang sambil meneguk air putih dari botolnya.
"Evelyn!" seru Kapten Wong yang berjalan mendekat.
Evelyn menoleh dan tersenyum tipis. "Paman, kenapa belum pulang?"
Kapten Wong duduk di sampingnya lalu berkata, "Kau bisa menolak kerja sama itu kalau belum siap. Tidak perlu selalu mematuhi perintah."
Evelyn menggeleng pelan. "Sejak bergabung dengan departemen kepolisian, aku sudah siap mati kapan saja. Selama lima tahun ini aku bisa bertahan karena dukungan paman dan Wesley. Pembunuh bayaran saja tidak pernah membuatku takut. Jadi kenapa aku harus takut menghadapi masa lalu?"
Kapten Wong menghela napas. "Tapi ini berbeda. Dia bukan pembunuh yang bisa kau hajar lalu selesai. Dia seorang jaksa yang dibutuhkan pihak kepolisian. Ke depannya kalian akan sering bertemu, sering bekerja sama, bahkan harus kompak saat menangani kasus."
"Paman, aku sudah siap untuk semuanya. Dia hanyalah mantan tunangan yang tidak bertanggung jawab. Karena ini tugas, aku akan bersikap profesional. Sebagai rekan kerja aku akan menghormatinya. Tapi sebagai korban, aku sangat membencinya," jawab Evelyn tenang.
Kapten Wong terdiam beberapa saat sebelum berkata pelan, "Evelyn, maaf. Paman tidak bisa membantumu dalam hal ini."
Evelyn tersenyum kecil. "Jangan minta maaf. Paman tidak bersalah. Justru aku yang harus berterima kasih. Tanpamu aku tidak akan bisa bangkit dan menjadi seorang detektif."
Kapten Wong menatapnya dengan mata penuh kebanggaan. "Paman hanya berharap kau bahagia dan tetap menjadi detektif hebat yang selalu membuat paman bangga."
"Paman juga," jawab Evelyn sambil mengangkat botol minumnya.
Kapten Wong tertawa kecil lalu mengangkat botolnya juga.
Tok.
Kedua botol itu saling bersentuhan ringan.
Keesokan paginya.
Departemen Kepolisian tampak sibuk seperti biasa.
Di ruang rapat Tim A, Kapten Wong bersama para anggota tim sudah berkumpul setelah menerima pemberitahuan dari Komandan Chen.
Tak lama kemudian, pintu ruang rapat terbuka.
Komandan Chen masuk bersama seorang pria berjas hitam.
Langkah pria itu tenang dan tegas.
Wajah tampannya terlihat dingin, sementara tatapan tajamnya membuat ruangan yang semula ramai langsung menjadi sunyi.
"Komandan Chen."
Semua anggota tim berdiri.
Komandan Chen mengangguk pelan. "Duduk."
Setelah semua kembali ke tempat masing-masing, ia melirik pria di sampingnya.
"Perkenalkan, ini Jaksa Damien Lu. Mulai hari ini beliau akan bekerja sama dengan Tim A dalam menangani kasus pembunuhan berantai."
Beberapa detektif langsung memperhatikan Damien dengan penasaran.
Meskipun sudah mendengar namanya, ini adalah pertama kalinya sebagian dari mereka bertemu langsung dengannya.
Komandan Chen melanjutkan, "Jaksa Lu memiliki pengalaman menangani berbagai kasus besar di luar negeri. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik."
Damien mengangguk singkat. "Senang bekerja sama dengan kalian."
Kapten Wong berdiri dan mengulurkan tangan.
"Sudah lama tidak bertemu, Jaksa Lu."
Damien menjabat tangannya. "Sudah lama, Kapten Wong."
Komandan Chen yang menyadarinya segera mengalihkan pembicaraan.
"Kapten Wong, perkenalkan anggota timmu."
Kapten Wong mengangguk.
"Ini Andy Liu , spesialis analisis data."
Pria berkacamata itu langsung berdiri. "Senang bertemu dengan Anda, Jaksa Lu."
"Ini A Fei, ahli forensik lapangan."
"Senang bekerja sama."
"Dan itu Joy Lin, spesialis pelacakan elektronik."
"Ini Wesley."
Wesley berdiri dari kursinya.
"Detektif utama Tim A."
Tatapan Damien dan Wesley bertemu untuk pertama kalinya.
Wesley mengulurkan tangannya lebih dulu.
"Jaksa Lu."
Satu per satu anggota Tim A memperkenalkan diri.
Damien mendengarkan dengan tenang sambil mengingat nama dan posisi mereka.
Namun setelah beberapa saat, pandangannya menyapu ruangan.
Alisnya sedikit berkerut.
Satu orang belum ada di sana.
Kapten Wong menyadari arah tatapannya.
"Evelyn belum datang?" tanya Komandan Chen.
"Dia sedang memeriksa lokasi penemuan korban terbaru pagi ini," jawab Kapten Wong.
"Seharusnya sebentar lagi sampai."
Komandan Chen mengangguk setelah mendengar penjelasan Kapten Wong.
"Kalau begitu kita mulai rapatnya. Evelyn bisa menyusul nanti."
Semua orang kembali fokus pada kasus.
Kapten Wong berdiri di depan layar proyektor dan menampilkan foto-foto korban.
"Seperti yang kalian ketahui, kasus ini sudah berlangsung selama lima tahun. Hingga saat ini terdapat enam belas korban dan kita masih belum menemukan pelaku utamanya."
Damien membuka berkas di depannya sambil mendengarkan.
"Seluruh korban ditemukan dengan pola kematian yang hampir sama," lanjut Kapten Wong.
Wesley ikut menambahkan, "Pelaku sangat berhati-hati. Tidak ada sidik jari, tidak ada DNA, bahkan rekaman CCTV yang bisa mengidentifikasi wajahnya."
Damien membalik beberapa halaman laporan.
"Bagaimana dengan hubungan antar korban?"
"Sampai sekarang belum ditemukan hubungan yang jelas," jawab Andy Liu.
Damien mengangguk pelan.
Ruangan kembali fokus membahas berbagai kemungkinan.
Saat itulah..
Tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk," ucap Kapten Wong.
Pintu ruang rapat terbuka.
Seorang wanita masuk sambil membawa map dan tas selempang hitam.
Rambut panjangnya diikat sederhana.
Ia mengenakan kaos hitam, celana panjang gelap, dan jaket tebal berwarna abu-abu yang masih sedikit basah oleh hujan pagi.
Jelas terlihat bahwa ia baru kembali dari lapangan dan belum sempat mengganti pakaian.
"Evelyn, akhirnya kau datang," kata Kapten Wong.
"Maaf terlambat. Aku baru kembali dari lokasi korban terakhir," jawab Evelyn sambil berjalan masuk.
Namun saat matanya menyapu ruangan—
Langkahnya berhenti sesaat.
Di kursi dekat Kapten Wong duduk seorang pria berjas hitam.
Pria yang tidak pernah ia temui selama lima tahun terakhir.
Damien Lu.
Damien juga menatap lurus ke arahnya.
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun...
Mereka kembali bertemu.