Ini season ke 2 dari novel Putra Sang Letnan Kolonel. Dengan Genre Yang berbeda kisah Triple Z (Zayda, Zayden, dan Zafran)
Tawa Semua siswa seketika mencekam, sesaat serangan brutal terjadi di tempat itu.
Panik, Takut semua menjadi satu dalam kericuhan. Hanya dalam hitungan jam puluhan siswa dan guru mati di tempat.
Semua siswa mencari ruangan aman untuk berlindung, tetapi tidak ada satupun ruangan yang bisa menjamin.
Kecuali satu area rooftop. Namun, apakah mereka bisa naik ke atas?
Adakah para siswa ada yang selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
"Kemana mereka? Kenapa tidak kembali."
Mereka yang masih berada di ruang guru sangat frustasi, tidak ada kabar dari Zayden dan Farhan juga suara ledakan yang terdengar membuat mereka bingung harus melakukan apa. Bertahan di dalam sana pun mereka takut jika sewaktu-waktu ledakan itu terjadi di ruangan guru.
Dua jam lamanya berdiam diri tanpa ada kegiatan, cahaya, dan makanan. Selama dua jam itu biasa mereka lakukan dengan menilai tugas siswa, duduk sambil mengetik di depan layar komputer, bercanda dan menikmati secangkir kopi, teh atau susu. Bahkan di jam 10 ini biasanya mereka mulai berbondong menuju kantin untuk melakukan makan siang bersama.
Tapi hari ini, semua tidak berguna.
Mereka sudah lemah. Raya menatap semua temannya yang meringkuk di bawah meja, tatapannya teralihkan pada seorang wanita tua tengah menangis diujung sudut ruangan, wajah keriputnya begitu takut, dan matanya menahan kerinduan akan pulang ke rumahnya. Wanita itu pasti menyesal dan jika tahu ini akan terjadi maka dia tidak akan ke sekolah.
"Apa kita keluar saja?" Usulan dari salah satu guru mengejutkan semuanya. Hampir semua menoleh pada dirinya.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak yakin mereka akan kembali. Apa mereka masih hidup atau mati kita tidak tahu, tapi berdiam di sini tidak akan menjamin keselamatan kita."
Mereka mulai mempertimbangkan perkataan Marwan. Saling berbisik dan bernegosiasi sebagian dari mereka setuju dengan usul Marwan.
"Betul, kita harus keluar dari sini."
"Iya, benar. Aku juga ingin pergi."
"Jika kita berada di sini maka kita semua akan mati."
"Tunggu dulu pak, Bu. Kita tidak boleh pergi dulu sebelum Zayden dan Pak Farhan kembali." Raya menghentikan aksi mereka yang hendak meninggalkan ruangan.
"Bu Raya, apa jaminannya? Bagaimana jika mereka tidak kembali kesini?"
"Sudahlah, biarkan saja dia. Lebih baik kita keluar dari sini."
Keadaan mulai menegang, tidak saling mengerti dan saling menyalahkan.
"Kalian tahu di luar seperti apa? Mereka bersenjata, bisa saja kalian tewas!" Raya masih terus membujuk.
Namun mereka tidak ada ketakutannya sama sekali, sebenarnya bukan mereka tapi Marwan yang bersikeras ingin pergi keluar membawa teman-temannya padahal di luar lebih berbahaya.
"Bu Raya, kamu dengar suara tadi? Kalian juga dengarkan, tembakan berasal dari atas itu artinya mereka ada di sana dan kita aman untuk pergi dari sini. Kita hanya melewati satu lorong lalu belok ke kiri dan lari menuju gerbang. Tapi jika kita di sini ... Sampai kapan? Sampai ajal datang?"
"Tapi ...."
"Dan satu hal lagi." Marwan memotong pembicaraan Raya. Sambil menjunjung jarinya ia menatap tajam Raya di depannya. "Apa Zayden benar-benar akan menyelamatkan kita?" tanyanya pada Raya.
Marwan lantas berbalik ke arah yang lain lalu berkata, "Kalian semua tahu Zayden adalah anak seorang perwira yang sudah pasti musuhnya dimana-mana. Dia berperang kesana kemari dan bisa saja kejadian di sekolah ini karena ulahnya. Musuh yang dendam padanya tapi kita yang menjadi korban. Kita yang tidak tahu apa-apa harus meregang nyawa, dan jika nanti dia yang mengalahkan musuh maka yang mendapat penghargaan juga pujian adalah dirinya, terus... Apa dia akan merasa bersalah atas korban-korban yang sudah meninggal? Tidak, kan?"
"Pak Marwan!" sentak Bu Raya. "Jangan menghasut mereka semua, coba kalian pikir apa ucapan pak Marwan itu membenarkan? Selama ini kita mengenal keluarga Zayden itu keluarga yang sangat baik, bahkan ibunya ... dia membuka rumah sakit untuk para siswa juga guru LAC School, kita bebas berobat tanpa memikirkan biaya. Jangan sampai karena masalah ini kita terpecah belah, dan memfitnah orang lain."
Mereka mulai bimbang antara memikirkan perkataan Raya atau Marwan. Dalam situasi saat ini bukan itu mereka pikirkan tetapi keselamatan. Mereka hanya ingin keluar dari tempat itu dengan selamat, tapi pak Marwan malah membuat dialog yang tidak dimengerti dan menambah drama saja.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Kalian tinggal pilih ikut aku atau tetap di sini dengan dia!" Tunjuk Marwan pada Raya.
"Aku mohon pada kalian untuk tetap di sini. Sejauh ini kita masih selamat berada di sini."
"Maaf Bu Raya, tapi aku ingin pulang, aku ingin bertemu keluargaku aku tidak mau mati di sini," ujar seorang guru wanita, yang terlihat begitu tak berdaya. Keputusan itu diambilnya.
"Aku juga minta maaf, semoga kamu tetap selamat. Aku ingin keluar dari tempat ini," ujar guru yang lain.
Sebagian dari mereka ada yang mengikuti pak Marwan ada yang masih tetap tinggal. Sedikitnya lima guru yang keluar dan lima guru yang masih tinggal bersama Raya. Raya tidak bisa menahan keinginan mereka, ia bingung apa yang harus dia katakan kepada Zayden nanti, Raya pun tidak bisa meyakinkan keselamatan untuk mereka semua.
"Tutup dan kunci pintunya," ujar seorang wanita tua kepada pria muda untuk segera mengunci pintu. Mereka takut jika ada teroris yang masuk.
"Bu Raya, apa yang harus kita lakukan?" tanya wanita itu.
Raya menunduk sedih lantas menyuruh mereka semua duduk. "Untuk saat ini kita hanya menunggu dan berdoa untuk keselamatan kita."
Mereka semua diam. Tidak ada tanggapan, kecuali merenung.
"Tapi aku percaya jika Zayden dan Pak Farhan akan datang," ucap Raya yang diangguki guru lain.
"Iya, Bu. Walaupun kita keluar kita tidak tahu apa yang terjadi di luar," seru Bu Mira. "Jujur, ini untuk pertama kali bagi saya," sambungnya dengan tangan gemetar juga Isak tangisan.
"Saya tidak pernah berada di situasi ini, apalagi tinggal di tempat yang memang sangat rawan yang sering terjadi peperangan. Ledakan bom, suara tembakan saya hanya melihat dari televisi tapi sekarang ... Itu nyata terjadi yang aku alami." Bu Mira menangis tersedu-sedu.
"Aku tahu, kita semua ketakutan saat ini. Tapi alangkah lebih baik kita diam daripada melakukan hal ... Yang belum tentu menguntungkan. Aku percaya Zayden, dia tidak kenal takut pada apapun suara seperti tadi, dan suasana sekarang yang kita alami, Zayden lebih sering mengalaminya. Dari kecil dia tumbuh dilingkungan yang sangat menakutkan, jadi menurutku Zayden tidak akan pergi tanpa memberitahu kita. Dia pasti kembali hanya saya dia harus mencari adiknya." Raya menghela nafas panjang setelah mengatakan semua itu.
Sementara di luar sana, kelima guru berhasil melewati lorong pertama, mereka mengendap dengan penuh hati-hati melewati lorong gelap itu menuju pintu gerbang utama. Merasa situasi aman Pak Marwan berlari lebih dulu tanpa memikirkan guru yang lain. Pria itu hanya ingin menyelamatkan dirinya bukan orang lain, tapi tanpa dia sadari seseorang sudah mengintainya.
"Mau kemana kalian?"
Deg
Jantung Marwan berhenti berdetak, bersamaan dengan langkah yang begitu semangat dan lebar kini membeku di tempat. Debar jantungnya naik turun, nafas tertahan seolah peluru emas sudah menusuk tepat di jantungnya.
Marwan hanya diam tidak berani bergerak sedikitpun karena senapan besar sudah menempel pada keningnya. Dan jika ia bergerak sudah pasti teroris itu akan menarik pelatuknya dan ... nyawanya pasti melayang.