NovelToon NovelToon
BEBAN PUNDAK AMANDA

BEBAN PUNDAK AMANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: pinnyaple

Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 12

Aku masih mendengar isak tangis ibu malam ini. Aku sudah menegurnya untuk tidur tapi ibu tetap menangis dan malah mengunci pintu kamarnya.

"Ibu sudah. Ibu juga harus istirahat." Aku berbicara di balik pintu.

Tak ada balasan. Hanya isak tangis yang terus terdengar.

Aku masuk ke kamar. Mengambil ponselku yang tergeletak di atas kasur.

Sudah hampir jam 11 malam ternyata.

Ada satu pesan di ponselku. Pesan 4 jam yang lalu. Dari mba Nia.

'Manda. Kamu kapan mulai kerja lagi? Mba keteteran.'

Aku bingung mau menjawab apa. Di satu sisi aku ingin kembali bekerja. Disisi lain aku khawatir meninggalkan ibu dalam keadaan seperti ini.

'Maaf ya mba. Sehari lagi ya mba aku libur. Ibu masih belum pulih banget.'

Tak ada balasan. Mungkin mba Nia sudah istirahat. Mengingat ini sudah hampir tengah malam.

Aku keluar lagi. Suara ibu sudah tidak terdengar lagi. Mungkin ibu ketiduran setelah menangis tadi.

"Aku juga harus istirahat."

Setelah mengisi air minum. Aku kembali masuk ke kamar. Semoga besok ada jalan tengahnya untuk masalah kali ini. Doaku sebelum tidur.

---

Ibu sedang berjemur di luar. Pagi ini cuaca cerah. Akupun sudah selesai menjemur pakaian di samping rumah.

"Ibu mau sarapan pakai apa?" Kulihat wajahnya kacau. Matanya sembab. Bibirnya pucat. Matanya memerah karena terlalu lama menangis.

"Nanti saja sarapannya, man." Jawab ibu lirih. Suaranya serak. Sehancur apa sekarang hidup ibu ya.

"Ibu harus tetep sarapan. Kan masih minum obat." Aku ikut duduk di samping ibu. Kulitku terkena sinar matahari pagi. Hangat. Setelah tadi aku kedinginan karena setelah mencuci pakaian.

Ibu menggeleng. "Ibu ga mau sarapan nasi."

Aku berpikir sejenak. "Kalau roti? Ibu mau?" Aku menatap ibu. "Seenggaknya ada makanan yang masuk sebelum ibu minum obat."

Ibu menghela nafas pelan. "Yaudah. Roti aja."

Aku hendak berdiri untuk mengambil uang. Tapi tanganku digenggam ibu. "Kenapa bu?"

"Apa ada chat dari Toni?" Tanya ibu lirih. Sepertinya ibu sudah enggan mengucapkan nama kak Toni. Terdengar lirih saat ibu mengucapkan nama itu.

"Belum ada bu. Nanti manda coba chat ya."

Ibu menggeleng keras. "Biarkan saja! Tidak usah kamu hubungi dia lagi."

Aku heran. "Kenapa emangnya bu?"

Ibu menatapku. "Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri."

Aku hendak membantah. "Tapi bu.. apa ga kasian?"

Ibu berdiri. Wajahnya memerah. "Lalu? Apa dia juga tidak kasian sama kita saat melakukan itu?"

"Tapi bu-"

"Sudah! Jangan membantah! Kamu ga perlu hubungi dia lagi."

Ibu pergi ke dalam. Aku? Tetap diam mematung. Aku terlalu bingung. Aku belum paham apa yang harus aku lakukan.

Setelah 2 menit terdiam, aku masuk ke dalam rumah. Ibu sedang berada di dapur. Sepertinya sedang membuat minum. Aku tak menghampiri ibu tapi ke kamar mengambil uang untuk membeli sarapan.

"Ibu aku pergi beli sarapan."

Tak ada jawaban. Tapi aku tetap berangkat ke warung. Aku membeli nasi dan ibu kubelikan roti.

"Manda. Kakakmu sudah lama ga keliatan. Apa dia sudah kerja?" Kata tetangga yang bertemu di jalan.

"Iya bu. Sudah kerja."

"Syukur lah kalau begitu. Jadi ga ngerepotin kamu terus."

"Semalem ibu denger suara ibu kamu. Pasti habis berantem lagi ya sama kakakmu." Kata tetangga yang satunya.

Aku hanya tersenyum. Tidak mau menimpali lagi. Takut jadi kemana-mana nantinya.

"Manda mau beli sarapan dulu ya bu. Mari." Aku meninggalkan dua orang ibu-ibu itu. Pasti kalau aku tetap disana mereka akan mencecarku dengan segala asumsi mereka.

Aku pulang setelah membeli semua yang aku cari. Mencari keberadaan ibu.

"Ibu. Yuk sarapan."

Ibu keluar dari kamar. Sudah mandi kelihatannya.

"Ibu makan roti aja ya, man."

Aku mengangguk. Lalu menyerahkan satu plastik roti pada ibu. "Ini bu."

Ibu mengambil bungkusan itu. "Manda. Menurut kamu apa ibu salah ya bicara seperti itu tadi malam sama Toni."

Aku diam. Memikirkan kata yang tepat untuk aku ucapkan. "Mungkin ibu terlalu kecewa sama kak Toni makanya bilang begitu. Tapi bu... Apa ga kasian sama kak Toni ngelaluin masalah ini sendirian?"

"Ibu ga tau..." Ibu diam beberapa detik. "Kamu coba hubungi kakakmu. Suruh dia kesini."

Aku mengangguk lalu segera ke kamar mengambil ponselku. Mengetikkan pesan pada pacar kak Toni jika kak Toni disuruh kesini oleh ibu sendiri.

Mau bagaimanapun kak Toni tetap anak ibu kan. Mau semarah apapun, sekecewa apapun hatinya tidak tega pada anaknya sendiri.

'Nanti sore kesitu kalau aku udah selesai kerjanya.'

Balasan itu kuberi tau pada ibu. Ibu tak merespon apapun.

"Apa ibu udah baikan?"

Ibu menatapku sebentar. "Sudah lebih baik. Kenapa manda?"

"Besok aku mulai kerja lagi ya, bu. Kasian katanya mba Nia keteteran sendirian jaga warungnya."

"Iya berangkat aja." Ibu mengambil air minumnya. "Kalau ada kerjaan yang gajinya lebih gede dari warung itu, mending kamu berhenti aja, man."

Aku berpikir sebentar. "Aku ga tau bu. Kalau berhenti di warung aku ga enak sama mba Nia. Dia sudah terlalu baik sama kita bu."

Ibu berdecak. "Tapi kita butuh pemasukan lebih manda." Ucap ibu gemas.

"Nanti manda pikirin lagi aja bu." Aku mengambil gelas ibu. "Ini udah kan bu? Biar manda taruh di belakang."

"Kebiasaan kamu kalau ibu lagi ngomong selalu cari cara buat pergi." Cibir ibu padaku.

Aku tak menghiraukan ibu. Aku tetap ke belakang. Benar kata ibu, aku menghindar. Bukan apa-apa, tapi aku terlalu tidak enak pada mba Nia kalau aku berhenti bekerja dengannya. Walaupun memang mba Nia pernah bilang kalau dia tidak apa-apa jika aku lebih memilih pekerjaan yang lain.

Ahh! Tapi tetap saja kan...

"Manda! Lama sekali di belakang."

Aku menyudahi lamunanku. "Kenapa bu?"

"Itu ada yang nelpon."

Aku mengambil ponselku. Benar ada panggilan tidak terjawab.

Kak Lita

Nama itu yang tertera. Pacar kak Toni. Aku langsung menekan tombol panggilan lagi.

Tut...tut...

"Halo." Panggilan sudah tersambung.

'Halo.'

Suara perempuan. Berarti bukan kak Toni yang menelepon.

"Ada apa kak?" Aku sudah menjauh dari ibu. Aku pergi ke kamar. Menutup pintunya.

'Tadi kakakmu bilang kalau dia mau ke rumah, iya?'

"Iya kak. Ibu mau bicara sama kak Toni."

Ada jeda beberapa detik. 'Apa boleh kalau aku ikut? Aku cuma mau kepastian saja.'

"Aku tidak tau kak." Aku bingung. "Mungkin nanti saja kakak ikut. Biar kita bicara dulu bertiga."

'Tapi..'

"Kakak tenang aja." Aku tau bagaimana takutnya kak Lita. "Pasti kak Toni bakal bertanggung jawab. Kita cuma butuh waktu bertiga buat ngobrol. Apalagi kak Toni udah lama kan pergi dari rumah."

Penelepon di seberang terdiam. 'Oke kalau gitu. Nanti kalau ada apa-apa tolong kabari terus ya.'

Aku tersenyum. Sepertinya kak Lita wanita yang baik. "Iya kak."

Aku berharap ibu memberikan keputusan yang terbaik. Aku juga tidak sabar bertemu dengan kak Lita. Seperti apa dia. Apa dia sosok wanita yang baik.

"Ibu. Kak Toni katanya nanti sore kesini." Aku menghampiri ibu yang duduk di ruang tamu. Sedang menonton tv.

"Kenapa sore?"

Aku duduk di samping ibu. "Nunggu selesai kerjanya."

Ibu menghadapku. "Kerja apa dia."

"Nanti ibu tanya saja sama kak Toni dia kerja apa." Aku tersenyum pada ibu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!