NovelToon NovelToon
THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: Husein. R

"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."

​Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.

​Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.

​"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."

​Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memutus Jaringan

Gue sama Hana langsung melesat turun lewat tangga darurat, mengabaikan lift yang bisa aja dijebak sama Sakti Langit. Motor matik cadangan yang gue bawa langsung gue gas pol menuju markas Serigala Putih. Angin jalanan Jakarta pagi ini bener-bener kerasa dingin, tapi otak gue jauh lebih panas.

"Han, pegangan yang kenceng!" teriak gue sambil nyalip truk kontainer.

Hana di belakang gue cuma diam, kedua tangannya masih siaga di dekat saku jaket—tempat sabit karambitnya disembunyikan. Matanya terus waspada nengok ke spion, mastiin nggak ada bayangan hitam atau robot V.E.N.O.M yang ngikutin kita dari belakang.

Setengah jam kemudian, kita sampai di depan ruko yang jadi markas samaran Serigala Putih. Begitu gue buka pintu depan, suasananya bener-bener berantakan. Bukan karena abis diserang fisik, tapi karena Leo lagi duduk di tengah ruangan dikelilingi belasan layar monitor yang lampunya kedap-kedip merah.

Leo lagi ngetik dengan kecepatan gila, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah banget kayak orang nggak tidur tiga hari.

"Leo! Berhenti ngetik!" teriak gue sambil nyamperin meja kerjanya.

Leo nggak nengok. Dia malah ketawa cekikikan yang kedengeran aneh banget. "Hahaha... Bosque... liat deh. Coding-an gue cantik banget. Ada kera pake jubah... ada elang terbang... mereka semua mau masuk ke sistem gue. Gue harus hapus... harus gue bersihin..."

Gue langsung liat ke arah leher belakang Leo. Bener dugaan gue. Di sana, tepat di bawah garis rambutnya, ada sebuah nano-chip kecil milik V.E.N.O.M yang nempel dan ngeluarin kedipan cahaya ungu redup. Alat itu lagi ngirim frekuensi hipnotis langsung ke saraf otaknya.

"Sialan, pantesan dia bilang kejadian Banten itu cuma halusinasi. Otaknya dipaksa buat ngapus memori itu secara sistematis!" desis gue.

Hana melangkah maju, tangannya udah siap mau nyabut paksa chip itu pake pisaunya.

"Jangan langsung dicabut, Han!" cegah gue. "Alat V.E.N.O.M punya sistem keamanan self-destruct. Kalau lu asal cabut, otak Leo bisa konslet atau bahkan meledak."

Gue megang pundak Leo yang badannya mulai kejang-kejang kecil. Gue pejamin mata, nyoba ngalirun energi naga perak murni lewat telapak tangan gue. Gue nggak pake jalur kekerasan, tapi gue gunain energi naga sebagai filter buat nyelimutin saraf Leo dari radiasi frekuensi gelap Sakti Langit.

"Leo... denger suara gue. Lu bukan robot, lu Serigala Putih!" kata gue, memusatkan fokus sampai keringat dingin netes dari dahi gue.

Di layar monitor, tulisan-tulisan error itu mulai berubah jadi gambar kobra V.E.N.O.M yang lagi mendesis. Di saat yang sama, dari arah pintu ruko yang tertutup, terdengar suara ketukan pelan yang ritmis.

TOK... TOK... TOK...

"Arka," Hana berbisik rendah, badannya langsung merendah, siap menerkam. "Sinyal di HP gue mati total. Pemancar utamanya udah mendekat ke ruko ini."

Gue tahu itu siapa. Sakti Langit nggak mau nunggu lama-lama sampai gue berhasil nyembuhin Leo. Dia dateng buat nyelesaiin apa yang dia mulai di dalam kepala gue.

TOK... TOK... TOK... Suara ketukan di pintu ruko makin ritmis, bikin suasana makin tegang. Di depan gue, Leo mulai gemeteran parah, matanya putih semua kayak orang sakau digital. Energi naga perak dari tangan gue terus gue alirin ke tengkuknya, nyoba ngeblokir radiasi nano-chip jahanam itu.

"Hana, tahan pintunya! Gue butuh satu menit lagi!" teriak gue, fokus gue udah terbagi dua antara nyelametin otak Leo sama siaga tempur.

Hana nggak jawab. Dia langsung melesat ke depan pintu, dua sabit karambitnya udah menyala merah karena gesekan tenaga dalam.

BOOM!

Pintu ruko hancur berkeping-keping. Bukan Sakti Langit yang masuk, tapi dua manekin jirah hitam V.E.N.O.M yang badannya diselimuti asap hitam pekat. Begitu masuk, mereka langsung nembakin laser frekuensi rendah yang bikin kaca-kaca ruko pecah berantakan.

Hana salto melewati meja, nyabet pelindung leher salah satu zirah. Tapi asap hitam itu langsung ngelilit kaki Hana, bikin gerakannya melambat. "Arka! Cepet! Tenaga dalam gue ketahan!" teriak Hana.

Gue merem, fokus total. Di dalem pikiran Leo, gue bisa ngerasa ada dinding hitam besar yang nutupin ingatan dia tentang Banten, Falcons, dan Kera Merah. Gue kumpulin energi naga perak gue jadi satu titik tajam, lalu gue hantam dinding itu. BRAK!

"ARRGGHHH!" Leo teriak histeris. Bersamaan dengan itu, nano-chip di leher belakangnya meletus, ngeluarin asap biru kecil.

Mata Leo langsung balik normal. Dia ambruk ke meja, tapi tangannya langsung reflek ngeraih keyboard. "Sialan... kepala gue kayak abis digilas truk! Arka, Hana, awas! Sinyal Sakti Langit bukan di tower luar, dia ada di atas atap ruko ini!"

Gue langsung lepasin tangan dari Leo. Mata perak-ungu gue menyala terang benderang. Rasa lelah gue langsung ilang diganti amarah yang meluap.

"Leo, urus sisa robot di bawah bareng Hana!"

Gue melompat, gunain energi naga di kaki buat ngejebol plafon dan atap ruko. DUAAARRR! Gue menembus genteng dan mendarat di atas atap ruko yang berangin kencang.

Di sana, berdiri seorang pria sepuh dengan jubah hitam yang berkibar. Wajahnya yang mulus hasil ilusi natep gue sambil senyum tipis. Sakti Langit. Di tangannya, dia memegang sebuah alat pemancar sinyal berbentuk tengkorak ular.

"Luar biasa, Arka. Kamu bisa lepas dari labirin yang gue buat," kata Sakti Langit, suaranya bergaung langsung di dalem kepala gue. "Tapi sayang, permainan pikiran ini cuma buat ngulur waktu sampai ritual pengumpulan energi Naga Selatan gue selesai."

Gue ngepel tangan, api perak keunguan ngebakar udara di sekitar gue. "Gue nggak peduli sama ritual lu, Kakek Tua. Hari ini, gue bakal pastiin lu mati... di dunia nyata, ataupun di dalem mimpi!"

Gue melesat maju, siap ngehancurin wajah ilusinya sekali lagi.

Sakti Langit cuma ketawa sinis pas liat gue melesat. Dia ngangkat tangannya, dan seketika asap hitam dari alat tengkorak ular itu ngebentuk perisai tebal di depannya.

BOOM!

Tinju api perak gue hantam perisai itu sampai retak. Benturan energinya bikin genteng ruko di bawah kaki kami rontok masal. Tekanan udaranya gila banget, sampai angin pagi Jakarta yang tadinya tenang mendadak berubah jadi badai lokal di atas atap.

"Lu pikir bisa menang cuma modal otot, Arka?" Sakti Langit natep gue meremehkan. "Ritual gue udah jalan 90%. Begitu energi Naga Selatan menyatu sempurna sama teknologi V.E.N.O.M, lu dan semua klan pecundang lu itu cuma bakal jadi sejarah yang dilupakan!"

"Bacot lu kebanyakan, Kakek Tua!" teriak gue.

Gue tarik tangan kanan gue ke belakang, kumpulin semua sisa tenaga dalam yang gue punya sampai tato naga di punggung gue kerasa panas membara. Kali ini gue nggak bakal kasih dia celah buat kabur atau bikin ilusi baru lagi di kepala gue. Malam di Banten mungkin cuma jebakan otak, tapi amarah gue sekarang ini 100% nyata.

Dari bawah ruko, gue bisa denger suara Leo sama Hana yang lagi berjuang abis-abisan nahan gempuran sisa robot V.E.N.O.M. Gue nggak boleh kalah di sini. Nyawa mereka, nyawa Nadia, dan masa depan Serigala Putih ada di tangan gue sekarang.

Gue sentak kaki gue ke depan, siap lepasin pukulan pemungkas yang bakal nentuin siapa pemilik tahta naga yang sebenernya di kota ini!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!