NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pengakuan Jujur Raka

"Ma, tolong dengarkan penjelasanku. Aku benar-benar tidak melakukan hal di luar batas bersama Ningsih."

Aku terus merengek meyakinkan mama. Tapi wanita itu tidak mengubrisku. Ia terus menangis di dekapan papa.

"Lalu foto di atas kasur yang dikirim Ningsih kepada Kania, apa penjelasanmu Raka?"

Suara papa meninggi, membuat bulu kuduk ku merinding. Ini bukan lelaki yang selama ini aku kenal.

"Ma.." Aku berusaha meraih pergelangan tangannya. Lagi-lagi mama mengibas tanganku. Lututku sudah menahan ringkih di depannya.

"Ma, apa yang mama lihat tak seburuk itu. Kami tidak melakukan apapun. Aku hanya menemani Ningsih yang sudah mabuk berat dan ikut tertidur bersamanya."

Ucapanku terbata-bata. Entah mama akan percaya atau tidak. Hari ini hanya kebencian yang tersisa untuk Ningsih. Ia benar-benar serigala berbulu domba.

"Pa, tolong percaya padaku." Aku bersimpuh di hadapan papa. Memeluk kedua kakinya, berharap ia akan mempercayai kata-kataku.

"Aku tak pernah lupa, ajaran papa dan mama padaku. Aku benar-benar tidak melakukan itu bersama Ningsih,"

Air mataku jatuh, tak lagi bisa aku bendung. Dadaku naik turun dengan cepat. Penolakan dari mama membuat aku sakit.

"Tidur dengan wanita yang bukan muhrimmu? Kamu bilang masih ingat ajaran papa? Ajaran seperti apa itu, Raka?"

Suara laki-laki itu sedikit tertahan. Bibirnya bergetar dan aku tahu itu luapan rasa kecewa yang teramat berat.

Bruk!! Aku mengalihkan perhatian ketika vas bunga hampir terjatuh tertabrak.

"Laras?" Desisku pelan. Di luar prediksiku, Laras dan Kania menguping pembicaraan kami.

Kulihat Laras pergi begitu saja, apakah ia sakit hati mendengar pengakuan dosaku pada mama dan papa? Apakah bagian ini tidak Kania ceritakan kepadanya?

Oh Tuhan!! Aku tak lagi mempedulikanmu reaksi mama. Dengan sisa tenaga aku mengejar Laras.

"Laras!" Aku menarik lengannya. Ia berusaha berontak tapi cengkeraman itu cukup kuat. Membuat ia kesusahan untuk melepas.

"Abang bisa jelaskan, Laras."

Suaraku parau, serak. Dadaku membuncah, ini bukan lagi masalah mama tapi Laras. Wanita yang baru saja membuat aku jatuh cinta.

"Beri Laras waktu, bang."

Ia sama sekali tak menatapku.

Aku merangkul tapi ia mengelak.

"Laras salah menilai abang," Ia menyeringai, entah kenapa reaksi itu membuat aku sakit. Sama seperti sakitnya ketika melihat mama menangis.

"Laras, abang benar-benar tidak melakukan apapun bersama Ningsih, hanya sekadar tidur."

Matanya melotot ke arahku, tidak lagi seperti Laras cantik yang aku kenal. Dimatanya hanya ada amarah yang tersisa.

"Hanya tidur bang?" Ia terkekeh tapi itu kiasan. Paling tajam.

"Abang meminta waktu untuk malam pertama bersama Laras, istri sah abang. Tapi abang tidur bareng dengan perempuan yang hanya berstatus pacar?"

Laras terisak. Dadanya tampak sesak. Ia menangis sesenggukan.

"Kenapa nggak nikahin dia aja bang? Laras pikir antara abang dengan Ningsih hanya cinta posesif satu pihak, tapi.."

Aku reflek menutup mulutnya. Memeluk tubuhnya sangat erat. Ia meronta tapi aku tak bergeming.

Aku merangkul kepalanya ke pundakku.

"Laras bilang kalau tahu segalanya tentang abang?"

Kuelus lembut kepalanya yang tertutup kerudung cream. Ia tak menjawab hanya sesenggukan yang terdengar.

"Laras tahu semuanya tentang abang, kecuali abang yang tidur bareng sama Ningsih!"

Ucapannya ketus. Ia menarik diri dari pelukanku.

Ia menyeka air matanya yang mengalir bak anak sungai di pipi cantiknya.

Aku ingin membantu, tapi tanganku ditepis dengan sigap.

"Demi Allah, sayang. Abang benar-benar tidak melakukan apapun sama Ningsih. Hanya menemani dia tidur, dia mabuk berat saat itu. Soal kehamilan Ningsih abang juga nggak paham. Abang rasa ini hanya akal-akalannya."

Aku dengan segala kemampuan yang tersisa berusaha meyakinkan Laras.

"Sayang, percayalah pada abang?" Hilang sudah harga diriku di depan Laras dan keluarga besarku. Wanita itu tetap diam mematung. Beberapa menit kami hening tak ada suara ataupun percakapan. Seperti dua manekin yang sedang bertatapan.

Namun keheningan ini tak belangsung lama, ketika ponselku berdering. Kulihat layar, nama Ningsih terpampang nyata.

"Angkat bang!"

Lugas dan tegas, satu kalimat yang keluar begitu saja dari mulut Laras.

Tak ada pilihan. Aku hanya bisa menuruti maunya. Semua sudah terlanjur terjadi.

"Halo sayang!" Suara Ningsih terdengar manja tanpa rasa bersalah.

"Mau apalagi kamu?" Suaraku serak dan bergetar.

"Aku menepati janjiku, Raka. Kalau aku tidak bisa memilikimu maka wanita itu juga tidak akan bahagia bersamamu."

Ningsih tertawa, tapi darahku mendidih.

"Apa maumu?"

"Mauku, Raka? Aku cuma mau kamu. Kamu pengecut. Laki-laki brengsek."

Irama suaranya mulai berubah. Di depanku Laras masih jadi diam tidak bereaksi sedikitpun.

"Kamu selalu menjanjikan aku status, Raka. Akan memperjuangkan aku pada keluarga besarmu. Tapi semua itu hanya janji manismu padaku. Diam-diam kamu menemui calon pilihan orang tuamu. Apa arti tiga tahun kebersamaan kita, Raka?"

Belum sempat membalas, ponselku sudah berpindah ke tangan Laras. Wanita itu menghidupkan loudspeakernya.

Kutelan ludah cukup kasar.

"Jawab aku Raka, aku sedang mengandung anakmu."

Laras memplototi cukup sinis. Ningsih benar-benar berniat memprovokasiku.

"Sejak kapan kita berhubungan badan, Ningsih. Aku tidak pernah menidurimu."

Napasku mulai memburu. Keringat mengalir di pelipis.

"Nggak usah berlagak alim, Raka. Habis manis sepah kau buang. Saat malam kita tidur bareng apa kau lupa?"

Ningsih tertawa, entah drama apalagi yang sedang di rancangnya.

Aku memang salah, terlalu memberikan banyak harapan kepadanya. Tapi dengan caranya begini ia cukup jahat mempermainkan pernikahanku.

"Cukup Ningsih, jika kamu bersikekeh kalau bayi itu anakku, buktikan besok dengan tes DNA. Aku tidak merasa kalau pernah menidurimu."

Suaraku cukup keras membuat mama dan papa berjalan ke arahku.

Otakku mulai tidak normal. Semua ini terlalu bertubi-tubi. Salahku dari awal tidak mendengar nasihat mama. Jika Ningsih bukan perempuan baik-baik.

"Laras percaya sama abang," Tiba-tiba saja wanita itu sudah memelukku cukup hangat. Menenangkan.

Hatiku yang panas pelan-pelan meleleh.

"Maafkan Laras bang, sudah meragukan abang."

Aku memeluknya cukup erat. Dadaku berdebar semakin kencang. Ini yang aku harapkan, ada yang mempercayai penjelasanku.

"Masalahmu belum selesai, Raka."

Mama tiba-tiba saja sudah berada si belakang kami. Intonasi mulai terasa nyaman.

"Mama sekarang percaya kamu tidak seburuk itu. Tapi Ningsih tidak akan berhenti sampai disini. Kamu memang harus pastikan kalau anak dikandungannya bukan anakmu lewat tes DNA. Selama ini itu belum lahir, berikan santunan kepadanya sebagai kompensasi.. "

"Tapi ma, itu bukan tanggung jawab Raka."

Aku menikung ucapan mama.

"Iya mama tahu, kamu tidak bersalah. Tapi wanita seperti Ningsih tidak akan membiarkan kamu bebas begitu saja. Jangan sampai karirmu rusak karena ulahnya."

Kali ini nasehat mama ada benarnya. Ningsih ang egois.

"Benar bang kata mama, Ningsih nggak akan melepaskan abang begitu saja."

Laras ikutan buka suara. Ku tarik napas dalam-dalam lalu kehempaa dengan kasar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!