NovelToon NovelToon
High School Love On

High School Love On

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rustina Mulyawati

Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 33 Mengganti Panggilan

Waktu terus berjalan. Aksa menikmati waktu yang berharga tersebut bersama Devina dengan berbaring dihalaman rumah yang di alasi tikar yang cukup tebal dan empuk, setelah kenyang menikmati pizza yang dipesan. Devina berbaring disampingnya, kepalanya tidur diatas lengan yang berotot itu tanpa sungkan. Mereka menatap langit malam yang cerah meskipun tanpa hadirnya gemintang namun ada sang rembulan yang setia menghiasi langit dengan cahaya terangnya yang kekuningan. Menjadi saksi moment romantis yang singkat di antara mereka.

"Loh gak kedinginan? " tanya Aksa saat hembusan angin malam terasa menyapa sampai ke kulit mereka.

"Cukup dingin. Tapi, karena ada loh rasanya jadi lebih hangat, " balas Devina.

"Haruskah gue peluk loh lebih erat lagi, supaya lebih hangat lagi, " balas Aksa sambil menarik pinggang Devina dengan tangan yang satunya hingga mereka saling berhadapan sangat dekat sekali.

Devina menatap wajah tampan Aksa. Perlahan jari jemarinya menyentuh wajah yang terlihat lelah itu dan menelusurinya hingga ke beberapa bagian tertentu yang ingin dia sentuh. Sampai akhirnya pandangnya terhenti pada sebuah perban putih yang membalut pelipisnya.

"Apa ini gak sakit? " tanya Devina dengan suara rendah dan berat.

"Nggak. Gue kan udah bilang, setiap luka yang loh sentuh, akan sembuh dengan begitu cepat, " balas Aksa sambil meraih tangan Devina yang menyentuh pelipisnya itu.

Pandangan Devina teralihkan untuk menatap kedua bola mata Aksa yang terlihat indah dan bening. Jantung nya seketika berdebar sangat cepat. Wajahnya begitu dekat sekali dengannya. Bahkan nafasnya yang keluar terasa hangat menyentuh kulit wajah Devina.

"Aku suka sekali. Wajah ini, mata, hidung, dan juga bibirmu. Aku suka semuanya. Kamu adalah orang pertama yang membuatku merasa sangat berharga. Dicintai dan disayangi seperti ini membuatku merasa sangat bahagia. Mulai sekarang, aku tidak melepaskan mu. Jangan coba-coba untuk kabur dariku. Karena aku akan menemukanmu kemana pun kamu pergi, " ucap Devina dengan begitu lembut dan menggoda.

"Sepertinya sudah saatnya kita merubah panggilan kita. Aku dan kamu, sepertinya sangat menyenangkan, " balas Aksa sambil tersenyum kecil.

"Oh yah? Kalau dengan sebutan 'sayang? ' Bagaimana menurutmu? " sahut Devina ingin lebih dari itu, namun terdengar sedang bercanda hanya untuk menggoda Aksa.

Aksa terdiam sejenak. Menatap lekat wajah kedua bola mata Devina. Lalu ia tersenyum lebar. "Yasudah, sayang? "

Aksa tanpa ragu mengatakan kata tersebut. Bibirnya seakan ringan sekali menyebutkannya. Membuat Devina tertegun malu, wajahnya memerah padam dan terasa begitu panas. Jantungnya seakan bekerja lebih keras karena berdegup sangat cepat, tapi ia juga merasa sangat senang. Saking berdebar nya hati Devina ia sampai cegukan.

"Kenapa? Sebentar, aku ambilkan minum dulu, " Aksa segera bangkit untuk mengambil segelas air yang sudah disiapkan disana untuk diberikan kepada Devina.

"Minumlah dulu! "

Lantas, Devina mengambil segelas air tersebut lalu meneguknya sampai habis dalam satu kali tegukan.

"Gimana? Kamu merasa lebih baik? " tanya Aksa lagi memastikan keadaannya baik-baik saja.

Devina menaruh kedua telapak tangannya di kedua pipi miliknya. "Ah, wajahku terasa sangat panas sekali. Apa aku terlihat jelek sekarang? " sahut Devina malah khawatir soal itu.

Aksa tertawa lepas mendengar keluhan Devina itu. Padahal ia tadi khawatir dengan keadaannya karena tiba-tiba saja cegukan tanpa sebab. "Dasar kamu ini! Malah itu yang kamu khawatirkan. Sudahlah. Jam berapa ini?" Aksa melirik jam dilayar ponselnya.

"Sudah hampir habis, sewa waktu dua jam hampir berakhir. Sudah larut juga, diluar dingin nanti kamu masuk angin. Masuklah dan tidur lebih awal, " ujar Aksa sambil mengelus pipi Devina yang masih memerah namun terasa dingin saat disentuhnya karena angin malam.

"Kok cepet banget sih? Dua jam sangat singkat. Seharusnya aku menyewa seluruh waktumu saja tadi. Tidak bisakah kamu tinggal di sini bersamaku? Kalau kamu pergi, aku merasa sepi lagi. Rumah ini terlalu besar dan terlalu sunyi. Aku sangat benci dengan rumah ini, " ungkap Devina mengeluh sambil merungut.

Aksa tersenyum kecil lalu memeluknya lembut. Ia tahu maksud Devina.

"Tidak bisa. Bagaimana aku bisa tinggal di rumah seorang gadis tanpa pengawasan orang tua. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan? Aku tidak mau menjadi lupa diri dan malah merusak orang yang ingin aku jaga. Orang yang ingin aku lindungi. Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku. Lagi pula, Ibuku pasti akan sangat khawatir sekali, " balas Aksa.

Devina mendesah pelan. "Aku iri sekali. Kamu punya orang yang menunggumu setiap hari di rumah. Tapi tidak denganku, " rengek Devina kini lebih ekspresif dalam menunjukkan emosinya di depan Aksa.

Aksa melepaskan pelukannya dan menatap teduh juga lembut pacar manisnya itu.

"Kamu juga punya aku. Aku akan selalu menunggumu di setiap hari yang akan kamu temui. Aku akan selalu berdiri di samping mu, menyambut hari mu dengan pelukan terhangat ku. "

Devina tersenyum lebar sambil tersipu malu. "Iyah. Tapi, sejak kapan kamu pandai merayu seperti ini? Ah, Rasanya ini cukup aneh. Rasanya sangat asing sekali. Kamu seperti bukan Aksa yang aku kenal dulu. Aku lebih menyukaimu yang sekarang. "

Aksa mengacak rambut Devina pelan. "Ya ampun! Menurutmu siapa orang yang bertanggung jawab atas semua itu? Itu kamu," balas Aksa lagi. "Nah, sekarang kamu masuk dan tidur. Aku harus kembali ke toko sekarang, " tambahnya kemudian.

"Baiklah. Kamu hati-hati yah. Bye! " Devina akhirnya menurut dan segera masuk ke dalam rumah sambil melambaikan tangannya. Meskipun ia merasa sangat berat untuk berpisah dari Aksa.

Aksa tersenyum lebar lalu mengangguk kecil. Lantas, ia pun beranjak pergi meninggalkan kediaman Devina untuk kembali ke toko pizza tempat ia bekerja.

Hari-hari yang indah mungkin akan segera datang. Untuk pertama kalinya lagi Aksa begitu bersemangat. Jantungnya berdebar-debar sangat hebat. Senyumnya bahkan tidak memudar. Musim semi telah datang menggantikan musim dingin di hatinya. Devina tidak hanya membuat hidupnya lebih berwarna. Namun, ia membuat hidup Aksa lebih bermakna.

Aksa pulang setelah lelah bekerja keras. Namun kali ini saat masuk ke rumah ia merasa ada yang aneh. Di depan ia melihat ada sepatu asing yang ia kenal.

Ketika langkahnya sampai di ruang tamu terlihat jelas ia menarik nafas berat saat mendapati seseorang yang tidur dengan pulas nya disana. Dia adalah Aditya yang tidak ingin pulang ke rumahnya dan lebih memilih tidur di sofa di kediaman Santi. Aksa menatap Aditya yang tidur dengan tatapan datar dan juga dinginnya seperti biasa.

Santi yang menyadari kepulangan Aksa bergegas keluar dari kamar dan menemuinya. "Kamu sudah pulang? " tanya Santi.

"Ibu? Apa-apaan ini? Kenapa dia masih disini? " tanya Aksa penasaran dengan apa yang terjadi.

"Hari ini, dia terlihat dalam keadaan yang sangat tidak baik. Biarkan dia tidur disini untuk malam ini, " balas Santi dengan lembut dan penuh pengertian.

"Ibu? Rumah ini bukan tempat penginapan untuk menampung orang asing seperti dia. Kenapa Ibu peduli kalau dia sedang tidak baik-baik saja. Sudahlah Bu, jangan merepotkan diri sendiri karena orang lain, " ujar Aksa dengan nada yang sedikit kesal.

"Dia bukan orang asing. Kamu sendiri yang membawanya kesini waktu itu. Itu berarti dia bukan orang yang asing seperti yang kamu katakan, dia temanmu. Sudah gak papah, Ibu tidak merasa direpotkan. Lagi pula Ibu merasa kasihan kepadanya. Sepertinya dia tidak punya tempat tujuan yang benar-benar menjadi rumahnya, " balas Santi lagi.

Aksa mendengus pelan. "Terserah Ibu saja. Tapi asal Ibu tahu, kita sudah cukup sulit bertahan sejauh ini. Jangan sampai kita malah semakin sulit karena Ibu memanjakan orang asing ini. Aku lelah, aku mau tidur, " geram Aksa sambil melengos ke kamarnya.

"Apa kamu sudah makan? " seru Santi bertanya karena khawatir kepada putranya.

"Iyah, sudah! " balas Aksa dari dalam kamarnya.

Santi hanya bisa memahami sikap putranya itu. Sementara ia juga hanya bisa menatap kasihan kepada Aditya. Ternyata menghadapi dua putra itu lebih sulit dari yang dia bayangkan.

1
SANG
like iklan plus komen👍💪
SANG
Lanjut terus👍💪
SANG
Makin seru ceritanya👍💪
SANG
Semangat ya dek👍💪
SANG
Bintang lima untukmu Thor, tetap semangat, pantang mundur lanjutkan aksimu thor, keren banget, asik banget, mantap banget, cucok banget, beken deh.
Rustina Mulyawati: Makasih yah sebelumnya.... 😍
total 1 replies
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Semangat terus pantang mundur👍💪👍💪
SANG
Like iklan plus komen👍💪👍💪👍💪
Rustina Mulyawati: Terima kasih Kakak..
total 1 replies
SANG
Aku kasih suka ya👍💪
SANG
Keren banget💪👍💪
SANG
Ceritanya seru
T28J
lanjutkan kak 👍
T28J
anjay nganter doang 3 juta 🤣👍
T28J
hadiir kakak 🙏
Rustina Mulyawati: Terima kasih udah mampir👍 Moga suka sama jalan ceritanya. ☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!