Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.
"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Semakin memanas
Debu mengepul hebat, menelan seluruh arena dalam kabut abu-abu yang pekat. Di dalam sana, denting logam dan desis energi Qi meledak beruntun, menciptakan simfoni kematian yang membuat para penonton di pinggir lapangan menahan napas hingga dada mereka sesak.
Xiao Liu Xuan tidak lagi bertarung sebagai seorang pangeran yang ramah. Ia telah berubah menjadi badai kehancuran.
Setiap tebasannya membawa tekanan ribuan kilogram, membelah ubin batu arena seolah itu hanyalah kertas basah. Namun, di hadapannya, Tian Hao adalah hantu yang mustahil ditangkap.
Xiao Liu Xuan memutar pedangnya, memicu teknik "Tarian Naga Selatan." Energi biru meluap, membentuk pusaran tajam yang mengunci ruang gerak Tian Hao. Dengan raungan rendah, ia melesat maju, mengincar jantung lawan dengan tusukan lurus yang mustahil dihindari.
Tian Hao melihat kematian datang menjemput. Dalam hitungan milidetik, ia tidak mundur. Ia justru merangsek maju, membiarkan ujung pedang Xiao Liu Xuan menyerempet bahunya hingga menembus daging.
Crat!
Darah segar membasahi jubah biru sang pangeran. Namun, itu adalah pengorbanan yang direncanakan.
Saat jarak mereka hanya tersisa beberapa inci, Tian Hao memutar tubuhnya. Dengan tangan yang masih berlumuran darah, ia menjentikkan pecahan batu tajam yang sejak tadi ia sembunyikan di antara jemarinya.
Pecahan batu itu melesat lurus, membelah udara dengan kecepatan yang melampaui reaksi manusia.
Targetnya? Mata kanan Xiao Liu Xuan.
Pada saat yang sama, Xiao Liu Xuan yang menyadari ancaman itu, secara insting menarik pedangnya ke atas, mengubah arah tusukan menuju tenggorokan Tian Hao.
Ujung pedang perak Xiao Liu Xuan sudah menyentuh kulit tipis di jakun Tian Hao, setitik darah mulai merembes. Satu milimeter lagi, dan jalur napas Tian Hao akan terputus selamanya.
Di sisi lain, pecahan batu di tangan Tian Hao hanya berjarak sehelai rambut dari pupil mata sang pangeran. Satu kedipan lagi, dan Xiao Liu Xuan akan kehilangan penglihatannya secara permanen.
Keduanya tidak ada yang berniat mundur. Mata mereka bertemu—satu penuh kegilaan yang membara, satu lagi kosong dan sedingin makam.
"CUKUP!"
Sebuah raungan yang membawa tekanan ranah tinggi meledak dari pinggir arena.
BOOM!
Fei Lin muncul di tengah mereka seperti hantu. Ia menghantamkan tongkat kayunya ke lantai arena, melepaskan gelombang kejut energi Qi emas yang sangat besar.
Kekuatan itu menghantam tubuh Tian Hao dan Xiao Liu Xuan secara bersamaan, memaksa keduanya terpental mundur ke ujung arena masing-masing.
Hening.
Angin sepoi-sepoi menerbangkan sisa-sisa debu, menampakkan pemandangan yang membuat semua orang di lapangan membeku.
Tian Hao berdiri terengah-engah, memegang tenggorokannya yang tergores. Darah mengalir turun ke dadanya, namun ia tetap berdiri tegak dengan tatapan datar.
Di seberangnya, Xiao Liu Xuan memegang sisi wajahnya. Sebuah luka sayatan tipis melintang tepat di bawah kelopak matanya. Jika bukan karena intervensi Fei Lin, mata pangeran itu sudah hancur.
"Apa... apa yang baru saja terjadi?" suara seorang murid terdengar gemetar.
"Bagaimana mungkin si 'sampah' itu hampir membunuh seorang pangeran?"
"Gerakannya... itu bukan teknik keluarga Tian. Itu seperti... insting seekor monster."
Bahkan Tian Fei dan Li Xian yang berada di balkon tertinggi berdiri dari kursi mereka.
Wajah mereka pucat, campuran antara rasa malu karena anak mereka bertindak kasar pada tamu agung, dan ketakutan yang tak terjelaskan melihat potensi tersembunyi yang baru saja meledak dari putra yang selalu mereka abaikan.
Fei Lin menatap Tian Hao dengan tatapan yang sangat kompleks. Ia melihat seorang remaja berusia lima belas tahun, namun di balik mata itu, ia merasakan aura seorang veteran yang telah melewati ribuan medan perang.
"Duel berakhir!" suara Fei Lin berat. "Keduanya... seri."
Tapi yang tidak di sadari semua orang. Tian Hao sudah memprediksi semua ini. Ia tahu bahwa Fei Lin akan menghentikan pertarungan.