Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Kota Zamrud
Fajar di tepi Gurun Pasir Hitam datang dengan langit ungu yang perlahan berubah menjadi jingga. Angin gurun yang dingin mulai menghangat, membawa serta butiran pasir hitam yang menari-nari di atas permukaan tanah. Dua penjaga batu berdiri tak bergerak di pinggir perkemahan, mata keemasan mereka meredup saat sinar matahari pertama menyentuh tubuh batu mereka.
Xiao Chen sudah terjaga di atas batu tempatnya duduk semalaman. Wei Ling masih tertidur di bahunya—entah kapan dia tertidur, tapi dia tidak tega membangunkannya. Rambut cokelatnya tergerai di lengan Xiao Chen, napasnya teratur dan tenang.
Dari tenda sebelah, Lin Yao keluar dengan gerakan senyap. Dia melihat mereka berdua, dan untuk sesaat, ekspresinya tidak terbaca. Lalu dia berjalan mendekat, membawa dua cangkir teh panas.
"Kau tidak tidur lagi," katanya pelan, menyerahkan satu cangkir.
"Aku tidak butuh." Xiao Chen menerima cangkir itu.
Lin Yao duduk di batu sebelah, menyesap tehnya. "Dia tidur nyenyak."
"Dia butuh istirahat. Kemarin berat untuknya."
"Aku tahu." Lin Yao menatap Wei Ling. "Dia lebih kuat dari yang kelihatan."
"Kau juga."
Lin Yao mendengus pelan. "Aku tahu."
Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman. Matahari perlahan naik di cakrawala, memanaskan pasir hitam dan menciptakan fatamorgana di kejauhan. Dari tenda besar, Xu Mei sudah mulai berkemas—suara gulungan-gulungan dimasukkan ke dalam tas terdengar. Liu Ruyan muncul beberapa saat kemudian, rambutnya diikat praktis, jubah perjalanannya sudah rapi.
"Aku sudah menghitung rute," katanya, membawa peta. "Dari sini ke Kota Zamrud sekitar tiga hari. Lalu kapal udara ke Benua Utara—perjalanan sekitar dua bulan."
"Dua bulan?" Lin Yao mengangkat alis.
"Benua Utara jauh. Dan kapal udara harus menghindari beberapa wilayah berbahaya."
Wei Ling mulai bergerak di bahu Xiao Chen. Dia membuka matanya perlahan, berkedip beberapa kali, lalu menyadari posisinya dan langsung duduk tegak. "Aku... aku tertidur?"
"Sepanjang malam," jawab Xiao Chen.
"Kenapa kau tidak membangunkanku?!"
"Kau kelihatan damai."
Wei Ling memerah. "Tapi... bahumu pasti sakit—"
"Aku tidak merasakan sakit."
"Oh." Wei Ling berkedip. "Itu... praktis."
Lin Yao menyerahkan cangkir teh padanya. "Minum. Kita berangkat sebentar lagi."
—
Perjalanan kembali ke Kota Zamrud lebih cepat dari perjalanan pergi—mungkin karena mereka sekarang lebih mengenal rutenya, atau mungkin karena jumlah rombongan yang lebih sedikit membuat pergerakan lebih efisien. Dua penjaga batu berjalan di belakang, langkah mereka yang berat menciptakan irama konstan yang entah bagaimana menenangkan.
Di malam kedua, mereka berkemah di dekat sungai kecil yang mengalir dari pegunungan. Airnya jernih dan dingin, kontras dengan panasnya gurun yang masih terasa di kejauhan.
"Ada mata air panas di balik bukit itu," kata Liu Ruyan, yang ternyata sudah menjelajahi daerah ini sebelumnya. "Bagus untuk merendam otot yang pegal."
"Kita tidak punya otot yang pegal," kata Lin Yao. "Kita kultivator."
"Berbicara untuk dirimu sendiri," jawab Xu Mei, meregangkan bahunya. "Tiga hari di atas kuda membuatku kaku."
Wei Ling sudah berdiri. "Aku ikut."
"Tunggu." Lin Yao menatap Xiao Chen. "Kau tidak ikut?"
"Aku akan berjaga di sini."
"Berjaga." Lin Yao menyipitkan mata. "Kau hanya tidak ingin kami mengintipmu seperti di sungai dulu."
"Itu juga."
Liu Ruyan tertawa kecil—suara yang masih terdengar asing dari mantan direktur yang biasanya dingin. "Kalau begitu, kami akan pergi dulu. Jaga perkemahan."
Keempat wanita itu berjalan ke balik bukit, membawa handuk dan pakaian ganti. Xiao Chen duduk di dekat api unggun, mendengarkan suara mereka yang perlahan menghilang—digantikan oleh tawa dan percikan air.
—
Di mata air panas, suasana sangat berbeda.
Kolam alami itu dikelilingi batu-batu halus, uap hangat mengepul dari permukaan air yang berwarna biru susu. Wei Ling sudah berendam sampai ke leher, rambutnya yang basah menempel di pipinya. Lin Yao duduk di tepi kolam, hanya kakinya yang masuk ke air. Xu Mei dan Liu Ruyan berendam di sisi yang lebih dalam.
"Ini enak," desah Xu Mei, matanya terpejam. "Aku butuh ini."
"Kau selalu bilang tidak butuh istirahat," kata Wei Ling.
"Itu karena biasanya aku tidak punya waktu."
Liu Ruyan mengusap lengannya dengan air hangat. "Aku sudah tiga ribu tahun hidup, dan baru kali ini aku merasa... santai."
"Karena Xiao Chen?" tanya Lin Yao langsung.
"Karena semuanya." Liu Ruyan menatap langit malam. "Kultivasi itu berat. Bisnis itu berat. Tapi bersama kalian... semuanya terasa lebih ringan."
Keheningan yang nyaman turun.
"Aku penasaran," kata Wei Ling tiba-tiba. "Kapan kalian sadar... bahwa kalian menginginkannya?"
Lin Yao menjawab lebih dulu. "Saat pertama kali aku melihatnya. Tapi aku menolaknya selama berbulan-bulan."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak suka perasaan itu. Aku pikir itu membuatku lemah." Lin Yao menatap air. "Ternyata tidak."
"Aku," Xu Mei memulai, "mulai merasakannya saat dia menciumku di balkon. Itu hanya ciuman kecil di sudut bibir, tapi... aku tidak bisa berhenti memikirkannya selama berminggu-minggu."
Liu Ruyan terkekeh. "Setidaknya kalian butuh waktu. Aku hanya butuh satu percakapan."
"Serius?" Wei Ling menatapnya.
"Dia masuk ke ruang rapatku, membantah semua asumsiku, lalu menciptakan Artefak tingkat Raja dalam satu detik. Bagaimana mungkin aku tidak tertarik?"
Mereka semua tertawa.
"Kita seperti sekumpulan wanita yang tidak bisa menolak satu pria," kata Xu Mei.
"Itu karena dia bukan pria biasa," jawab Lin Yao.
"Itu benar." Wei Ling menyandarkan kepalanya di tepi kolam. "Kadang-kadang aku masih tidak percaya dia memilih kita."
"Dia tidak memilih." Liu Ruyan tersenyum. "Dia hanya... menerima. Siapa pun yang ingin bersamanya."
"Dan kita semua ingin."
Keheningan lagi. Lalu Wei Ling berdiri. "Aku akan kembali ke perkemahan."
"Sekarang?" tanya Xu Mei.
"Aku... ingin bersamanya malam ini."
Tidak ada yang protes. Tidak ada yang cemburu—setidaknya tidak dengan cara yang buruk. Hanya anggukan pengertian.
—
Wei Ling kembali ke perkemahan dengan rambut masih basah, handuk melilit tubuhnya. Api unggun sudah mulai meredup, dan Xiao Chen duduk di dekatnya, menatap bintang.
"Kau kembali lebih cepat," katanya tanpa menoleh.
"Aku ingin bersamamu." Wei Ling duduk di sampingnya, dekat sekali. "Malam ini... hanya kita."
Xiao Chen menoleh, menatapnya. Di bawah cahaya bintang dan api unggun yang meredup, Wei Ling terlihat cantik—rambut basahnya berkilau, pipinya merah karena air panas, matanya penuh dengan sesuatu yang dalam.
"Kau masih sedih tentang ayahmu?"
"Sedikit. Tapi bukan itu alasan aku di sini." Wei Ling meraih tangannya. "Aku di sini karena aku mencintaimu. Dan aku ingin merasakanmu."
Xiao Chen tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menarik Wei Ling ke dalam tenda, dan di bawah kanvas yang diterangi cahaya api dari luar, dia menciumnya. Ciuman itu dalam, penuh perasaan, berbeda dari ciuman-cepat di depan umum. Ini adalah ciuman yang mengatakan, Aku menghargaimu. Aku menginginkanmu. Kau penting.
Wei Ling membalas dengan intensitas yang sama, tangannya menarik-narik jubah Xiao Chen. Begitu jubah itu terlepas, dia mendorongnya ke tikar, dan untuk pertama kalinya, dia mengambil inisiatif penuh. Dia mencium leher Xiao Chen, dadanya, perutnya, semakin turun...
"Kau belajar," bisik Xiao Chen, suaranya serak.
"Aku belajar dari yang terbaik."
Mulutnya menemukannya, dan Xiao Chen mengerang—suara rendah yang membuat Wei Ling semakin bersemangat. Dia menggunakan lidahnya, bibirnya, tangannya, dan setiap suara yang keluar dari Xiao Chen adalah konfirmasi bahwa dia melakukannya dengan benar.
"Cukup," kata Xiao Chen akhirnya, menariknya ke atas. "Aku ingin di dalam dirimu."
Wei Ling mengangguk, wajahnya merah, bibirnya sedikit bengkak. Dia memposisikan dirinya di atas Xiao Chen, dan ketika dia menurunkan tubuhnya, keduanya mendesah bersamaan. Dia mulai bergerak—perlahan, terukur, dengan ritme yang dia kendalikan sendiri.
"Kau... kau terasa luar biasa," bisiknya, napasnya memburu.
"Kau juga."
Gerakannya semakin cepat, semakin dalam, dan Wei Ling melemparkan kepalanya ke belakang, erangan panjang lolos dari bibirnya. Bulan di atas mereka, bintang-bintang, seluruh alam semesta—tidak ada yang penting kecuali momen ini.
Ketika orgasme menghantamnya, dia menjatuhkan diri ke dada Xiao Chen, seluruh tubuhnya gemetar. Xiao Chen mengikutinya beberapa detik kemudian, melepaskan kehangatannya ke dalam dirinya.
Mereka berbaring dalam pelukan, napas mereka perlahan kembali normal. Wei Ling menggambar pola-pola kecil di dada Xiao Chen dengan ujung jarinya.
"Aku mencintaimu," bisiknya.
"Aku tahu." Xiao Chen mencium keningnya. "Dan aku... juga."
Itu pertama kalinya dia mengatakannya. Wei Ling menangis pelan—bukan sedih, tapi bahagia.
—
Kota Zamrud menyambut mereka tiga hari kemudian dengan hujan gerimis yang menyejukkan.
Begitu tiba, Liu Ruyan langsung menuju Paviliun Harta Surgawi untuk mengatur kapal udara ke Benua Utara. Xu Mei membantunya, meninggalkan Xiao Chen, Wei Ling, dan Lin Yao di penginapan.
"Berapa lama sampai kapal siap?" tanya Lin Yao.
"Liu bilang sekitar seminggu," jawab Xu Mei saat kembali sore harinya. "Kapal ke Benua Utara tidak sesering ke Benua Selatan. Kita harus menunggu."
"Seminggu di Kota Zamrud," kata Wei Ling. "Kita bisa bersantai sejenak."
"Atau menjelajahi kota," tambah Lin Yao. "Aku belum sempat melihat pasar utama."
Xiao Chen berdiri. "Kalau begitu, ayo."
—
Pasar utama Kota Zamrud adalah labirin gang-gang sempit yang dipenuhi toko-toko segala macam. Berbeda dari pasar di Kota Seratus Mata Air yang terapung, pasar ini dibangun di atas bukit, dengan tangga-tangga batu yang menghubungkan setiap tingkat.
Begitu Xiao Chen masuk, efeknya langsung terasa.
Seorang pedagang perempuan berambut perak—seorang elf kultivasi dengan telinga runcing dan mata biru es—sedang menata kristal-kristal elemen. Begitu dia melihat Xiao Chen, tangannya menyenggol seluruh rak, dan kristal-kristal itu mulai berhamburan. Dia bahkan tidak memperhatikan.
"Itu... itu..." bisiknya dalam bahasa elf.
Pedagang di sebelahnya, seorang manusia setengah baya berjubah mahal, terkekeh. "Pertama kali melihatnya juga? Aku sudah melihatnya lewat kemarin. Aku masih belum pulih."
Di tangga menuju tingkat atas, seorang gadis pengemis—mungkin dua belas tahun, pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut—duduk di sudut dengan mangkuk kayu. Begitu Xiao Chen mendekat, dia mendongak, dan mata cokelatnya membelalak.
"Kakak..." bisiknya.
Xiao Chen berhenti. Dia berjongkok di depan gadis itu. "Siapa namamu?"
"Xiao... Xiao Yu."
"Xiao? Sama sepertiku." Xiao Chen tersenyum. "Kenapa kau di sini sendirian?"
"Aku... aku tidak punya keluarga. Mereka... mereka dibunuh oleh binatang buas."
Wei Ling menutupi mulutnya. Lin Yao mengepalkan tangannya.
Xiao Chen menatap gadis itu lama. Lalu dia mengulurkan tangannya. "Kau mau ikut denganku?"
Xiao Yu menatap tangannya, lalu menatap wajahnya. "Aku... aku boleh?"
"Tentu saja."
Gadis itu meraih tangannya dengan tangan gemetar. Begitu berdiri, air matanya mengalir—bukan sedih, tapi karena seseorang akhirnya peduli.
"Mulai hari ini," kata Xiao Chen, "aku akan menjagamu."
—
Bersambung ke Episode 10...