lanjutan dari:
JODOH AISYAH (1)
JANJI ANISSA (2)
Zahira adalah gadis kecil nan mungil. Sejak usianya 9 tahun, ayahnya meninggal dan ibunya menikah lagi. Hingga Zahira di tinggalkan ibunya tanpa pertanggung jawaban. Sifat Zahira yang bar bar dan menyebalkan, cerewet, bawel, centil genit, namun iya banyak yang sayang. Kecil imut dan menggemaskan, 3 kata yang iya nobatkan sendiri untuk dirinya. Selebor adalah panggilan jika orang sedang kesal padanya
Hingga suatu saat iya di pertemukan dengan kakak laki lakinya yaitu ustadz Riziq dan ustadz Rasyid. Zahira di bawa ke pesantren dan dididik untuk menjadi muslimah yang baik. Sejak pertama iya menginjakan kakinya di sana, itu pertama kalinya iya bertemu dengan Yusuf seorang santri putra di sana. Sejak saat itu pula Zahira jatuh hati pada Yusuf. Diam diam Yusuf pun menaruh hati pada Zahira yang di anggapnya itu berbeda dengan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti aminah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu
Sore pun tiba. Aisyah yang sedari tadi merengek minta di ajak shoping ke butiknya Anisa, ita terus saja membujuk suaminya.
" Leee, ayo kita ke butiknya Anisa, kerudungku habis semua, tinggal yang dipakai saja. Kerudungku kan sudah dibabad habis oleh adik perempuanmu" tutur Aisyah sedikit merengek.
Riziq pun terdiam pasrah.
" Ya sudah ayo"
Mereka pun berjalan kaki menuju butiknya Anisa, kebetulan Adam dan Hawa sedang anteng bersama umi Salamah. Aisyah sudah menggandeng lengan suaminya. Mereka pun bertemu dengan Dewi.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Kalian mau kemana, sore sore begini sudah bergandengan tangan, tanpa anak anak pula" ucap Dewi.
" Maaf Wi, kita mau ng'det dulu" jawab Aisyah hingga Dewi mengerucutkan bibirnya.
" Kenapa ka Dewi cemberut seperti itu?" tanya Riziq.
" Kalian sudah bisa jalan jalan jam segini, sementara suamiku masih berjaga di pos sekuriti" ucap Dewi.
" Jadi abang Muklis masih berada di pos?, kenapa kau tidak menemaninya, kau kan bisa menjadi benteng pertahanan di gerbang pesantren" tutur Aisyah.
" Kau jangan macam macam Aisyah, kau fikir aku gembok" gerutu Dewi.
" Ya sudah, kita pergi duluan ya, mau shoping ke butiknya Anisa"
" Kau jangan membuatku iti terus" gerutu Dewi.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Riziq dan Aisyah pun melanjutkan kembali langkahnya menuju butiknya Anisa. Sesampainya di sana, mereka melihat Ibra dan Anisa sedang duduk di sofa, kebetulan butik lagi sepi. Ibra sedang asik mengelus perut buncit istrinya sambil mengajak berbicara si jabang bayi.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ibra dan Anisa pun tersenyum dengan kedatangannya Aisyah dan Riziq.
" Hati hati ustad Ibrahim, salah ngelus" ucap Riziq sambil tersenyum. Ibra pun tersenyum malu. Riziq pun berbisik pada Aisyah.
" Uni, aku iri dengan ustad Ibrahim, kau lihatkan barusan dia mengelus ngelus perut istrinya. Aku kapan uni mengelus perutmu. Anak anak kan sudah besar sekarang" bisik Riziq hingga Aisyah mengernyitkan keningnya.
" Kau tanya kapan kau bisa mengelus perutku?, bukannya hampir setiap malam kau mengelus ngelus perutku" jawab Aisyah sambil berbisik hingga Riziq tertawa kecil.
" Tentu saja berbeda uni, perutmu kan rata tidak besar seperti Anisa yang saat ini sedang mengandung"
" Kau yang sabar Le, mudah mudahan Allah kasih kita momongan lagi" ucap Aisyah.
" Aamiin"
Ibra pun berdehem saat melihat Riziq dan Aisyah malah saling bisik bisik.
" Ehem ehem"
Aisyah dan Riziq pun langsung menatap Ibra.
" Kenapa kalian bisik bisik begitu?" tanya Ibra.
" Ka Aisyah, mau pilih pilih sesuatu?, nanti kubantu" ucap Anisa. Aisyah pun tersenyum dan kini mereka memilih milih kerudung. Sementara Riziq dan Ibra malah asik mengobrol.
" Le yang ini bagus tidak?" tanya Aisyah pada Riziq. Riziq hanya mengangguk.
" Kalau yang ini?" tanya Aisyah kembali sambil memperlihatkan satu satu kerudung itu. Riziq hanya bisa mengangguk pasrah.
" Aku beli yang ini semua Nis" ucap Aisyah.
Anisa pun mulai menghitung berapa jumlah nominalnya di kasir.
" Nis, ngomong ngomong Elina kemana?" tanya Aisyah.
" Elina berkunjung ke rumah sodaranya yang ada di Jakarta bersama suaminya"
Riziq pun menghampiri.
" Berapa semuanya uni?" tanya Riziq.
Aisyah malah cengengesan.
" ........$" jawab Aisyah hingga Riziq sedikit menganga.
" Uni kau beli 2 apa 3?" tanya Riziq yang sedikit kaget dengan harga yang harus dibayarnya.
" Aku beli 9 Le" ucap Aisyah sambil cengengesan.
" Astaghfirullah alazim" Riziq menggeleng geleng. Anisa yang melihat pun hanya tersenyum saja.
" Itu yang kerudung 9 mau dipake sekaligus?"
" Ya nggak atuh Le, belinya emang langsung 9, tapi kalau makenya satu satu" jawab Aisyah.
Riziq hanya pasrah. Setelah membayar kerudung kerudung itu, mereka pun pamit pulang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
_ _ _ _ _ _ _
Kini Zahira sudah bercermin menatap dirinya yang kini sudah menggunakan hijab panjang yang dimintanya dari Aisyah.
Zahira pun tersenyum.
" Cantik" satu kata yang keluar dari mulutnya.
Erika hanya tersenyum menatapnya.
" Kau masih terlihat imut meskipun memakai kerudung panjang seperti itu" ucap Erika.
" Kau memujiku?" tanya Zahira.
" Hmmm, kurang lebih seperti itu" jawab Erika. Zahira hanya diam sambil menatap Erika, hingga Erika mengernyit keheranan.
" Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Erika.
" Kau bukan buah buahan kan???" tanya Zahira.
" Maksudmu?"
" Kau bukan jeruk makan jeruk kan?" jawab Zahira.
" Zahara kau Ira" ucap Erika sambil mengerucutkan bibirnya.
" Namaku Zahira, bukan Zahara" protes Zahira.
" Maksudku jahaaaat" ucap Erika.
Ceklek.
Pintu kamar pun terbuka. Terlihat Syifa masuk ke dalam kamar itu.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab Erika dan Zahira.
Syifa pun terdiam menatap Zahira.
" Kenapa kau menatapku seperti itu Syifa?, apa kau terpesona padaku?" tanya Zahira.
" Ka Ira cantik kaya ka Aisyah" ucap Syifa.
" Ayo, ustad Usman pasti sudah menunggu kita di perkebunan" ajak Erika.
Mereka bertiga pun pergi ke perkebunan untuk menerima hadiah dari ustad Usman untuk mempertanggung jawabkan hasil perbuatan mereka yang bolos saat pengajian.
Sesampainya di perkebunan, dilihatnya ustad Usman, Riziq, ustad Rasyid dan ustad Soleh sedang bercocok tanam.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" ustad Usman, aku sudah tidak sabar menunggu hadiah" ucap Syifa.
Ustad Usman pun tersenyum melihat penampilan Zahira yang kini sudah menggunakan kerudung panjang.
" Kenapa om ustad melihatku seperti itu?, aku telihat cantik banget ya" ucap Zahira sambil tersenyum senyum. Hingga ustad Usman mengernyitkan keningnya.
" Kau selain merubah penampilanmu, kau pun harus merubah sikap genitmu itu" ucap ustad Usman.
" Iya om ustad, aku sedang berusaha pelan pelan. Lagi pula aku tidak genit genit pada om ustad, hanya mengungkapkan fakta yang ada kalau aku memang cantik menggemaskan" tutur Zahira.
" Sakarepmu Ira"
Zahira pun terdiam melihat Riziq sedang merawat kebun cabe paporitnya.
" Pantas saja kalau sedang marah dia suka mengeluarkan kata kata pedas, hobinya mainin cabe" ucap Zahira sambil menatap kakaknya.
" Tidak usah heran melihat kakakmu yang berondong itu, dia hobinya memang berpesta pora dengan cabe" ucap ustad Usman.
Kini Syifa sedang berjingkrak jingkrak di perkebunan hingga ustad Usman menyipitkan matanya.
" Heeeh anaknya bang Muklis, jangan jingkrak jingkrak disitu, kalau kau sampai menginjak bibit yang baru kutanam, kutaburi kau pupuk urea, biar kau tumbuh besar mendadak" tutur ustad Usman.
" Mana hadiahnya ustad Usman?" tanya Syifa.
" Sepertinya kau sudah tidak sabar ya ingin mendapatkan hukuman dariku. Baiklah kubagi tugas untuk kalian, Erika kau beri pupuk sayuran paling ujung, dan kau Ira, babad semua rumput yang ada" ucap ustad Usman.
" Termasuk membabad om ustad?" tanya Zahira.
" Kau jangan macam macam ya"
" Ustad Usman, aku ngapain?" tanya Syifa.
" Kau tidak perlu ngapa ngapain, kau cukup berguling guling saja di tanah perkebunan. Aku yakin, hama hama tanaman langsung minggat" ucap ustad Usman hingga Syifa mengerucutkan bibirnya. Sementara Zahira dan Erika sudah cekikikan.
" Ya sudah kau ambil air pake ember, kau sirami bibit bibit yang baru tumbuh" ucap ustad Usman.
Syifa pun mengangguk ngangguk.
" Syifa, jangan lupa ya siramnya yang bersih sampai wangi" ucap Zahira hingga Syifa terdiam lalu mengangguk.
" Sebentar ya aku mau pulang ngambil sesuatu" ucap Syifa sambil berlalu pergi sambil berlari.
" Heeii anaknya bang muklis kau mau kemana?" teriak ustad Usman.
Tidak lama kemudian Syifa datang kembali sambil membawa sabun mandi.
" Kenapa kau datang datang bawa sabun mandi?" tanya ustad Usman.
" Kata ka Ira nyiramnya harus bersih sampai wangi, makanya aku bawa sabun mandi biar bibit bibitnya pada wangi" tutur Syifa. Ustad Usman langsung menyipitkan matanya pada Zahira. Zahira sudah tersenyum getir.
Mereka pun mengerjakan tugas yang diberikan oleh ustad Usman. Zahira sudah duduk sambil melamun memikirkan Yusuf.
" Ka Yusuf aku rindu" batin Zahira.
Dari kejauhan ustad Usman menatap Zahira.
" Ustad Riziq, ustad Rasyid, kalian lihat adik perempuan kalian itu. Sore sore sudah melamun, sepertinya dia sedang kerasukan dedemit pohon cabe" ucap ustad Usman. Riziq dan ustad Rasyid pun menatap Zahira yang kini sedang melamun. Perlahan Riziq pun menghampirinya.
" Kau kenapa Ira?" tanya Riziq. Zahira pun menatap kakaknya itu.
" Aku rindu ka Yusuf"
Riziq pun terdiam lalu mengelus kepalanya Zahira.
" Kau yang sabar, sepertinya Allah sedang merencanakan sesuatu" ucap Riziq. Zahira pun mengangguk.