"Saya akan bertanggung jawab menikahimu, tapi tanda tangani surat kontrak ini." Aston melemparkan perjanjian kontrak pernikahan ke wajah Ayumi—pembantunya.
"Oke! Saya juga nggak mau lama-lama nikah sama pria galak dan jelek kayak Anda!" balas Ayumi, seraya mengambil lembaran kertas perjanjian yang jatuh di lantai.
Aston mengepalkan tangan, geram pada gadis itu yang telah berani mengoloknya. Ia memejamkan mata, menahan amarah, tapi di saat bersamaan, ia kembali teringat saat kemarin malam pulang dalam keadaan mabuk, dan meniduri pembantunya itu.
Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pastikan mentalnya terjaga
Melihat Aston diam saja. Dokter tersebut pun kembali bicara.
"Anda tidak tahu kalau istri Anda depresi?" Pertanyaan dokter itu membuat Aston mengerjab beberapa kali.
Perlu beberapa saat dia mencerna semua ini. Aston bingung bercampur cemas mendengar penjelasan dokter itu.
"Kami masih terhitung pengantin baru," jawaban Aston membuat dokter itu mengangguk paham. "Tapi, bagaimana dokter bisa mengetahuinya?" tanya Aston, penasaran, pasalnya dokter itu adalah spesialis kandungan, bukan psikolog apalagi psikiater. "Selama ini dia kelihatan baik-baik saja, tidak menunjukkan depresi atau masalah mental lainnya."
"Saat kami akan memberikan obat penenang tapi obat itu tidak berfungsi dengan baik. Akhirnya kami tadi memanggil dokter anestesi untuk membiusnya. Ada faktor besar yang membuat obat penenang tidak bekerja di tubuhnya, yaitu karena dia sering mengonsumsi obat penenang dengan dosis tinggi tanpa anjuran dokter. Ini juga bisa berakibat fatal pada janin, mengingat istri Anda sedang hamil." Dokter menjelaskan secara rinci. Tapi, dia belum selesai. "Dan ... mungkin istri Anda sudah menunjukkan tanda depresi hanya saja Anda belum menyadarinya, contohnya kecemasan berlebih, dan sulit tidur malam hari. Jadi saya harap selanjutnya Anda lebih peka dan merangkul istri Anda agar mentalnya lebih terjaga." Dokter menatap Aston penuh harap, kemudian pamit undur diri, meninggalkan pria itu yang mematung di tempat.
Aston terdiam beberapa saat setelah mendengar penjelasan dan nasehat dokter tersebut. Pikirannya langsung tertuju pada kejadian sebulan yang lalu di mana saat dirinya memaksa gadis itu untuk berhubungan badan saat dirinya tengah mabuk berat. Belum lagi Ayumi merasa tertekan karena kehamilannya, dan bullyan dari para pelayan lain. Juga sikapnya yang dingin, acuh, dan selalu menekan Ayumi. Mungkinkah karena semua faktor itu yang membuat Ayumi depresi?
Bodoh!
Aston memaki dirinya sendiri seraya mencengkram rambutnya kasar saat teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Di mana Ayumi di siksa oleh Bu Yanti. Seharusnya ia bertindak lebih cepat, memecat para pelayan di rumahnya, tapi sayangnya ia bersikap masa bodo dan menganggap semua itu hanya hal sepele. Aston menyesali semuanya. Hampir saja dia kehilangan calon anaknya, dan istrinya.
Ia menarik nafas panjang sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Ceklek.
Pintu ruangan di dorong paksa dan tergesa dari luar. Allegra dan Gerry masuk ruangan itu dengan raut panik.
"Aston ..."
Aston menoleh menatap kakek dan neneknya dengan kedua mata memerah.
"Bagaimana keadaan Ayumi? Dia baik-baik saja 'kan? Calon cicitku juga baik-baik saja 'kan?" Allegra memberondong cucunya dengan berbagai pertanyaan.
"Emh, ya, semua baik-baik saja, Oma. Dokter menanganinya dengan cepat," jawab Aston, serak menahan tangis. Ia menatap Ayumi yang masih terpejam karena efek bius.
Allegra dan Gerry mendekati ranjang pasien.
"Oma ..." panggil Aston lirih.
Allegra menoleh, "ya?"
"Hampir saja aku akan kehilangan untuk kedua kalinya," lirihnya tapi masih terdengar ditelinga Allegra dan Gerry. "Aku merasa bodoh dan jahat sekali karena sempat mengabaikannya dan tidak menjaganya," tambahnya, penuh penyesalan.
"Aston, jadikan kisah masa lalumu itu pelajaran hidupmu. Jangan sampai terulang kali kesalahanmu yang dulu." Gerry menasehati cucunya dengan penuh kebijaksaan tanpa berniat menghakimi cucunya.
"Benar kata Opamu, As. Oma dan Opa akan sedih dan tidak akan memaafkanmu jika hal itu terulang lagi!" Allegra berkata cukup tegas untuk mengingatkan tentang kisah masa lalu cucunya yang pahit, harus kehilangan orang yang di cintai untuk selamanya serta anak biologisnya pun ikut membenci sampai saat ini. "Kasihan gadis malang ini, As. Kamu sudah merenggut masa depannya, kesuciannya, dan sekarang dia harus menderita karena ulah Bu Yanti yang biadap itu." Sumpah, Allegra tidak akan pernah memaafkan wanita iblis itu yang telah menyakiti cucu menantunya sampai seperti ini.
"Aku akan memberikan wanita itu pelajaran dengan tanganku sendiri!" geram Aston, sangat marah saat melihat dengan mata kepalanya sendiri kekejaman Bu Yanti kepada istrinya.