"Setiap orang memiliki alasannya sendiri mengenai bagaimana ia harus bersikap. Jadi, tugas kita bukanlah untuk membenci ataupun bertanya mengapa? tapi kita wajib menghargainya"
.
Aisyah Raina Abdullah, gadis cantik yang memilih menutup dirinya, demi untuk menjaga marwah pribadinya juga keluarganya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia mengenal sifat. Ada yang murah senyum, ada pula yang dingin layaknya es.
Saat itu juga, Raina menemukan sosok pria yang sangat berbeda baginya, namanya Malik Fajar Admajaya. Akrab di sapa Fajar, ia adalah laki-laki yang memiliki sifat sedingin es.
Ia juga sangat membenci sosok wanita, kecuali sang Ibunda. Selama ini ia tak mau perduli dan tersenyum pada wanita manapun, kalaupun ia memiliki seorang 'wanita' itu hanyalah permainan baginya.
.
Kemudian, dua anak manusia yang berbeda karakter itu dipersatukan dalam mahligai cinta yang halal.
Walaupun pasti banyak rintangan yang akan menghadang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tris riyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darimana Dia
Raina Pov
Panas dadaku..
ketika aku melihat kenyataan,
kau menghabiskan malammu
bersama gadis asing
yang tidak lah halal bagimu..
...-----♡●♡-----...
Malam pertama ku bersama dengan dirinya, tak seindah yang pernah orang lain bayangkan. Bagaimana tidak, belum juga sampai di rumah, dia sudah meninggalkanku. Jangankan berbasa-basi mengatakan ia akan pergi kemana, bicara satu katapun tidak padaku.
Kulihat, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB malam, tak ada tanda-tanda kepulangan Kak Fajar, perasaan khawatir mulai hadir dalam hatiku. Bagaimana pun dirinya, Kak Fajar tetaplah suamiku.
Setelah beberapa saat aku pun kalah dengan kantuk yang menyerangku, kemudian aku merebahkan tubuhku di atas sofa panjang di kamar ini.
...*****...
Dert.. dert.. dert..
.
Suara alarm dari ponselku membangunkanku, seketika aku terperanjak. Aku teringat kak Fajar.
"Apakah dirinya belum pulang? ini sudah pukul 03.00 pagi, dan dimana dia menghabiskan malam," cicitku pelan sambil melihat kearah jam dinding di kamar ini.
Namun mataku terhenti ketika aku melihat, ada sepatu di atas kasur kak Fajar. Agaknya sepatu itu masih menempel di kaki seseorang, atau mungkin itu Kak Fajar. Ia sengaja menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, agar ia tak terganggu dengan kehadiranku.
Dasar bodoh! Suami pulang kok gak kamu persilahkan sih Raina, bahkan dia pulang aku malah enak-enakan tidur. Sungguh.. ini bukan yang Umi ajarkan padaku – kataku dalam hati, sambil mengutuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku terlelap dan tak menyadari kepulangan Kak Fajar.
Dan untuk menebus rasa bersalahku, aku kemudian mendekat kearah tempat tidur. Dengan sangat hati-hati aku membantu Kak Fajar melepas sepatu yang masih melekat di kakinya, karena menurutku tidaklah nyaman tidur dengan menggunakan sepatu.
Aku juga sedikit kaget ketika Kak Fajar, menggerakkan kakinya. Namun, aku terkekeh melihatnya, "Maaf kak Fajar, ana cuma mau bantu bukain sepatu kok gak lebih," kataku pelan.
Kemudian, mungkin karena merasa pengap didalam selimutnya yang tebal, kak Fajar dengan kekuatannya membuka selimut yang menutupi wajahnya, sampai-sampai selimutnya terpental jatuh menutupi wajahku.
Sekali lagi aku terkekeh, entah ini lucu atau tidak, pokoknya baru kali ini aku melihat sisi lain dari ‘pria es’ yang tengah tertidur ini.
Ia konyol ketika tertidur, dan tampak seperti sosok yang berbeda, tidurnya juga tidak bisa diam. Terkadang tengkurap, terkadang telentang, bahkan.. ia sempat akan terjatuh, kemudian dengan segera aku menyelamatkannya.
Maafkan aku yang berdosa ini Kak Fajar, sungguh saat kamu tidur itu berbanding terbalik sekali ketika kamu bangun, dan lebih baik kamu seperti ini Kak Fajar – batinku yang masih menahan gelak tawaku.
Namun kelucuan ini segera berakhir ketika sebuah kalimat dengan tidak sadar kak Fajar ucapkan.
"Gue benci sama lo Citra. Dhuha.. lo sahabat macam apa hah?! lo juga Raina!! Kenapa orang-orang seperti kalian harus hadir di hidup gue. Gue tahu.. Raina!! Lo nikahin gue, karena kasihan sama gue kan? Gak-gak.. gue gak perlu dikasihani. Sama siapapun, gue bisa hidup dalam kegelapan ini. Dan elo Raina!! gue.. gue bakal pastiin elo gak akan hidup bahagia disini. Bunda bisa aja paksa gue nikah sama lo, tapi inget gue gak pernah anggap lo ada."
Tentu saja aku terluka dengan katanya, bahkan ia membenciku didalam mimpinya, ia tak menerima ku.
Tubuhku lemah rasanya, mendengarkan apa yang telah kak Fajar katakan, aku kemudian teduduk lemas, di lantai. Aku mencoba menumpahkan segalanya dalam isakan tangisku.
Namun, sekali lagi aku mampu kuat ketika teringat perkataan Umi tempo hari.
“Setelah mengetahui itu semua, apa kamu akan mundur nduk?”
“Gini.. Umi dan Abi, juga Sinta dan Surya.. sudah mendiskusikan ini sejak lama. Umi paham betul dengan sifat Fajar, dan bagus lah kalau kamu sudah sedikit mengenalnya. Satu harus kamu ingat nduk, manusia itu layaknya sekeping koin. Ia memiliki dua sisi berbeda, nah.. saat ini mungkin kamu sedang melihat sisi buruk dari Fajar. Terus.. apa kamu ndak mau, membalik koin itu?”
Dari awal, aku bahkan sudah mengetahui sifat dan sikap kak Fajar, bahkan aku juga tahu ia tidak menyukai kahadiraku di dekatnya. Apalagi sekarang, keadaan malah mungkin mempersulit perasaannya. Aku malah akan selalu ada di dekatnya.
Yah.. aku ingin membalik koin itu, mengembalikkannya menjadi pangeran kesayangan Bunda Sinta.
“Jangan lemah Raina, perjuanganmu baru akan dimulai hari ini. It’s ok, kalau dia menolak dan masih keras kepala. Bukankah batu yang keras juga akan hancur bila tersiram oleh lembutnya air hujan yang terus membasahinya? Begitupun kak Fajar, aku tidak akan pernah mundur, sekalipun dia yang memintaku untuk pergi dan menjauh dari dirinya,” kataku pelan, sambil kutatap lekat wajah polos kak Fajar ketika tengah tertidur.
Kemudian aku membenarkan posisi tidur kak Fajar dan juga selimutnya, karena pagi ini cukup dingin setelah hujan semalam.
Langsung saja aku pergi menuju kamar mandi, aku ingin membersihkan diri, kemudian seperti biasanya tak pernah kulupa aku menemui Rab-ku, Dia-lah sumber segala kekuatan. Mungkin tanpa kehadiran-Nya aku tak akan mampu melangkah sejauh ini.
Ya Rabbana.. Sang pemilik hati, kusandarkan dan kutitipkan jiwa dan hati yang lemah ini pada-Mu ya Rab. Aku percaya akan semua kekuatan-Mu.. aku sudah mendengarkan kebenciannya padaku, namun aku percaya hatinya ada dalam genggaman-Mu. Kini tinggal akulah yang harus berjuang untuk merubahnya, mengembalikan senyumannya dan menjadikannya putra yang terbaik, bagi Bunda Sinta. Ya Rab, ridhoilah diriku untuk memulai segala perjuangan dalam mahligai kehidupan bersama dengan dirinya. Aamiin - bisikku lirih pada-Nya sang Pemilik Hati.
Usai shalat, kemudian aku melanjutkan aktivitasku menambah hafalan sekaligus bermuraja’ah, sambil menunggu azan Subuh berkumandang. Namun, aku terhenti ketika mendengar nada notifikasi dari sebuah ponsel, ku periksa itu bukan dari ponselku.
Kemudian aku melihat ponsel Kak Fajar yang tergeletak di atas nakas disamping tempat tidurnya. Aku membuka ponsel itu dan kulihat notifikasi wa dari seorang yang kuduga seorang gadis.
“Kak Fajar.. makasih untuk malam ini ya, aku bahagiaaa banget. Aku tunggu nanti kedatanganmu lagi," tulis gadis itu lengkap dengan emoticon penuh cinta serta stiker yang tak pantas untuk kak Fajar, yang membuat dadaku panas rasanya.
Apa yang kak Fajar lakukan dengan gadis ini? bahkan dimalam pertama kami Apakah--- - batinku terhenti karena mendengar suara azan subuh berkumandang.
Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar..
Aku mencoba bergeming, dengan apapun itu, aku percaya penuh pada Allah. Dia lah Fajar imam terbaik yang Allah kirimkan untukku. Jika bukan sekarang, aku yakin nanti ia akan berubah.
Bukankah semuanya butuh proses? Kemudian, setelah azan usai aku langsung berdiri dan menjalankan shalat sunnah Fajar.
Aku teringat sebuah hadits yang menyebutkan keutamaan shalat sunnah fajar itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya.
Setelah itu, kulanjutkan dengan shalat subuh. Usai shalat aku memandang kearah kak Fajar yang masih terlelap, ia benar-benar tertidur dalam. Padahal suara azan sangat jelas terdengar di rumah megah ini.
Kemudian aku berinisiatif mengambil ponsel Kak Fajar, dan aku memasang alarm untuk membangunkannya. Aku harap ia tak mempermasalahkan kelancanganku, karena membuka ponselnya tanpa meminta izin darinya.
“Jika bukan aku yang membangunkanmu, semoga alarm ini bisa membangunkanmu Kak Fajar. Maaf aku sudah lancang membuka ponselmu,” kataku lirih sambil meletakkan kembali ponsel Kak Fajar di tempatnya semula.
...*****...
Fajar telah menyingsing, Fajar matahari maksudku. Sedangkan Fajar suamiku, aku tidak tahu. Kerena, begitu aku usai bersiap-siap, aku kemudian pergi menuju dapur dan memaksa membantu Mbok Asih menyiapkan sarapan.
Ya.. aku memaksa, karena Mbok Asih sempat menolak aku membantunya, kata Mbok Asih, Bunda Sinta saja sangat jarang memasak di dapur. Dan juga dapur tidaklah cocok bagi seorang wanita yang memiliki jabatan dan pendidikan tinggi.
Namun, dengan penjelasan penuh kesabaran, aku menjelaskan bahwa tak ada perbedaan antara aku dan Mbok Asih.
Bukankah seorang chef yang hebat dan terkenal juga berpendidikan tinggi? Dan mereka malah lebih sering menghabiskan waktunya di dapur.
Mendengar penjelasanku akhirnya Mbok Asih setuju dan mengizinkanku membantunya.
“Non, gimana malam pertamanya?” tanya mbok Asih yang membuatku kikuk.
Aku tak tahu harus menjawab apa? Jika aku jujur maka itu tidak baik untuk Kak Fajar. Tapi.. jika aku berbohong mungkin itu akan membuat Kak Fajar semakin membenciku. Baiklah.. kali ini, diam agaknya menjadi senjata ampuh bagiku.
Melihatku diam dan tak menanggapi pertanyaannya, Mbok Asih kemudian merangkul pundakku, “Mbok tahu non, semuanya mbok tahu.”
Mendengarkan perkataan mbok Asih, aku hanya bisa mengerenyitkan dahi, Aku tak paham maksudnya, dan apa yang mbok Asih tahu? – batinku.
“Semalam.. Den Fajar pulang dalam keadaan mabuk, sekitar jam 01.00 malam non. Kemudian, Mbok minta tolong ke Pak Maman untuk antar Den Fajar kekamarnya. Dan mbok disana ndak lihat Non Raina, mbok kira Non Raina sedang di kamar mandi. Makanya Mbok sama Pak Maman langsung keluar dari sana,” jelas Mbok Asih tentang Kak Fajar tadi malam.
“Kak Fajar sering mabuk ya mbok?” tanyaku sedikit pelan.
“Den Fajar itu.. dulu dia adalah pemuda yang saaangat baik. Ramah, rajin, dan ndak pernah neko-neko non. Bahkan ia seperti Non Raina ini, ndak pernah membedakan orang lain. Setiap makan pasti Den Fajar ajak mbok, Pak Maman makan bersama. Karena Bapak sama Ibuk sering keluar kota. Hehe (tertawa) padahal kan kan kami ini cuma pembantu Non, tapi Den Fajar sudah anggap kami sebagai keluarga," ucap Mbok Asih terjeda, ia kemudian memasukkan bumbu kedalam masakan yang dibuatnya.
“Kemudian dengan berjalannya waktu, Den Fajar berubah. Dia juga jarang banget Non makan dirumah. Lebih sering mabuk-mabukan, dan tidak terkontrol,” lanjut Mbok Asih.
“Mbok Asih, tahu banyak ya.. tentang Kak Fajar?” tanyaku sambil terus mengaduk-aduk masakan.
“Yah.. begitulah Non. Sejak Den Fajar kecil, Mboklah yang mengasuhnya. Istilahnya mbok itu...” ucap mbok asih terjeda, agaknya ia tidak mengingat istilah bahasa inggrisnya.
“Baby sitter mbok?” kataku mengingatkan.
“Nah.. iya itu Non maksud mbok.. baby sister.” Melihat reaksi Mbok Asih, membuatku terkekeh, begitupun mbok Asih.
“Bunda sama Ayah kok belum kelihatan ya mbok?” tanyaku celingukan kearah luar dapur, untuk memastikan Bunda Sinta dan Ayah Surya.
“Owh.. tadi malam, sekitar jam duaan bapak sama ibuk pergi Non. Biasa lah urusan bisnis, dan Ibuk sengaja gak kasih tahu Non Raina karena udah larut, Non pasti udah tidur," jelas mbok Asih, yang kujawab dengan anggukan paham.
Setelah selesai masak, aku kemudian membantu Mbok Asih menyajikan sarapan di meja makan. Kemudian, aku menuliskan sesuatu untuk kak Fajar, yang kutitipkan pada Mbok Asih.
“Mbok.. ana makan di kantin kampus aja ya, soalnya nggak keburu kalau makan di rumah. Dan ini.. ana nitip surat ini untuk Kak Fajar ya Mbok, dan ana juga minta tolong sama Mbok Asih, untuk memastikan Kak Fajar makan pagi dirumah ya Mbok. Juga ini.. teh jahe, ini sangat baik buat Kak Fajar, sehabis mabuk semalam.”
Mendengar penjelasanku Mbok Asih tampak paham, kemudian aku langsung berpamitan berangkat ke Kampus dengan menunggu angkutan umum yang pasti akan lewat di depan rumah megah ini.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menitan, akhirnya bus yang kunantikan tiba juga, segera aku langsung masuk dan berangkat menuju kampus.
Di dalam bus, fikiranku selalu tertuju pada Kak Fajar, aku berharap kali ini ia mau untuk memakan sarapan yang telah aku siapkan dan meminuh teh jahe yang akan meringankan efek mabuknya semalam.
-----♡●♡-----
Alhamdulillah up lagi😁
Hemm.. kali ini, Raina mencoba berbaikan dengan keadaan loh💪
Seperti apapun Fajar.. Raina merasa, memastikan Fajar baik-baik saja adalah tugasnya.
Raina memulainya lewat membuatkan sarapan untuk Fajar.
Nah.. kira-kira apakah Fajar mau memakan sarapan yang disiapkan Raina?🤔
Yuk.. author tunggu komentarnya😀 ya kak, dan jangan lupa juga like🖒 dan votenya✔ juga yah..
Jazakillah Khair 💖
semangat terus ya thor...
tetap semangat untuk karya selanjutnya .... love you full....😍😍😍
semangat ya....
aku udah baca sampai sini....
lanjut terooos....💪💪💪💪💪💪
di tunggu kelanjutan nya 👍👍❤❤❤
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa