ADULT STORY!
Allferd Xander Maverick, seorang direktur perusahaan IT sekaligus chef ternama, siapa sangka jika sebenarnya Allferd adalah sosok yang berbahaya. Allferd adalah seorang psikopat.
Kemudian jiwa obsesi muncul dari psikopat tampan itu ketika melihat sosok aktris yang mirip dengan mendiang kekasihnya 8 tahun lalu.
"Presetan dengan cinta! Aku hanya ingin memilikimu saja. Apakah itu harus mengatas namakan cinta?"
"Keparat. Kau memang tak punya hati,"
Bagaimanapun caranya, Allferd harus membuat Stella menjadi miliknya karena Allferd tidak akan membiarkan dirinya sendiri untuk merasakan kahilangan lagi.
Apapun yang sudah berada di genggaman Allferd, tak akan semudah itu untuk Allferd lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Psychopath Obsession - 12
"Aku kira kalian sudah kembali sejak kemarin," Allferd duduk bersandar di jok belakang mobil bersama Stella di sampingnya, sedangkan Victoria duduk di kursi penumpang depan dan Aiden mengemudikan mobil.
"Tidak, pesawatnya berangkat malam ini. Aku dan Vic sedang mencari udara kemudian bertemu kalian,"
"Mencari udara di pinggir kota?" Ada nada sinis di balik pertanyaan Allferd.
Sebodoh-bodohnya Allferd, ia sangat yakin jika kehadiran Aiden dan Victoria di sini bukanlah semata-mata hanya sebuah kebetulan.
"Well, I know you can't be lied to." Balas Aiden santai, seakan ini adalah hal yang biasa.
"Tapi aku tidak berbohong jika aku dan Vic sedang mencari udara," lanjutnya.
"Aku dan Vic sedang mencari tempat makan di NYC Time's Square, ada sebuah keributan yang terjadi di tempat ramai, mungkin ada yang mati di jalan itu tapi aku tidak peduli. Karena keadaan yang ricuh, aku dan Vic memutuskan untuk pergi mencari tempat makan lain, aku melihat banyak mobil hitam yang terlihat mencurigakan gerak-geriknya, ternyata mereka mengikuti mobilmu. Aku masih ingat dengan jelas jika itu adalah mobil yang kau gunakan saat pergi ke makam,"
"Jadi sejak awal kau sudah tahu jika aku di ikuti tapi kau hanya diam saja bahkan saat aku di serang!?" Allferd menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Aku tahu kau tidak selemah itu, terbukti kau berhasil menghabisi musuh-musuh seorang diri saat kau di serang baku tembakan. Dan bersama gadismu, omong-omong bukankah kau Stella?"
Stella tersenyum tipis, pipinya yang luka sulit untuk di ajak bekerja sama. "Iya aku Stella," jawab Stella tanpa curiga, tentu saja Sella tidak curiga karena dirinya adalah seorang bintang tersohor siapapun mengetahui tentang dirinya.
Victoria tersenyum lebar kemudian mengulurkan tangannya kepada Stella, mengajak untuk berkenalan. "Oh hai, kau Stella? Aku Victoria Esparanza. Aku menyukai setiap filmmu bahkan aku rela berlangganan majalahmu."
"Aku Stella Daddario. Senang berkenalan denganmu Vic, terima kasih banyak."
"Astaga, apa yang terjadi dengan pipimu? Lukamu harus di sembuhkan, tidak ingatkan jika kau adalah seorang bintang," tangan Victoria terangkat untuk menyentuh area sekitar luka Stella.
"Dia begitu cerewet," sindir Aiden.
Stella melirik Allferd sekilas dengan bengis. "Seseorang tadi melukai pipiku menggunakan pisau," sedangkan yang di tatapnya hanya menunjukan wajah tak berdosa.
"Unik sekali. Ketika sepasang kekasih bertengkar kau melukai Stella menggunakan pisau dan Stella membalasnya dengan menembak bahumu," ucap Aiden dengan nada mengejek, sedangkan yang di ejeknya hanya mendengus malas.
"By the way, who are you?" Stella memberanikan diri bertanya kepada Aiden.
"Aku adik dari pria di sampingmu. Namaku Christopher Aiden, kau bisa memanggilku apa saja." jawab Aiden senang hati.
"Senang bertemu dengan kalian," balas Stella ramah.
"Aku akan mengantarkan kalian menuju rumah Allferd. Karena aku harus pergi ke Las Vegas dan Vic harus kembali ke Milan malam ini."
Victoria melotot kepada Aiden. "Kau tidak memberitahuku jika kita tidak pulang bersama?"
Aiden mengedikan bahunya santai. "Aku baru saja memberitahumu,"
Victoria memutar bola matanya malas. "Oh, shit."
***
Aiden memberhentikan mobil mewah sedan hitam di depan rumah Allferd, seakan membiarkan para tumpangannya itu turun di sini dan tidak mengantarkannya hingga masuk ke dalam rumah mengingat mereka berdua sedang dalam keadaan terluka.
"Cepat masuk dan obati luka kalian. Aku dan Vic hanya membantu kalian sampai sini."
Stella memeluk Victoria dan Aiden secara bergantian sebagai rasa terima kasihnya.
"Terima kasih banyak,"
"Dengan senang hati, lain kali kita harus bertemu kembali." Balas Victoria ramah.
"Apa maksudmu hanya membantu kami sampai sini?" Allferd bertanya, ucapan Aiden di telinganya adalah kalimat ambigu.
"Kapan kau akan menemuiku lagi?" Allferd terus bertanya.
Aiden melemparkan pistol kepada Allferd. "When you die, maybe?" jawab Aiden santai di akhiri dengan nada pertanyaan.
Allferd memandang pistol yang di berikan oleh Aiden secara lekat-lekat, ini bukan sebuah pistol biasa. Pistol pemberian Aiden ini adalah pistol yang tidak di jual sembarang tempat, perlu khusus memesannya untuk mendapatkan sebuah pistol dengan sebuah ukiran pisau kecil di bawahnya dan ada sebuah ukiran berbentuk tulisan 'A Maverick'.
"Itu bukanlah sebuah pistol biasa. Terdapat peluru dengan racun mematikan, reaksinya cepat hanya satu tembakan karena aku sudah menggunakannya. Gunakanlah itu sebaik mungkin," Aiden memperjelas apa maksudnya ia memberikan pistol itu kepada kakaknya.
Allferd tersenyum kemudian menepuk bahu adiknya sebanyak dua kali. "Aku merestuimu dengan Victoria."
Kemudian Allferd dan Stella keluar dari mobil Victoria lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah Allferd untuk mengobati luka mereka masing-masing.
***
"Kau pernah sekolah kedokteran?" Allferd menahan ringisannya ketika Stella menekan bagian luka tembaknya menggunakan obat merah.
"Tidak, aku bisa melakukan ini karena dulu ayahku sering terluka." Jelas Stella tanpa menatap Allferd sedikitpun, ia fokus mengobati luka tembak di bahu Allferd.
"Tidak ada informasi tentang ayahmu. Aku hanya tahu kau memiliki seorang ibu dan kakak," Allferd memiringkan kepalanya, berpikir.
Stella tersenyum miris. "Jangankan dirimu, aku saja tidak mengetahui keberadaannya."
"Maksudmu?"
"Ayahku pergi meninggalkan rumah setelah bertengkar hebat dengan ibuku. Itu terjadi sebelum aku menjadi seorang artis,"
Stella memasukan kembali peralatan ke dalam kotak obat, luka Allferd sudah ia obati. Namun, Allferd menahan tangan Stella dan mendorong perempuan itu untuk bersandar di sandaran sofa. Stella sempat menahan napasnya ketika posisinya dengan Allferd sangat berdekatan.
"Pipimu terluka. Aku akan mengobatimu," Allferd memberi jarak di antara mereka, mengambil alih kotak obat dan mulai mengobati luka Stella secara perlahan.
"Who is your woman?" Tanya Stella memberanikan diri.
Mendengar pertanyaan Stella, tubuh Allferd sempat menegang, gerakan jarinya yang sedang mengobati luka Stella juga sempat terhenti namun Allferd pintar untuk menutupi reaksi alaminya ketika di tanya soal Julia.
"She's Julia."
"You love her so much, she's a lucky woman." Stella meraih tangan Allferd dan di usapnya punggung tangan itu secara perlahan, Allferd tertegun dengan sikap Stella.
"Where is she?"
"In rest peace." Jawab Allferd setelah terdiam cukup lama.
Stella memejamkan matanya ketika mendengar jawaban yang di berikan oleh Allferd, sedangkan Allferd sendiri memasukan kembali obat ke dalam kotaknya.
"Aku mengerti. Aku turut berduka cita."
"Don't say it," Allferd mendesis meskipun membuang pandangannya dari Stella.
"Maafkan aku,"
Allferd meletakan kotak obat di atas meja, ia menyandarkan tubuhnya di sudut sofa panjang kemudian ia menepuk-nepuk pahanya memberi kode kepada Stella.
Dengan gerakan kaku, Stella berbaring dengan kepala berada di atas paha Allferd, tangan Allferd bergerak untuk mengusap rambut dirty blonde Stella.
"Kembalikan warna rambut aslimu,"
Dengan mata terpejam, Stella menganggukkan kepalanya.
"Ceritakan," ucap Stella dengan posisi masih sama.
Allferd mengangkat kedua alisnya, "tentang apa?"
"Masa lalumu,"
Allferd menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengalirlah cerita masa lalu Allferd yang begitu memilukan di indra pendengaran Stella. Hingga tanpa di sadari mereka berdua terlelap dengan posisi seperti itu.
Terlalu lelah, air mata, amarah, bunyi tembakan, luka dan darah menghiasi kisah percintaan mereka.
Stella terbangun dari tidurnya, membenarkan posisi tidur Allferd menjadi berbaring di sofa. Di usap pipi kiri Allferd dengan lembut,
"Jangan bertindak seolah mencintaiku, jika nyatanya kau tidak mencintaiku sedikitpun."
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
"si*l*n banget tu orang" jgn di sensor semua "****** banget tu orang" jdnya kan pra readers kurfah srn aja,maaf klo mslnya nyakitin hati😭🙏