Dikhianati oleh sahabatnya sendiri dalam misi rahasia, Xiao Su tewas dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.
“Kenapa…?”
“Karena kau menghalangi jalanku.”
Ia mengira kematian adalah akhir.
Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan yang dihina semua orang — Xiao Mei.
Wajah buruk rupa. Tubuh lemah. Keluarga penuh kepalsuan.
Saudari tiri yang menginginkan kematiannya. Tunangan yang memandangnya dengan jijik. Dunia kuno yang kejam dan penuh intrik.
Tapi mereka tidak tahu…
Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi Xiao Mei yang lemah.
Ia adalah Xiao Su. Seorang wanita modern yang tak akan membiarkan dirinya diinjak dua kali.
Kali ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup — Ia akan mengubah takdir. Menghancurkan mereka yang meremehkannya.
Dan membuktikan bahwa bahkan wanita yang disebut “buruk rupa” pun bisa menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Karena untuk kedua kalinya… Ia tidak akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cute women, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESTA ULANG TAHUN XIAO MEI
"ia tersenyum manis....tapi didalam, dendam masa depan telah merasuki dirinya "
"membalas dendam dari jiwa yang telah pergi dengan penuh luka dan kenangan menyakitkan "
HAPPY READING>.<........
.
.
.
.
Matahari pagi menembus tirai jendela kediaman Xiao Mei. Xiao mei membuka matanya perlahan, menarik napas panjang, merasakan udara pagi yang sejuk. Sudah satu minggu ia tidak berolahraga, dan tubuhnya terasa kaku.
Dengan langkah ringan tapi mantap, ia melangkah ke halaman belakang. Lari mengelilingi taman, push-up, sit-up, dan peregangan—semua ia lakukan dengan disiplin. Keringat menetes di dahinya, memberi rasa lega sekaligus menyegarkan pikiran untuk menghadapi hari panjang.
Setelah beberapa putaran, ia memanggil pelayan pribadinya.
“Fu Xian, siapkan air mandi. Aku ingin mandi dengan air susu dan bunga mawar,” ucapnya.
“Baik, Nona Kedua. Fu Xian akan siapkan,” jawab Fu Xian, membungkuk patuh.
Xiao mei tersenyum tipis, menatap bak besar yang mulai diisi air. Hari ini bukan sekadar ulang tahun; ini adalah panggung pertama bagi rencana balas dendam yang ia bawa dari masa depan.
Setelah mandi panjang, Xiao mei mengenakan kain tipis, sementara Fu Xian menyiapkan gaun pesta.
“Nyonya Besar sudah menyiapkan gaun untukmu,” jelas Fu Xian.
“Baik. Tapi wajah tetap harus natural. Hanya rambut dan makeup resmi saja,” jawab Xiao mei.
Tak lama kemudian, Liu Xin, ibu Xiao Mei, muncul di Paviliun Mawar.
“Xiao Mei, kau dari mana saja? Sudah sore, kau harus mulai persiapan untuk pesta nanti,” ujar Liu Xin.
“Maafkan aku, Bu. Tadi aku asyik berjalan jalan” jawab Xiao mei, merasa bersalah.
“Sudahlah, Fu Xian, rawatlah nona-mu. Aku akan membawa gaun yang sudah disiapkan,” kata Liu Xin sambil pergi.
Xiao Mei menatapnya, kemudian memusatkan perhatian pada persiapan diri. Setiap langkah, gerakan, dan ekspresi harus mendukung citra anggun yang ingin ia tunjukkan.
Gaun pesta akhirnya siap. Fu Xian menuntun Xiaomi ke ruang rias.
“Hari ini riasan dan rambutmu harus lebih resmi, Nona Kedua,” jelas Fu Xian.
“Aku mengerti. Tapi wajah tetap natural,” jawab Xiao mei sambil menatap cermin.
Aroma bunga dan dupa memenuhi ruangan. Setiap gerakan pelayan dan pembantu tampak seperti bagian dari pertunjukan.
Xiao mei tahu, semua mata yang menatapnya adalah saksi diam, dan semua bisik-bisik adalah alat yang bisa ia gunakan.
Xiao yuan, kakak sulungnya, muncul dan tersenyum hangat.
“gege, mengapa kau berada di sini?” tanya Xiaomi.
“Tentu saja untuk menemuimu, adikku yang cantik ini,” jawab Xiaoyuan sambil mencubit pipi Xiaomi.
Mereka berjalan mengelilingi halaman, mengamati persiapan terakhir.
Bisik-bisik mulai terdengar: beberapa sudah mengetahui status selir tingkat satu dan ketidakhadiran Pangeran Kedua.
Xiaomi menahan senyum tipis, semua itu hanyalah bagian dari rencananya.
Aula besar dipenuhi cahaya kristal yang memantulkan kilau gaun para tamu. Musik lembut bergema, tapi seluruh perhatian kini tertuju pada meja utama, tempat Xiao Mei berdiri dengan anggun.
Seorang pengawal maju, memberi tanda bahwa acara resmi akan dimulai. Suasana mendadak hening.
“Hadirin, mohon perhatian. Kini waktunya menyampaikan ucapan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah untuk Nona Kedua Xiao Mei,” ucap pengawal tegas.
Keluarga Marquis Xiao
Pertama, anggota keluarga Marquis Xiao maju. Kepala keluarga, Marquis Xiao, menundukkan kepala hormat.
“Selamat ulang tahun,putri kecil ayah. Semoga selalu sehat, anggun, dan bahagia.”
Ia menyerahkan sebuah kotak kecil berlapis sutra, berisi kalung mutiara yang sederhana namun elegan. Xiao Mei menunduk, senyum lembut menghiasi wajahnya.
“Terima kasih, Ayah. Hadiah ini sangat indah,” jawabnya.
Liu Xin, ibu Xiao Mei, melangkah maju berikutnya.
“Selamat ulang tahun, anakku tercinta. Semoga hari-harimu selalu dipenuhi cahaya dan kebahagiaan,” ucapnya sambil menyerahkan vas porselen berhiaskan lukisan bunga mawar.
Xiaoyuan, kakak sulung, menyodorkan gulungan kain sutra yang halus.
“Selamat ulang tahun, adikku. Semoga tahun ini membawa banyak keberuntungan,”
katanya sambil tersenyum hangat.
Xiao Mei menerima semua hadiah itu dengan senyum anggun, menunduk hormat, namun matanya tetap waspada, menghitung setiap gerak anggota keluarga dan ekspresi mereka.
“Hadirin, mohon perhatian! Duke Wang telah tiba!”
Semua mata menoleh.
Duke Wang melangkah mantap, wajahnya menampilkan senyum hangat yang memikat. Ia masih jomlo, dan matanya jelas menunjukkan ketertarikan khusus kepada Xiao Mei.
Cinta pertamanya yang dulu diabaikan kini membuatnya ingin mendekati wanita ini dengan serius.
Ia mendekat dengan anggun.
“Selamat ulang tahun, Nona Kedua Xiao Mei. Semoga hidupmu selalu dipenuhi kebahagiaan dan kesuksesan,” ucap Duke Wang dengan sopan.
Dia menyerahkan kotak hadiah besar berlapis emas, dihiasi batu permata yang berkilau.
Xiao Mei menunduk hormat, membalas senyum elegan, namun matanya tetap waspada. “Apakah ini niat baik atau ada maksud lain?” pikirnya.
Beberapa tamu menatap mereka, bisik-bisik mulai terdengar, tapi perhatian semua tetap tertuju pada interaksi ini.
Fu Xian berdiri di samping Xiaomi, menahan senyum tipis. Ia tahu, Nona Kedua tidak hanya menerima hadiah, tapi juga menilai siapa yang bisa menjadi sekutu atau pion dalam permainan balas dendam yang ia mulai jalankan.
Duke Wang menatap Xiao Mei lebih lama dari biasanya, sedikit berdebar di dalam hatinya. Ia ingin membuatnya memperhatikan—tanpa tahu rencana dendam yang tersembunyi di balik senyum anggun itu.
Xiao Mei menahan napas, menatap sekeliling aula. Dalam senyum anggun itu tersembunyi rencana matang. Setiap langkah di pesta ini adalah bagian dari strategi balas dendam yang baru saja mulai berjalan.
Beberapa tamu menatap interaksi mereka dengan kagum. Seorang bangsawan muda bersuara lirih:
“Duke Wang benar-benar perhatian pada Nona Kedua…”
“Ya, tapi siapa dia akan mendapat perhatian seperti ini?” bisik bangsawan lain.
Xiao Mei tetap anggun, menunduk, membalas senyum, tapi matanya tajam mengamati setiap ekspresi, bisik-bisik, dan niat tersembunyi di antara tamu.
Setiap ucapan selamat, setiap hadiah, adalah alat pengamatan: siapa benar-benar mendukungnya, siapa hanya ingin mengamati, siapa yang bisa menjadi pion dalam rencana balas dendamnya.
Dengan senyum manis namun penuh perhitungan, Xiaomi menatap Duke Wang, menyadari malam ini bukan sekadar pesta ulang tahun… tapi juga panggung pertama dari permainan yang ia rencanakan selama bertahun-tahun.
Setelah Duke Wang selesai, beberapa bangsawan bergilir maju, menyampaikan ucapan singkat dan hadiah simbolis sesuai status mereka.
“Selamat ulang tahun, Nona Kedua. Semoga panjang umur dan selalu anggun,” ucap seorang bangsawan tua sambil menyerahkan kotak perhiasan kecil.
“Nona Kedua Xiao Mei, semoga hari-harimu dipenuhi berkah,” kata bangsawan lain, meletakkan kipas halus berhiaskan lukisan pegunungan.
Xiao Mei tetap menunduk, menerima satu per satu dengan senyum sopan. Ia tahu, ucapan dan hadiah ini adalah simbol pengaruh, status, dan kemungkinan aliansi—semua bahan untuk strategi balas dendamnya.
Terakhir, para tamu yang hadir mulai maju bergantian, menyampaikan ucapan singkat dan tepuk tangan hangat.
“Selamat ulang tahun, Nona Kedua!”
“Semoga bahagia selalu!”
Tangan mereka mengangkat kipas, gulungan kain sutra, dan kotak hadiah kecil. Aula bergema dengan tepuk tangan dan senyum, namun di mata Xiao Mei, semua itu hanyalah latar. Setiap tatapan, setiap gerak, adalah bahan pengamatan.
Fu Xian berdiri di sampingnya, menahan senyum tipis. Ia tahu, Nona Kedua bukan hanya menerima hadiah, tapi juga menilai siapa yang benar-benar mendukungnya dan siapa yang bisa menjadi pion di permainan rumit yang perlahan ia jalankan.
Xiao Mei menahan napas sejenak, menatap sekeliling. Di balik senyum anggun itu tersembunyi rencana yang matang. Besok, semua mata akan menatapnya… tapi tak ada yang tahu rahasia yang tersembunyi di balik senyum itu.
Ia tersenyum, bukan hanya sebagai gadis bangsawan, tapi sebagai wanita yang menulis ulang takdirnya sendiri.”
“Permainan telah usai… tapi ingatan mereka tentangnya akan selamanya berubah.”
“Di balik senyum manisnya, tersembunyi kekuatan yang tak seorang pun bisa bayangkan.”
BERSAMBUNG.............
Segitu dulu yaaaa
Double up🙏
Bye see you in the next chapter
Don't forget to like and komen
Vote gift and love you all 💋♥️♥️😍
kucingku aja yg pulang dengan kepala bocor aku borehin dengan kunyit.
tp terlambat krna Bakterien sudah masuk ke jantung.
luka emng kering.
itu mpuuus ampe jejeritan nahan pediih dr borehan kunyit
mana prajurin bayanganx strategix jgk