NovelToon NovelToon
Setitik Cinta Di Atas Harapan

Setitik Cinta Di Atas Harapan

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:24.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Pernikahan akan terasa indah selagi masih ada cinta dari seorang suami.
Namun hal itu tidak berlaku pada seorang wanita muda. Pernikahannya hancur karena campur tangan keluarga suaminya. Apalagi sang suami tak lagi berpihak pada dirinya.
Nama wanita itu adalah Amara.
Di tengah-tengah keputusasaannya, ia bertemu dengan cinta pertamanya.
Apakah yang akan terjadi pada kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab sebelas

Amara bangun lebih siang hari ini, tidak seperti biasanya. Baru kali ini ia merasakan nikmatnya tidur pulas tanpa gangguan. Biasanya ia harus bangun lebih pagi dari semua orang untuk menyiapkan makanan dan mencuci pakaian.

Seketika hatinya terasa sakit ketika teringat kembali akan perkataan suaminya dan juga wanita itu kemarin malam.

Dia ingin menceraikan ku? Sudah berapa lama mereka berhubungan? Apakah wanita itu yang menjadi alasan mas Randi tidak pernah pulang ke rumah selama ini?

Dia merasa sakit hati. Padahal dia sudah melakukan semuanya dari menuruti segala ucapan mereka, tetapi pada akhirnya hanya perceraian yang akan di dapatkannya sebagai balasan.

Amara menghapus air matanya yang kembali tumpah. Ia beranjak dari kasurnya dan pergi keluar.

Rumah itu terlihat sepi. Mungkin ibunya sudah pergi ke panti. Karena ibunya bertugas untuk menyiapkan makanan. Jadi biasanya ia sudah pergi sehabis subuh. Jarak panti jompo itu lumayan jauh dari rumah ibunya. Karena letaknya cukup jauh ke dalam dari jalan raya.

Amara lalu pergi ke dapur. Ia melihat sudah ada makanan yang tersaji di atas meja makan. Walaupun hanya lauk sederhana, tetapi dia senang karena bisa memakan masakan ibunya.

Ia mengambil nasi di dalam dandang kukusan dan meletakkannya di dalam piring. Lalu ia menarik kursi dan duduk di atasnya. Ia mengambil dua potong tahu goreng dan sayur bening bayam kesukaannya beserta sesendok sambal terasi.

Ia mulai memakannya. Namun air matanya tiba-tiba saja ikut keluar hingga membuat rasa nasi yang di makannya menjadi asin.

Sekarang apa yang harus ku lakukan?

"Kau sudah bangun, nak?" tanya ibunya yang tiba-tiba datang.

Mendengar suaranya, membuat Amara buru-buru menghapus air matanya dan tersenyum padanya.

"Iya, Bu! Tapi kenapa ibu sudah pulang? Mara pikir ibu pergi ke panti?" tanyanya bingung.

"Ibu memang pergi ke panti. Tapi hanya sebentar untuk meminta izin. Ibu tidak tenang meninggalkan mu sendirian di rumah." jelasnya lalu ikut duduk bersamanya.

"Mara tidak apa-apa, Bu! Ibu pergi saja. Mara bisa jaga diri, Bu!" ia mencoba untuk menenangkan ibunya.

Amara tahu jika ibunya sangat mengkhawatirkan keadaannya. Iya, ibu mana yang tidak khawatir ketika mendapati putrinya datang larut malam dengan wajah yang sembab karena habis menangis.

Bahkan Nina harus menenangkannya hingga berjam-jam sebelum akhirnya putrinya itu tertidur di pangkuannya.

Dari awal ia sudah tahu jika putrinya itu menyimpan banyak luka sendirian. Ia bisa melihat dari penampilannya yang semakin lama semakin tidak terawat. Pakaian yang ia kenakan terlihat lusuh dan ia hanya memakai tas yang sama setiap kali berkunjung ke rumahnya. Begitupun dengan sepatu yang sepertinya sudah dijahit berkali-kali.

Tetapi ia tak berani menanyakan hal itu pada putrinya karena takut menyakiti perasaannya.

"Nak! Apa kau sudah merasa lebih tenang, sekarang?" tanyanya hati-hati.

Amara tampak diam. Ia tidak langsung memberi jawaban pada ibunya. Ia tak tahu harus memulainya darimana. Apa reaksi ibunya jika tahu apa yang saat ini sedang menimpanya?

"Nak! Jika kau kesulitan untuk menceritakannya, tidak apa-apa. Ibu tidak akan memaksamu. Ibu hanya ingin mengatakan satu hal padamu. Apapun yang terjadi, ibu akan selalu berpihak kepadamu." ucapnya.

Amara tidak bisa membohongi ibunya. Wanita itu lambat laun juga akan mengetahui kebenarannya.

"Bu! Sebenarnya..." ucapannya tiba-tiba terhenti karena mendengar suara ketukan di pintu rumah.

"Kak Mara! Kak Mara. Apa kakak ada di dalam?"

Seseorang berteriak memanggil namanya. Dan Amara tahu betul siapa pemilik suara itu.

Amara langsung beranjak dari tempatnya. Begitupula dengan ibunya.

"Siapa yang datang, nak?" tanya ibunya bingung.

"Itu suara Wahyu, Bu. Adiknya Mas Randi." jelas Amara sambil membuka pintu rumahnya.

"Kak Mara!" ucap Wahyu dengan wajah yang berkeringat.

Pria itu tampak berantakan. Ia bahkan masih memakai seragam sekolahnya. Sepertinya dia tidak tidur semalaman.

"Wahyu! Kenapa kau bisa ada di sini? Dan bagaimana kau tahu jika kakak ada di sini?" tanyanya heran.

"Kakak tidak punya tempat lain untuk pergi selain rumah ini." ia bicara dengan nafas tersengal.

"Sebaiknya suruh dia masuk ke dalam lebih dulu. Dia tampak lelah." usul ibunya.

"Iya, masuklah Wahyu." ajak Amara.

Mereka lalu masuk ke dalam. Nina menyuruh Wahyu untuk ikut makan bersama Amara. Amara mengambilkan sepiring nasi lagi beserta lauk untuk pria muda itu.

"Makanlah! Kau pasti belum makan, 'kan?" tebak Amara ketika meletakkan piring di hadapannya.

"Terima kasih, 'kak." ucap Wahyu.

Ia tampak bingung. Dan tak tahu cara untuk memberitahukan hal ini pada kakak iparnya itu.

Amara dan ibunya menunggu hingga Wahyu selesai makan.

"Mau tambah lagi nasinya? Kau terlihat sangat lapar." ucap ibu Nina menawarkan.

"Tidak, Bu. Terima kasih. Wahyu sudah kenyang." pria itu tampak canggung.

Wahyu meneguk air di dalam gelasnya hingga habis .

"Sekarang cerita pada kakak apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Amara.

"Aku.. pergi dari rumah, kak." jelasnya ragu.

"Apa!! Kenapa? Apa kau bolos lagi?" tanyanya kaget.

"Bukan karena masalah itu, Kak." Wahyu tampak bingung.

"Lalu kenapa?"

"Aku bertengkar dengan ibu dan mas Randi." pria itu menceritakan semuanya pada Amara.

Amara tampak semakin terpukul mendengarnya. Termasuk ibunya yang juga tampak tidak percaya.

"Mara? Kenapa suamimu tiba-tiba ingin menceraikanmu? Apa karena hal itu juga yang lantas membuat mu tiba-tiba datang ke sini?" tanya Nina cemas.

Amara terdiam sambil menundukkan wajahnya.

"Nak! Jawab pertanyaan ibu. Apa itu benar?" desaknya sambil memegang tangannya.

Terlihat jelas gurat kecemasan dan juga kekecewaan yang teramat dalam di wajahnya.

Apalagi setelah melihat Amara mengangguk pelan. Hatinya begitu sakit menerima kenyataan itu.

"Nak! Sebenarnya bagaimana kau diperlakukan di rumah itu selama ini? Kenapa Randi setega itu menduakan dirimu. Ibu benar-benar tidak terima pada perilakunya ini." Nina tampak geram dan melupakan amarahnya .

"Ibu mau kalian berpisah. Jika perceraian yang dia inginkan, maka kita akan memenuhi keinginannya tersebut." tantang Nina merasa yakin.

"Ibu akan menyewa jasa pengacara jika perlu." lanjutnya dengan emosi yang meluap-luap.

"Pengacara? Bagaimana kita bisa menyewa pengacara, Bu? Harganya pasti tidaklah murah. Kita tidak punya uang yang cukup, ibu!" tanya Riana.

Nina lalu terdiam sejenak. Ia juga tidak mempunyai simpanan uang yang cukup. Begitupun dengan Amara. Nina tampak berpikir keras. Hingga akhirnya ia tiba-tiba teringat pada seseorang.

"Ibu tahu siapa yang bisa membantu kita." ucapnya kemudian.

"Memangnya siapa yang bisa membantu kita, bu?" tanyanya bingung.

Nina lalu beranjak dari kursinya.

"Ibu pergi dulu sebentar. Kau duduk saja di sini dengan tenang." pesannya pada putrinya itu.

"Ibu mau pergi kemana? Bu... tunggu sebentar, Bu!" cegahnya.

Tapi sayangnya wanita itu tetap pergi entah kemana. Meninggalkan putrinya di tengah kebingungannya.

"Kemana ibu pergi?" ia bertanya-tanya dengan gelisah.

...****************...

1
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Telur ular gw sediain buat Lo. gw campur pake sambel lalu gw masukin ke mulut lo.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
idih najis banget mertu kayak begini bikin menguras mental 😤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
aku mampir dulu ke karya mu yang lain sambil nunggu 2 novel kamu yg entah kapan itu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
pret ah cek kamu we ngomong mudah, kesonona mah kagak tahu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
iya akhiri aja, lagian nggak jelas kan.
SANG
Cucok banget💪👍
SANG
Semangat ya dek
SANG
Semangat ya dek💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu dek💪👍
SANG
Bintang lima untukmu dek. Semangat ya, aku berharap mendapatkan rangking
SANG
Astaga
SANG
Widih
SANG
Like iklan plus komen💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu tho💪👍
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Hadir dek
SANG
Keren habis💪👍
SANG
Novel baru semangat baru💪👍
Fathir Albiansyah
ceritanya menarik gsk bosan
-Thiea-: terimakasih 🙏🏿
total 1 replies
MULIANA💦
Berarti amara gak marah? syukurlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!