Katanya jodoh itu adalah cerminan diri.
Tapi ... mengapa pria ini begitu egois dan ketus?
Dinda Gandis (25) desainer baju pengantin, mendapat kesempatan kedua setelah menerima donor jantung milik seorang wanita muda yang kini mengubah hidupnya.
Satu pertemuan tak terduga mengubah takdir keduanya dengan tak terduga.
Johan B. Bastian (33), pengacara sukses yang penuh misterius, terus terusik dengan sifat Dinda yang membawanya pada sosok wanita yang ia cintai dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Didalam mobil sedan itu terlihat Dinda mencuri pandang dengan kesal pada Johan.
Johan pun menyadarinya tatapan tak senang Dinda padanya.
"ada yang ingin kau katakan??" ujar Johan dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphonenya.
Dinda pun dengan kesal menyambut pertanyaan itu.
"iyya!!! pak?? bisa gak sih ngomongnya ramah sedikit??" cecar Dinda yang sudah kesal.
Johan tak menjawab ia terus sibuk menatap layar handphonenya.
"ck,, sok sibuk banget sih!!" ujar Dinda sengaja.
"aku dengar dengan jelas!!" sahut Johan tegas.
Dinda pun mengangguk.
"bagus donk, itu artinya kuping anda masih berfungsi dengan baik!!" balas Dinda tak gentar.
Johan pun menarik nafas panjangnya.
"aku terbiasa berbicara jujur!!"
Dinda seolah-olah terhenyak, ia tertawa garing mendengar penjelasnan Johan.
"ya ngomong jujur gak masalah tapi gunakan bahasa halus, kan bisa??" jelas Dinda lagi.
Seketika Johan menghentikan hemarinya dari layar handphonenya.
"contoh??"
"ya menyebut teman misalnya jangan supir" jawab Dinda cepat.
Tiba-tiba Johan tertawa mengejek.
"hahahah...teman?? teman dari mana?? keterlaluan jika aku punya teman seperti kamu," sahut Johan nyeleneh.
Lagi dinda terhenyak dengan perkataan pedas Johan. Dan dengan cepat ia meminggirkan laju mobilnyan ke badan jalan. Lalu ia berpaling melihat Johan dibelakang kursinya.
"kenapa?? apa aneh jika disebut teman??" balas Dinda kesal.
"yang aku tau status kita hanya pihak pertama dan pihak kedua, tidak lebih!! dan sekarang lanjutkan tugas mu" jawab Johan tajam.
"ckckck.. saya turun prihatin dengan prilaku anda yang bertolak belakang dengan pendidikan anda!! baiklah, saya pun tak akan sungkan lagi dengan anda, pihak pertama!!" balas Dinda kesal.
Namun Johan tak bergeming, ia tak memeras terpengaruh dengan ucapan Dinda yang kesal.
Lalu dinda pun kembali duduk dengan posisi benar dikursi mengemudinya. Dan berlahan roda mobil itu pun kembali berputar dan berjalan menyusuri jalanan ibu kota.
Dan akhirnya tiba di kantor pengacara sombong itu lagi. Lalu Johan turun dengan segera tanpa menoleh pada Dinda yang seolah sudah terbiasa dengan tabiat Johan yang dingin dan sombong.
Namun Dinda pun tak peduli yang penting tugasnya menjadi pria ini sudah selesai untuk hari ini, lalu ia pun meninggalkan kantor itu untuk kembali menuju toko butiknya.
🍃🍃🍃🍃
Hampir 1 minggu Dinda menjalankan tugasnya sebagai supir pengacara Johan. Dan ia bersyukur tidak begitu banyak kendala.
Namun pagi ini ia dikejutkan dengan suara tabnya yang tiba-tiba berdering lagi. Padahal sudah hampir satu minggu ini ia menjalankan tugasnya dengan sukses dan tepat waktu.
" Hallo??" ucap Dinda santai.
" Kau?? bagaimana bisa menolak untuk menjahit setelan jas ku??" ujar Johan kesal.
"Apa??" Dinda masih bingung.
"bukan kah Dodi telah memesan stelan jasku dibutik mu??" ulang Johan.
Dan seketika Dinda teringat, 'ah iyya benar 3 minggu lalu lebih tepatnya. Tapi kan sudah aku batalkan??'gumam Dinda membatin
' kenapa dia malah marah-marah sekarang??' gerutunya lagi dalam hati.
Dengan menarik nafas dalam, dalam Dinda mencoba meladeni pertanyaan Johan tanpa emosi.
"begini pak Jo-han, sebelumnya saya minta maaf, tapi pada saat itu saya memang membatalkan orderan anda pak Johan," jelasnya.
"kenapa??" balas Johan cepat.
Tiba-tiba dinda terdecak tak percaya.
'KENAPA?? ini,, nieh akibat kelewat pinter, jadi tinggal begonya nie?? masa dia gak tau gara-gara siapa orderan itu gue batalin!!' rutu batin Dinda meyahut.
" Ya karena kasus tabrak waktu itu kan belum ada kejelasan, saya yang sudah mau baik-baik damai, eh bapak malah mau seret saya ke jalur hukum" jelasnya lagi.
" Hah??? ternyata kamu benar-benar tidak profesional, tidak bisa membedakan urusan kerja dan pribadi??" ketus Johan nyinyir.
Dinda seolah disudutkan oleh perkataan Johan. 'masa gue mau baik-baik sama orang yang mau seret gue ke penjara?? gila apa??' gerutunya lagi dalam hati.
"tapi.." ucap Dinda terpotong
"aku tidak ingin berdebat, jadi kamu harus jahit setelan jas yang akan aku pakai untuk lusa malam" perintah Johan tegas.
Dinda lagi-lagi terheran-heran dengan sifat ngebosnya Johan. Tanpa menunggu jawaban dari Dinda telfon itu pun terputus.
Dinda bengong tak percaya menghadapi pria sombong ini.
"dari si pengacara itu ya??" tebak Nopa.
Dinda menganggu pelan.
"bilang apa dia??"
" dia minta jahit setelan jas mbak??"
"trus??" sela Feli ikut nimbrung.
"ya trus apa?? kan waktu itu udah Dinda batalin," jelasnya mengingatkan mbak Nopa dan mbak Feli.
"laah jadi??"
"dia suruh jahit lagi baju setelan jasnya?? dan akan dipakai lusa malam" jelas Dinda lagi.
"lusa malam?? jelas gak keburu itu!!" sahut Nopa yakin.
" iyya!! karena baju bu Kus baru siap, dan beberapa pelanggan lain juga harus segera siap" ujar Dinda mulai pusing.
Lalu ia kembali melihat jadwal Johan ditabnya. Dan benar lusa malam itu ia ada pertemuan kumpulan asosiasi para pengacara.
"pantes dia panik jasnya gak siap!!" celetuk Dinda menertawakan Johan. Lalu ia kembali lagi melihat jadwal Johan dan untuk siang ini agak awal jam 11 siang Johan sudah harus beradar direstoran Xxxx.
Dan dinda melihat jam di pergelangan tangan baru jam 10. Lalu ia kembali mengambil tasnya dan mencari mbak feli di gudang kain bawah tangga.
"mbak?? Dinda jalan dulu yaa".
"ah iya, hati-hati ya" sahut Feli
"ya" jawabnya singkah seraya keluar dari butiknya.
🍃🍃🍃🍃
Setiba dikantor pengacara Johan, Dinda turun untuk bisa mengobrol dengan para sekuriti seperti biasa. Namun kenyataannya wanita resepsionis itu menghampirinya.
"mbak Dinda, di tunggu pak Johan di atas" seru wanita resepsionis pada Dinda yang lewat didepan mejanya.
"saya?? ditunggu??" ujarnya tak percaya. Dengan wajah bingung ia pun menuju lift untuk menuju lantai 3 ruang kantor Johan.
Dan sesampainya diruangan yang penghuninya benar-benar tak ramah itu, Dinda berjalan menuju ruang Johan. Dan dengan cemas mencoba mengetuk pelan.
Tok..tok..tok
"permisi pak!!" seru Dinda pelan.
Dan ia disambut dengan tatapan tajam Johan yang tengah memegag kertas. Dinda masuk berlahan dan ia kini tepat di sisi sofa ruangan itu.
"jadi kau masih tidak ingin menjahit jas ku??" tanya Johan dengan dingin.
Dinda tak menjawab, lebih tepatnya ciut melihat aura wajah Johan yang jauh dari bersahabat.
"katakan?? berapa jasa yang kau terima tiap menjahit?? 10, 20 juta atau 50 juta??"
Dinda tercengang dengan harga fantastis itu. Boro-boro 10 juta, cuma 1 juta aja para pelanggan udah mengeluh kemahalan.
"tidak ada patokan, karena itu semua dinilai dari tingkat kesulitan menjahit dan model yang diinginkan pelanggan," jelas Dinda.
Johan sesaat mengangguk paham.
"kalau begitu jahitkan jas untuk ku, maka akan aku bayar pantas!!"
"tapi, masalah waktu yang saya butuhkan tidak cukup. Apa lagi mau di pakai lusa malam," sanggah Dinda ragu.
"jadi intinya kau tak punya kompeten!!"
Dinda lagi-lagi dibuat tercengang dengan bicara pria ini. Lalu ia refleks meletakkan tangan di dadanya sebagai penenang jiwa raganya dalam menghadapi pengacara pedas ini.
"maaf saya pikir anda menilai saya salah!! karena waktu saya banyak tersita di anda, saya membuang waktu saya untuk jadi supir anda" jelas Dinda tegas.
Johan seakan tersadar.
"ah!! begitu ternyata, baik kalo begitu untuk sementara stop supir dan jahit jas ku hingga tepat waktu!!".
"Apa??
"jahitkan jas ku sekarang dan untuk sementara stop supir!!" ulang Johan tegas memberi perintah pada Dinda.
Dinda hanya bisa terbengong. 'Benar-benar seenak jidatnya ini orang!!' gerutunya kesal dalam hati.
sukses
semangat
mksh