NovelToon NovelToon
Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:457.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariz Kopi

Siapa yang tahu tentang jodoh kita, karena tugas kita hanya berihtiar menemukanya..

Asam di gunung, garam di laut dan pada ahirnya bertemu jua di belanga.
Tak ubahnya seperti mereka berdua yang sama sama menolak untuk di jodohkan, tapi saling jatuh cinta tanpa tahu bahwa mereka saling lari dari perjodohan yang di buat oleh kedua orang tuanya. Juwahir, gadis cantik yang di jodohkan dengan Gus Ali, adalah seorang Hafidzul Qur'an, dia yang mewarnai hari hari di masa kecil Gus Ali dan menyisakan beberapa kenangan yang kurang mengenakkan.

Ipda Nuril, seorang Polisi Wanita yang sangat manis dengan seragam dinasnya juga Jilbab rapi yang selalu membungkus kepalanya.

Kemanakah hati Gus Ali akan berlabuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariz Kopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahabbah

Happy Reading...

🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Semburat jingga di ufuk timur yang menandakan bahwa matahari akan segera kelaur dari peraduannya menambah pemandangan indah di seputaran pantai selat Bali yang di lewati oleh Gus Ali dan Mas Naufal. Kembali ke tanah kelahiran setelah seminggu lebih terus berkeliling di mulai dari ujung timur pulau Jawa hingga sampai ujung barat dari pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia ini.

Mas Ali sengaja membuka jendela mobil dan membiarkan udara segar masuk lantas menghirupnya dengan dalam membiarkan paru-parunya terisi penuh oleh udara yang masih asri ini. Sesekali rambutnya yang di biarkan tanpa songkok ikut berlenggak lenggok seolah sedang mengikuti alunan Sholawat Habib Syech yang mengalun pelan di audio mobil.

Di belakang kemudi, Mas Naufal juga tidak kalah santainya. Rambutnya juga dia biarkan ter jamah angin pagi dari hembusan ombak yang seperti tidak ada lelahnya terus berkejaran menemui pantai.

"Tidak ada tempat yang lebih menyenangkan dari pada tanah kelahiran." Ucap Mas Naufal pelan.

"Tepat sekali." Jawab Gus Ali lalu kembali menikmati selat Bali, sebelum nanti mereka berbelok menuju jalanan tambak yang akan membawa mereka benar-benar sampai di rumah.

Mobil terus berjalan pelan dan berlahan meninggalkan selat bali di belakangnya dan mengantikan dengan deretan kolam-kolam berisikan Udang milik pemilik tambak. Jajaran pohon cemara di kiri kanan jalan menambah kesan teduh di tengah tambak yang gersang tanpa pepohonan jika saat siang tiba.

Mobil terus bergerak hingga sampai di gerbang Pesantren Al-Ma'aly yang sudah menampakan aktifitas santri-santrinya yang sedang lalu lalang kesana kemari, dan melihat mobil merangkak masuk dengan segera mereka memberi jalan juga sekaligus menunduk Takdzim saat menyadari bahwa yang hadir adalah Gus mereka.

Setelah mobil berhenti dengan sempurna Gus Ali juga Mas Naufal segera turun dari mobil dengan tas sekaligus oleh-oleh yang mereka beli, dan di sambut hangat oleh Bunda Ikah begitu suara salam mereka terdengar hingga ke keberadan Bunda Ikah yang tengah mengaji dengan kedua cucunya yang berada di samping beliau.

"Alhamdulillah." Ucap Bunda Ikah begitu Gus Ali dan Mas Naufal menyalami tangan Beliau.

"Abi apa masih di kamar, Nda." Tanya Gus Ali.

"Kakung lagi ngaji sama Kang Hasan di kampung sebelah." Jawab Ning Kia dengan senyum yang melebar hingga menunjukan gigi atasnya yang sudah tanggal.

"Ihh, Ndhok Kia Ompong." Ujar Mas Naufal.

Ning Kia tidak menjawab tapi justru melebarkan senyumnya untuk memperlihatkan ompongnya kepada Gus Ali dan Mas Naufal.

"Kapan copotnya.?" Tanya Gus Ali.

"Kemarin, di bantu sama Mbak Fiza. Uncle Kak Lily dan Kak Deasy kapan mau main kesini.?"

"Kapan ya, Uncle kurang tau." Ujar Gus Ali sembari meraih paper bag warna biru muda bergambar kartun kesukaan anak-anak kecil. "Tapi, Kak Lily dan Kak Deasy titip salam buat Ndhok Kia, juga sekaligus kirim oleh-oleh." Lanjut Gus Ali sambil memberikan Papper Bag tersebut ke Ning Kia.

Senyum Ning Kia makin melebar apa lagi saat tau jika tidak hanya hadiah dari Kak Lily juga Kak Deasy saja yang di dapat, tapi juga dari saudaranya, yakni Ning Diva.

"Mas, Istirat dulu." Ujar Bunda Ikah dengan membelai lengan Gus Ali lembut, dan juga bahu Mas Naufal.

"Enggeh, Nda. Ini juga ada titipan dari Mbak Lala untuk Bunda dan Kak Fika juga." Ujar Gus Ali.

"Sudah nanti saja, sambil nunggu Abi pulang." Jawab Bunda Ikah. Lantas mengalihkan pandangannya ke arah tumpukan tas baju Gus Ali dan Mas Naufal yang sudah pasti itu pakaian kotor semua. "Ndhok Kia panggilkan Mbak Fiza di dapur." Ujar Bunda Ikah.

Ning Kia yang sedang sibuk membuka hadiahnya dengan segera menghentikan gerakannya dan melangkah dengan cepat menunu ke belakang. Dan tak lama setelah itu keluar kembalo dengan menggandeng tangan Mbak Hafiza.

Menyadari kehadiran Gus Ali dan Mas Naufal pandangan Mbak Hafiza yang tadinya tegak dan lurus langsung menunduk dengan dalam, terlebih saat ekor matanya menangkap sosok Mas Naufal yang mencuri pandang ke arah Mbak Hafiza, membuat Mbak Hafiza sedikit ragu untuk terus maju, jika tidak mendengar perintah Bunda Ikah.

Dan kembali ucapan Mas Naufal menjelang pergi sepuluh hari lalu kembali terngiang di telinga Mbak Hafiza, saat lagi lagi kedua manik mata mereka bersamplokan, dan membuat desiran halus yang menelusup di hati Mbak Hafiza. Desiran yang sama di larangnya untuk tumbuh seperti dulu, saat desiran itu tiba-tiba menyusup untuk Gus Ali.

"Mbak Fiza, tolong bawakan tas Mas Ali dan Mas Naufal ke belakang biar nanti di cuci sama Mbak-Mbak." Ujar Bunda Ikah pelan, dan membuat Mbak Hafiza tersadar kembali dengan tujuan di panggil dirinya ke dalam oleh Bunda Ikah.

"Enggeh Bunda." Jawab Mbak Hafiza.

"Punya saya biarkan di situ saja, Mbak Fiza. Nanti saya cuci sendiri di rumah." Kata Mas Naufal dengan terang terangan menatap ke arah Mbak Hafiza dan kembali kedua manik mereka bertemu hingga membuat kinerja jantung Mbak Hafiza melonjak dari detak normalnya, lantaran senyum tipis yang di lempar oleh Mas Naufal kepada Mbak Hafiza.

"Kenapa, Fik.?" Tanya Bunda Ikah kepada Mas Naufal.

"Fikri mau pulang setelah istirahat sebentar, Nda. Takutnya nanti tidak kering kan malah bawa pulang baju basah, bisa di marahin sama Ibu. Bunda tau sendiri kan Ibu itu gimana." Jawab Mas Naufal.

Bunda Ikah tersenyum tipis mendengarkan penjelasan dari Mas Naufal, sembari membayangkan wajah Mbak Rani yang sedang ngomel-ngomel. "Iya, dan itu yang membuat Bunda sering kangen sama Mbak Rany. Ya, sudah Mbak Fiza tas Mas Ali saja yang di bawa ke belakang." Ujar Bunda Ikah.

"Enggeh Bunda." Jawab Mbak Hafiza lantas segera meraih tas milik Gus Ali dan segera membawanya ke belakang bersama pandangan Mas Naufal yang terus mengikutinya di balik kepala yang tertunduk.

Sampai di belakang Mbak Hafiza mengatur nafasnya yang terasa sesak. Entah kenapa Mbak Hafiza merasa sesak sekedar hanya untuk bernafas, jika mengingat kata-kata dari Mas Naufal. "Aku akan menunggumu." Ingin sekali Mbak Hafiza lupa akan kata-kata itu dan tidak perduli. Tapi, sisi lain dari dirinya menyuruhnya untuk percaya bahwa itu bukan sekedar kata-kata biasa saja untuknya. Terlebih tatapan hangat yang di tujukan untuk Mbak Hafiza dari Mas Naufal membuat Mbak Hafiza serasa lupa jika sedang berada di bumi dan dirinya tidak memiliki sayap untuk meraih bintang yang berada nan jauh di angkasa.

🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Sinar dari Matahari siang yang membakar, di tambah dengan angin yang berhembus kencang membuat debu berterbangan hingga membentuk oase yang menyilaukan mata. Juga menyilaukan mata Mas Naufal yang seolah melihat bayangan Mbak Hafiza yang tengah berdiri di bawah pohon Sirsak di pinggir jalan raya guna untuk menyegat angkot yang lewat.

Mas Naufal sengaja menjalankan mobilnya dengan pelan untuk memastikan bahwa apa yang di lihatnya itu jelas-jelas Mbak Hafiza. Dan semakin dekat mobil yanh di kendarai oleh Mas Naufal semakin tampak jelas jika gadis yang menggunakan gamis warna pastel dengan Jilbab segi empat syar'i khas anak Pesantren, itu adalah benar adanya Mbak Hafiza.

Mobil berhenti tepat di depan Mbak Hafiza, hingga tampak jelas raut keterkejutan Mbak Hafiza, terlebih saat jendela dari mobil terbuka dan menampakkan wajah Mas Naufal yang di penuhi oleh senyum sedang menyapa Mbak Hafiza, membuat yang empunya nama Hafiza semamin menunduk dengan debaran yang terus menerus seperti dadanya hendak meledak.

"Assalamu'alaikum, Mbak Hafiza." Sapa Mas Naufal.

"Wa'alaikumussalam." Jawab Mbak Hafiza pendek saja sembari kedua tangannya terus meremas ujung tali tas yang terslempang di pundaknya.

"Mau berangakat Kuliah.?" Ucap Mas Naufal lagi, masih dengan mempertahankan senyum tipisnya yang manis.

"Enggeh."

"Sepertinya kita searah. Monggo bareng."

"Mboten usah, Mas Naufal. Matur suwun. (Tidak usah, Mas Naufal. Terima kasih.)"

"Jam segini angkot susah, Mbak Fiza. Akan lebih baik jika sampean bareng saya saja." Ucap Mas Naufal lagi, tapi kali ini dengan mematikan mesin mobilnya.

"Estu, mboten usah, Mas.( Serius, enggak usah Mas.)"

"Yakin, saya tidak akan menarik ongkos lebih kok." Ucap Mas Naufal lagi, dengan senyum yang kembali melebar, saat di lihatnya Mbak Hafiza yang mengangkat kepalanya dengan wajah bingung, namun mai bertanya jelas dia tidak berani. Ahrinya Mbak Hafiza hanya terus diam dengan memainkan tali tasnya.

"Sama deh, dari sini ke Kampus sampean 10 ribu." Lanjut Mas Naufal lagi. Dan ahirnya dengan usaha yang keras oleh Mas Naufal, Mbak Hafizapun kepincut ikut Mobil Mas Naufal meski dengan duduk di jok belakang, dan itu cukup membuat Mas Naufal sudah terseyum lebar dengan sesekali bersiul mengikuti alunan lagu-lagu cinta milik band papan atas.

Mas Naufal sesekali mengajak bicara Mbak Hafiza dengan sikap santai, tanpa di sadari oleh Mas Naufla bahwa sesungguhnya orang yang tengah duduk di bangku belakang itu tangannya sedingin es karena gugub juga karena debaran di dadanya yang tidak ingin diam.

Hingga mobil yang di kendarai oleh Mas Naufal benar benar berhenti di depan gerbang Kampus, Mbak Hafiza masih saja irit bicara dan debaran itu juga tidak ingin menghilang begitu saja. Bahkan, yang lebih memalukan lagi saat Mbak Hafiza sudah turun dan menyodorkan uang 10 ribu kepada Mas Naufal sebagai ongkos, seluruh tubuhnya bergetar seperti seseorang yang tengah kelaparan, sampai-smapai membuat Mas Naufal tertawa.

"Ambil saja uangnya buat beli Cilok, Mbak Fiza. Terima kasih saja sudah cukup dari sampean. Karena itu tadi hanya sebuah alasan saja. Kebenaranya adalah saya memang ingin mengantarkan sampean, sedang kebaikannya sampean tidak perlu kepanasan dan terlambat sampai di Kampus, dan keindahannya adalah saya lega, sampean juga lega sampai dengan selamat." Ucap Mas Naufal.

"Tapi, Mas tadi akadnya kan bayar." Kata Mbak Hafiza memberanikan diri.

"Baik, jika sampean memaksa. Uangnya sudaj saya terima, dan sekarang saya berikan lagi kepada Sampean."

"Kok gitu."

"Itu hanya berupa rumus saja, Mbak Fiza. Seperti yang saya bilang tadi, ada kebenaran dan kebaikan yang melahirkan keindahan. Dan puncak dari kindahan itu adalah Mahabbah. Assalamu'alaikum" Ucap Mas Naufal dengan santainya, lantas segera menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melajukan mobilnya setelah mendengar jawaban salam dari Mbak Hafiza yang masih tidak begitu yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.

Bersambung...

####

WOW banget sih Mas Naufal..

Aku padamu Mas Naufal..

Like, Coment dan Votenya masih di tunggu...

Love Love Love...

💖💖💖💖💖💖

By: Ariz kopi

@maydina862

1
M
lamaaaaaa sekali gak di up kak aurhor?. sy selalu menunggu. tolong buatin seson 2 ny kak author. cerita anak gus ali dan juju./Smile/
mak,, ini kapan update nya lagi mak othor??!
Leni Ani
ya aku aja yg baca juga pusing mak😆😆😅😅😅😅
Mmh Liya
Alhamdulillah, bersyukur banget ada lanjutannya, mksh Mak
h-a-z-z
seminggu baru nyadar karena ada update an baru......
kangennya ampe meluber luber kayak air kali ciliwung ato air bengawan solo..... akhirnya keee lauuuuuttt.... eeehh akhirnya update.... 😍😍😍😍😍😍😍😍😍🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
lope sekebon korma di Arab
lope lope domba se Jerman
lope kangguru se Australia.....
😘😘😘😘😘😘💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
yusa
beli daster di toko bakso??? udah ganti sekarang klu jualan daster di toko bakso 🤔🤔🤯
rika widiawati
bikin gemes aja tingkahy,,,lagi hamil x ya senengy bikin mas ai bingung trs mas ai yg ngerasain ngidamy...
Elizabeth Zulfa
keknya Nuril lagi hamil ya... trus dedeknya g mau deket2 ma abinya soalnya hidung lagi sensitif 😁😁
Ririe Handay
laporan ma bunda ikah mas ai biar ikut dicarikan solusinya.....


terimakasih Mak Mae update nya setelah sekian windu🤭🤭✌️✌️
Ririe Handay
tanda2 nih
Ismi Yati
ojo suwe2 yo maaakk
M
alhamdulillah... setelah sekian lama menunggu akhirnya di up lagi. juju Hamil.
Asti Astiani
sampe lupa alurnya kak
Rhiedha Nasrowi
Masya Allah gak nyangka kalo ada update lagi, , makasih ya Mak😘😘😘😘dan ditunggu selanjutnya 🥰🥰🥰
Azizah
maturnuwun bobchap nya Mak 🙏😘
Azizah
wah.... pasti tanda2 itu😍
bieb
👍👍
M
ini emang Uda tamat / ada exstra partnya anak mereka (nuril hamil kayaknya).?
EMAH FARID
serunya bkin penasaran dag dig dug ser 😁😁
JandaQueen
harusnya 4 dong... gus ali, juju, nuril dan mak author, si biang kerok yg muter2in jodoh mu bang ustadz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!