Setelah empat tahun menjalin cinta terlarang beda agama yang ditentang orang tua, Manajer hotel Nayla akhirnya menyerah dan memutuskan Zefan, koki di hotelnya.
Namun, Zefan tak terima. Sifat posesifnya berubah menjadi obsesi yang mengancam Nayla. Di tengah keputusasaannya, Nayla bertemu kembali dengan Reno, mantan kekasih SMA-nya.
Terkejut dengan kondisi Nayla, Reno langsung mengambil langkah berani: ia membawa Nayla dari Bali ke Bandung dan menikahinya demi menyelamatkan Nayla dari Zefan.
Nayla awalnya trauma dan menolak, mengingat masa lalu yang menyakitkan dengan Reno. Namun, Reno membuktikan ketulusan cintanya yang tak pernah pudar. Nayla akhirnya menerima.
Dapatkah pernikahan mendadak ini, yang didasari trauma dan janji keselamatan, berjalan harmonis? Atau, apakah bayangan Zefan akan terus menghantui dan menghancurkan kebahagiaan yang baru mereka raih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim elly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Nayla membuka matanya perlahan pagi itu. Pandangan matanya masih buram, cahaya matahari menembus tirai rumah sakit dengan lembut. Ia ingin menggerakkan tangannya, namun sulit — karena Reno menggenggam tangan itu begitu erat, seolah takut kehilangan lagi.
Nayla menatap wajah Reno yang tertidur di tepi ranjang. Napas laki-laki itu pelan dan dalam, rambutnya sedikit berantakan. Hatinya tiba-tiba terasa hangat. Ia ingin sekali mengelus rambut laki-laki itu, tapi gengsinya terlalu tinggi.
“Ekh, sayang… udah bangun?” ucap Reno sambil menggeliat pelan, matanya masih setengah terpejam.
“Gue kenapa?” tanya Nayla dengan suara serak.
“Keracunan makanan katanya,” ucap Reno sambil tersenyum tipis, berusaha terlihat santai meski semalam hampir gila karena panik.
“Hah? Kok bisa?” ucap Nayla kaget, mencoba bangun tapi tubuhnya lemas.
“Kamu kayaknya kecapean. Jangan dulu ke hotel ya,” ucap Reno dengan lembut. Tatapan matanya penuh khawatir, namun juga sayang yang belum sempat diucapkan.
“Gimana nanti…” ucap Nayla lemah, masih sempat memikirkan pekerjaan.
“Mau makan? Aku suapin ya,” ucap Reno sambil mengambil bubur yang sudah disiapkan di meja kecil di samping tempat tidur.
“Boleh,” ucap Nayla pelan.
Reno menyuapi Nayla dengan hati-hati, seperti sedang memegang porselen halus yang takut pecah. Ia bahkan menahan napas setiap kali Nayla menelan, takut gadis itu marah atau merasa risih.
Namun tiba-tiba, bayangan masa lalu muncul di benak Nayla. Saat ia sakit dulu, Reno datang ke rumahnya, membawa bubur panas dan menyuapinya dengan tangan yang sama lembutnya seperti sekarang. Momen itu sangat membahagiakan. Membuat jantungnya kini berdebar kencang.
“Udah ah,” tiba-tiba Nayla menyudahi suapan dari Reno, matanya beralih ke arah lain, mencoba menutupi wajah yang mulai memerah.
“Loh, kenapa?” tanya Reno heran.
“Sakit perutnya… mau muntah,” ucap Nayla sambil menahan mual.
“Mau ke toilet? Aku pegangin,” ucap Reno sigap, langsung berdiri membantu.
“Hmm…” hanya itu yang keluar dari mulut Nayla, ia terlalu lemah untuk protes.
Nayla masuk ke toilet, dan bubur yang ia makan keluar lagi. Ia mengeluh kesakitan, tangannya mencengkeram dinding. Rasa nyerinya luar biasa hingga membuatnya lemas.
“Sakiiiit…” rengeknya dari dalam toilet, suaranya bergetar dan penuh air mata.
Reno berdiri di depan pintu, gelisah. “Sabar ya, Nay… ayo ke kasur dulu yuk, nanti aku panggil dokter,” ucapnya pelan, lalu masuk perlahan dan membantu Nayla berdiri.
“Sakittt, ih…” ucap Nayla sambil menangis dengan nada manja, tubuhnya gemetar.
“Aku gendong ya, jangan nangis,” ucap Reno sabar, suaranya lembut tapi penuh ketegasan.
Nayla hanya mengangguk pelan. Ia terlalu lemah untuk menolak.
Reno menggendong Nayla seperti membawa sesuatu yang berharga. Ia membaringkannya perlahan di kasur, lalu segera berlari keluar mencari dokter dengan napas terengah.
Setelah diperiksa, dokter menatap Reno dengan ekspresi serius.
“Usus buntu. Harus segera dioperasi.”
“Apa?” ucap Reno kaget, matanya membesar.
“Lakukan yang terbaik,” ucap Reno cepat tanpa ragu, suaranya tegas meski wajahnya pucat.
Nayla masih merasa kesakitan. Obat yang dokter berikan belum sepenuhnya bekerja. Tubuhnya menegang, napasnya tersengal. Reno mencoba menenangkannya, duduk di sisi ranjang, lalu dengan hati-hati memeluk Nayla untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Dan kali ini, Nayla tidak menolak. Ia malah memeluk erat Reno, karena rasa sakit itu membuatnya butuh sandaran. Air matanya menetes di bahu Reno.
“Sakit ya Allah…” ucap Nayla sambil menangis.
“Sabar ya… nanti dioperasi biar nggak sakit lagi,” ucap Reno dengan lembut sambil mengelus punggungnya. Suaranya seperti doa yang menenangkan.
Nayla hanya mengangguk di pelukan Reno. Perlahan tubuhnya melemas. Obat mulai bekerja, matanya menutup perlahan, dan ia pun tertidur di pelukan laki-laki yang dulu sempat ia benci.
Reno menatap wajah Nayla yang damai dalam tidur. Ia mengusap air mata di pipi Nayla dengan ujung jarinya, sangat pelan, seolah takut menyentuh sesuatu yang suci.
“Bobo ya, biar nggak sakit…” ucap Reno sambil tersenyum lirih.
Malamnya, operasi dilakukan. Waktu berjalan pelan, setiap menit terasa seperti jam bagi Reno. Ia menunggu di depan ruang operasi, kedua tangannya menggenggam erat, bibirnya berdoa tanpa suara.
Operasi berjalan lancar. Namun saat Nayla kembali ke ruang perawatan, ia masih belum sadar karena efek bius. Tubuhnya tampak menggigil meski sudah diselimuti tiga lapis kain tebal.
Reno panik. Ia memeriksa suhu tubuh Nayla, lalu akhirnya naik ke ranjang, memeluk tubuh istrinya dengan hati-hati dari belakang.
Keajaiban kecil terjadi — Nayla berhenti menggigil. Napasnya mulai teratur.
Reno menatap wajah Nayla dari dekat. Wajah yang dulu sering ia rindukan dalam diam. Ia mengecup kening istrinya pelan.
“Semoga besok kamu bangun dalam keadaan baik, sayang,” bisiknya lembut.
Dan malam itu, di bawah lampu rumah sakit yang redup, Reno akhirnya terlelap sambil masih memeluk Nayla — dua hati yang mulai berdamai lewat luka dan doa yang sama.
Bersambung...
Jangan lupa.
#vote
#like
#komen
Biar author semangat makasih 🥰