Adeeva harus rela menikah dengan pria yang bernama Arion demi membantu perusahaan ayahnya yang sedang di ambang kehancuran.
namun di balik itu Adeeva bisa bernafas lega karena biaa keluar dari tempat yang di bakalan rumah namun menurutnya adalah neraka.
akankah Adeeva biaa mendapatkan kebahgiaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
012
Typo masih berkeliaran di setiap sudut cerita. Harap maklum.
_________________
Tanpa Adeeva sadari Adeeva sudah tertidur dengan posisi meringkuk, jejak air mara masih terlihat jelas di pipinya, hari i i mungkin adalah hari yang sangat melelahkan untuk Adeeva.
Arion pulang dari kantor tepat pukul enam sore, suasana di rumah masih terbilang sepi hanya beberapa pelayanan yag masih mondar mandiri untuk membersihkan ruangan.
Pak Imam berdiri tidak jauh dari Arion di sampungnya ada Jonathan yang masih mengikuti Arion menuju ke dalam Rumah.
"Di mana semua orang" tanya Arion tanpa mau basa basi sedikitpun.
"Nyonya besar sudah berangkat untuk perjalanan ke Paris, tuan muda Vano ada di kamar, Nona Fera masih belum pulang setelah keluar dengan Nona Sandra" seru pak Imam, entah mengapa wajah Arion berubah ketika pak Imam menyebut nama Sandra.
"Maaf tuan" seru Pak Imam yang mengetahui apa kesalahannya.
"Tidak usah, lanjutkan" seru Arion.
"Nona Muda ada di kamarnya, Nona belum keluar kamar lagi setelah berbincang dan makan kue bersama tuan Muda Vano" seru Pak Imam.
Perkataan pak Imam membuat dua orang yang masih diam mendengarkan sedikit bingung, siapa lagi jika bukan Arion dan Jonathan. Mereka tahu bagaimana watak dan sifat Vano yang bahkan susah untuk bersosialisasi dengan orang baru bahkan Jonathan lebih setuju jika sifat Vano cenderung Misterius dan menakutkan.
Berbanding terbalik dengan Arion yang selalu melupakan emosinya, Vano lebih menyimpan emosinya rapat-rapat.
"Apa kau yakin"
"Tentu tuan bahkan mereka berbincang cukup lama" Seru pak Imam meyakinkan.
"Lalu apa saja yang di lakukan Adeeva" Entah mengapa ada sura Protektif ketika Arion bertanya tentang Adeeva.
"Nona hanya pulang dengan gua kotak Kue yang satu nona memakannua bersama tuan muda Vano dan yang satu lagi nona memberikannya pada supir yang mengantar nona" seru pak Imam.
"Baiklah terima kasih"
Pak Imam membungkukkan badannya sebentar. Satu hal yang di sukai pak Imam dari tuannya yang satu ini. Arion tidak sungkan mengucapkan terima kasih walau hal itu sepele.
Arion berjalan menuju tangga, menaikinya menuju kamar pribadi. Jonathan masih setia berjalan di belakangnya dengan ta yang masih di tangan.
Arion kembalikan badannya dan mentap Jonathan.
"Kau boleh pulang, istirahatlah"
"Baik tuan, terima kasih" tanpa banyak berucap Jonathan segera berlalu meninggalkan Arion yang masih berdiri di depan kamarnya.
Arion membuka kamarnya, kamarnya masih gelap begitu pun dengan kamar rahasia di ruang ganti.
Arion segera berjalan menghampiri kamar rahasia. Membukannya perlahan, matanya menyapa tubuh Adeeva yang sedang berbaring dengn posisi meringkuk.
Tanpa menghasilkan lampu Arion menghampiri tubuh Adeeva yang masih meringkuk, menatap sebentar pada wajah cantik Adeeva yang tertutup oleh beberapa anak rambut.
Tangan Arion bergerak untuk merapihkan rambut yang menutupi wajah istrinya. Mata Arion kembali beralih pada kaki Adeeva yang masih terbalut perban.
Kaki Adeeva kembali membengkaka. Ada rasa khawatir di mata Arion ketika melihat kaki Adeeva.
Arion mengambil selimut dan mebyelimuti tubuh Adeeva. Namun sebelum Arion pergu satu tangan Arion di genggam erat oleh Adeeva.
"Jangan pergi" Adeeva sedikit mengigau dalam tidurnya.
"Tangan pergi, jangan tinggalin aku, aku takut, jangan pergi " Adeeva semakin mengeratkan pegangannya.
Arion yang mendengar Adeeva mengigau langsung duduk di sebelah Adeeva, membelai rambutnya Lembut.
"Tenanglah, aku di sini. Aku akan bersamamu" seru Arion lirih.
Setelah mengatakan itu tubuh Adeeva kembali seperti biasa, ketakutan di wajah cantiknya sedikit mengurang. Dan Adeeva kembali tidur nyenyak.
"Apa kau sangat kesepian dan kesakitan itu, hingga kau mengigau saat tidur" seru Arion.
Tidak ada jawaban dari Adeeva hanya suara hebusan nafas yang tenang yang Arion dengar.
Arion mengambil ponsel dari saku celananya dan menelfon seseorang yang bisa membantunya saat ini.
"Cari tahu semua tentang Adeeva aku ingin semua terperinci bahkan hal sekecil apapun itu" setelah mendengar jawaban yang di inginkan Arion langsung menutup ponselnya.
Senyum lembut terukir di wajah tampan Arion ketika kembali menatap Adeeva yang tertidur.
P.s
Maaf baru bisa up, author lagi sakit dan gak mungkin bisa mikir buat bikin cerita ini. Semoga kalian suka sama part ini.