Menikah adalah impian setiap wanita, tak terkecuali Tiyah Citanin, seorang wanita dewasa berbadan gemuk. Umurnya telah 28 tahun, ia tak memiliki tambatan hati, jadi belum ada yang melamar hingga sekarang.
Dilamar oleh seorang pria yang pertama kali ia lihat, pemuda tampan dengan mobil keren. Tak terlalu berpikir panjang, ia meneruskan kesalahpahaman keluarganya dengan menerima lamaran pria itu.
Pria yang ia nikahi terlalu misterius baginya, ataukah ... ia yang terlalu sering salah paham? Pernikahan mereka dibumbui dengan kesalahpahaman satu sama lain.
Hingga sebuah kenangan dimasa kecil muncul di kepala Tiyah. Janji untuk selamanya bersama.
Apakah pernikahannya akan berlangsung lama? Atau ia mencari pria di masa kecilnya?
Mari simak cerita ini! Karya orisinil Rozh! Hanya ada di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Istriku
Siang itu, suara serunai ambulance berteriak memekakkan gendang telinga sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Ketika panas terik membakar udara, lalu lalang kendaraan berhimpitan membelah jalan, memberi ruang untuk laju jalan mobil ambulance.
Aktivitas Rumah Sakit berjalan seperti biasa, Dokter, Perawat, dan semua tenaga medis dengan segera membawa tubuh Ibu Gibran ke ruangan operasi. Paman Gibran dan istrinya dengan segera bergegas mendatangi Rumah Sakit karena mendapatkan kabar dari Pelayan rumah.
Dion dan Gibran menangis, bahkan mereka di tenangkan oleh beberapa perawat. Setelah beberapa jam kemudian, tubuh Ibu Gibran sudah di pindahkan keruangan rawat inap. Seluruh tubuhnya dipenuhi beberapa selang-selang.
Tit... Tit... Tit... Tit... Suara yang keluar dari mesin yang menyambung di selang yang ditempelkan di telunjuk Ibu Gibran berbunyi, menambahkan suasana sedih dan tegang. Gina dan kakak laki-laki nya baru saja sampai, mereka langsung terduduk melihat keadaan Ibunya.
Pengemudi yang menabrak Ibu Gibran di duga tertidur saat mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Polisi mengamankan sang pengemudi dan dimintai keterangan.
Keesokan harinya, Ibu Gibran tersadar. Ia langsung meminta perawat memanggil keluarganya. Ia mencoba berbicara kepada Gina dan Gibran. Tak banyak yang bisa ia katakan, mungkin karena kondisinya sangat lemah, sehingga ia tak bisa bicara banyak.
Dari sekian yang dia bicarakan seperti sedang berkumur-kumur, Gina dan Gibran menempelkan telinga mereka, satu pesan yang mereka ingat. “Jagalah Papa kalian dan Dion sebaik-baik mungkin, anggaplah dia adik kandung kalian. Mama berharap kalian bisa melakukannya...”
Hanya itu yang jelas terdengar, kemudian beliau menghembuskan nafas terakhirnya. “Ma! Jangan pergi meninggalkanku, jangan pergi Ma!” teriak Gibran. “Ma, kalau mama pergi, aku harus bagaimana?” Gibran berkata sambil menggoyang-goyangkan tangan Ibunya.
“Ma, aku janji tidak akan bertengkar lagi dengan Dion, aku akan mengalah. Ma, bangun Ma!” Air mata menetes berjatuhan, Gibran terisak-isak. Gina dan kakak laki-laki nya juga menangis terisak-isak, tapi mereka tidak meratap. Dion menangis keras memeluk istri Paman Gibran.
“Ma! Bangun... Jangan tinggalkan aku, Ma.”
“Maafin aku, Ma. uwu...uwu...uwu...” Gibran menangis berderai air mata. Pamannya segera memeluk dan menenangkannya. Pihak keluarga segera membawa jenazah pulang dan disemayamkan di pemakaman keluarga.
“Tidak! Tidak! Ma jangan tinggalin aku!” teriak Gibran saat jenazah hendak dimasukkan ke liang lahat. “Paman, kenapa diam aja! Cepat bangunin mama!” tangisnya.
Rumah terasa sangat sunyi dan sepi, rumah ini dulunya akan selalu terdengar suara mama memarahi mereka. Terdengar galak tawa dan pujian dari mama. Gibran dan Dion sangat terpukul.
Hari itu setelah beberapa bulan kepergian Ibunya, ia melewati hari-hari beratnya dengan duka. Perusahaan yang dulu dilakoni oleh Sang Ibu kini di kelola oleh Sang Paman. Kakak laki-laki Gibran melanjutkan tugasnya menjadi tentara di luar Kota. Sedangkan Gina dan Gibran di bawa Sang Bibi dari keluarga Ibunya ke Luar Negri.
Sedangkan Dion dan Hendru di rawat oleh Paman Gibran dan Istrinya. Setelah Gina tamat kuliah, ia segera pulang. Ia membawa kembali Hendru dan Dion tinggal dirumah peninggalan Sang Ibu. Ia mengelola perusahaan Ibunya, sedangkan perusahaan Ayahnya Hendru masih di kelola Sang Paman.
Gina mulai berprilaku baik kepada Dion, lembut dan menyayanginya. Seperti pesan almarhumah Ibunya, ia mendukung penuh dan memanjakan Dion, sehingga Dion begitu bahagia bersamanya. Sedangkan Gibran harus menyelesaikan kuliahnya dulu di Luar Negri.
_____
Gibran menghela nafas kasar, membuka mata yang ia pejamkan sedari tadi karena berpikir dan mengenang masa lalu. “Ma, tenanglah disana. Kami telah merawatnya dengan baik, walaupun aku belum bisa menerima dia dengan sepenuhnya, tapi aku tidak pernah bertengkar lagi dengannya!” ia berkata lirih.
Ia bangun dari duduknya, berjalan kembali ke tempat tidur. Mencoba memejamkan matanya. Tak selang lama kemudian, ia pun sudah tertidur kembali.
___
Tiyah terbangun dari tidur lelapnya, ia membuka matanya dan menoleh ke samping. Ia tersenyum. Ada pria tampan yang sedang tertidur lelap di depan wajahnya. Tidak biasanya mereka tidur tanpa pembatas. Biasanya akan ada bantal sebagai pembatas, terkadang Tiyah berpikir bantal dan guling itu dijadikan pembatas, apakah karena suaminya jijik padanya?
Padahal, Gibran melakukan itu supaya tidak diserang jurus tendangan dan jurus sikutan dari istrinya yang tidur liar. Ia mendekat dan meraba wajah tampan itu. Entah apa yang merasukinya, satu kecupan mendarat di pipi Gibran. Tiyah tersenyum malu membayangkan seberapa nakalnya dia.
Ia mencium pipi Gibran kembali, Gibran membuka matanya, tersenyum hangat, menangkap tengkuk Tiyah. Menabrakkan bibir Tiyah ke bibirnya.
“Pagi Istriku.” Gibran tersenyum hangat secerah mentari pagi hari ini.
Wajah Tiyah merah merona karena malu akan perbuatannya, ia ingin menghilang di telan bumi saat ini. Senyumnya getir karena gugup. Satu kecupan lagi mendarat di bibir Tiyah. Ia memeluk tubuh kecil Tiyah.
“Biarkan aku memeluk tubuhmu saat ini, Istriku!” Ia membenamkan wajahnya di leher Tiyah.
Gibran masih merasa sedih karena mimpi semalam, beberapa kali nafasnya menghembus leher Tiyah. Hembusan nafasnya membuat Tiyah merinding geli, membuat Tiyah mulai melayang dalam khayalan dewasa. Ia mulai menelan salivanya, menenangkan detakan jantung yang tidak teratur lagi.
Gibran mendengar jelas saat Tiyah menarik nafas memburu, detak jantung Tiyah terdengar lebih cepat, dan ia mendengar jelas saat tenggorokan Tiyah berbunyi. Ia mengerti, ia mencium leher Tiyah, beberapa kali ia menciumnya membuat nafas Tiyah semakin berantakan.
Gibran mengangkat kepalanya, ia melihat jelas wajah Tiyah dalam keadaan pasrah dan rela. Ia mengelus wajahnya, mencium pelan dan hangat, kemudian mengecup bibir Tiyah beberapa kali.
Tiyah yang sudah berada di posisi bersedia, membalas kecupan bibir Gibran. Masih terasa bodoh dan tidak berpengalaman. Gibran tersenyum lebar sampai menampakan deretan gigi putihnya. Membuat Tiyah malu, tapi kepalang tanggung, hasrat ingin mencium kekasih halal itu sudah memuncak.
Mungkin karena sudah lama menjomblo, angan-angan nya selama ini ingin ia wujudkan. Ia mencium bibir Gibran, merasakan bibir lembut itu. Gibran membalas ciuman itu, mengajari Tiyah berciuman dengan benar.
“Buka mulutmu Istriku!” perintahnya, Tiyah menuruti dan membukanya lebar.
Ingin rasanya Gibran tertawa, tapi dia hanya tersenyum kecil. “Buka sedikit saja.”
Memulai mencium dan memainkan lidahnya. Tidak menunggu lama, sekali praktek Tiyah langsung jago. Ia menautkan lidah mereka. Nafas mereka terengah-engah.
Mungkin ini yang disebut ciuman pertama bagi Tiyah, ia menjadi sangat ketagihan. Ia melecutkan gejolak untuk berciuman tanpa henti, mengambil sudut miring agar pas menempelkan bibirnya dengan bibir suaminya itu. Ia mengambil nafas. Sebuah hasrat yang datang dengan pasukan rindu terus meronta-ronta untuk dimanja.
Gibran melayani hasrat Tiyah yang menggebu-gebu. Ia membalasnya dan memberikan ciuman hangat di leher Tiyah. Sebuah tanda kepemilikan. Ia tersenyum lembut, kemudian mencium kening Tiyah.
BAGUS TU KHALIL DINIKAHIN, BIAR GK PLAYBOY LGI..
BARU TAU LO DICKY KLO SUAMI TIYAH LVLNYA DI ATAS LO.. DN TU GIBRAN SUDH MNCINTAI TIYAH SEDARI KECIL, KRN TIYAH ALAMI SUATU MASALH SAAT BNCANA BANJIR HINGGA LUPA GIBRAN, LUPA DIMAS, HINGGA TIYAH BNYK MNTAN COWOK TRMASUK SI DICKY YG PRMAINKNNYA..
MSKI TIYAH MNOLAK DICKY MNTAH2, TPI TIYAH TTP SALAH KLUAR BRTEMU DICKY TNPA IZIN.. DN SI DICKY KIRA SI KHALIL SUAMI NYA TIYAH, PNTAS SI DICKY BLANG KLO KHALIL BKN LKI2 BAIK2 KRN KHALIL PLAYBOY.. JDI DICKY BLG SUAMI TIYAH BKN LKI2 BAIK..
TPI LO YG DEKATI DN RAYU ISTRI ORG DN INGIN JDI PEBINOR APA LKI2 BAIK, DN LO DLU JUGA JDIKN TIYAH CWEK TARUHAN
APA KIRA2 JAWABN GIBRAN..
TPI SBAGAI ISTRI. DN SBAGAI WANITA BRSUAMI, TK PANTAS BRJALAN DGN LAKI2 YG BUKAN MAHRAMNYA, BHKAN TNPA DITEMANI, DN TNPA IZIN SUAMI.. APAPUN ALASAN NYA APA YG DILAKUKN TIYAH TTP SALAH... KRN MMBERIKAN CELAH PEBINOR DLM RMH TANGGA NYA
DN GIBRAN, KNP GK DICKY YG LO HAJAR, LO SAMPERIN TU KPRUASAHAANNYA..
INI KHALIL & DIMAS YG LO HAJAR..
DN LO JELASIN JUGA TU K TIYAH SIAPA TU RAYA..
TRUS KNP GIBRAN GK PEKA DGN TIYAH,, NTAR TIYAH BLAS SAMA DICKY, MKIN RUNYAM..