Ahimsa Radeya Sanjaya adalah kandidat Presdir dari kerajaan bisnis milik kakeknya. Salah satu syarat yang harus dia penuhi sebelum menjadi seorang Presdir pilihan adalah menikahi perempuan pilihan kakeknya. Sevim Zehra Mahveen adalah perempuan yang harus dia nikahi.
Awalnya Ahimsa menyetujui syarat tersebut hanya untuk mendapatkan posisi sebagai Presdir. Namun, akhirnya dia jatuh cinta kepada Sevim. Sayangnya, meskipun saling mencintai, tapi mereka seringkali dibuat salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketagihan
" Lho dik Anin, katanya mau keluar kota?"
" Iya mbak..nggak jadi. Mas Fandy nya ada mbak?"
" Ada, didalam. Duduk dulu dik."
" Makasih mbak.."
Tante Anin sampai rela untuk membatalkan perjalanannya demi perjodohan putranya dengan putri Fandy,kakak angkatnya. Anin merasa melakukan sesuatu agar perjodohan Ahimsa dan Sevim tidak putus di tengah jalan.
" Nin..udah lama?"
" Barusan mas..,
" Kamu sendiri? Galang mana?"
" Dinas luar kota sama Ayah, seharusnya aku juga ikut. Tapi aku cancel.."
" Kenapa? "
" Ada yang mau aku obrolin..tentang pernikahan Himsa sama Sevim.."
" Ada apa?"
" Aku mau pernikahan mereka dimajukan mas ,lebih cepat lebih baik..nggak usah tunangan, tapi langsung nikah"
" Tapi Ayah kan udah bilang 2 bulan lagi.."
" Nanti biar aku yang ngomong.."
" Nggak bisa gitu Nin, kasihlah anak-anak kita waktu buat kenal satu sama lain",
" Iya aku tau mas, nanti mereka bisa kenal dekat setelah nikah..Kamu setuju kan?"
" Nggak..aku tetap minta waktu 2 bulan lagi. Kamu tau nggak, aku bahkan sampe sekarang nggak tega bahas perjodohan ini sama Sevim. Apalagi, kalo bilang pernikahan dia dimajukan, kasihan Nin.."
" Tapi mas.."
" Kayaknya memang mas Fandy benar dik, 2 bulan lagi bukan waktu yang lama. Biarkan Sevim dan Himsa saling kenal dulu", ucap Eliza.
Anin mengalah, dia memang akan selalu kalah jika berdebat dengan kakak angkatny.
" Loh, Himsa tadi katanya kesini ya mbak.."
" Ada..tuh di teras belakang lagi ngobrol sama Sevim"
" Oh, aku samperin dulu mereka..",pamitnya kepada Fandy dan Eliza.
Mulut Anin menganga, shock dengan pertunjukkan yang dilakukan oleh anak dan calon menantunya. Jiwa mudanya kembali bergejolak ketika melihat dua insan yang dimabuk asmara itu saling bertukar saliva dengan lembut, namun masih menghasilkan bunyi decapan bibir yang terdengar pelan.
" Aa'...Sevim...kalian ngapain!!!!!!"
Anin sedikit berteriak ketika melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Sevim sedang dipangku oleh Himsa, dengan posisi rapat tak ada jarak sedikitpun. Mereka berciuman mesra sampai tidak menyadari kehadiran Anin. Jika saja Anin tidak segera mengeluarkan suaranya, sudah pasti tangan anaknya itu sudah bergerilya di atas dada Sevim. Untung aja, Anin langsung menghentikan Himsa sebelum anaknya bertindak lebih jauh.
" Tante..", Sevim kaget, dia langsung melepas pelukannya dan berniat berdiri. Namun, Himsa malah mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di perutnya.
" Mau kemana Se..?"
" Lepas Him..itu ada Mami kamu",
" Udah biarin aja..", ucap Himsa dengan santainya.
Anin kesal, karena kehadirannya tidak dianggap Himsa sama sekali. Benar-benar menyebalkan anak laki-lakinya itu. Anin menghampiri Himsa dan Sevim yang masih setia dengan posisinya semula. Namun, mereka sudah melepas pagutan bibir masing-masing.
" Him..lepasin Sevim nggak.."
" Kenapa sih Mi.."
" Lepasin..", perintahnya dengan memukul Himsa dengan tas yang dibawanya.
" Aduh..aduh...iya..iya..nih, udah Himsa lepas.."
Sevim langsung berdiri ketika Himsa sudah melepas pelukannya. Dia langsung merapikan rambut dan penampilannya yang sedikit berantakan.
" Kamu apain Sevim..?", tanya Anin.
" Seperti yang Mami liat..", jawabnya dengan santai.
" Hihhhhhhh, mami gemes sama kamu. Malu-maluin tau nggak.."
" Tante..Sevim minta maaf..", ucap Sevim menunduk, dia malu karena kepergok berciuman oleh calon mama mertuanya.
" Nggak sayang, yang salah anak mami tuh Himsa.."
" Ada apa sih , kok ribut-ribut..",tanya Eliza dari dalam rumah.
" Mas Fandy mana mbak? Sepertinya aku perlu bicara lagi sama dia..",tanya Anin kepada Eliza
" Di dalam, aku panggilkan..",
" Nggak usah, kita ke dalam aja. Sayang, yuk masuk..", ucapnya lembut kepada Sevim.
" Himsa nggak diajak Mi?",
" Ikut..kamu kan tersangka utamanya..Mami nggak bisa bantu kamu kalo Om Fandy sampe marah sama kamu.
Saat ini kelimanya sudah berada di ruang tengah. Dengan gamblangnya, Anin langsung menceritakan apa yang barusan dia lihat. Sevim tertunduk, dia malu sekaligus takut jika Papanya sampai marah kepadanya. Eliza langsung memandang ke arah anak perempuannya dengan wajah tersipu, sama malunya dengan Sevim. Bedanya perempuan yang melahirkan Sevim itu tersenyum ketika mendengar penjelasan dari Anin.
Jika Sevim takut, berbeda dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Ahimsa. Pemuda itu tampak tenang, dengan percaya dirinya dia duduk di samping sang Mama. Sebagai laki-laki sejati, dia harus siap dengan konsekuensi jika Om Fandi sampai marah, tapi sepertinya itu tidak akan terjadi. Dia harus bertanggung jawab, seandainya disuruh untuk menikahi Sevim saat ini Himsa juga siap.
" Himsa minta maaf, om..tante..",ucap Himsa.
" Aku minta maaf mas atas perlakuan anakku mas mbak..",
" Bukan anakmu saja, tapi anakku juga. Perbuatan mereka berdua..", ucapnya dengan memandang ke arah Sevim, membuat gadis itu kembali menundukkan pandangannya.
" Gimana mas? Masih nggak setuju kalo pernikahan mereka dimajukan? Lebih cepat lebih baik.." ucap Anin.
" Ya..aku berubah pikiran. Aku setuju kalo pernikahan mereka dimajukan..",
" Tapi pah.." Sevim akhirnya bersuara.
" Nggak ada tapi-tapi. Kalo kalian nikah, nggak cuma bisa ciuman kayak tadi. Mau mau pelukan, mau tidur bareng nggak akan ada yang larang. Keputusan Papa sudah bulat. Fix no debat.."
" Terima ya sayang..", bujuk tante Anin kepada Sevim
Sevim mengangguk pelan. Sedangkan Himsa langsung tersenyum senang. Ini semua gara-gara Himsa yang bertindak di luar kendali. Bodohnya, Sevim juga terlena dengan perlakuan Himsa.
" Ya udah kita pamit dulu ya mbak, mas..",
" Kita pamit ya om, tante.." ucapnya dengan mencium punggung tangan Fandy dan Ekiza bergantian.
" Iya..Aa..tau nggak tadi itu first kissnya Sevim..", ucap Eliza berbisik di telinga Himsa.
Ahimsa sudah tau, karena gerakan bibir Sevim tadi terasa kaku. Namun, sudah bisa dibilang lumayan untuk ukuran pemula. Tak masalah, Ahimsa yang akan mengajari Sevim menjadi good kisser. Ahimsa yang mendengar tersenyum penuh arti, dia langsung melihat Sevim yang ikut mengantarkan kepulangannya di teras depan.
" Makasih Se..", ucap Himsa berbisik. Langsung mendapat pandangan tajam dari Sevim.
" Tante pulang ya sayang..,"
" Hati-hati tante..",
" Kok aku nggak dikasih perhatian kayak Ami Se..?", protes Himsa.
" Bodo..",
Sevim langsung masuk ke dalam kamarnya. Mau dikemanakan wajahnya. Ini pengalaman pertama untuknya, dia tidak habis pikir bisa terhanyut seperti tadi. Rasanya malu jika berhadapan dengan Papa dan Mamanya.
" Vim..mama masuk ya.."
" Iya Ma..",
" Lagi apa?"
" Nggak ngapa-ngapain.."
" Chat-an sama Aa"? tanya Eliza yang melihat Sevim sedang sibuk mengusap-ngusap ponselnya.
" Nggak kok Ma.., ngecek Medsos aja. Mama marah karena perbuatan Sevim barusan? Maaf ma.."
" Mama nggak marah kok.."
" Kalo Papa? "
" Nggak marah juga, tapi kecewa"
" Maaf ya, Mama papa jadi kecewa sama Sevim.."
" Ternyata anak Mama udah gede. Untung aja Himsa itu calon suami kamu..., Papa sama tante Anin, memajukan tanggal pernikahan kalian karena nggak mau kalian jadi keblabasan..",
" Iya..Sevim ngerti ma.."
" Ya udah, sekarang istirahat. Selamat malam sayang.."
" Selamat malam Ma..",
Anin heran, pasalnya sepanjang perjalanan pulang dari rumah Sevim, anak laki-laki yang saat ini duduk di sampinganya. Tersenyum dengan pandangan matanya ke depan seperti melamun.
" Aa'..kenapa sih senyam senyum gitu? Kamu kesambet?"
" Hehe nggak Mi."
" Terus kenapa? Jangan bilang kamu bayangin aneh-aneh ya.."
" Nggak kok Mi.."
" Kamu tau nggak, mami malu sama perbuatan kamu tadi.."
" Kenapa malu sih Mi..Himsa sama Sevim bukan anak kecil lagi, sebentar lagi juga nikah"
" Diih,, nih anak nggak ada takutnya sama sekali. Heran deh mami sama kamu. Dulu kayaknya mami salah ngidam..",
" Yang penting kan Om Fandy setuju kan Mi kalo pernikahan Himsa sama Sevim dimajukan.."
" Iya setuju,.kepaksa karena anaknya udah diapa-apain sama kamu.."
" Mami tau nggak, tadi itu first kissnya Sevim..?"
" Darimana kamu tau?"
" Himsa bisa rasain Mi..tapi tadi tante Eliza juga bilang gitu..",
" Oh..waktu bisik-bisik tadi ya Aa.."
" Iya Mi.."
" Rasanya gimana Aa"?
" Mami kan udah pernah rasain"
" Bukan gitu maksudnya.."
" Bibir Sevim manis Mi.., Himsa kayaknya ketagihan deh.."
" Kalo kalian udah nikah nanti, nggak cuma bibirnya aja yang bikin nagih. Tapi yang lainnya juga. Gimana? Masih mau nolak dijodohin sama dia?"
" Nggak Mi.."
" Nah gitu dong.., kalo sampe Mami tau kamu juga pernah apa-apain Rosy. Jangan harap Mami bakal maafin kamu.."
" Apa sih Mi..nggak pernah..sekedar cium pipi aja. "
" Nggak percaya Mami, masa iya kalian pacaran tapi nggak pernah ngapa-apain.."
" Mami lupa ya, Himsa kemana-mana kan dikintilin tuh sama bodyguard, mana mungkin bisa.."
" Oh..gitu ya, berarti karena nggak bisa ya Aa' bukan karena nggak berani..",
" Ya..karena takut sama kakek juga Mi.."
" Aa'..ngomong-ngomong Rendra Perdana bukannya temen kamu ya?"
" Rendra? Iya Mi..kenapa? udah jarang ketemu Mi.."
" Nggak apa-apa Mami cuma nanya aja..Kayaknya kamu kudu banyak belajar dari dia.."
" Belajar apa Mi.."
" Biar jadi laki-laki idaman buat pasangan.."
" Rendra itu kayak es mi, udah gitu kaku kayak kanebo kering.., gimana bisa jadi laki-laki idaman? Mending Himsa kemana-mana "
" Jangan sombong, nanti deh, kamu juga tau sendiri..",
Selalu saja begitu. Mama Anin, memang tahu segala hal, apa yang berhubungan dengannya. Pantas aja, Mamanya itu memang kepo. Jika ada sesuatu yang ingin dia ketahui, selalu saja meminta orang suruhannya untuk menyelidiki sampai ke akarnya. Seperti saat ini, Mama Himsa itu pasti telah mengetaui seluk beluk Rendra dan pasangannya dari orang kepercayaanya.
semoga ad kelanjutan season 2nya
Selamat ya Sevim untuk kelahiran baby girl