Dia adalah seorang pendekar hebat du abad kejayaan, dia adalah pahlawan wanita yang selalu di agung - agungkan oleh semua orang. Jangan tanya seberapa besar kekuatan nya, dantian Qi nya sudah melampaui batas manusia. Ia memiliki banyak jenis tumbuhan obat beserta senjata tajam yang sangat legenda dan sangat di incar oleh para kultivator.
Ia berjalan dengan perlahan di antara rintik nya hujan dan jalanan yang licin, seekor kuda liar berlari dari arah hutan dengan sangat kencang. Mei Rui, gadis itu yang mendapatkan serangan secara tiba - tiba pun terkejut hingga membuat dirinya jatuh dari atas tebing.
Cahaya silau merasuk indra penglihatan nya, secara tiba - tiba ia merasa seperti di sebuah danau yang cukup dalam. Beberapa ingatan masuk ke indra pengingat nya , mata nya terbuka ia mulai naik ke atas permukaan dan menghirup udara segar sebanyak - banyak nya. .
"Terimakasih nenek " ia berucap pergi sambil membawa gelang giok pemberian nenek pengemis.
baca kelanjutan cerita nya yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uyuuun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan istana
Huang Mei di dandani sedemikian rupa, ia tampak cantik dengan pakaian yang di belikan Huang Dao, cantik yang sangat sederhana. Huang Mei keluar dari kediaman nya di tuntun oleh nuan, semuanya telah menunggu kedatangan Huang Mei.
Huang Mei tampak berbeda sekarang, walaupun dengan memakai penutup wajah keanggunan serta aura yang di keluarkan sangat berbeda. Aura nya terlihat bahwa Huang Mei seorang gadis yang sangat cantik.
"Maafkan keterlambatan ku ! " ucap nya sedikit membungkuk.
"Tidak apa , ayo kau satu kreta dengan kakak " ajak Huang Dao.
"Adik kau tampak sangat cantik " puji Huang Feng, ia tidak ingin kalah dari kakak nya. Bagaimana pun cara nya ia harus bisa dekat dengan Huang Mei juga
"Terimakasih kakak "
"Kakak bagaimana dengan penampilan ku ? " tanya Huang Wen yang mencari perhatian kedua kakak nya.
Tidak ada yang menanggapi semuanya sibuk berbicara dengan Huang Mei, menyebalkan bagaimana bisa ia menjadi nyamuk sendirian. Semua karena Huang Mei entah mengapa Huang Wen merasa adik bodoh nya itu telah berubah.
Mereka pun telah sampai tepat waktu, jenderal Huang beserta keluarga membungkuk hormat. Pangeran ke dua , ke tiga dan ke lima menantikan kedatangan sosok yang mereka anggap sebagai adik. Ketiga pangeran itu sepakat menjadikan Huang Mei sebagai adik mereka, sikap nya yang seperti singa garang sangat cocok berteman bersama mereka.
Huang Wen terlalu percaya diri , ia mengira kalau tatapan para pangeran di tuju ke arah nya.
"Adik andai kau bisa melihat, tatapan para pangeran tertuju kepadaku " Huang Mei ingin muntah melihat sikap Huang Wen yang kelewatan percaya diri.
"Ibu lihat lah para pangeran menatap ku " bisik Huang Wen.
"Putri ibu memang yang paling cantik, ibu yakin di masa depan kau pasti akan menjadi permaisuri kerajaan ini " balas nyonya kaili yang terus memberikan kata - kata manis untuk putrinya.
Huang Mei memilih duduk dekat Huang Dao dan Huang Feng, perjamuan istana telah di mulai namun anak dari menteri Ji memulai pembicaraan yang menyudutkan Huang Mei.
"Maaf yang mulia kaisar, bukan kah sangat tidak sopan kalau nona Huang Mei makan dengan memakai penutup wajah seperti itu " ucap Ji Wei.
"Itu benar yang mulia, bukan kah sangat terlihat jelas kalau nona Huang itu tidak menghormati anda " sambung menteri Ji memprovokasi.
Menteri Ji sangat tidak menyukai jenderal Huang dari dulu, entah apa alasan yang membuat menteri Ji tidak menyukai keluarga Huang.
"Maaf jika penampilan saya ini membuat kalian berpikir kalau saya tidak sopan, kalau begitu saya akan pamit undur diri ". ucap Huang Mei.
"Tidak perlu ! duduk lah di tempat mu nona Huang, siapa pun bebas berpakaian dan menurut ku penampilan nona Huang tidak menunjukkan kalau ia berbuat tidak sopan kepada ayahanda ! " pangeran ke lima sangat tidak menyukai menteri Ji.
"Itu benar, lagian ayahanda dan ibunda juga tidak keberatan dengan pakaian nona Huang , benarkan ibu ? " ucap pangeran mahkota.
"Itu benar putraku " ucap permaisuri dengan tersenyum.
Acara makan pun berlanjut dengan Ji Wei yang membenci Huang Mei. Setelah selesai makan Huang Mei memilih untuk duduk di bangku taman, ia sangat tidak suka dengan acara perjamuan ini. Para gadis selalu unjuk diri dan merasa kalau mereka paling cantik apalagi ia sangat benci dengan para penjilat.
"Pakaian mu sangat indah nona muda Huang " ucap putri Wang Yi yang duduk di hadapan Huang Mei.
"Terimakasih pujian nya putri, ini pakaian yang di belikan kakak pertama untuk ku " ucap Huang Mei dengan sedikit keras membuat Huang Wen yang tidak jauh dari sana menatap nya tidak suka.
Huang Wen pun datang bersama bangsawan lain termasuk Ji Wei yang merupakan teman nya.
"Apakah kami boleh bergabung adik ? " tanya Huang Wen.
"Tentu saja kakak , duduk lah " jawab Huang Mei.
"Kakak pertama memang sangat menyayangimu bahkan ia tidak pernah perduli kepadaku, aku sangat sedih melihat perlakuan kakak pertama dan kakak kedua kepadaku. Aku juga adiknya tetapi ..... " Huang Wen tidak melanjutkan perkataan nya ia malah menangis sesegukan yang membuat mereka iba kecuali putri Wang Yi.
"Tentu saja mereka menyayangi ku kak jika kakak ingin di sayangi sama seperti ku berarti kakak harus mengalami hal yang sama juga seperti ku. Aku buta dan mata mereka yang selalu menggantikan penglihatan ku, mereka selalu bercerita tentang asik nya dunia luar. Sedangkan kau, kau memiliki penglihatan seperti yang aku inginkan, kau bisa bebas bepergian kemana pun yang kau mau tidak seperti ku ". ucap Huang Mei yang mulai mengambil alih perhatian mereka.
"Bagaimana bisa kau mengatakan kalau kaka pertama dan kakak kedua pilih kasih, aku saudara kandung dengan mereka bukan kah wajar mereka menyayangi ku. Aku harus berharap kepada siapa kak, kepada ayah bukan kah ayah sibuk di perbatasan " lanjut Huang Mei yang kini mereka mulai iba kepada nya.
"Kau bisa berharap kepada ku dan juga kepada ibu... " ucap Huang Wen tidak mau kalah.
"Berharap kepadamu ? bukan kah selama ini kau sibuk dengan dunia mu sendiri kakak, kau selalu datang ke acara pesta teh para bangsawan. Ibu, bukan kah ibu juga selalu bertemu dengan teman - teman sosialita nya sepanjang hari ? " ucapan Huang Mei menjadi boomerang untuk Huang Wen.
'Ya dewa betapa menyedihkan nya nasib putri ku ' batin jenderal Huang.
'Menyedihkan sekali hidup mu adik' batin Huang Feng.
'Adik ku benar - benar pandai bersandiwara ' batin Huang Dao.