Bagi Ziza, Khalid Al Ghifari sangat jauh berbeda dari para sepupu dan sahabat laki lakinya.
Cowo pendiam yang baru dia kenal di penghujung SMAnya, kini malah satu kelas dengannya. Cowo itu lebih suka menghabisksn waktu di kelas atau di perpus.
Dia selalu terluka, bahkan di awal pertemuan mereka, Ziza menempelkan plester di keningnya.
Ini cerita anak anak Kaysar cs. Semoga suka ya...♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ditemukan
Anggoro baru saja kembali dari pemakaman istrinya.
Istrinya sudah tidak tertolong lagi.
Kini dia hanya bisa menatap Khalid yang masih terbaring koma.
Anggoro sengaja.menjauh dari semuanya. Menepi dan mulai menyesali diri.
Dokter yang dibayarnya menemukan banyak luka benda tumpul di tubuh Khalid.
Dia hanya bisa menebak kalo Khalid sudah menjadi korban depresi istrinya.
Dulu istrinya adalah wanita yang lembut dan penyayang. Rasanya ngga percaya istrinya bisa melukai Khalid sampai begini.
Hampir saja Khalid ikut dengannya. Untunglah Khalid masih bisa diselamatkan walau harus mengalami koma.
Menurut dokter, Khalid yang enggan untuk sadar. Mungkin dia mengalami trauma berat melihat kematian mamanya di depan matanya.
Anggoro menghembuskan nafas berat.
Akhirnya dia menghubungi istri keduanya.
"Jesica," ucapnya ketika pada dering ketiga telponnya diangkat
"Goro?" terdengar pekik kaget Jesica.
"Kamu dimana? Kenapa sulit sekali dihubungi?" tanyanya beruntun.
"Aku di suatu tempat."
"Dimana? Jangan rahasia apa pun dariku . Aku akan menyusul----."
"Elisha meninggal, Khalid sedang koma," potong Anggoro cepat.
Hening.
"Aku ikut berduka cita."
"Aku akan menceraikanmu," ucap Anggoro Musri dengan perasaan getir. Dia sudah sangat terlambat menyadari kesalahannya.
"Ti tidak bisa begitu, Goro." Suara Jesica terdengar panik. Dia tau, kesalahan ada padanya. Dia tidak mau ditinggalkan Anggoro. Setelah yang dia alami, dia makin ngga bisa melepaskan Anggoro.
Tidak ada suara dari Anggoro.
"Oke. Aku akan kasih kamu waktu untuk menenangkan diri. Setelahnya kita baru bicara." Jesica memberikan alternatifnya. Dia tidak ingin diceraikan. Apalagi sekarang kedudukanhya lebih kuat karena istri pertama Anggoro sudah tiada.
Ngga terdengar sautan dari Anggoro.
"Khalid akan jadi pewaris, Goro," ucapnya lagi. Agar suaminya bisa mempertimbangkan lagi alasan untuk tidak menceraikannya.
Anggoro masih tidak menyahut. Sekarang harta dan jabatan sudah tidak lagi menarik di matanya.
Keselamatan putranya yang kini jadi prioritasnya.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Anggoro menutup ponselnya. Melepas simcard dan membuangnya ke tempat sampah
Kembali tatapannya jatuh pada wajah putra tunggalnya
"Maafkan papa," desisnya lirih. Dadanya seperti diremas dengan sangat kuat.
Dia bisa membayangkan penderitaan Khalid. Sama sekali di luar dugaannya karens istrinya Elisha bisa sampai mengalami depresi akut gara gara ulah dirinya.
Anggoro tau, tindakannya ngga akan termaafkan.
Kalo Khalid sampai menyusul mamanya, dia pasti akan masuk rumah sakit jiwa.
"Temani papa, Khalid," bisiknya lagi. Kini sebulir air hangat mengalir di pipinya.
*
*
*
"Anggoro melepas semua kekayaannya?" decih Kaysar sambil menggelengkan kepalanya.
Mencela dalam hati karena dulu demi menikah lagi dan mendapatkan semua harta kekayaan yang sangat besar, dia tega meninggalkan anak istrinya.
Sekarang dia malah membuangnya begitu saja.
Menggelikan!
Dasar orang gila!
"Istrinya pun mau diceraikan," sambung Setyawan lagi membuat Kaysar ngga bisa lagi menahan tawanya.
"Otaknya di luar jangkauan pikiran kita," kekeh Kaysar sinis.
Dulu cinta mati, sekarang....., batin Kaysar mengejek.
"Dia menghubungi istrinya, tapi ngga menghubungiku," lanjut Seryawan seolah merasa ngga terganggu dengan tawa mengejek Kaysar.
"Untuk diceraikan?" ejek Kaysar lagi.
"Begitulah."
"Jadi kamu ngga tau keberadaan Anggoro?" tanyanya setelah beberapa menit kemudian. Tepatnya setelah tawanya reda.
"Istrinya ngga sempat mendeteksi keberadaannya," keluh Setyawan.
Kaysar manggut manggut.
"Mungkin sekarang dia bersana Khalid dan mamanya."
"Entahlah. Nomer telpon Khalid ngga bsia dihubungi."
Kaysar masih manggut manggut
"Putrimu tadi menanyakan Khalid." Ucapan Setyawan membuat Kaysar menatap Setyawan dengan satu alis yang terangkat.
'Serius?"
"Iya. Putrimu sepertinya naksir dengan Khalid," kekeh Setyawan meledek. Raut kesal dan cemasnya sudah sirna.
"Aku ngga masalah, asal dia jangan pernah menyakiti hati putriku saja," sahut Kaysar kalem.
"Pasti Khalid akan mikir seriby kali buat nyakitin Ziza," tawa Setyawan. Sebelum menghadapi Kaysar, Khalid pasti akan dibejek bejek dengan Quin. Belum lagi ditambah barisan di belakang Quin.
*
*
*
"Sialan. Kemana dia perginya?" Saking kesalnya Quin menendang sebuah kerikil hingga mental ke mobil Sean.
"Harus ganti mobil, nih," komen Sean santai ketika melihat lecet kecil yang ditimbulkan oleh si kerikil.
Yang lainnya langsung tergelak.
"Biar nanti daddy aku yang bayarin," timpal Theo dalam tawanya. Mereka ngga peduli dengan kekesalan yang kentara jelas di wajah Quin.
"Ganti dua kalo perlu,' gelak Dewa.
"Oke," sahut Sean santai.
"Jangan kemaruk Sean. Di cat juga ngga kelihatan," sarkas Quin.
"Jangan belagak miskin, Quin. Lagian salah kamu juga, mobil terbaru dirusakkin," komen Zian membuat tawa mereka semakin menggelegar.
"Salah batu itu. Suruh batu itu aja yang ganti," dengus Quin sewot.
Mereka tetap tertawa tanpa peduli protes Quin.
Ngga lama kemudian.
"Padahal aku udah janji sama Ziza buat nemuin anak kurus itu," keluh Quin.
"Berarti dia beneran menghilang." Dewa mulai berkomentar.
"Sepertinya," sahut kembarannya membalas komentarnya.
"Bagus, kan. Urat sarafmu ngga akan bakalan tegang terus karena emosi," timpal Sean dengan senyum miring.
"Cemburu," ejek Zian yang dibalas dengan kekehannya dan yang lain.
Quin mendengus lagi.
*
*
*
Ziza menghela nafas. Tangannya sibuk membuat sketsa wajah Khalid. Dia masih mengingat detil wajah penuh senyum itu.
"Maaf, aku ngga bisa nemuin dia. Theo sama.yang lain juga udah membantu. Tapi gagal," ucap Quin tadi malam saat menemuinya di rumah.
"Ngga apa."
Ziza ngga marah. Dia tau Quin pasti sudah berusaha dengan sangat keras. Sahabat dan sepupunya yang lain pasti sudah ikut membantu.
Ziza akan menyimpan sketsa wajah ini, di kertas gambarnya dan juga di hatinya.
Padahal kenangan yang dia torehkan hanya sebentar, tapi sayangnya hati Ziza masih lekat mengingatnya.
"Ngga ketemu, ya."
Ziza menoleh ketika mendengar suara Ruby yang menegurnya.
"Kamu datang sama siapa?" tanya Ziza sambil membiarkan Ruby melihat sketsanya. Ngga ada rahasia diantara keduanya.
"Sama mama papa."
"Oo."
"Quin masih di teras sama yang lainnya."
"Biarkan saja. Aku jadi ngga enak sudah membuat Quin sedih." Ziza menghela.nafas panjang.
Quin selalu begitu. Padahal Ziza ngga pernah marah dan selalu memakluminya. Tapi.sepupunya akan tetap.memasang wajah sedih jika tujuannya belum tercapai.
"Udah bawaan dari sononya," canda Ruby membuat bibir Ziza sedikit berkedut.
"Quin sudah seperti kakak buatku," jujur Ziza.
"Kalo lihat kelakuannya, dia memang kakak yang posesif dengan adiknya," decih Ruby kemudian tergelak. Ziza pun begitu.
"Kalo Theo gimana?" pancing Ziza menggoda.
⁹Nggak gimana gimana," sahut Ruby berahasia. Mengingat sikap.Theo, Ruby selalu merasa diistimewakan. Tapi jika dia menatap lama.wajah Theo, hatinya selalu kesal. Terbayang omelan omelan pedas kembaran Theo, jika dia dianggap lalai menjaga Ziza.
Ziza tersenyum tipis.
"Kok, kamu gambar wajah Khalid lagi senyum? Sampai lebar gini lagi, padahal orangnya irit ekspresi." Ruby mengalihkan topik.
Ziza ngga menjawab. Karena kenyataanya memang begitu. Makanya momen spesial Khalid bahagia dia rekam dengan sangat baik.di hati dan pikirannya.
"Jangan bilang kamu naksir dia," tuduh Ruby meledek.
"Ada ada aja," sangkal Ziza dengan jantung berdebar aneh.
"Ngga apa apa .kalo naksir," ledek Ruby lagi.
Ziza hanya tersenyum.
Mungkin dia tertarik dengan mata yang selalu tampak murung itu. Seakan akan semua kebahagiannya sudah terenggut dengan paksa dari hidupnya.
*
*
*
Urutan cerita Kiano cs
Dendam dokter Aruna
After the heartbreak
My ex crush
Kesempatan kedua
My baby girl
Duda dingin jatuh cinta lagi
My Angel