kisah seorang gadis yang terpaksa menjadi simpanan Sugar Daddy demi bisa mendapatkan jaminan hidup layak setelah keluarga nya di kucilkan oleh keluarga besar mendiang sang ayah,mula nya kehidupan gadis bernama Ayana itu serba berkecukupan,tapi setelah ayah nya meninggal, seluruh aset kekayaan almarhum di kuasai oleh sang adik yang rakus akan harta kekayaan kakak nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winda Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Regan duduk di sofa ruang tamu dengan posisi meletakkan kedua kaki nya di atas meja, ia sengaja duduk di sana untuk menunggu kedatangan Papa nya, tak sabar rasa nya untuk segera bertemu pria yang sudah tidak di anggap nya lagi sebagai seorang Ayah.
tepat pukul 18:30 wib, pak Wijaya tiba di rumah, wajah nya tampak lusuh dengan kemeja yang sudah berantakan, kedua lengan nya di singsingkan hingga ke siku, suara sepatu pantofel menggema di lantai marmer, Regan tersungut memiringkan senyum sinis, raut muka nya sudah masam sejak tadi, gemuruh di dada nya kian berkobar, kedua tangan nya mengepal kuat, ingin rasa nya segera menghatam wajah papa nya dengan pukulan keras.
tapi keinginan itu coba ia tepis mana kala mengingat bahwa dirinya adalah darah daging Wijaya Kusuma.setiba nya pak Wijaya di ruang tamu, beliau ternganga bengong dengan keberadaan Regan. tatapan nya tak henti dari ujung kepala hingga kaki.
" gak perlu liat gue sampai segitu nya.!"
ucap Regan santai sambil menghisap sebatang rokok yang menyisakan setengah nya.
"matikan rokok mu itu.!" titah papa nya tanpa mengurangi kewibawaan nya. Regan sama sekali tidak mengindahkan perintah papa nya, dia hanya tersenyum sinis sambil menaikan pandangan mata nya kearah pak Wijaya yang bediri di hadapan nya.
" memang nya kenapa kalau Regan ngerokok pa.?!"
jawab nya masih dengan nada santai.
"anak tidak tau di untung.! sudah di besarkan masih saja tidak tau balas budi. "
sanggah pak Wijaya, beliau seperti ngelantur saking marah nya pada Regan, bahkan sikap Regan terkesan sangat tidak menghargai beliau.
"papa bilang apa?! coba ulang sekali lagi.!"
segera Regan beranjak dari tempat duduk, tubuh nya berdiri tegap membusungkan dada. emosi nya kini sudah tidak dapat terkendali setelah mendengar pernyataan papa nya tadi.
kedua nya saling tatap, wajah pak Wijaya terlihat tegang.
"papa bilang Regan tidak tau diri?! hahaha.. "
tawa Regan mengulang kalimat yang di lontarkan papa nya tadi.
" papa sadar gak sih? selama ini Regan gak pernah minta di besarkan oleh papa. "
Regan berbisik di telinga papa nya, diri nya seperti sedang meluapkan isi hati nya selama ini, sekalipun hidup nya bergelimang harta serta semua kemauan nya bisa terpenuhi, hanya satu hal yang tidak ia dapat kan selama ini, ya itu kasih sayang seorang ayah yang sama sekali tidak pernah membuat nya merasakan apa arti kenyamanan.
Regan terdiam dengan mata yang berkaca-kaca,sementara pak Wijaya terdiam mematung.
"papa itu tidak cocok jadi seorang ayah, apa lagi suami.! "
"deg.!
ucapan Regan Seketika membuat hati pak Wijaya tersinggung.hal itu memicu perdebatan di antara kedua nya.
"anak kurang ajar.! papa juga gak pernah mau mengurus kamu jika bukan karena mama mu.! kamu juga bukan.!"
pak Wijaya terdiam dan tidak melanjutkan kalimat nya yang sempat ter potong. hampir saja sebuah fakta dan rahasia besar itu terbongkar jika pak Wijaya tidak menjaga lisan nya.
"! bukan apa, pa?!!"
cecar Regan penasaran.seketika itu rasa penasaran nya kian memuncak.
"maksud papa apa?! Regan bukan apa, pa.!"
tanya Regan sekali lagi dengan tegas. pak Wijaya justru menghindar dan pergi begitu saja dari tempat nya bediri.
"mbak inah.! tolong siapkan makan malam saya.!"
perintah pak Wijaya mengeraskan suara saat beliau berjalan melewati ruang makan.
" baik pak.!"
sahut mbak Inah lantang dari arah dapur. Regan terdiam bengong dengan pandangan kosong.ia terdiam duduk di sofa sambil terus memikirkan ucapan papa nya tadi yang sempat ter potong.
"Mas mau makan sekalian? "
ke munculan mbak inah yang tiba-tiba membuat Regan terperanjak kaget.
"astaga mbak ngagetin aja.!" celoteh nya kesal.
"aduh ma'af mas. "
wajah mbak Inah menciut takut.
" enggak deh mbak saya belum lapar. "
tolak nya yang kemudian memutuskan untuk pergi ke kamar.
pagi hari nya saat pak Wijaya sudah bangun dan bersiap untuk pergi ke kantor, Regan baru saja keluar dari kamar, kondisi nya masih berantakan dengan rambut yang acak-acakan. kedua nya tidak saling bertegur sapa, pak Wijaya melenggang pergi begitu saja setelah berhasil meraih tas jinjing nya.
"pa tunggu.!"
langkah nya terhenti saat Regan memanggil nya dari jarak kira-kira lima langkah kaki orang dewasa. tanpa menoleh pak Wijaya hanya terdiam memastikan Regan mendekat ke arah nya.
"ada yang mau Regan bicarakan sama papa.!"
pungkas nya berdiri di belakang papa nya.
" papa udah telat, nanti aja kalau mau ngomong sesuatu. "
jawab pak Wijaya dengan sikap dingin. beliau melihat arloji yang terpasang di pergelangan tangan kiri nya. waktu sudah menunjukkan pukul 7:15 wib.artinya beliau harus segera tiba di kantor karena masih ada banyak pekerjaan di sana.
" ini soal mama, pa.! mama sekarang sakit.! ini semua karena ulah papa.!"
Gertak Regan dengan suara bergetar.
"tolong jangan cari masalah dulu, masih ada banyak urusan yang harus papa urus di kantor. " mendegar jawaban papa nya, rasa benci itu kian bertambah, pak Wijaya rupa nya lebih mementingkan pekerjaan dari pada istri nya yang sekarang tengah terbaring di rumah sakit.
"papa bener-bener gak punya hati.! Regan jauh-jauh datang ke sini cuma demi ngasih tau papa tentang kondisi mama, dan ternyata ini jawaban papa?! papa sama sekali udah gak perduli sama mama.! Regan telpon bolak-balik juga gak pernah papa angkat.! bajingan seperti papa memang tidak pantas di hormati.!"
sebuah kalimat dan ucapan kasar terlontar begitu saja dari mulut Regan. emosi nya sudah tidak bisa lagi terkendali.
"cukup.! kamu sudah keterlaluan.! "
"plakk.."
sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Regan dengan menyisakan bekas jari jemari milik pak Wijaya. seumur hidup baru kali ini Pak Wijaya menampar Regan sampai tubuh Regan hampir tersungkur, Regan sempat terhuyung saking keras nya sebuah tamparan itu. kepala nya sedikit pusing dengan mata berkunang-kunang.
pak Wijaya ternganga seperti menyesali berbuat nya barusan, beliau memandangi tangan nya yang merah padam dengan sedikit rasa perih di bagian telapak nya. Regan mengusap pipi nya kasar, sementara kedua mata nya menatap nyalang ke arah pak Wijaya. ia bukan nya marah dan justru terseyum sinis menujukan sikap arogan nya.
"segini doang pa? gak sekalian papa bunuh saja aku."
tantang nya dengan suara halus namun penuh penghayatan.
Pak Wijaya pergi begitu saja karena enggan memperpanjang masalah, penyesalan itu terus terngiang-ngiang di ingatan nya, entah apa yang membuat beliau begitu menyesali perbuatan nya tadi. dari kecil Regan tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari orang tua nya, bahkan pak Wijaya sama sekali tidak pernah memarahi Regan sekalipun anak itu melakukan kesalahan.
Diam-diam pak Wijaya menitihkan air mata saat memasuki mobil. detik itu juga hilang ke wibawa'an nya saat mengingat betapa sayang nya beliau pada Regan.beliau juga sadar sejauh ini hidup nya hanya di penuhi dengan hal-hal toxic.kurang nya perhatian terhadap Regan mungkin juga pemicu rasa benci tersendiri di hati Regan terhadap beliau.
untuk si Sera semoga mendapatkan karma nya lagi