Sebuah kasus pembunuhan berantai terus saja terjadi di tempat yang selalu sama. Menelan banyak nyawa juga membuat banyak hati terluka kehilangan sosok terkasih. Kasus tersebut menarik perhatian untuk diselidiki. Namun si pelaku lenyap tanpa sebab yang jelas dan justru menambah kekhawatiran penyelidik. Kasus ini menjadi semakin rumit dan harus segera dipecahkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherry_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi Dadakan
Setengah jam aku menunggu sambil menonton proses koki tinggi itu membuat sesuatu yang ia sebut sebagai ‘hidangan spesial’, memastikan tidak ada racun atau bahan lain yang ia masukan ke dalam adonan.
Akhirnya pria yang kudengar namanya adalah Picho kembali membawa satu kotak besar berwarna biru dengan ukiran corak yang indah.
Kotak itu berisi satu cheesecake besar yang indah, lengkap dengan potongan strawberry yang tertata rapi dan membuatnya tampak lebih manis.
“Terimakasih telah menunggu, ini ada sedikit hadiah khusus untuk pelanggan baru yang betah di kedai kami."
"Kami harap anda menyukainya, selamat menikmati ya nanti di rumah bersama keluarga,” tuturnya dengan ramah dan sopan, namun kali ini sedikit melukai hatiku.
“Aku tak punya keluarga, mereka meninggalkanku sejak kecil bersama berjuta kenangan buruknya,” ketusku, namun pria ini malah tersenyum manis padaku.
“Oh, sama dong!? Keluarga saya juga telah dibunuh entah oleh siapa sejak saya kecil. Yang saya ingat hanyalah jasad mereka yang berlumuran darah." ceritanya, adu nasib.
"Tak apa, kakak kuat bisa bertahan sampai sekarang. Tak perlu sedih, dan nikmati saja kuenya sendiri hingga puas." lanjutnya, mencoba menghiburku.
"Kue itu tahan lama jika ditaruh di kulkas,” ia memberikan info tambahan, seraya mempertahankan senyuman manisnya.
“Kalau aku justru lebih parah, orang tuaku bunuh diri tepat di depan mataku sendiri sejak aku masih kecil!” sahut temannya yang bernama Leo.
Entah sejak kapan ia hadir dan mendengarkan percakapan di sini.
“Tak perlu khawatir, jika anda merasa sepi, kami siap ko menjadi keluarga anda di sini,” lanjutnya memberikan tawaran manis.
Namun wajahnya datar tanpa ekspresi. Membuatku ragu, apakah ia tulus mengatakan itu atau tidak.
“Jika aku keluarga kalian, berarti aku boleh makan gratis dong tiap hari di sini?” aku berkelakar ringan.
“Boleh gratis,” jawab Leo.
“Tapi masak sendiri ya,” timpal Picho. Mereka pun tertawa kecil.
“Apa ini? Apa tak masalah jika aku mengetahui resep makanan kalian!? Dan apa tak masalah jika aku masuk ke dapur kalian? Nanti racunnya keliatan dong!?”
Gawat! Aku kelepasan bicara! Jika begini, mereka pasti sadar bahwa aku sedang memata-matai mereka!
Tampak wajah heran dari mereka, sempat juga mereka saling melempar lirikan. Lalu mereka sadar akan apa yang kumaksud.
“Oh? Kasus di kedai tempat kami bekerja sebelumnya?” Picho memastikan.
“Kami juga kesal pada yang telah meracuni pelanggan kami, ingin rasanya menangkap pria bertopeng rubah itu! Sayangnya dia sudah tak nampak lagi.” tambah Leo masih setia dengan nada dan wajah datarnya.
“Hah!? Pria bertopeng rubah!?” pekikku, terkejut mendengar mereka tiba-tiba saja menyalahkan orang lain.
“Iya, Picho pernah lihat pria bertopeng rubah putih, menggotong korbannya ke gunung,” jelas Leo.
“Aku sempat mengejar dan berusaha menangkapnya. Sayangnya, aku jatuh dari sepeda dan terluka parah hingga tak mampu menghentikan langkahnya,” tambah Picho.
“Kami yakin, yang meracuni pelanggan kami juga adalah orang yang sama. Walau kami belum menemukan buktinya karena pria itu tak pernah muncul lagi,” cetus Leo.
“Habisnya, hari dimana pelanggan kami keracunan makanan, aku melihat pria itu lagi di kebun teh dekat kedai,” sambung Picho.
“Tapi jika benar itu yang terjadi, kalian juga salah dong karena teledor dan kurang teliti, tak menyadari ada orang lain yang meracuni pelanggan kalian?” terkaku, tak rela kehilangan bukti bahwa mereka layak ditangkap.
“Kami adalah koki, tugas kami seharian di dapur!” sanggah Leo, mencoba memberi alasan.
“Mana sempat kami memperhatikan seluruh pelanggan, sedangkan kami harus sibuk memasak untuk pelanggan yang lainnya?” timpal Picho.
“Lagipula, di kedai itu ada banyak pelayan juga yang lebih leluasa memperhatikan keadaan sekeliling,” Leo menambahkan.
“Picho sempat melihat dan mencoba menghentikan pria bertopeng rubah sebelumnya, lalu melihatnya lagi di hari tragedi pelanggan keracunan makanan. Mengapa tidak dikejar untuk kedua kalinya?” selidikku belum puas dengan jawaban mereka.
“Ya aku takut mati lah, gila!" sentak Picho spontan.
"Aku terluka parah setelah mengejarnya, dan lukaku belum sembuh ketika aku melihatnya lagi." jelasnya, menceritakan.
"Mana mampu aku mengejarnya lagi dalam keadaan terluka? Dan juga aku tak boleh datang terlambat pada kedai hari itu.” tegasnya.
“Lagipula, memang siapa pelanggan itu bagimu?” akhirnya ia menanyakan hal yang tak ku mengerti.
“Hah!?” nyalakku, kelepasan menunjukkan sikap berandal, bukan karena marah.
“Malam itu aku gagal menyelamatkan siswi SMA bernama Cika karena sepedaku oleng dan jatuh, besoknya jasad Cika mengapung di sungai, dan Rika sahabatnya datang menginterogasiku,” Picho mulai menceritakan kronologi kasus yang sempat ia temui.
“Sehari setelahnya, aku melihat lagi pria bertopeng rubah putih, sebelum malam harinya ada pelanggan keracunan di kedai kami. Kami dituduh sebagai pelaku, dan dipecat keesokan harinya.” lanjutnya, menceritakan kasus yang menimpanya.
"Malam setelah kami dipecat, aku ke gunung untuk mencari pembunuhnya, dan bertemu Taira yang juga mencari pembunuh karena kakaknya menjadi korban." ia menceritakannya dengan serius, namun tenang.
"Dan sekarang, anda hadir membahas pelanggan yang keracunan itu. Apa ikatan kalian?" tanyanya ramah akhirnya, tersenyum manis ke arahku.
“Wow! Rupanya ini bukan kali pertamamu dipojokan dan dituduh sebagai pelaku, Picho! Hebat juga caramu menjelaskan kronologinya, sudah seperti detektif sungguhan saja!” seru Leo, memuji kawannya.
Aku sempat iri merasa tersaingi. Yang detektif sungguhan kan aku!
“Berisik! Aku sedang bicara serius dengan kakak ini! Ummm…? Siapa nama kakak?”
“Arron,” jawabku, tentu saja memberikan identitas palsu.
“Baiklah, kak Arron. Apa hubungan anda dengan korban yang keracunan makanan?”
“Kekasih! Korban itu adalah kekasihku,” racauku asal.
Aku mulai kehilangan fokus dalam percakapan ini. Selama bisa memberikan jawaban, mereka akan percaya kan?
“Korbannya itu cowok, kak. Apa anda sedang mencoba membohongiku?” terang Picho, membuatku sedikit tersentak.
Korban yang keracunan di kedai waktu itu cowok!? Apa aku kurang teliti menyelidikinya? Sekarang aku harus bilang apa?
Seketika wajahku memucat, keringat dingin mengalir dari sekujur tubuhku, otak ku semakin tak bisa berfikir jernih. Aku panik, tak bisa mengatakan apapun.
Gawat! Bagaimana ini? Ayo berfikirlah otak! Sialan! Aku kalah di hari pertama? Targetku ini memang cerdas!
“Ha- ah!? Korbannya cowok!?" gerogiku gugup.
"Yasudah, jika Rika adalah sahabat Cika dan Taira adalah adik korban yang sebelumnya dibunuh di gunung, berarti aku kakaknya korban yang keracunan di kedai itu saja deh!" racauku lagi, mencoba mencari alasan.
"Iya, anggap saja korban adalah adikku!” ulangku dengan tegas.
Aku mencoba mengalihkan perhatian mereka, dengan cara sedikit bercanda. Namun sepertinya candaan ku kali ini tidak tepat waktu.
Leo hanya menatapku datar sembari memutar bola matanya malas, sedangkan Picho terlihat seperti memaksakan senyuman manisnya.
“Kak Arron tidak sungguhan menganggap kasus ini sebagai candaan, kan?”
Ah, sepertinya mereka sangat terpukul mendengarku bercanda akan kasus yang membuat mereka kehilangan pekerjaannya.
Apa mereka memang tidak bersalah dan hanya korban? Atau hanya bermain peran agar aku merasa bersalah?
“Oh, ayolah! Suasana di kedai ini tegang sekali! Aku hanya ingin mencoba mencairkannya, bukan maksudku menyinggung kalian,” kelitku, buru-buru mencari alasan.
“Sulit kah bagi anda untuk menjawab pertanyaanku yang di awal!?” Picho mulai terkesan memberiku perintah, walau wajahnya tetap dipaksa ramah.
“Baiklah, baiklah! Tapi kepalaku cukup sakit dan tak bisa berfikir jernih untuk menjawabnya dengan serius." ungkapku jujur, sejujur-jujurnya.
"Di sini jual minuman beralkohol ga? Aku butuh minum itu untuk menjernihkan fikiranku,” tambahku, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Mereka menatapku kian tak mengerti.
“Mungkin maksud anda adalah air mineral?” Leo memastikan.
“Bukan, aku tidak salah bicara! Aku memang butuh alkohol untuk menjernihkan fikiranku,” sergahku.
“Bukankah itu hanya akan membuat fikiran semakin kacau?” kali ini Picho yang bersuara polos.
“Entah, tidak masuk akal memang kedengarannya. Tapi aku justru membutuhkan itu untuk menjernihkan fikiran,” terangku akan hal aneh ini, berharap mereka percaya akan ucapanku.
Picho sempat tertegun sejenak mendengar jawabanku, lalu kembali tersenyum manis yang kurasa kali ini ia tulus melakukannya.
Yah, sebagai detektif aku paham betul makna dari raut wajah setiap orang. Aku bisa membedakan mana yang tulus dan tidak.
Kali ini Picho tersenyum tulus.
“Aku mengerti. Di dunia ini memang banyak hal yang tidak masuk akal," tuturnya lembut, meski belum mampu ku mengerti maksud perkataannya.
"Ku kira hanya aku saja yang merasakan keanehan dalam hidup rupanya orang lain juga memiliki hal anehnya masing-masing." tambahnya, mungkin mulai mempercayaiku.
"Tapi maaf kak, kami tidak menjual minuman beralkohol. Mungkin di bar dekat sini ada, perlu saya belikan?” tawarnya, memberi bantuan saran.
“Tak perlu! Biar aku saja yang beli sendiri sekalian pulang." tukasku, spontan berdiri sigap.
"Kalian juga kelihatannya sangat lelah, aku pasti telah merepotkan kalian seharian ini." lanjutku, mencari alasan.
"Aku pamit pulang dulu, makasih kuenya!” pamitku pulang, membawa kotak kue yang tadi diberikan Picho.
Aku sengaja mencari alasan untuk pergi lebih dulu, karena ku kira keadaannya akan semakin kacau bila percakapan ini diteruskan.
Sepertinya aku harus mundur dulu dan memikirkan strategi baru.
Dengan fikiran seperti itu, aku memutuskan untuk segera pergi dari rumah Leo setelah berpamitan, mencari bar yang Picho katakan tadi.
Rupanya tepat di seberang rumah Leo— arah kanan sedikit, terdapat bar yang buka 24 jam.
Aku segera masuk ke bar tersebut dan membeli satu botol minuman alkohol yang paling murah.
Ku tergesa keluar dari bar membawa botol minuman yang baru saja aku beli. Suara musik di bar itu membuat telingaku sakit!
Di luar bar, aku menelan beberapa teguk minuman pada botol yang ku genggam. Terlihat Picho yang berjalan santai membawa tasnya.
Sepertinya dia ingin pulang? Mengapa jalan kaki semalam ini? Di mana sepedanya? Dia bilang punya sepeda kan tadi? Apa dia berbohong?
Mencurigakan! Sepertinya dia patut diselidiki lebih lanjut!
Senyuman seringaiku muncul ketika terfikir akan sesuatu, aku kembali meneguk minumanku dan kembali melangkah.
...
...
.
.
.
.
.
*ilang ke Isekai*