Shafira dan Arya sudah lama menjalin hubungan rumah tangga tapi tak kunjung memiliki anak, mereka akhirnya mengadopsi anak perempuan bernama Kinara yang berusia sepuluh tahun.
Delapan tahun hidup dalam sebuah keluarga mereka terhitung harmonis, sampai akhirnya Shafira menyadari bahwa hubungan Arya dan Kinara lebih dari ayah dan anak pada umumnya, kecurigaan itu terbukti saat Shafira mendapati sang suami satu ranjang dengan sang anak angkat.
Rasa sakit hati, membuat Syafira berniat membalas dendam. Dia tak mau terpuruk dengan pengkhianatan sang suami. Dia ingin mengambil alih pimpinan perusahaan. Di bantu seorang pria bernama Garvin. Mampukah Syafira membalas sakit hatinya?
Harap baca setiap bab yang update. Jangan menumpuk bab. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Belas
Syafira menutup laptopnya. Dia menatap ke arah suaminya yang masih berdiri terpaku di samping dia duduk.
"Kamu mau apa, Arya?" tanya Syafira membuyarkan lamunannya.
"Aku mau bicara berdua denganmu," ucap Arya dengan suara pelan.
"Apa lagi yang perlu dibicarakan? Kita bertemu di pengadilan saja. Nanti kamu bisa bicara apa yang ingin kamu ungkapkan," balas Syafira.
"Banyak yang harus kita bicarakan. Kamu dulu setiap ada masalah selalu bicara denganku. Kenapa sekarang kamu berubah?" tanya Arya dengan suara lemah.
"Aku berubah juga karena kamu, bukan karena siapa-siapa. Kamu yang telah merubah ku jadi jahat. Harus kamu ingat, orang jahat itu berasal dari orang baik yang tersakiti!" ucap Syafira dengan nada mulai tinggi.
Garvin yang merasa kerjaannya telah selesai merasa tak enak hati bila tetap berada di satu ruangan. Seperti kata Arya, ini masalah pribadinya. Dia berdiri dari duduknya dan pamit pada Syafira.
"Maaf, Bu. Saya pamit. Kerjaan telah selesai," ucap Garvin.
"Masih ada yang perlu kita bicarakan, Garvin," balas Syafira.
"Saya tunggu di lobi saja. Mungkin ada yang perlu Pak Arya bicarakan. Saya tadi bertahan juga karena memang pekerjaan belum selesai," jawab Garvin.
Syafira akhirnya menganggukan kepala tanda setuju. Dia mengerti posisi Garvin. Pasti pria itu merasa tidak nyaman melihat dia dan suami bertengkar. Takut dikatakan ingin tahu urusan rumah tangga orang lain.
Garvin keluar dari ruang kerja Syafira. Banyak mata karyawan wanita menatap kagum pada pria itu. Dia hanya membalas dengan senyuman.
Garvin duduk di lobi dan menghubungi seseorang. Dia bicara serius tentang sesuatu.
"Bagaimana Pak Garvin, kapan Bapak datang ke kantor? Besok kita rapat, jangan absen lagi. Ini perusahaan Bapak, tapi kenapa dibiarkan saja!" ucap seseorang di sana.
"Bukankah kau bisa menghandle-nya. Kenapa aku harus hadir?" tanya Garvin.
"Pak Garvin, apa Bapak tidak takut jika saya menipu Bapak dan membuat perusahaan bangkrut?" tanya orang itu lagi.
"Kau tak akan berani. Kau tahu jika aku paling teliti dalam meng-audit data keuangan perusahaan. Atau kau mau masuk penjara?" tanya Garvin lagi.
"Kenapa Bapak penasaran sekali dengan wanita itu? Dari masih bocil sudah ngebet ingin pacaran dengannya hanya karena pernah membelikan es krim," ucap orang itu lagi.
"Jangan banyak bacot! Atau kau mau aku pecat?" tanya Garvin.
"Ingat Pak, dia masih ada suami. Lagi pula usia Bapak dan Ibu Syafira sangat jauh, hampir sepuluh tahun," jawab orang itu.
"Sudah aku katakan jangan banyak bacot!" ucap Garvin. Dia lalu menutup sambungan telepon tanpa menunggu persetujuan dari orang di seberang sana.
Garvin tampak sedikit kesal. Dia seperti mengomel dengan diri sendiri. Sementara itu di ruang kerjanya, Syafira masih berdebat dengan suaminya itu.
"Kau minta maaf hanya karena takut masuk penjara atau aku minta lagi harta yang kau curi'kan?" tanya Syafira.
"Aku tak pernah mencuri hartamu, Fira. Jika kau merasa ada uang perusahaan yang aku pakai itu juga buat ibu. Aku mengaku jika pernah menggunakan uang perusahaan untuk membeli rumah buat Ibu. Apakah salah aku membelikan Ibu rumah bukankah dia juga mertuamu?" tanya Arya.
"Salah ...! Karena kau tak izin. Lagi pula aku telah membelikan ibu rumah. Jadi rumah yang mana lagi kau beli untuk ibu?" tanya Syafira.
"Rumah di kampung ibu. Dia ingin sesekali pulang ke sana," jawab Arya.
Sebenarnya jika Arya jujur, mungkin Syafira tak masalahkan semua ini atau dia tak selingkuh, mungkin juga dia tak akan semarah ini. Semua ini karena rasa kecewa dan sakit hatinya.
"Apakah rumah di kampung bisa mencapai harga satu miliar?" tanya Syafira.
Dia dan Garvin telah mendapatkan kecurangan atau keganjilan dari audit data keuangan sekitar satu setengah miliar. Uang sebanyak itu keluar tiga kali.
"Aku juga membelikan rumah untuk Melly. Kasihan dia tak memiliki rumah," jawab Arya.
"Melly itu ada suami yang sehat dan bugar. Bisa cari pekerjaan. Aku sudah diam saat kamu memberikan uang belanja untuknya setiap bulan. Apakah itu akan berlaku seumur hidup? Bukankah rumah ibu ada. Dia bisa tinggal bareng ibu. Kenapa harus dibelikan rumah juga? Apakah mobil yang dia pakai itu juga dari uang perusahaan?" tanya Syafira.
Selama ini bukannya Syafira tidak tahu jika Arya memberikan uang belanja bulanan untuk ibu dan adiknya. Dia tak mengambil pusing selama ini, karena menganggap mereka keluarga. Tapi semua berubah sejak mereka membela perbuatan Arya dan Kinara.
"Sekarang aku ingatkan kamu, kembalikan semua uang yang kamu ambil atau aku perkarakan ini ke ranah hukum. Aku tunggu itikad baikmu!" ucap Syafira dengan tegas.
...----------------...
basartttt jabingan
semangat berkarya, mom...👍🏻
udah dipungut dari kecil malah gak berterimakasih