"Mas Rizal jangan kaget, dia namanya Sulastri, memang sudah mengalami gangguan jiwa semenjak kecil. Keluarganya juga tertutup, sedikit misterius," terang salah seorang warga yang lekas membangkitkan rasa penasanku.
Di mana ternyata, hal itu dilatarbelakangi oleh masalah nan pelik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERINGATAN
Di hari berikutnya, Lastri tidak datang. Aku tak terlalu memusingkannya. Pikirku, ia pasti juga memiliki urusannya sendiri. Yang jelas, aku akan tetap menerima dengan tangan terbuka kalau dia, datang ke sini hingga beberapa hari kemudian, tanpa sengaja kulihat Lastri berjalan sendiri, dengan raut linglung seperti pertama kali, kami bertemu. Ketika kusapa pun, hanya menjawab sesekali saja, selebihnya ia diam.
"Ya sudahlah, memang kondisi Lastri belum stabil betul," tuturku di dalam hati.
"Aku antar kamu pulang ya Lastri?" tanyaku menawarkan diri.
"Gak perlu, ada mbak e kok," jawabnya seraya lekas mengabaikan ku lalu berjalan pergi menjauhiku.
Aku hanya bisa menghela napas nan panjang.
...🌟🌟🌟...
Malam harinya, aku bermimpi. Mimpi yang seolah terasa begitu nyata. Awalnya aku merasa kalau ada sesosok makhluk seperti siluman berkepala kambing mengikutiku. Kemana pun aku melangkah, ia selalu ada. Bahkan, ketika aku berlari, ia pun juga ikut berlari. Aku berhenti, ia berhenti. Aku kembali melangkah, ia pun juga sama. Matanya awas memandangku tapi sama sekali tidak menyentuhku. Begitu terus hingga aku merasa jengah. Jengah berkepanjangan yang akhirnya menimbulkan ketakutan. Wajar jika aku takut, dibuntuti sosok berkepala kambing bukankah sangat menakutkan? Hendak mengusir pun, tidak berani. Alhasil, dalam mimpi itu, aku terus berjalan hingga kaki kelelahan dan tanpa sadar, mataku terbuka dengan napas tersengal. Sukmaku telah kembali ke dalam raga dengan membawa rasa lelahnya.
"Astaghfirullah! Astaghfirullah! Astaghfirullah!" hanya itu yang terus kulafadzkan dalam hati.
Setelah kondisiku membaik, aku bangkit duduk dengan masih berbalut selimut. Saat itu, Sulis telah duduk di kursi yang terletak di depan nakasku. Seolah tengah menanti diriku, ia pun mengulas senyum segaris yang malah membuat bulu kudukku merinding.
"Apa lagi maumu?" tanyaku yang seolah begitu berani meski dalam hatiku riuh dan tubuhku sekuat tenaga menahan gemetar.
"Apa tidurmu tidak nyenyak Zal? Kenapa kamu berkeringat? Mimpi buruk ya? tampaknya, dukunnya si Yanti sudah mulai menyadari keberadaanmu," ucap Sulis.
Aku hanya diam tanpa balik mengajukan pertanyaan.
"Kamu pasti sudah tahu Yanti kan? Dia adalah ibu Tirinya Lastri, ibu Tiriku juga. Sekaligus yang menjadi penyebab kematianku. Dendamnya kepada ibuku membuatnya gelap mata dan tega menghabisi nyawa seorang bayi meski pun tanpa ia sengaja. Sayangnya, ibuku malah kembali melahirkan si Lastri. Tentu saja si Yanti kembali murka," ucap Sulis disusul tawa cekikikan.
Bahkan, tawanya jauh lebih menyeramkan dari tawa kuntilanak yang biasa kulihat di televisi.
"Jadi maksudmu, Yanti juga ingin membunuh Lastri begitu?" tanyaku to the point.
"Cari tahu sendiri jawabannya! Kamu kan pintar. Kalau kamu berhasil, mungkin Lastri akan selamat dan aku ini, tidak sejahat yang kamu kira," jawab Sulis sebelum kemudian menghilang.
Demm... Rasanya seperti ada yang menghantam dadaku. Kenapa juga bu Yanti ingin membunuh Lastri? Lastri sama sekali tidak bersalah. Lantas, bagaimana juga caraku untuk dapat menyelamatkannya? Aku sendiri bisa apa?
Kuhela napas dalam-dalam dengan pikiran yang telah melayang tak karuan.
...🌟🌟🌟...
Dalam hati yang terus gusar, kucurahkan segala beban pada Ari yang berkunjung ke rumah pada malam berikutnya. Meski jawabannya sering kali konyol tapi dia selalu berusaha memahami dan turut bisa merasakan kekhawatiran yang aku alami.
"Zal, dari ceritamu, aku jadi takut. Aku takut kalau mimpimu adalah sebuah peringatan. Gimana jika Bu Yanti benar-benar menargetkan kamu? Dalam mimpi, sosok siluman itu hanya memperhatikan dan mengikutimu tapi kalau kamu masih ngeyel, tak menghiraukan, bukan tidak mungkin kalau sosok itu akan menerkammu nanti."
"Apa iya bakal separah itu?"
"Loh Zal..." sahut Ari dengan raut yang kian serius.
Ia bahkan merubah posisi duduknya agar dapat lebih jelas dalam memberiku penjelasan.
"Mungkin kamu belum pernah dengar tentang telur, santet dan sejenisnya. Itu semua adalah persekutuan manusia dengan jin yang biasanya dilakukan dengan perantara dukun. Menghimpun dari kisah-kisah yang kamu ceritakan padaku, itu semua merujuk pada sebuah dugaan kalau Bu Yanti ini main dukun."
Kutatap Ari dengan tatapan menelisik tajam.
"Sejak kapan kamu menggeluti dunia detektif?" tanyaku setengah meledek.
"Ya sejak kamu sering curhat. Masalah Lastri berujung ke persetanan. Nah, masalah setan ini sedikit sulit Zal. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menyelidikinya."
"Dan orang itu, kamu begitu?"
"Iya."
"Kalau begitu, ya ayo kita selidiki! Kita cari rumah Bu Yanti, kita temui dan kita..."
"Weeee... Gak gitu konsepnya Zal. Aku gak mau ikut campur juga," selanya segera.
"Loh, mana bisa kamu cuci tangan begitu? Sejak awal, kamu sudah terlibat. Semenjak kamu mendengar cerita-ceritaku. Tinggal menunggu waktu saja sampai kamu mimpi bertemu siluman sepertiku," jawabku yang lekas merubah raut wajahnya jadi serius.
Aku tak mampu menahan diri dan akhirnya tertawa terbahak-bahak.
"Ah sialan kamu Zal!" umpatnya.
Kami berdua malah saling menertawakan. Namun, di penghujung obrolan kami, Ari menawarkan untuk pergi berkonsultasi pada seorang ustad sebab ia merasa kalau mimpiku, bukanlah sebuah bunga tidur semata. Ia khawatir kalau aku benar-benar sedang diperingati dan ada baiknya melakukan pembentengan diri agar tak ada hal buruk yang terjadi.
"Begitu ya? apa kamu ada referensi ustad yang mumpuni?" tanyaku kemudian.
"Soal itu, belum ada sih tapi kita bisa coba tanya-tanya. Pasti bakalan ada hasilnya."
Aku manggut-manggut, mengerti.
...🌟🌟🌟...
Sepertinya, aku memang benar sedang diperingati sebab, ketika aku tidur, aku kembali bermimpi. Memimpikan hal yang sama yakni diawasi oleh siluman berkepala kambing. Adegan kejar kejaran pun terulang hingga aku terbangun dari mimpiku. Mimpi yang kali ini membuatku sangat khawatir. Alhasil, kuputuskan untuk berdzikir, membaca doa sebelum tidur ditambah dengan bacaan ayat kursi yang terus kuulanh hingga aku berhasil tertidur. Entah karena rasa teramat lelah atau memang doa dan penggalan ayat al-Quran yang kubaca menunjukkan pengaruhnya, malam itu aku bisa melanjutkan tidurku dengan sangat tenang hingga sang fajar menyembul keluar.
Hari baru ini, menimbulkan rasa khawatir yang sulit untuk kusingkirkan. Ucapan dan saran dari Ari, mau tak mau terus terbayang. Terlebih tentang mimpiku semalam. Sepertinya memang benar, aku harus menemui seorang ustad. Alangkah baiknya juga jika ustad itu bisa membentengi diriku sekaligus menyembuhkan Lastri dari pengaruh Bu Yanti. Hingga detik ini pun, aku masih ingin membantu Lastri setidaknya sebatas maksimal kemampuanku.
"Zal, ayo cepat dihabiskan! setelah sarapan, ikut ibuk belanja ke pasar! Dagangan di toko sudah banyak yang harus diisi ulang," pinta ibuku.
"Iya buk," jawabku seraya menjejalkan sesuap nasi beserta sayur dan juga lauk.
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...