Gloria Xerxes telah menderita ke tidak adilan dari keluarga barunya setelah ibu kandungnya meninggal, Ayah yang tidak perduli, ibu dan saudara tiri yang kejam telah menyiksa Glorya selama 3 tahun seperti seekor hewan. Suatu hari ketika Glorya berada di ambang kematian, Paman dan Bibi datang berkunjung yang kemudian melihat kondisi mengenaskan Glorya. Bibinya yang murka segera memutuskan untuk membawanya dari keluarga kejam itu, membesarkannya seperti anak sendiri sampai kondisi Glorya kembali pulih.
17 tahun berlalu akhirnya Glorya tumbuh menjadi wanita kuat yang sangat cantik, berkat kemampuan dan kecerdasannya Glorya telah menjadi aktor terkenal yang menjadi idola semua kalangan umur dan mendapat kesempatan untuk membalaskan dendamnya.
"Siapa Kau?! Kenapa Kau Melakukan Ini Kepada Keluarga Kami!!!."
Tersenyum.
"Hahaha... Coba Tebak Siapa Aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATALIA SITINJAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6.5. Bullying di sekolah.
Sunyi.
di dalam ruangan kelas yang di penuhi oleh darah dan abu, sosok pria dengan tatapan kosong menghitung satu persatu murid yang tergeletak bersimbah darah di lantai. "Satu, dua, tiga ... Dua puluh... Di tambah wali kelas jadi dua puluh satu, masih kurang empat lagi... Bunuh semua kelas Lima Juara...."
KLIK.
Pria itu kembali berjalan lurus kali ini dia mengelilingi beberapa kelas yang telah sepi sambil bergumam. "Bunuh semua kelas Lima Juara."
lima menit berlalu dan akhirnya Martin mendengar suara gesekan dari dalam ruang UKS. "Bunuh semua murid kelas Lima Juara, bunuh semua murid kelas juara."
Klik.
Pintu di buka.
"Hem? Sir Mar-." Ruben yang melihat cairan merah di baju dan celana Martin jadi berhenti berbicara dan meletakan ponselnya. "Sir!." anak itu menatap ngeri ke arah senjata api yang berada di tangan Martin.
"Sir Martin."
"Bunuh semua murid kelas Lima Juara, bunuh seluruh murid kelas Lima Juara." mendengar gumaman Martin Ruben langsung merinding dan tidak bisa bergerak dari tempatnya. "S-sir...."
Apa yang ditakutkan Ruben akhirnya terjadi, Martin mengangkat senjata apinya yang berlumuran darah. "Bunuh semua murid kelas Lima Juara."
BANG.
Satu tembakan terlontar.
BRAK.
"!!!."
Ruben beruntung, peluru itu tidak mengenai dirinya dan malah mengenai lemari penyimpan obat. "Ib-Ibu...." air matanya berjatuhan tak terkendali, rasa takut mulai menjalar seperti ular dari ujung kaki.
"Bunuh semua murid kelas Lima Juara."
"HUAAAA—."
BANG BANG BANG...
Ruben yang lolos dari tembakan brutal kedua Martin mendapat kesempatan untuk masuk kedalam toilet yang terbuka. "AAAAAA- IBU AYAHHH...." Ruben sangat ketakutan, dia menutup telinganya dan mencoba untuk menjauh dari pintu yang di kunci.
BRAK... BRAK... BRAKK...
Secara membabi buta Martin menendang pintu untuk membukanya. "Bunuh semua murid kelas Lima Juara!, bunuh semua murid kelas Lima Juara."
DUBARK... DUBRAK...
"Hhuuua... Ayahh... IBUUU...."
"...."
Dari tempat lain Freddy tiba di kelas Lima Juara, yang suasananya telah sunyi, disana dia terdiam melihat ruangan kelas yang sebelumnya terlihat ceria kini sangat menyeramkan akibat ceceran darah dimana-mana dan anak-anak yang tergeletak tak bernyawa di lantai. "Bajingan apa yang-."
BANG BANG BANG ...
"!!!"
Freddy yang dulunya adalah seorang Marinir, secara naluri mengambil senjata di sakunya kemudian bergegas menuju asal suara, sementara itu Glorya yang memilih jalan pintas telah membuka satu kaca kelas lain yang berdekatan dengan kelasnya.
Di ruang UKS keributan masih sama seperti sebelumnya.
BRAK BRAK..
"AAAAAAR- IBU AKU TAKUT."
BRAK BRAK.
Sunyi.
"HUFFF... HUF—."
BRAK.
Martin yang kesal karena pintu yang tidak mau terbuka mengunakan cara terakhir, yaitu menghancurkan pintu mengunakan peluru panas.
BANG BANG BANG.
Pada tembakan ketiga tempat kunci pintu telah hancur dan sekarang Martin bisa masuk kedalam. "Bunuh semua murid kelas Lima Juara... Bunuh semua murid kelas Lima Juara."
"HUHH... HUHH... HUAAAAAAA-." Pada saat pistol di arahkan tepat di dada Ruben tiba-tiba saja Martin terpental ke kanan menabrak dinding yang keras.
DUBRAK.
"Bajingan sial di sini rupanya kau."
BANG BANG BANG.
Berkat aksi yang di lakukan Martin sebelumnya Freddy jadi tidak segan untuk segera menembakan anak peluru pada pria di depannya. Tiga anak peluru berhasil bersarang di bagian ulu hati tapi anehnya Freddy melihat bahwa dari raut wajahnya pria itu tidak menunjukan tanda-tanda kesakitan, dia seperti boneka yang akan terus bergerak walau kondisi tubuhnya telah rusak parah.
"Bunuh semua murid kelas Lima Juara." Sekali lagi hanya itu saja kalimat yang di ucapkan Martin berulang-ulang dia bahkan cukup berani untuk berdiri dan mengabaikan Freddy yang bersiap-siap untuk melenyapkannya. "LETAKAN SENJATA ITU SEKARANG!."
"Bunuh semua murid kelas Lima Juara... Bunuh semua murid kelas Lima Juara." Martin mengabaikan peringatan Freddy dan fokus mengarahkan senjatanya pada anak di dalam toilet.
"PERSETAN!."
BANG.
Peluru ke empat mengenai betis Martin namun dia tetap berdiri dengan kaki yang terluka mengabaikan semua rasa sakit di tubuhnya.
"Monster macam apa ini????." Freddy bahkan di buat sampai keheranan, dia belum pernah melihat orang yang telah di tembak berdiri seperti tidak terjadi apa-apa. "Bunuh semua murid kelas Lima juta, bunuh semua murid kelas Lima Juara."
Bergetar.
"KAU... AKU MUAK DENGANMU." Freddy membuang senjata apinya lalu menarik Martin yang mengintip kedalam cela pintu, membantingnya ke sudut ranjang hingga mengeluarkan darah di punggungnya.
DUBRAK.
"KAU INGIN MEMBUNUH SEMUA MURID KELAS JUARA? HUH? KAU INGIN MEMBUNUH KEPONAKAN KU JUGA HUH?!!."
DEBUK BUK BUK BUK ... Ke marahan Freddy telah meledak, dia memukuli wajah Martin dengan tangan kosong dan melampiaskan seluruh amarah yang dia tahan.
BUK BUK.
"MATI MATI... MATI KOTORAN ... PENJAHAT KELAMIN BERANINYA KAU MENYENTUH KEPONAKAN KU MEMBUAT BIBIR INDAHNYA MENYENTUH BAJINGAN MILIKMU YANG KOTOR!...." Freddy melepaskan tangannya lalu mengambil kayu yang rusak, kemudian dia merentangkan kedua kaki Martin.
"Persetan, ini untuk keponakan ku!."
MENUSUK.
Tanpa ampun dia menusuk kayu itu ke bagian alat vital Martin yang membuat darah menyembur keluar seperti genangan air. "MATI MATI MATI SAJA CEPAT!!!." Tak hanya sampai di situ Freddy kembali memukul dan menghantam wajah Martin dengan apa saja yang dia temukan.
"PAMANNN!!!."
Dari luar Glorya memanggil namanya, dia telah berkunjung ke ruang kelasnya dan melihat apa yang terjadi di sana. "Dimana Paman???." Saat itu dia bahkan tidak takut dan hanya perduli dengan kondisi Pamannya seorang.
"PAMAN FREDDY!!!."
BANG.
"Huh?."
Glorya tahu dari mana asal suara dan segera bergegas menuju asal suara yang berasal dari ujung lorong. UKS, apa paman ada di sana?.
BUK GDBUK ...
"Bu... H... Ken.. S lima.. J-arah."
"Masih Bisa Bicara Rupanya."
BUK.
Sekali lagi Freddy meninju wajah Martin yang telah babak belur. Semua itu di saksikan oleh Ruben yang melihat dari lubang pintu yang rusak dalam diam.
GDBUK... BUK.
"Anak Anjing Sialan, Ku Kembalikan Kau Ke Neraka-."
"PAMAN FREDDY BERHENTI!." Glorya langsung memeluk Pamannya yang hendak memukul Martin lagi. "Paman Sudah Cukup!."
"DIAM DAN MENJAUH LAH!."
"UUNG-!." Reaksi keras dari Freddy memberi efek menyakitkan bagi Glorya yang mencoba mengunakan kemampuannya pada pikiran Freddy. "BERHENTI! BIBI MIA MENUNGGU PAMAN DI BAWAH!."
"MENJAUH GLORYA! PAMANMU INI AKAN MEMBUNUH BAJINGAN YANG MELECEHKAN MU INI!. Tunggu saja di sana dan jangan menganggu." kata Freddy yang kehilangan akalnya.
"UNGH-! PAM-." Glorya yang di dorong menjauh tiba-tiba di tarik tangannya oleh seseorang. "Ruben!."
"Glorya ... Masuk kedalam!."
Melirik.
"Bu... nuh— ghssj...."
"MASIH BISA BICARA RUPANYA."
"Sial, ternyata lebih merepotkan dari yang aku bayangkan." Glorya membuat keputusan. Jika bajingan itu mati ditangan paman maka paman akan mendapat masalah.
"Lepaskan tanganmu."
MENGGELENG.
Ruben yang menarik tangan Glorya menolak melepaskannya, dia tidak ingin Glorya terkena apa yang dia lihat sebelumnya. "Tidak, Disini Aman Masuklah Glorya!."
"Tidak apa, aku akan menghentikan pamanku."
"TIDAK! Jangan Glorya Jangan!!!."
"Lepaskan."
"Huk!." Ruben refleks melepas tangan Glorya dan mundur kebelakang hingga jatuh di lantai toilet yang berantakan.
"... Huhhf-."
Glorya ingat sebelum dia terbangun, dia melakukan percakapan panjang dengan Semmy di alam bawah sadarnya.
"Jangan berlebihan."
"...?"
"Ini pasti sangat sakit."
"Kemampuan kita lebih besar dari yang kita kira, karena konsepnya seperti hipnotis jadi sentuhan juga sangat cocok untuk di gunakan pada keadaan tertentu karena itu saat berhadapan dengan orang yang punya pikiran kacau ... Kau tidak punya pilihan selain mengerahkan seluruh kemampuanmu pada sentuhan walau efeknya sangat menyakitkan ketika kamu bahkan belum bisa mengendalikannya sepenuhnya."
Benar saja, ketika Glorya memutuskan untuk memusatkan seluruh kekuatan pikiran pada telapak tangannya darah mengalir dari kedua bola mata dan hidungnya hingga membuat tubuh muda Glorya bergetar. Kumohon.
Tangannya menggapai pundak Freddy yang sedang mengamuk. Memegang leher dan mengangkat wajah Freddy untuk menatapnya, kilau biru kembali terlihat dan kali ini lebih cerah. "Paman berhenti, ini waktunya tidur."
DUBRAK.
"Huhhff... Huhhf...."
"Huck- ... UHuck-." Glorya tetap berdiri tegak walau Freddy yang telah di tenangkan terjatuh di lantai yang kasar. "Uhuck- BRLUEG." gumpalan darah kental keluar dari mulut Glorya, lalu sesaat kemudian di jatuh terduduk dengan seluruh tubuhnya yang bergetar hebat.
Sunyi.
Ruangan menjadi sunyi.
masih lanjut kah Thor?
jangan lupa mampir juga di BEHIND THE CAMERA ya, saling dukung (like,komen dan subscribe)