Penglihatan menembus dimensi ghaib. Tidak hanya di alam nyata, dalam pandangan lain bahwa sosok Indigo ketika berada alam bawah sadar itu sukmanya bisa terlepas keluar dari badannya. Berjalan-jalan menembus ruang dan waktu dunia lain. Setiap malam dirinya di kejar kematian yang mengancam. Para Indigo yang meninggal nanti ada dua kemungkinan. Yang pertama takdir dari Yang Maha Kuasa atau yang kedua karena tidak dapat kembali ke wujud tubuhnya di alam dunia. Simak kisahnya..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Tabir Gangguan
Kejadian yang menewaskan para prajurit menghentikan langkah mereka berbalik arah. Kembali ke Istana, langkah kecil Luna turun dari kereta membantu Pati membawa beberapa barang-barang. Dia menganggap Pati sebagai sahabat yang sangat dekat dengannya. Pati meminta Luna untuk tidak membantunya. Keduanya saling bersenda gurau memasuki istana, Luna berhenti merasakan hawa sosok makhluk tidak kasat mata yang sangat kuat.
“Ada apa tuan putri?” Tanya Pati melihat bola matanya melotot mendekati sebuah patung di dekat pilar.
“Pati, bawa keluar patung ini dan bakar sejauh-jauhnya.”
#Kiriman dari pihak kerabat dekat
Luna menyentuh patung, dia melihat menggunakan mata ghaib nya ada sebuah energy besar. Sosok jin kiriman yang mengganggu, rahang terbelah, bola mata berukuran sebiji kacang, bentuk mulut melebar, dia terkejut melihat ada manusia yang mengetahuinya.
Dukun yang bersembunyi di balik ruangannya itu menyalakan lilin-lilin kecil yang ada di atas meja. Dia mulai mengucapkan mantra. Jari-jemari tersusun cincin bebatuan memenuhi semua jarinya. Merasa ada makhluk yang mulai mengganggu kirimannya, dia melakukan penyerangan gumpalan asap hitam yang mendekati sang putri.
Hantaman kekuatan negatif mengakibatkan Luna terguncang memegangi penyangga yang ada di dekatnya. Dia menggigil kedinginan, Pati yang memahami segala keadaan pada dirinya langsung berlari mengambil obat dan segelas air putih.
Kalau di pikir-pikir, hidup anak indigo itu rumit. Mengkonsumsi obat demam, obat sakit kepala atau memakai baju hangat di musim panas adalah suatu kesia-siaan. Tapi setidaknya itu bisa membantu meringankan badan wujud kasarnya.
“Terimakasih Pati, aku mau ke kamar..”
“Hati-hati putri.”
Pati segera melaksanakan apa yang di perintahkan sang putri. Dia mengerahkan beberapa pengawal hingga bakaran apa yang sangat menyala itu terlihat oleh mata-mata Ogok. Pria itu mendengar kabar pembakaran patung melirik keinginan tahuannya. Dia bertanya Migan, jawaban yang tidak di sangka justru membuatnya semakin geram.
“Migan, bagaimana aku bisa mulus melemparkan kiriman santet kalau anak sialan itu selalu saja tau dimana keberadaan jin dan sihir yang aku kirim?”
“Tuan, saya masih mencari cara mengendalikan atau melenyapkannya.”
......................
Mengarungi alam bawah sadar, perkampungan siluman masih berbayang di dalam perjalanan melepaskan sukma. Memastikan tidak ada kiriman santet atau jin dan makhluk halus masuk ke dalam istana, sang putri mengarungi waktu melepaskan sukma.
Dia masih melakukan tanda tanya besar mengapa perjalanan alam lainnya singgah ke tempat tersebut. Kalau sudah memasuki perputaran dini hari, ada saja aktivitas tidak lazim. Suara gemuruh angin kencang seperti sebuah kendaraan yang terbuat dari sepeda angin melaju mengayuh sekencang-kencangnya.
Syu..ngiinggg__
Suara kayuhan berkecepatan tinggi, sampai menghilang di dalam pergantian aktivitas orang-orang yang melakukan kegiatannya. Bukan tentang lagi semua keganjilan ghaib, langkah Luna berhenti sebuah rumah megah di alam nyata tapi tampak seperti sebuah bangunan kumuh yang bertingkat.
#Perjalanan menembus waktu
Suara teriakan keras melihat anaknya menyayat lehernya sendiri dengan pisau. Di alam tidak kasat mata, hanya sebagian orang saja yang mengetahui peristiwa kematian berulang yang di rasakan manusia saat membunuh dirinya sendiri.
Apa yang di alami di dunia sama hal para arwah gentayangan yang di lakukan di alam lain. Suara teriakan bercampur tangisan Rasmi melihat anaknya meninggal di depan kamar ibunya. Dia memegang pisau menebas lehernya sampai mau terputus. Kematiannya menakuti para warga yang melayat ke rumahnya Suaminya Banu memeluk jasad anaknya seolah tidak mau melepaskan.
“Apa yang di alami keluarga ku ini? Anak ku meninggal dengan tidak wajar” gumamnya menghiraukan dua pria yang memintanya agar melepaskan jasad anaknya.
“Pak Banu, jenazah Aji harus segera di urus” bisik Waryo.
Banu sangat menyayangi Aji, dia adalah anak yang sakit-sakitan dan sedari lahir ketergantungan dengan obat-obatan. Perjuangan menginginkan buah hati setelah penantiannya selama satu tahun, anaknya malah meninggalkannya selamanya.
Pemakaman telah sepi, orang-orang telah pergi selesai menguburkan anaknya. Dia masih memeluk batu nisan sambil menangis. Hatinya sangat terpukul, dari belakang anak keduanya Pendeng memeluknya erat. Banu tersadar dia mempunyai tanggung jawab yang besar untuk anak kedua dan istrinya yang menunggunya.
Hari demi hari terlewati, keadaan kamar Aji masih sama dan tidak di ubah tatanannya. Sesekali Banu masuk tidur disana. Memandangi foto-foto yang tersusun di atas meja belajarnya. Pendeng membuntuti tidak kalah merindukan abangnya, dia tidak mau mengambil satu pun benda-benda di dalam kamar hanya melihat mainan-mainan yang terpajang terkadang berbicara sendiri dengan mengatakan jika dia sedang bersama abangnya.
“Ayah, hari ini abang lagi sedih. Abang ngajak Pendeng ikut biar nggak di dalam ruangan gelap sendirian.”
“Abang ngomong gitu? Tapi ayah nggak lihat ada abang. Yuk kita turun untuk sarapan.”
Bani berpikir kalau anaknya Pendeng sedang berhalusinasi dengan teman sepermainannya. Dia menuruni tangga melihat banyak para pekerja yang berlalu lalang keluar masuk dapur. Bisnis usaha mertuanya semakin berkembang pesat. Usaha industry pembuatan tempe memiliki lebih banyak karyawan dan omset penjualan yang menjulang tinggi.
Pembangunan gedung khusus pabrik tempe terdengar hiruk pikuk nan ramai. Bahan-bahan dan alat yang di antar para pekerja memasuki sebuah gudang. Banu melihat sosok hitam ikut keluar masuk, kepalanya berputar membuat dia sangat terkejut.
“Pak Bani kenapa pak?” tanya salah satu pekerja.
“Nggak apa-apa. Silahkan bapak kembali meneruskan pekerjaan.”
Melewati mimpi-mimpi yang sama, seolah makhluk di dalam mimpinya keluar mengganggu. Malam yang tidak biasa dia rasakan, sekujur bulu kuduknya merinding. Makan malam bersama sedikit berbeda melihat keanehan Esti memakai baju serba hitam, di atas meja makan tersaji ayam ungkep, lalapan, sambal, satu keranjang telur rebus dan buah-buahan.
“Loh si Pendeng mana Ras? Kok nggak di ajak makan?” tanya Esti.
“Tadi sudah di panggil bu.”
“Biar saya saja bu yang memanggilnya.”
Banu berjalan memasuki kamar Aji, dia tau anaknya suka sekali bermain disana. Terdengar suara tepukan tangan yang bersahutan, membuka perlahan pintu melihat ada Aji yang berwajah buruk rupa melihatnya.
“Pendeng, ayo makan nak” ajak Banu menarik tangannya.
Menoleh ketika menutup pintu, Aji menghilang, kamar terlihat berubah mirip suasana hutan. Di bawah tangga, Banu terkejut merasakan sosok yang hitam besar itu selalu mengikuti sampai dia berdiri di dekat meja makan.
“Kamu kenapa mas? Kenapa nggak duduk?” tanya Rasmi melirik wajahnya yang pucat.
“Iya ini mau duduk” jawab Banu dengan nada bergetar.
Esti memberikan beberapa butir telur di atas piringnya, senyumannya yang aneh terlihat pandangan menatap ke belakang. Banu mulai kehilangan kendali sangat lahap menelan telur-telur rebus. Dia tidak meneguk air setetes pun. Menghabiskan tujuh butir telur, tanpa berkata apapun meninggalkan meja.
“Loh, udah selesai mas?”
“Sudah biarkan saja suami mu istirahat. Kita teruskan makan malamnya” ucap Esti.
Penggambaran suasana dan detail dalam cerita ini sangat kuat, membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan ketegangan dan ketakutan yang dirasakan oleh Aluna.
Saya penasaran dengan bagaimana Aluna akan menemukan solusi untuk menghadapi bencana yang akan datang, dan apakah dia akan berhasil mengubah nasibnya.
Pesan tentang pentingnya keberanian, persatuan, dan harapan dalam menghadapi tantangan hidup sangat menginspirasi.