Anggi sama sekali tidak bisa menolak ia harus menikahi seorang pria tajir yang belum pernah dilihatnya sekalipun.
Rumah tangga yang ia jalani ternyata penuh lika-liku karena seorang wanita muda mengaku-ngaku telah hamil anak Agus Soeripto.
Bagaimana nasib Anggi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelakuan Agus
Agus masih dapat mengingat bagaimana Anggi dulu begitu patuh terhadap dirinya. Walaupun dia bersikap tidak baik namun wanita itu tetap sabar menghadapinya.
''Anggi?!" teriaknya tiba-tiba bangun dari mimpi panjang ya.
''Tuan ternyata anda sudah sadar,'' ucap sekretaris ya berusaha membangunkan Agus dari tadi.
''Apa yang kau lakukan disini?" tanya Agus.
''Saya membawa hasil penyelidikan mengenai Jesika Tuan.'' Agus langsung bangun mendengar nama wanita itu sudah membuat keluarganya hancur.
''Apa yang kau temukan lagi?" tanya Agus sudah tidak sabar.
''Jesika ternyata berada di luar negeri Tuan, wanita yang selama ini kita duga melakukan pemalsuan wajah.'' Agus terkejut mendengar ucapan sekretarisnya itu.
''Bagaimana bisa seperti ini?" tanyanya panik.
''Jesika melakukan hal yang di luar nalar Tuan, maaf saya tidak mengantisipasi hal ini,'' keluh sekretaris tersebut.
''Jesika, wanita itu memang benar-benar mempermainkanku?!" pekiknya.
''Saya akan mengejar ya keluar negeri Tuan, anak buah sudah bergerak ke kanan untuk menjemput Jesika,'' tambah ya.
''Kalian harus membawanya cepat ke sini kalau tidak Anggi akan benar-benar marah kepadaku!" perintahnya.
''Baik Tuan,'' jawab sekretaris dengan cepat.
Agus semakin khawatir kalau Anggi sadar padahal bukti yang dipegang salah.
''Oh tidak, Anggi akan benar-benar meninggalkanku?" ucapnya gusar.
Dalam ruangan Anggi diam sendirian menatap langit-langit kamar. Malam ini dia berencana celana untuk meninggalkan Agus dengan bantuan dokter.
''Mas, terima kasih sudah memberikan cintamu beberapa bulan ini, aku bahagia bersamamu terlebih lagi dua hati yang selama ini membantu kita diperhatikan oleh anak ini,'' lirihnya.
Anggi menitikkan air mata ya membayangkan kehidupannya ke depan bersama dengan buah hati ya ini.
Waktu yang ditentukan akhirnya tiba, kebetulan Agus tidak ada di rumah sakit karena mengurus perusahaan yang sedang bermasalah.
Dokter menyamar sebagai warga biasa mulai memasuki ruangan Anggi.
''Nyonya?'' panggil ya.
''Aku sudah siap mbak dokter,'' ucap Anggi cepat.
''Kita harus cepat meninggalkan rumah sakit ini Nyonya, Tuan hanya pergi beberapa saat.'' Anggi mengangguk mengerti dia meninggalkan sebuah surat kepada Agus.
''Aku berharap kau akan mengerti mas kenapa aku meninggalkanmu,'' lirih ya.
Anggi berhasil keluar dari rumah sakit lalu masuk ke dalam mobil yang sudah di sewa oleh dokter.
''Semoga sehat sampai di tujuan Nyonya,'' ucap dokter sedih.
''Aku berhutang budi kepadamu Mbak, terima kasih sudah membantuku,'' lirih Anggi.
''Sama-sama Nyonya, kalau ada sesuatu jangan sungkan untuk menghubungiku.'' Anggi mengangguk mengerti lalu meninggalkan rumah sakit dengan keadaan yang pilu.
Tidak sengaja Anggi melihat mobil Agus sudah memasuki rumah sakit bersama dengan pengawal ya selalu setia menemani dia.
''Mas,'' ucapnya pelan.
''Tuan melihat siapa?" tanya sekretarisnya karena Agus tiba-tiba berbalik.
''Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak,'' ucapnya sambil masuk ke dalam pintu lift.
Agus tetap bersikap santai tidak terlalu ambil pusing mengenai apa yang tadi dalam dirinya mengenai firasat ada sesuatu yang aneh di gerbang tadi.
Pintu terbuka Agus bersama dengan sekretarisnya masuk ke dalam ruangan terakhir.
''Kau tunggu di sini karena aku ingin melihat istriku!" ucap Agus.
''Baik Tuan,'' jawab sekretaris itu dengan cepat.
Agus masuk ke dalam sambil meletakkan makanan yang dia bawa.
''Sayang, bagaimana kabarmu?" tanya Agus tiba-tiba langsung plastik yang dia bawa terjatuh ke lantai.
''Anggi? Di mana kau?!" teriaknya.
Suara teriakan Agus menarik perhatian sekretaris ya itu ikut panik langsung masuk ke dalam.
''Ada apa Tuan?" tanyanya.
''Anggi tidak ada di sini?" ucapnya langsung masuk ke dalam kamar mandi.
''Apa Nyonya sudah sadar?" gumam sekretaris Agus.
Agus kembali ke luar dengan wajah yang semakin panik karena dalam kamar mandi tidak ada Anggi.
''Tuan, saya akan memeriksa kamera pengawas,'' ucapnya.
''Cepat lakukan!'' teriak Agus.
Suara teriakan Agus menarik perhatian semua dokter dan penjaga rumah sakit.
Terlebih lagi dokter yang menangani Anggi sudah bergabung di sana untuk mengetahui apa yang terjadi.
''Apa yang terjadi Tuan?" tanyanya berpura-pura.
''Di mana kalian buat istriku?" sentaknya.
''Apa? Nyonya tidak ada di dalam?!" pekiknya lalu masuk.
''Kalian semua tidak becus bekerja, di mana penanggung jawab kalian?!" teriaknya bahkan terlihat amarah Agus sudah tidak terbendung lagi.
''Tuan, nyonya meninggalkan rumah sakit barusan,'' lapor sekretaris ya itu.
''Apa? Bagaimana bisa istriku meninggalkan rumah sakit padahal dia koma?" tanya Agus lalu melihat ke arah dokter yang memeriksa keadaan Anggi selama ini.
''Nona sudah sadar beberapa hari ini Tuan, maaf saya tidak memberitahukan kepada anda karena permintaan pasien,'' ujar dokter tersebut.
''Beraninya kau membohongi aku selama ini? Kau tidak tahu bagaimana perasaan ku melihat istriku di sana mau berapa minggu ini?" teriak Agus kuat.
''Nyonya sepertinya meninggalkan surat di atas nakas, anda bisa membacanya Tuan,'' tambah dokter tersebut tidak takut terhadap Agus.
''Aku tidak akan mengampunimu!" Setelah memberikan peringatan itu Agus langsung kembali masuk ke dalam tubuhnya seketika lemas.
''Mas, tolong jangan berbuat sesuatu kepada mbak dokter. Semua ini atas keinginanku karena aku sudah memutuskan untuk meninggalkan mu. Soal anak, suatu saat aku akan memberitahukan kepadanya kalau kau adalah ayah ya.'' Agus langsung jatuh ke lantai membaca surat tersebut dia benar-benar tidak kuat Anggi meninggalkan diri ya.
''Anggi, kau tidak boleh pergi!" teriaknya langsung keluar dari sana untuk mengejar Anggi.
''Kita nanti bicara setelah Tuan mendapatkan apa yang diinginkan ya,'' pesan sekretaris itu lalu berlari mengejar Agus.
Agus tidak peduli dengan jalan raya yang padat terus mencari keberadaan Anggi.
''Anggi sampai kapanpun aku tidak akan pernah membuatmu pergi dariku,'' ucapnya terus fokus mengemudi.
''Tuan benar-benar sudah tidak terkendali lagi bahkan kendaraan hampir saja dia tabrak,'' gumam sekretaris itu terus memantau dari belakang.
Sepanjang jalan tidak ada tanda-tanda Anggi terlihat bahkan putus asa mulai terlihat dari guratan wajah tampan itu.
Mobilnya berhenti tepat di pinggir jalan raya yang sepi Agus keluar dengan tubuh yang lemah.
''Anggi, cobalah untuk mengerti aku tidak bersalah mengenai di hotel itu,'' teriaknya begitu kuat.
''Tuan, sebentar lagi hujan sebaiknya anda masuk ke dalam,'' seru sekretaris tersebut.
''Anggi sekarang dia berada di mana? Bagaimana kondisinya saat ini?'' tanya ya beruntun.
''Tuan, saya sudah mengerahkan anak buah untuk mencari keberadaan Nyonya. Sebaiknya anda kembali ke rumah sambil membersihkan tubuh dan pikiran agar bisa tenang memikirkan Nyonya saat ini.'' Agus mengangguk mengerti lalu masuk ke dalam mobil dan mereka berdua gantian membawa ya.
''Anggi, aku minta maaf dan akan kubuktikan kalau aku tidak bersalah,'' terus Agus mengatakan itu sampai dia lelah.
Setibanya di kediaman dengan langkah yang gontai Agus perlahan masuk ke dalam.
Tidak ada suara yang selalu menyambut kedatangan ya.
Hening, hanya itu tergambar di ruangan yang luas itu bahkan bayang-bayang Anggi ada dimana-mana membuat Agus semakin frustasi.
Agus jatuh ke lantai bersalah atas apa yang sudah dilakukannya selama ini kepada Anggi.
Cinta dan kasih sayang yang begitu singkat dia berikan membawa luka dalam diri ya.
''Maafkan aku Anggi,'' ucapnya sesenggukan.
Pelayan melihat keadaan Agus turut merasakan kesedihan mereka bahkan tidak menyangkal kalau majikan ya itu sudah benar-benar jatuh cinta kepada seorang wanita polos seperti Anggi.
''Andai Nyonya mau bicara dengan Tuan memperbaiki kesalahpahaman ini mungkin, kebahagiaan mereka berdua kan semakin hangat,'' lirih pelayan.
''Ya, Nyonya kepribadiannya hangat bahkan tidak pernah mengeluh mengenai dirinya selama ini. Baru aku menyadari kalau apapun yang dilakukan suamiku terhadap kita masih bisa diterima tapi, hal itu memang sangat menyakitkan.'' Pelayan menerima ucapan temennya itu walaupun mereka belum pasti mengetahui yang terjadi sebenarnya.
Belum pernah mereka melihat Anggi berani meninggalkan Agus dalam keadaan seperti ini.
Kelakuan yang selama yang dibuat Agus terhadap dirinya bahkan sudah pernah dialaminya.
''Anggi, beraninya kau tidur di atas tempat tidurku?!" sentak Agus lalu mendorong Anggi hingga jatuh ke lantai.
''Aduh sakit,'' ucapnya sambil menahan sakit pinggang ya.
''Siapa yang menyuruh mau tidur di sini?!" sentak Agus lagi.
''Maaf Tuan, tiba-tiba tadi kepala saya pusing tidak tahu kenapa,'' ucap Anggi pelan sambil menahan sakit pada lengan ya yang dijepit Agus.
''Alasan! Katakan saja kau ingin tidur di sini?" tuduh Agus.
''Sumpah Tuan, saya memang tadi pusing tidak menyadari sudah tidur di atas ini,'' ucapnya jujur.
Agus tidak peduli langsung menyeret Anggi keluar dari kamarnya menyuruh mencuci pakaian di rumah belakang.
''Pekerjaanmu di sini, enak sekali kau tidur di kamarku!" Anggi menangis melihat perlakuan Agus kepadanya.
''Aku tidak menginginkan pernikahan ini tapi karena aku terlanjur menjalaninya, baiklah Anggi tetap kuat jangan lemah,'' batin ya.
Agus melihat Anggi berdiri sekuat tenaga sambil menahan kepalanya yang semakin pening karena tarik matahari mengenai kepala dan wajah ya.
''Bagus! Pekerjaanmu memang di sini!" Agus langsung meninggalkan rumah belakang sambil melewati pelayan.
''Nyonya, biarkan kami yang melakukan ya!" tahan kepala pelayan kasihan melihat Anggi sedang tidak baik baik saja.
''Aku bisa melakukan ya Mbak, maaf sudah merepotkan kalian,'' bisik Anggi.
''Tapi Nyonya-'' Anggi langsung memotong ucapan kepala pelayan itu.
''Aku bukan Nyonya kalian, namaku Anggi panggil aja seperti itu,'' pinta Anggi.
''Kami tidak bisa melakukan itu Nyonya, anak adalah istri majikan kami.'' Anggi gelang kepala dan dia lebih memilih diam bekerja sebelum Agus kembali melihat pekerjaannya.
''Kenapa kepalaku kembali pusing ya?" batin ya sambil memegang kepalanya yang semakin lama berdenyut.
Anggi tiba-tiba langsung mual dia lari masuk ke dalam kamar mandi. Perutnya tidak enak membuat dia semakin tidak tahan untuk mengeluarkan isi perutnya yang dari tadi tidak ada berisi.
''Aku pasti masuk angin?" ucapnya sambil memejamkan kedua bola mata ya.
Agus berulang kali membuatnya tidak bisa tidur setiap malam terus menyuruhnya untuk memijit kaki ya.
Waktu jam tidur hanya satu jam membuatnya tersiksa setiap malam. Pria itu bahkan tidak peduli terhadap dirinya yang selalu membuatnya sakit.
Anggi keluar dari kamar mandi namun tiba-tiba dia langsung jatuh.
''Aku di mana?" ucapnya pelan sambil melihat isi ruangan yang tidak asing baginya.
''Kau ternyata lama sekali tidur?" Suara yang membuatnya ketakutan setiap detik Anggi seketika langsung bangun tanpa memperdulikan infus di tangannya hampir lepas.
''Tu-tuan?! Saya minta maaf sudah lancang tidur di sini?" pekik Anggi sambil turun.
''Tetap di sana!" tahan Agus.
''Apa? Saya tidak bisa Tuan, saya minta maaf telah tidur di sini.'' Anggi benar-benar teringat apa yang dikatakan Agus kepadanya beberapa jam yang lalu.
''Jangan bergerak karena infus di tanganmu belum habis.'' Agus kembali menidurkan Anggi hingga membuat wanita itu terkejut.
''Mulai sekarang jangan banyak bergerak cukup di sini berbaring, kalau ingin membutuhkan sesuatu panggil aku, mengerti!" ucap Agus lembut.
''Ya Tuan,'' angguk Anggi walaupun dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Pria di hadapannya ini bener-bener berubah padahal beberapa yang lalu terlihat mengerikan.
''Dokter mengatakan kau tidak boleh melakukan pekerjaan berat untuk beberapa bulan ini, semua pekerjaan rumah sudah kuserahkan kepada pelayan.'' Anggi masih belum mengerti dia tetap menjadi pendengar yang setia.
''Oh Tuhan, kejutan apalagi ini?" batin Anggi.
''Karena kau saat ini sudah mengandung anakku.'' Bagaikan disambar petir Anggi terbelalak mendengar ucapannya Agus.
''Aku mengandung?" ucapnya gugup.
''Kau harus menjaga dirimu jangan sampai lelah kalau tidak hal yang tadi pasti akan kembali terulang.'' Agus menggenggam tangan Anggi lalu membawanya masuk ke dalam pelukan hangat.
''Tuan?" lirih ya.
''Terima kasih sudah mau mengandung anakku Anggi,'' bisik ya.
Anggi menitikkan air matanya, terharu sekaligus bahagia karena sudah mendapatkan cinta dan kasih sayang dari pria yang selama ini membuatnya ketakutan.
''Aku tidak bermimpi kan?" ucapnya pelan berharap semua yang didapatkannya ini tidak mimpi.
''Tidak sayang, mulai sekarang kau adalah istriku,'' bisik Agus.
''Istri? Jadi selama ini aku tidak istrinya?" batin Anggi.
''Aku minta maaf Anggi, semua kesalahanku tidak akan pernah bisa dimaafkan. Bagaimana nanti aku bisa menghadapi calon buah hati kita kalau kelakuanku seperti ini yang sebenarnya?" Agus menangis tiba-tiba di hadapannya Anggi.
''Tuan, anda jangan menangis seperti ini, nanti ketampanan mu akan pudar.'' Agus tidak menyangka kalau Anggi masih bisa bercanda dalam keadaan seperti ini.
''Kau tidak marah kepadaku Anggi? Kalau ingin mengatakan sesuatu katakan saja. Aku baru menyadari setelah menjadi calon ayah sebenarnya keluarga itu adalah yaitu kita,'' tambahnya.
''Aku tidak pernah menaruh dendam ataupun kepadamu Tuan, saya mengerti pernikahan ini hanyalah ke terpaksaan karena desakan orang-orang di luar sana,'' lirih ya.
''Tapi kenapa kau tidak marah kepadaku?" tanya Agus lagi berusaha untuk mendapatkan jawaban Anggi.
''Aku tidak berhak memarahi suamiku sendiri Tuan, kamu adalah kepala rumah tangga yang seharusnya aku hormati.'' Agus langsung membawa Anggi masuk ke dalam pelukannya terharu mendengar jawaban wanitanya itu.
''Maaf, mulai hari ini aku akan membahagiakanmu, apapun yang kau inginkan akan kuberikan Anggi. Bahkan nyawaku sekalipun tidak akan bisa memaafkan semua kelakuanku kepadamu,'' tambah ya.
Anggi begitu bersyukur sekali melihat perubahan drastis Agus hanya mendengar dia saat ini sedang mengandung.
Calon buah hatinya ini, memang benar-benar membawa keberuntungan dalam rumah tangganya yang selama ini tidak ada kasih sayang dan cinta.
''Semoga nanti kamu yang membawa ayah dan ibu kembali bersama sayang,'' ucap Agus sambil menikmati benda asap agar tidak membuatnya stress.