Dipaksa menikah dengan musuh bebuyutannya di kampus karena sebuah perjodohan yang dibuat oleh kedua kakek mereka yang saling bersahabat. Membuat hidup Johan dan Jihan penuh dengan warna.
Bukan warna kebahagiaan namun warna pertengkaran di setiap hari yang mereka lalui bersama. Johan yang memiliki perasaan cinta pada Jihan namun tak bisa mengekspresikannya dengan baik karena sikap kaku, dingin dan isengnya membuat ia selalu bersikap menyebalkan di mata Jihan. Jihan selalu tak pernah tak marah jika bertemu dengan Johan.
Mampukah Johan membuat Jihan jatuh cinta padanya, meski Jihan sudah terlanjur sebal dan benci pada Johan?
Lalu bagaimana kisah rumah tangga tak biasa mereka akibat perjodohan ini?
Yuk simak novel ini hingga akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu untuk berdebat
Jihan tak kunjung bangun meski sudah berbagai macam cara Gunawan lakukan untuk membangunkan adiknya ini. Ancaman yang dilayangakan Gunawan sama sekali tak diindahkan Jihan yang masih beradegan mesra dengan aktor idola barunya di alam mimpi sang adik.
"Nantangin emang nih anak," gumam Gunawan yang menatap muka polos sang adik yang masih nyenyak dalam tidurnya.
Tanpa ragu Gunawan mengambil air segayung dalam kamar mandi dan menyiramkannya ke tubuh sang adik dari atas kepala hingga ke mata kakinya.
"HAH KAK GUNAWAN!!!" Pekik Jihan yang terpaksa bangun dari mimpi indahnya bersama Kim Jung-Hyun.
Jihan mengusap wajahnya yang basah karena di siram air oleh Kakak lucnutnya ini.
"Kenapa hah? Gak terima? Perawan jam segini baru bangun ya Tuhan. Perempuan macam apa adikku ini?" Omel Gunawan yang menanggapi panggilan Jihan dengan manik matanya yang membola.
"Perempuan jadi-jadian. PUAS!" Jawab Jihan yang malah kembali memejamkan matanya dan berguling kearah ranjangnya yang masih kering.
"Jihan bangun! Mandi ganti baju! Ada Johan di bawah nungguin lo tuh." Gunawan kembali membangunkan Jihan yang bisa-bisa kembali tidur dengan posisi baju yang basah kuyup.
"Mau ngapain ah? Jihan gak ada janji sama dia. Argh ganggu aja pagi-pagi. "
Tepat pukul 07.00 pagi, Johan sudah bertamu ke kediaman Jihan, bahkan dia sudah ikut sarapan bersama dengan calon keluarganya itu. Johan berkata pada seluruh keluarga Jihan. Jika kedatangan dia ke sini sudah ada janji dengan calon istrinya untuk pergi mencari cincin pernikahan mereka. Kedua orang tua calon istrinya percaya saja dengan penuturan Johan.
"Gak usah sok jual mahal, dia udah datang tuh. Kemarin-kemarin murung gak liat diakan? Cepat bangun siap-siap! Kasian dia udah nungguin dari pagi. Dia ke sini udah berjuang menyempatkan waktunya yang super sibuk sekarang ini loh Jie. Belajar hargain dia dari sekarang, karena sebentar lagi lo akan jadi istrinya dia." Ucap Gunawan yang duduk ditepi ranjang adiknya.
"Iya-iya, lo keluar dulu lah. Gue udah gede, malu tau."
Setelah selesai mandi Jihan turun ke bawah dengan memakai kaos super ketat dan celana pendek hotpants. Rambut panjangnya yang basah sengaja ia gerai ia tak mengeringkannya karena malas.
Menyadari kehadiran Jihan, Bagas yang tengah mengobrol dengan Johan pun menoleh kearah anak gadisnya itu.
"Nah itu dia udah turun juga, sini Jihan duduk sama Ayah dan Bunda!" Jihan berjalan menghampiri sofa dimana kedua orang tuanya duduk sembari melirik Johan yang duduk tepat di depan sang ayah dan bundanya.
"Jihan lapar Bun, mau makan dong." Ucap Jihan yang masih setia berdiri, pada Dita yang duduk di samping Bagas.
"Duduk dulu sini! Sapa dulu Johan calon suamimu, jangan mikirin makan terus." Balas Dita pada putrinya yang wajahnya sudah tertekuk kesal.
"Jihan lapar Bun, mau makan dulu, menghadapi Johan Itu perut Jihan harus kenyang, butuh tenaga banyak dan hati yang ekstra kuat buat ngadepin calon suami yang menguji keimanan dan kesabaran Jihan." Sahut Jihan yang membuat Johan menyernyitkan kedua matanya, dan Bagas yang tersenyum penuh arti mendengar ocehan putrinya yang ia yakini disengaja oleh Jihan.
"Hustsss....gak boleh gitu ngomongnya sama calon suami sendiri, sini temenin Johan dulu ajak dia ngobrol nanti bunda siapin sarapan buat kamu." Dita menepuk bagian sofa yang masih kosong di sampingnya.
Jihan menolak dengan menggelengkan kepalahnya. Ia hendak beranjak namun tangannya ditarik oleh sang Bunda, kedua manik mata sang bunda sudah membola dan hendaknkeluar dari cangkangnya, bibirnya pun tak berhenti bergumam dengan suara yang cukup pelan, namun dapat didengar oleh Jihan. Dimana saat ini sang Bunda tengah mengancam dirinya untuk tetap berada di sini.
"Nurut, atau uang jajan mu Bunda pangkas dan gak ada uang bulanan lagi apalagi bonus akhir tahun."
Ancaman Dita kali ini tidak main-main. Apa kabarnya Jihan? Jika ia tanpa uang jajan dan uang bulanan. Ia pasti akan sangat merana hidup tanpa uang. Mau tak mau ia harus menuruti perintah Dita, ibundanya yang terlihat sangat kejam saat ini.
"Johan, Bunda siapin makanan untuk Jihan dulu ya, kamu ngobrol dulu deh sama ayah dan Jihan Bunda mau ke dapur sebentar." Pamit Dita dengem senyum ramahnya pada calon memantunya.
Johan hanya mengangguk sambil tersenyum sopan. Setelah kepergian Dita Bagas pun ikut pergi meninggalkan sepasang sejoli ini.
"Nak Johan, Ayah tinggal dulu ya Ayah mau lihat burung-burung Ayah yang baru dikasih makan oleh kak Gunawan," pamit Bagas yang segera beranjak dari sofa.
Tatapan Jihan menatap tak suka dengan kepergian sang ayah yang terkesan sengaja membiarkan mereka berdua di ruangan keluarga. Usai menatap kepergian sang ayah, Jihan beralih menatap Johan dengan tatapan kesal dan marah.
"Mau ngapain sih lo ke sini? Bilang ada janji Padahal kita nggak ada janji sama sekali, gue tuh ngantuk tau nggak sih ah." ucap Jihan dengan muka juteknya.
"Makanya kalau tidur jangan malam-malam, bela-belain nonton drama Korea ujung-ujungnya ngantuk di siang hari, lu tuh bukan kalong yang tidur di siang hari dan beraktivitas di malam hari Jie." Sahut Johan menasehati.
"Tau ah bodo amat, sekarang lu mau ngapain ke sini cepet deh gue mau tidur lagi abis makan soalnya?" Tanya Jihan yang masih menyimpan rasa kantuk, karena bary tidur tepat pukul lima pagi karena meninton deam korea terbaru yang ia tonton.
"Gue mau ngajak lo pergi, siap-siap gih sana!Jangan pakai baju kayak gini lagi, gue gak suka." Jawab Johan.
"Iya, ntar gua pakai gamis pergi sama lo biar kayak ibu-ibu pengajian." seloroh Jihan yang membuat Johan mendengus kesal
"Terserah...!!! malah bagus."celetuk Johan.
"Ya udah gua mau makan dulu? Lu tungguin gue makan ya?"
"Hemm..." sahut Jihan singkat
Usai sarapan yang terlambat, Jihan akhirnya berangkat pergi bersama dengan Johan. Jihan duduk di samping Johan yang sudah dari tadi hanya diam fokus menyetir kendaraan yang ia kendarai, terlihat jelas jika Johan nampak kesal karena dia harus menunggu cukup lama Jihan menghabiskan sarapan paginya itu.
Kesal dengan sikap Johan yang diam saja tanpa bersuara sedikitpun akhirnya Jihan membuka suaranya.
"Lo kenapa sih,Jo? Kalau ngajak orang itu harus ikhlas biar malaikat nggak ragu-ragu buat catat kebaikan lo yang udah ngajak gue pergi jalan
"Emangnya gue kenapa," sahut Johan dari balik kemudinya.
"Kok malah nanya kenapa sih lu yang nyuekin gue dari tadi lu malah nanya lo dasar cowok aneh." Umat dan cerca Jihan.
"Oh karena itu habisnya lu tahu diri dikit dong jadi cewek. gue tuh udah dateng pagi-pagi buta ke rumah lo tapi lo nya malah ngelama-lamain banget mau diajak pergi."
Jihan menoleh dengan cepat menatap tajam wajah Johan yang setengah fokus dengan kemudinya.
"Udah tahu gua nggak tahu diri Kenapa lu ngajak pergi gue?"
"Ya gua ngajak lu pergilah, karena yang nikah itu gue sama lo. Kalau gue nikahannya sama Bi Iyem ya pasti yang gua ajak pergi Bi Iyem buat beli cincin nikah " seloroh Johan yang makin membuat Jihan kesal
Jihan mendengus ia memilih untuk diam dan tak lagi menanggapi ucapan Johan yang kalau ditanggapi makin membuatnya sakit hati. Jihan membuang pandangannya ke arah jendela di mana ia menatapi gedung-gedung tinggi pencakar langit yang lebih menarik perhatiannya.
Sesampainya di sebuah mall terbesar di kota Jakarta Jihan dan Johan turun dari mobilnya seorang valet parking memarkirkan mobil sedan mewah milik Johan.