Ruri dan Zainudin adalah orang yang sama-sama punya kisah gagal dalam rumah tangga. Zai mempunyai putra yang menguak tabir rumah tangganya, sementara Ruri harus berjuang sendiri demi anak-anaknya.
Pertemuan keduanya tak terduga di sekolah anak mereka. Apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Yuk, ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LSC 12
"Insyallah Ren, nanti kami bicarakan dengan Zai," jawab Bu Erna.
"Baiklah, Pak, Bu. Reni, pamit pulang."
"Hati-hati di jalan, Ren."
Reni masuk mobil dan melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman mertuanya dengan perasaan berkecamuk.
"Sial! Diriku gagal membujuk mertua! Aku harus bagaimana?" Reni memukul setir mobil dengan rasa kecewa.
Di tempat berbeda. Zai setelah mengantar kedua anaknya di sekolah, lalu melanjutkan perjalanannya menuju tempat kerja. Satu jam perjalanan, telah sampai di kantor polisi dan bergegas berlari untuk absen.
"Hampir saja telat kamu Zai?" tanya Toni yang baru selesai absen dan bersiap untuk apel pagi.
"Iya, Ton. Aku harus mengantar anakku sekolah. Sehingga perjalanan ini memakan waktu lama," tukas Zai memakai topi dan berbaris di halaman kantor polisi.
"Kenapa, tidak pindah saja?" saran Toni membuat Zai terdiam.
"Soal itu, nanti saja aku pikirkan. Yang terpenting, urusanku dengan Reni harus selesai dulu," tandas Zai menatap Toni sahabatnya.
Apel pagi pun di mulai dengan dengan nasehat dan pembagian tugas dari atasan. Semangat membara bagi para polisi terlihat jelas dari wajah mereka yang siap dengan segala tugas yang di emban.
Setengah jam apel pagi pun selesai. Mereka bubar barisan dan menuju tugas masing-masing yang diberikan.
Di tempat lain, Reni telah kembali dari rumah mertuanya. Dirinya pulang dengan perasaan kecewa, Reni yakin usahanya pasti tidak akan membuahkan hasil.
Masuk ke rumah dan duduk bersandar di sofa dengan memejamkan mata.
"Gimana Ren, hasilnya? Berhasil?" tanya Bu Erni yang sedang bermain dengan Jordan di ruang keluarga.
"Tidak berhasil Bu. Tadi juga sempat bertemu anak-anak, tetapi Mas Zai acuh tak acuh," jawab Reni apa adanya.
Bu Erni hanya menatap wajah Reni dengan sendu. Pernikahan putrinya yang sudah menghadirkan 3 anak, sepertinya sudah berada di ujung tanduk.
*
Berita tentang perpisahan Zai dan Reni telah diketahui oleh Rere dan Gabriel. Keduanya cukup terkejut akan perpisahan kedua orang tuanya.
"Papa dan Mama, jangan berpisah?" tangis Rere pecah saat mengetahuinya dan memeluk papanya erat diikuti Gabriel.
"Maafkan, Papa, Nak! Akan tetapi, Papa dan Mama sudah tidak bisa bersatu lagi. Kami sudah tidak ada kecocokan satu sama lain," ujar Zai beralasan agar tidak mengetahui sifat buruk mamanya selama ini.
Mereka saling berpelukan, Rere yang awalnya tidak bisa menerima perpisahan kedua orang tuanya, hanya bisa terdiam menangisi nasibnya bersama adik tercinta.
"Lalu, bagaimana dengan adik Jordan, Pa?" tanya Gabriel tiba-tiba.
Sontak Zai tak bisa berkata-kata mendengar pertanyaan dari anaknya itu. Dirinya, bingung harus menjelaskan darimana kepada keduanya.
"Untuk, adik Jordan! Biarkan, adik Jordan ikut dengan Mama. Sebab, masih terlalu kecil dan juga masih butuh kasih sayang Mama," Zai menjelaskan alasan tersebut yang bisa dipahami oleh anak kecil seperti mereka.
Keduanya mengangguk paham dan duduk di pangkuan Zai kanan dan kiri. Setelahnya, mereka memilih menonton acara televisi keluarga si sore hari.
Keesokan paginya,
Zai telah bersiap-siap bersama keluarga dan juga kedua anaknya berangkat menuju pengadilan.
"Rere dan Gabriel, nanti kalian duduk di sebelah Kakek dan Nenek, ya?" tutur Zai saat sudah masuk ke mobil semua.
"Siap, Papa," jawab keduanya kompak. Mobil melaju meninggalkan halaman rumah menuju pengadilan agama hingga satu jam perjalanan terasa begitu cepat dan mereka tiba di pengadilan agama.
Reni berkali-kali dihubungi oleh pihak pengadilan untuk menghadiri sidang perceraiannya.
"Bu Reni, harap segera datang ke persidangan karena acara sebentar lagi dimulai," kata pegawai tersebut.
"Iya, iya, saya segera datang!" ketus Reni menjawab dan mematikan ponselnya.
Reni turun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan ritualnya. Selesai mandi, Reni langsung mengambil satu stel kemeja blouze warna merah marun.
Menyisir dan memakai bedak tipis lalu terakhir lipstik merah menyala sesuai dengan kemeja yang di pakainya.
Mengambil tas di meja nakas, Reni keluar kamar berjalan menuruni tangga menemui kedua orang tuanya.
"Pak, Bu. Reni mau ke pengadilan," kata Reni pada orang tuanya.
"Persidangannya sekarang? Baiklah, Bapak dan Ibu bersiap-siap dulu. Biar nanti Jordan sama Mbak Inem dirumah." kata Bu Erni yang ingin mengetahui masalah rumah tangga anaknya.
"Iya, Bu."
Mereka bertiga pun memberitahu pada pembantu tersebut untuk menjaga Jordan.
"Mbak, jaga Jordan. Kami pergi dulu keluar. Ada urusan penting!" kata Pak Guntur.
"Baik, Pak."
Pak Guntur dan Bu Erni, keluar kamar dan menghampiri Reni yang sedang menemani Jordan bersama pembantunya. Lalu, ketiganya keluar menuju halaman rumah dan memasuki mobil yang sudah siap berangkat ke pengadilan.
Mobil melaju meninggalkan keluar gerbang rumah dan ditutup kembali oleh satpam.
Satu jam perjalanan, mereka tiba di pengadilan yang telah di beritahu alamatnya oleh petugas tadi. Begitu sampai, ketiganya keluar mobil dan sopir hanya menunggu di mobil saja.
Melangkah ke gedung, Reni berjalan beriringan dengan kedua orang tuanya.
Masuk ke gedung, nampak terlihat Zai dan kedua anaknya duduk di samping Kakek serta Neneknya. Reni, Pak Guntur dan istrinya terdiam melihat kedekatan cucunya dengan besannya itu.
"Bu, ternyata Zai sudah datang?" bisik Pak Guntur duduk di samping istrinya. Lalu, Reni duduk di depan melihat Zai yang duduk di samping tuk terakhir kalinya.
"Iya, Pak."
Rere dan Gabriel melihat mamanya datang dan memanggil Reni.
"Mama."
Reni menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Dia merasa rindu dengan kedua anaknya itu seraya tersenyum.
Tak lama, persidangan di mulai. Pengacara utusan Zai berdiri membungkuk hormat kepada hakim yang baru saja tiba itu.
"Selamat pagi, semua?" sapa hakim itu pada semua orang yang berada di ruangan dan duduk di kursi kebesarannya.
"Selamat pagi," jawab kompak semuanya juga berdiri.
Pak Abdullah segera membawa berkas-berkas bukti kepada Hakim Agung untuk melihat dengan jelas perkara perceraian tersebut. Lalu, Pak Abdullah kembali duduk seraya menunggu keputusan hakim itu.
Beberapa menit setelah membaca bukti akurat dari berkas itu, hakim mulai menanyakan kepada pihak penggugat.
"Apakah Saudara Zai dengan sungguh-sungguh dan yakin ingin berpisah dengan Saudari Reni?" tanya Hakim.
"Ya, Pak. Saya sangat yakin," tegas Zai berucap hingga membuat kedua orang tua Reni terkejut.
"Tidak, Pak Hakim! Saya masih belum siap bercerai!" Reni tiba-tiba menyela saat Hakim sedang bertanya pada Zai.
Hakim dan beberapa orang di ruangan itu menatap Reni dengan bingung.
"Papa, aku tidak ingin berpisah denganmu. Mama janji akan berubah, Pa!" seru Reni berucap.
Orang tua Reni semakin bingung dengan perkataan anaknya itu, kenapa yang jadi pihak penggugat Zai, bukannya Reni? Ada tanda tanya besar di benak keduanya. Namun, mereka masih tetap diam melihat persidangan ini hingga akhir.
mampir y