Pernikahan Miranda dan Jonathan Kertapati sebenarnya tidak di rencanakan. Tapi karena Bara Kertapati putra dari Jonathan yang seorang duda 37 tahun melarikan diri di hari pernikahannya, maka Jonathan terpaksa menggantikan posisi Bara untuk bertanggung jawab atas kehamilan Miranda yang sebenarnya masih duduk di kelas tiga SMA semester akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobri Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Melamun
Sambil menunggu pesanan datang, Marry kembali bertanya soal nasib hubungan Miranda dengan Bara. Apa yang akan terjadi jika mereka telah berjauhan. Sedangkan kedua pasangan remaja itu masih bucin-bucinan saat mereka melihat keduanya bertemu dalam dua hari yang lalu.
"Apa kamu gak bakal kangen sama Bara, Mir? Pasti kamu sedih banget ya saat dia berpamitan pergi sama kamu?"
Miranda hanya meleguk salivanya dengan kasar, bukan lagi sedih melainkan timbul kekecewaan yang teramat besar pada diri Miranda. Ia tidak menyangka pemuda yang sangat dicintainya itu tega melepas tanggung jawab dengan pergi tanpa berpamitan lebih dulu.
Andai Miranda tidak muda terbujuk oleh rayuan maut Bara, pasti Ia tidak perlu menikah dengan calon mertuanya itu.
Ah Bara, sungguh tega dirimu melakukan ini? Suatu saat jika kita ketemu lagi, aku tidak akan pernah sudi untuk memaafkanmu...
Biar saja tidak ada yang tahu kesedihan Miranda saat ini, yang pasti luka itu akan tertanam di dalam hatinya. Siapa yang tak sakit hati mengingat kalau cinta mereka di kenal sangat romantis di kalangan sekolah selama 6 bulan berpacaran belakangan ini. Tiba-tiba saja rusak begitu saja karena suatu kesalahan yang Miranda kira akan menjadi taburan-taburan cinta mereka semakin merekat dengan indah.
Dulu, Bara selalu memberi perhatian-perhatian kecil saat Ia ingin minum atau kelelahan sehabis berolah raga dengan membukakan tutup botol air mineral atau sekedar mengelap keringatnya. Hingga cinta di diri Miranda tumbuh menjadi sangat besar.
Peristiwa indah itu seketika berakhir dengan terjadinya perbuatan yang tidak di kehendaki saat mereka pulang sekolah bersama kala hujan lebat datang mengguyur tubuh mereka hingga memaksa keduanya berteduh di sebuah rumah kosong. Sampai bencana itu akhirnya datang menggelapkan mata keduanya.
Sekarang Miranda harus menerima kesalahannya dengan mengandung anak dari seorang Bara yang kini menghilang entah kemana.
Cinta yang dulu bermekaran di setiap bunga-bunga yang menguncup seketika telah runtuh satu persatu dari kelopak nirwananya menyisakan tangkai yang perlahan-lahan akan segera kering dan membusuk lalu mati meninggalkan kenangan menyakitkan.
"Mir, sadar Mir!" Teriak Marry sejak tadi, akan tetapi Miranda tidak menyadarinya.
"Oh iya ada apa Mar, maaf aku kurang fokus tadi?"
"Itu mie tek-teknya udah di depan kamu, emang gak di makan ya? Ayo buruan entar bel masuk bunyi lagi!"
Miranda pun mengambil sendok dan garpu namun baru saja mengangkat mie itu kearah Mulutnya, Miranda langsung merasakan mual yang teramat sangat.
Hoek!
"Ya ampun Mir, kamu kenapa ha?" Salsa dengan cekatan memberi Miranda segelas air agar dia segera membaik.
"Makasih Sa, maaf ya mungkin aku masuk angin. Soalnya semalam kurang tidur, ya udah kalian aja ya yang makan mienya!" Miranda menggeser mangkok tersebut menjauh. Ia gak mau sampai muntah di depan semua teman-temannya jika nekat memakan mie itu.
"Ya udah Mir, kalau pusing ke UKS aja istirahat. Yang ngajari Pak Bo'im ini. Pasti dia ngizinin!" Ucap Marry memberi saran sambil sibuk menyantap mie tek-tek gratisan dari Miranda.
"Kalian bener sih, makasih banget ya sudah baik sama aku. Tapi sepertinya aku masih bisa tahan kok buat tetap ikut pelajaran selanjutnya!"
"Ya terserah kamu aja sih Mir, tapi kalau gak kuat, ngomong aja ke kita berdua, biar nanti kita yang izin sama Pak Bo'im!"
"Oke deh, aku percaya sama kalian!"