Jika biasanya wanita dijodohkan dengan pria kaya, lain halnya dengan Elizabeth. Elizabeth justru dijodohkan dengan pria miskin yang tak memiliki apa-apa. Bahkan, untuk rumahku pria miskin itu tidak punya. Hal itu, membuat Elizabeth merasa sangat malang dengan hidupnya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah Elizabeth akan tetap meneruskan hubungan suami istri tersebut? Ataukah Elizabeth memutuskan untuk bercerai dari Alexander?
Yuk simak karya ini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Elizabeth menepuk mulutnya sendiri ketika baru saja apa yang ia katakan adalah kebodohan untuknya.
“Dasar bodoh,” gumam Elizabeth menyalahkan dirinya sendiri.
“Elizabeth, kamu kenapa? Apakah tenggorokan mu bertambah sakit?” tanya Rose.
“Sepertinya aku tidak jadi party bersama kalian. Aku butuh istirahat,” pungkas Elizabeth.
Jennie dan Rose sedikit kecewa karena Elizabeth tak jadi ikut party bersama mereka.
“Baiklah, kalau itu memang keinginan kamu. Lagipula, masih ada hari hari selanjutnya,” balas rose yang sedikit kecewa.
Tak berselang lama, mobil berhenti tepat di depan restoran. Di mana tempat Elizabeth bekerja sebagai pelayan.
“Terima kasih atas tumpangannya. Lain kali, jika ingin ke rumah tolong beritahu aku terlebih dahulu,” ucap Elizabeth sebelum keluar dari mobil.
Jennie dan Rose kompak meminta maaf karena datang tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Elizabeth pun memaafkan mereka dan pergi dengan tersenyum kecil.
Elizabeth melangkah masuk ke dalam restoran dengan langkah terburu-buru, Elizabeth ingin secepat mungkin masuk agar Jennie dan Rose bergegas pergi.
“Morning!” Salah satu pekerja restoran menyapa Elizabeth yang baru datang.
Elizabeth membalas sapaan pagi dengan tersenyum manis.
“Pagi ini kamu terlihat cantik, Elizabeth,” puji salah satu pelayan restoran.
“Thank you, kamu juga cantik pagi ini,” balas Elizabeth.
Ketika Elizabeth memasuki ruang khusus pekerja restoran, wajah Alexander tiba-tiba muncul di kepalanya.
“Sial*n,” umpat Elizabeth.
Untungnya tidak ada yang mendengar umpatan kesal Elizabeth saat itu.
***
Adam dan Roy terheran-heran sekaligus penasaran dengan Tuan mereka yang sedari tadi tak henti-hentinya tersenyum. Keduanya ingin sekali bertanya alasan Alexander tersenyum, akan tetapi mereka tidak berani karena takut merusak senyuman seorang Alexander.
Alexander yang sedang duduk di kursi kerja, merasa tak nyaman dengan tatapan ke-dua bawahannya.
“Kenapa kalian berdua menatapku seperti itu?” tanya Alexander dengan tatapan tajam.
Adam dan Roy dengan kompak mengucapkan minta maaf tanpa ingin bertanya apapun.
“Pergilah! Tinggalkan aku sekarang juga!” perintah Alexander yang ingin sendirian.
Suasana hati Alexander saat itu sedang berbunga-bunga, ia tidak ingin kebahagiaannya di rusak oleh Adam dan juga Roy.
“Entah bagaimana, hari ini aku sangat senang dengan jawaban Elizabeth. Apakah ini saatnya aku memberitahukan siapa diriku yang sebenarnya?” gumam Alexander.
Pria 28 tahun itu berpikir keras dan pada akhirnya, ia ingin terus menyembunyikan identitas asli dirinya sampai Elizabeth jatuh cinta padanya.
“Tuan!” Roy memanggil Alexander dari luar pintu dan tidak berani masuk sebelum dipersilakan oleh Alexander.
“Masuk!” perintah Alexander.
Roy bergegas masuk dengan membawa sebuah surat.
“Apa ini?” tanya Alexander penasaran melihat beberapa lembar kertas di hadapannya.
“Tuan Smith dan Keith mengirimkan surat ini untuk Tuan,” jawab Roy.
“Kenapa lagi dengan mereka berdua? Apa aku harus mengirim orang untuk membunuh mereka di penjara?” tanya Alexander sembari tersenyum kecut ketika menyentuh lembaran kertas dari kedua pria tak tahu diri.
Perlahan Alexander membaca isi tersebut yang tertulis permohonan maaf sekaligus permohonan kepada Alexander agar membebaskan mereka.
Alexander tak menyelesaikan bacaannya, lagipula ia sama sekali tidak tertarik. Dengan senyuman sinis, Alexander merobek lembaran kertas tersebut dengan penuh kemenangan.
“Mereka pikir aku bodoh? Lagipula orang-orang munafik seperti mereka sangat merugikan untukku,” ucap Alexander.
Roy hanya diam tak bergerak melihat Alexander merobek-robek lembaran kertas tersebut.
“Pastikan bahwa mereka tidak bisa tidur nyenyak di dalam penjara,” ucap Alexander memberi perintah.
Alexander sama sekali tidak kesulitan jika harus membuat Smith dan Keith merenggang nyawa di balik jeruji besi. Namun, Alexander merasa bahwa itu terlalu mudah untuknya.
Roy mengiyakan dengan patuh dan pamit meninggalkan Alexander sendiri di ruangannya.
***
Malam hari.
Elizabeth duduk seorang diri di ruang tengah sembari menonton televisi yang menampilkan film dengan aktor pemain kesukaannya.
“Sangat tampan,” puji Elizabeth bersamaan dengan suara tepuk tangannya.
Pujian Elizabeth itu terdengar ke telinga Alexander yang baru saja memasuki ruang tengah.
“Aku yang lebih tampan,” sahut Alexander yang terlihat tak senang mengetahui Elizabeth memuji pria lain.
Elizabeth terkejut dan hampir saja menjatuhkan cangkir di tangannya.
“Apa yang baru saja kamu katakan?” Elizabeth bereaksi dengan cukup sinis.
Alexander mengangkat kedua bahunya, setelah itu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Mengetahui dirinya diabaikan begitu saja, membuat Elizabeth kesal. Saat itu juga Elizabeth meninggalkan ruang tengah untuk menghampiri Alexander.
“Dasar pria tak tahu malu,” gumam Elizabeth dengan terus melangkahkan kakinya menuju kamar Alexander.
Elizabeth dengan kesal masuk ke dalam kamar dan pada saat Elizabeth ingin mengoceh panjang, rupanya Alexander saat itu tengah dalam kondisi polos tak berpakaian.
Mulut Elizabeth menganga lebar melihat bagian belakang Alexander yang begitu mulus layaknya bokong bayi.
“Aaaa.... Aaaaa.....” Elizabeth berteriak sekencang mungkin melihat bagian belakang Alexander yang tak tertutup sehelai benang pun.
Alexander juga terkejut dan ikut berteriak karena Elizabeth yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya.
“Pria tak tahu malu!” Elizabeth berteriak dan berlari secepat mungkin keluar dari kamar Alexander.
Alexander tetap diam dengan posisi berdiri dan ketika Elizabeth sudah benar-benar pergi, barulah Alexander berbalik untuk menutup pintu kamarnya yang terbuka lebar, selebar harapan Alexander kepada Elizabeth.
Elizabeth berlari secepat mungkin masuk ke dalam kamar dan setelah ia berhasil masuk, gadis 24 tahun itu mengunci pintu kamarnya.
Ia naik ke tempat tidur dan menutup seluruh tubuh dengan selimut berwarna merah salah satu warna kesukaannya.
Bokong bayi milik Alexander terus saja terngiang-ngiang di kepala Elizabeth, sekeras apapun Elizabeth mencoba melupakannya, tetap saja bagian itu yang selalu muncul di kepalanya.
“Tidak. Aku sama sekali tidak melihat bagian yang itu,” ucap Elizabeth pada dirinya sendiri.
Air mata Elizabeth mengucur begitu saja, ia benar-benar malu dengan tindakannya yang begitu bar-bar. Sebelumnya Elizabeth tak pernah menyaksikan secara langsung bokong seorang pria, jika ia melihatnya tentu saja itu hanya ada di televisi.
“Apa aku benar-benar sepolos ini? Oh My God, aku sangat malu,” ucap Elizabeth lagi.
Di saat yang bersamaan, Alexander masih terkejut dengan kedatangan Elizabeth yang dengan santainya membuka kamarnya. Meskipun begitu, Alexander juga menyalahkan dirinya sendiri yang lupa mengunci pintu kamar.
Tak sedikitpun Alexander menyalahkan Elizabeth, lagipula dirinya lah yang bersalah.
“Elizabeth pasti sangat terkejut. Untung saja aku tidak memperlihatkan bagian inti, kalau saja tadi aku berbalik....” Alexander tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah Elizabeth ketika melihat bagian yang paling penting Alexander.
Pria 28 tahun menelan salivanya sembari membayangkan kejadian beberapa menit yang lalu.
“Tak masalah, sebaiknya aku pura-pura tak tahu saja,” ujar Alexander sembari menyentuh bagian perutnya yang tertutup perban.
❤
Lanjut?
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤