"Aku sadar kalau aku tidak bisa hidup tanpamu, dan walaupun aku tidak penah mengatakannya tetapi selamanya, selamanya aku kan selalu mencintai dirimu."
Lily, gadis penyendiri yang pintar bertemu dengan seorang pria misterius yang membuatnya terjebak dalam sebuah pernikahan dan harus melupakan semuanya yang ada di hidupnya. Cita-cita, keluarga bahkan cintanya, harus rela dia lepaskan, setelah dirinya terhisap dalam belenggu rasa misterius yang dia rasakan setelah bertemu pria tersebut.
Semuanya berubah setelah dirinya menghabiskan malam bersama pria tersebut.
Pria yang mengidap penyakit psikologi Dissociative identity disorder (DID), membuat Lily tidak mampu menolak takdirnya untuk menikah dengan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACING ALASKA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Petra melahap makanan yang aku bawa. Aku hanya memperhatikannya di kursi depannya. Dia terus melahap makanannya tanpa henti hingga semuanya habis tak bersisa. Pasti sejak tadi malam dia belum makan. Padahal sekarang sudah pukul duabelas siang. Pantas dia kelaparan.
"Masih ada seporsi lagi untuk makan malam di alat pemanas."
"Terima kasih." Petra tersenyum padaku. Melihatnya seperti kembali melihat pria di lorong penghubung.
"Jangan makan mie instant lagi." Perkataanku terdengar seperti perintah sehingga membuatnya menatapku. "Aku tidak tahu alasanmu kenapa tidak makan di restoran apartement ini, aku juga tidak akan bertanya. Karena itu... saat lapar bilang padaku."
"Oke." Jawabnya.
Setelah itu dia memandang ke arah ventilasi di atas jendela. Tatapannya menerawang jauh keluar sana.
"Apa kau menyukainya?"
Aku tidak bisa menangkap maksud perkataannya. Kenapa suka sekali dia mengajukan pertanyaan macam iniini?
"Siapa namanya? Tapi setiap bersama dia rasanya kau selalu tampak senang."
Aku baru bisa menangkapnya. Ternyata yang di maksud adalah Gary.
"Maaf ya tadi malam aku mengikuti kalian." ucap Petra menoleh padaku.
......................
Aku membersihkan pecahan-pecahan kaca di kamar Petra. Aku memperhatikannya dan dugaanku benar. Pecahan-pecahn kaca yng berserakan sepertinya ada yang sudah lama berserakan di lantai kamar ini. Apa dia bermimpi buruk tadi? Dan apa hal itu sering terjadi?
Aku membuka lemari pakaian Petra dan melihat sebuah laci. Aku memeriksa laci itu diam-diam sepertinya saat ini Petra tertidur di sofa depan televisi. Aku melihat sebuah lembar foto berukuran 5R. Di foto tersebut ada sepasang suami istri bersama dua anak laki-laki mereka. Kedua anak ini sangat mirip. Apa mereka kembar? Petra memiliki kembaran. Aku menemukan sebuah foto lainnya. Salah satu anak itu. Foto tersebut bertuliskan Memoar of Peter.
......................
Pria di lorong penghubung seorang mahasiswa konglomerat bernama Petra. Walau dirinya di prediksi akan menjadi orang terkaya di negara ini tetapi dia tinggal seorang diri di apartement dengan kamera pengintai. Mie instant bukanlah makanan favoritnya. Takut pada ketinggian, tidak suka aroma hujan dan menderita asma. Memiliki kembaran bernama Peter.
Sekitar pukul empat sore aku meninggalkan apartement Petra dan mengayuh sepedaku menuju tempat perjanjianku untuk bertemu Mia.
Genangan-genangan akibat hujan terciprat ketika aku lindas dengan sepeda. Di tikungan sebelum masuk ke daerah rumahku Mia sudah berdiri dengan santai. Dia melambaikan tangannya padaku untuk menunjukan keberadaannya. Tidak perlu begitupun aku sudah melihatnya.
"Kenapa lama sekali?" gerutu Mia.
"Ayo naik. seruku."
Mia naik di belakangku dan aku kembali mengayuh sepedaku.
Sesampainya di rumah. Gary sedang duduk di salah satu meja makan bersama Leo. Aku turun dari sepeda dengan Mia. Dia tampak senang melihat Gary. Gary menyambut kehadiran kami dengan senyum pada Mia. Melihatnya seperti itu membuatku sedikit kesal.
"Halo kak Gary, aku Mia." Senyum Mia sangat lebar saat bersalaman dengan Gary. Mendengarnya memanggil Gary dengan sebutan 'Kakak' membuatku geli.
"Hai Mia." Gary membalas senyum Mia. "Ayo duduk." kami berempat pun duduk dalam satu meja. "Jadi ini temannya Lily."
"Iya kak. Kak Gary ingat aku kan? Yang kemarin itu memanggil Lily saat kakak datang ke kampus." Perkataan Mia terdengar sangat antusias.
"Pasti ingat dong." jawab Gary tak hentinya tersenyum. "Oh iya, kalian sudah makan? Aku buatkan makanan dulu yah. Mia apa makanan kesukaanmu?"
"Ayam rica-rica." jawab Mia.
"Ayam rica-rica?" Gary memastikannya. Aku teringat sesuatu. Ini gawat... "Lalu bagaimana ayam rica-rica buatanku tadi?"
"Apa?" Mia tampak bingung.
Dia menatap ke arahku, aku bingung harus bagaimana agar dia tidak bilang yang sesungguhnya pada Gary.
"Sangat lezat kak, karena itu aku kesini biar bisa memakannya lagi." nyengir Mia.
Jawabannya membuatku bernapas lega. Aku berhutang padanya. Rekanku Mia, sepertinya aku bisa mengandalkannya. Aku berniat meminta bantuannya lagi untuk mencari tahu lebih lanjut tentang Petra dan kembarannya. Pasti imbalannya adalah Gary. Walau tidak rela aku akan berpura-pura menyetujuinya.
Gary menawarkan diri mengantar Mia pulang. Dengan senang hati Mia menyetujuinya. Sepertinya dugaanku benar, kecantikan Mia dan sifatnya yang supel pasti sudah menarik hati Gary. Kalau di perhatikanpun mereka berdua sangat serasi bila menjadi pasangan. Yang pria baik hati dan wanita menyenangkan. Pasangan sempurna.
"Teman kak Lily suka pada kak Gary ya?" tanya Leo padaku yang duduk satu meja dengannya di rumah makan ketika Gary sedang mengantar Mia pulang. Posisi kami berhadapan. "Bagaimana kalau kak Gary juga suka dia?"
Aku tidak mengerti maksud perkataan adikku ini. Usianya lebih muda empat tahun dariku, tapi sikap dan perkataanya terdengar seperti orang lebih tua dariku.
"Bagaimana apanya?" Aku berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kak Lily pasti tahu maksudku kan?" Teriak Leo.
Aku tidak mempedulikannya dan langsung masuk ke dalam kamarku lalu mengambil sebuah buku kuliahku untuk di baca.
Bagaimana kalau Gary juga suka Mia? Apa keputuskanku untuk mengenalkan Mia pada Gary salah? Aku sudah menduga kalau Gary akan langsung menyukainya bila mereka saling kenal. Tapi aku tidak berpikir kalau dugaanku itu benar. Keinginanku minta bantuan pada Mia sepertinya sudah memberikan keuntungan lebih padanya.
...***...
Hari senin yang cerah begitu terasa hangat dengan semilir angin yang bertiup membuat ranting-ranting pohon bergoyang mengikuti irama angin. Daun-daun tua yang berwarna cokelat berjatuhan dari dahannya dan membuat sekitar gedung kampus tampak seperti tak terurus. Tapi aku suka melihat keadaan seperti ini. Begitu alami seperti musim gugur di negara yang memiliki empat musim.
Aku berjalan menuju kelasku. Di tengah perjalanan aku melihat mahasiswa-mahasiswa lain berkerumun melihat pengumuman yang terpampang di papan pengumuman. Aku penasaran ingin mengetahui pengumuman apa yang tertempel disana hingga para mahasiswa itu berdesakan melihatnya.
Aku berjalan mendekati kerumunan. Dengan susah payah aku dapat membaca pengumuman di papan. Ternyata sebuah beasiswa. Mahasiswa akan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di perguruan tinggi seoul di Korea Selatan di jurusan apapun setelah lulus ujian. Ini kesempatan bagus. Aku akan mencobanya. Selain Jepang, Korea Selatan memiliki empat musim. Aku ingin ke sana dan merasakan musim gugur. Ya aku akan ke Korea Selatan.
"Aku akan mengikuti ujian beasiswa dan pergi ke Korea Selatan." ucapku ketika makan siang bersama Petra di lorong penghubung. Kali ini pun aku membawakannya makanan buatan Gary. "Aku suka musim gugur dan ingin merasakannya.
"Itu bagus. Aku yakin kau lulus ujian dan dapat beasiswa itu." jawab Petra dengan tersenyum. "Kapan ujiannya?"
"Seminggu lagi."
"Pengumuman lulus atau tidaknya?"
"Tiga hari setelahnya, dan seminggu kemudian langsung berangkat."
"Cepat sekali ya?" Petra membuang napas. "Berarti aku akan makan siang sendiri lagi."
Dari caranya bicara membuatku sedikit merasa tidak enak. Pikiranku mulai berpikir tentang apa yang akan terjadi ketika aku tidak lagi disini. Petra akan kembali makan mie instant di lorong ini sendirian.
Aku tidak tahu kenapa memikirkannya membuatku tidak tega meninggalkannya. Tapi aku sudah berniat mendapatkan beasiswa itu dan tinggal selama empat tahun di Korea Selatan. Apa aku bisa meminta Mia untuk menemaninya makan siang di sini ya? Ah, itu ide yang sangat buruk.
sampe ga bisa ingat nama klub sepakbola pun sama... selain susah memang ngerasa ga penting ngapalin namanya🤣🤣
Salah satu deretan novel berbobot bagiku. Penulisan, alur cerita, karakter semuanya luar biasa👏
Terimakasih sudah menyuguhkan cerita yg bagus ini. Tetap semangat Nell🤗💪