Widhi Maharani menikahi Agung Haryanto, duda beranak dua. Berbagai masalah mulai muncul di awal pernikahan. Mulai masalah ekonomi, masalah orang ketiga sampai dituduh sebagai PELAKOR.
Ternyata mereka tak bisa mempertahankan pernikahan, karena Agung lebih memilih kebahagiaan anak-anaknya dan kembali pada mantan istrinya.
Widhi bertemu lagi dengan mantan pacar pertamanya, tapi percintaan mereka pun terhalang lagi oleh istri mantan pacarnya. Dan Widhi dicap lagi sebagai pelakor.
Akhirnya Widhi menemukan cinta sejatinya dengan seorang teman lamanya. Dan mereka memutuskan menikah hingga memiliki anak dan hidup bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Rient, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 MANTAN YANG BELUM MOVE ON
Mas Agung menatapku lekat. Ada kemarahan dan kebingungan menghadapi ulah mantannya. Mataku pun mulai berkaca-kaca. Lalu mas Agung mendekapku erat. Aku berusaha menelan ludahku yang tiba-tiba terasa kering. Kami benar-benar saling menguatkan menghadapi masalah ini.
"Pergilah mas, jemput mereka" ucapku perlahan dengan lidah yang terasa kelu. Bagaimana tidak, aku harus merelakan suamiku menjemput mantan istrinya yang gila!
"Enggak! Mas gak akan pergi tanpa kamu!" ucap mas Agung tegas.
"Mas, aku gak apa-apa. Aku percaya dengan suamiku" ucapku sambil melepaskan dekapannya. Aku mencoba tersenyum walau pahit.
Mas Agung bergeming. Aku genggam tangannya erat. Aku tatap matanya lekat. Ada air yang menggenang disana. Aku cium mata itu dengan sepenuh hati.
"Demi Risa mas, demi Rega dan...demi kita" ucapku terbata-bata. Akhirnya mas Agung mengangguk pelan. Dia kecup keningku lama. Aku merasakan cinta disana.
Aku melepaskan kepergian suamiku. Batinku meronta. Ingin berteriak, tapi aku gak boleh egois. Aku harus bisa berbesar hati. Aku mencoba percaya pada suamiku, bahwa dia tidak akan menghianatiku. Aku pasrahkan semua padaNya.
Setelah mobil mas Agung tak terlihat lagi, aku masuk ke kamarku. Saat melewati dapur, aku sempet liat bi Siti menghapus airmatanya. Sepertinya dia tau apa yang terjadi tadi.
Di kamar aku tengkurapkan badanku. Di atas bantal aku menangis sejadi-jadinya. Haruskah aku kehilangan lagi orang yang aku sayangi?
Sepertinya nasib masih mempermainkan hidupku. Aku masih harus berjuang untuk menggapai kebahagiaan itu.
Sampai akhirnya aku tertidur karena lelah menangis.
-----------------------------------------
Jam 3 sore bi Siti mengetuk pintu kamarku. Dia kelihatan sangat khawatir dengan keadaanku.
"Ibu makan dulu ya, dari datang tadi ibu belum makan kan?" tawarnya padaku.
"Aku belum lapar bi, nanti saja kalau mas Agung udah pulang" jawabku.
"Tapi kalau tidak makan, nanti ibu sakit. Ibu harus kuat menghadapi semua ini bu. Saya ambilkan ya? Ibu makan di kamar kalau tidak mau ke meja makan" ucapnya lagi. Akhirnya aku mengangguk pelan.
Bi Siti pun berjalan ke dapur, untuk mengambilkan makan. Setelah lengkap, dia segera menghampiriku lagi di kamar. Di letakan makanan itu di nakas. Dia bantu aku bangkit, karena badanku terasa lemas semua. Di ulungkan makanan itu.
Aku menatap makanan itu dengan enggan. Pikiranku masih pada suamiku yang mungkin kini sedang bersama mantan istrinya. Rasa sesak kembali terasa di dadaku.
"Istighfar bu" ucap bi Siti. Aku menghela nafas panjang. Astaghfirullah...ucapku dalam hati.
Pelan-pelan aku santap makanan itu, walau tak berselera sama sekali. Beberapa suap dan aku berikan lagi pada bi Siti.
"Udah bi. Bawa lagi ke belakang" ucapku. Bi Siti mengangguk dan membawa nampan berisi makanan itu ke dapur.
"Tolong tutup lagi pintunya bi" kataku lemah.
"Baik bu. Kalau ada perlu apa-apa, ibu panggil saya ya bu" ucap bi Siti sebelum menutup pintu kamarku.
Kepalaku terasa berdenyut. Aku merebahkan badanku lagi. Aku kepingin tertidur lagi, dan setelah bangun semua masalah udah selesai.
Mataku menatap langit-langit kamar. Ingin rasanya aku telpon ibuku, untuk menumpahkan semua sesak di dadaku. Tapi aku gak mau membebani pikiran orang tuaku. Aku pingin mereka taunya kalau aku baik-baik saja.
Aku ambil ponselku. Berharap ada pesan masuk dari suamiku. Tapi kosong. Aku coba lihat kapan terakhir kali dia online. Beberapa menit yang lalu. Tapi kenapa dia tidak memberi kabar ke aku?
Berbagai pertanyaan mulai memenuhi pikiranku. Ingin sekali aku telpon suamiku. Tapi aku gak punya keberanian. Entahlah...
Aku mencoba beranjak ke kamar mandi untuk ambil air wudhu. Aku ingat aku belum sholat ashar. Begitu beratnya beban hidupku sampai aku juga melewatkan sholat dhuhur. Astaghfirullah...ampuni hambamu ya Allah.
Selesai sholat, aku merapikan penampilanku. Aku ingin menghilangkan penatku di taman samping rumah. Mungkin dengan memberi makan ikan-ikan yang cantik, bisa sedikit menghiburku.
Aku pun berjalan ke luar kamar, menuju ke taman samping rumah. Aku mencoba tersenyum sendiri melihat ikan-ikan cantik yang berenang dengan bebas, kesana kemari. Bercanda ria dengan sesamanya.
Aku jadi iri dengan ikan-ikan itu. Alangkah indah hidupnya. Tanpa beban. Bebas. Ah...masa iya aku mau jadi ikan sih. Aku jadi tersenyum lagi.
Sampai hampir maghrib aku masih saja duduk di taman itu. Lalu terdengar suara bi Siti memanggilku. Mungkin dia pikir aku pingsan disana, karena aku diam aja gak bersuara. Ya iyalah, masa aku mesti ngomong sama ikan-ikan cantik itu.
Aku kembali masuk ke dalam kamarku. Aku menunaikan sholat maghrib di lanjutkan membaca Alquran. Aku berharap dengan mendekatkan diri pada Illahi, pikiranku bisa lebih tenang.
Aku masih saja melanjutkan bacaanku sampai saat isya tiba. Aku benar-benar malas untuk sekedar keluar kamar. Aku merasa tenang duduk di atas sajadah ini.
Selesai sholat isya, aku melepas mukenaku. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk kembali. Aku liat mas Agung berdiri disana. Aku tatap lekat penuh kerinduan. Padahal baru beberapa jam gak ketemu.
Aku gapai tangannya dan mencium punggung tangan itu. Mas Agung balas mengecup keningku. Aku peluk erat. Mas Agung balas mendekapku.
"Eheemmm..." kudengar ada suara orang berdehem. Sepertinya suara perempuan. Aku gak bisa melihatnya karena terhalang punggung suamiku.
Setelah aku bisa melihatnya, betapa terkejutnya aku. Ternyata itu suara mba Vita. Mau apa dia sampai masuk ke dalam?
"Udah kangen-kangenannya? Lebay...kayak gak ketemu setahun aja" ucapnya menyebalkan.
Aku menatap mas Agung, meminta penjelasan atas semua ini. Mas Agung menghela nafas panjang. Belum sempat mas Agung menjelaskan, perempuan gila itu udah menjawab duluan.
" Atas permintaan anak-anak, mulai hari ini aku akan tinggal lagi di rumah ini, betul kan mas?" ucapnya penuh percaya diri.
Aku syok mendengar penjelasannya. Bener-bener gak masuk akal. Masa dia mau tinggal di rumah ini, satu atap denganku? Ini gak bisa di diamkan, batinku.
"Apa maksudmu mba?" tanyaku gak percaya.
"Telingamu masih bisa mendengar kan?" jawabnya angkuh. Tiba-tiba Risa masuk ke dalam. Langsung di raihnya tangan Risa.
"Sayang, ayo kita ke kamarmu" ajak mba Vita. Dan mereka pun masuk ke kamar anak-anak.
Aku menatap mereka dengan kebingungan. Kemudian mas Agung menuntunku masuk ke kamar kami, dan menutup pintunya. Dia menyuruhku duduk di tempat tidur kami, sementara dia berjongkok di hadapanku.
"Maafkan mas Sayang, itu semua permintaan Risa. Tapi mas merasa gak yakin dengan semua itu. Pasti Vita yang memepengaruhinya. Kita mengalah sebentar ya sayang?" ucap mas Agung.
Aku hanya bisa menatap nanar. Entah apa yang akan terjadi lagi dengan rumah tanggaku. Sepertinya masih banyak drama seru yang akan di mainkannya. Rupanya sang mantan belum move on.