Kemiskinan membuatnya harus menikah dengan putra seorang konglomerat kaya raya. Jika menolak, maka dia akan masuk penjara. Sementara dia harus menghidupi dua adik angkatnya yang masih sekolah. Pasrah adalah jalan satu-satunya yang bisa dia ambil. Gadis adalah wanita pekerja keras. Sehari-hari dia bekerja di lampu merah dekat tempat tinggalnya. Mulai dari mengamen hingga menjual tisu dia lakukan demi sesuap nasi. Nasib malang tidak hanya sampai di situ. Gadis yang malang harus dihadapakan dengan suami yang tidak mencintainya bahkan sangat membencinya. Namun Gadis tidak mudah ditindas. Gadis yang pemberani, menghadapi semua rintangan rumah tangganya dengan caranya sendiri. Mampukah Gadis menghadapi cobaannya? Mampukah Gadis merubah nasibnya? Ikuti kisahnya.
Jangan lupa intip karya aku sebelumnya ya 🙏🙏👍😁 " Tuan Muda Yang Hilang" , Makasih 🙏🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guspitria Kamal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Durian Montong
Setelah perang adu mulut dengan wanita yang sudah sah menjadi Istrinya, Gilang memilih membersihkan dirinya. Tubuhnya sudah lengket seharian melewati acara pernikahan paksanya. Apalagi niatnya untuk membuat Gadis tersakiti belum kesampaian juga hingga kini.
Gilang benar-benar tidak menyangka jika Gadis tidak selemah yang dia pikir. Padahal Gilang sudah membuat deretan rencana untuk terus menghujami Gadis dengan kata kasar, upatan dan cacian. Tak disangka, Gadis malah mampu membuatnya terpojok.
'' Sial, dari segi mana Papa kok bisa-bisanya pilih nenek sihir itu jadi Bini Gue? Cantik sih cantik, tapi congornya itu, pengen Gue cabein rasanya. Baru juga hitungan jam, udah bikin kepala Gue mau pecah.'' Gerutu Gilang sambil terus menggosok tangannya dibawah guyuran shower.
'' Ha! Gue punya ide.'' Gilang senyum-senyum saat memikirkan rencana barunya untuk Gadis.
Tidak jauh berbeda dengan Gilang, Gadis juga kesal dengan Gilang. Tidak ada sopan-sopan menurutnya. Bagaimana pun Gadis adalah Istrinya, kalau masih belum terima, paling tidak diam kan saja. Ini malah ngajak perang.
'' Awas kamu ya Sendal jepit, Gue ga bakalan diam kalo Lo nindas Gue lahir dan batin. Gue bukan wanita lemah. Gue Gadis, wanita kuat tahan banting. Panas aspal sama terik matahari aja Gue tahan, apalagi cuma cowok songong kayak Lo.'' Gadis menggerutu sambil meremas selimut yang sudah menutupi separuh tubuhnya.
Gadis sudah bisa membayangkan apa saja perlakuan yang akan dia dapat dari Gilang. Jelas Gilang sangat tidak suka dengannya. Apalagi setiap pertemuan dengan Gilang, mereka tak ubahnya seperti anjing dan kucing. Mulai saat ini, Gadis akan sangat berhati-hati jika sudah berhadapan dengan Gilang.
Tapi Gadis bukan wanita bodoh, walapun dia tidak sampai tamat SMP, tapi instingnya cukup tajam dalam melihat suatu gambaran yang bisa saja terjadi. Pasti Gilang tidak akan menyerah sampai dia mampu membuat Gadis mundur dari posisinya sekarang.
Meski pun demikian, Gadis yakin mampu untuk mengalahkan Gilang. Terlebih lagi Ayah mertuanya Tuan An sudah mengatakan akan selalu melindungi Gadis dan pasti akan membelanya terutama jika berhubungan dengan Gilang.
Tidak peduli tentang cinta, yang penting Gadis harus bertahan demi adik-adiknya terutama Ian. Saat ini Ian sangat membutuhkan pengobatan intensif. Apalagi Tuan An sudah berjanji akan mencarikan Ian donor ginjal yang sesuai. Jadi, tak peduli bagaimana Gilang menyakitinya. Asal adik-adiknya bisa bahagia, akan ditahannya sekuat hati.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, keluarlah Gilang dengan hanya memakai handuk yang menutupi bagian pinggang ke lutut saja. Dada bidangnya terekspos sempurna, roti sobek Gilang begitu kokoh tersusun rapi.
Air rambutnya yang masih basah mengalir turun disela dada bidangnya karena memang rambutnya belum dia keringkan. Tak bisa dipungkiri, Gadis mulai mengagumi ketampanan laki barunya ini. Tapi segera dia tepis, mengingat aura panas akan keluar jika Gilang sudah bersuara.
Mata Gadis membulat sempurna saat melihat makhluk ciptaan tuhan itu mendekat dan berdiri di hadapannya yang tengah rebahan miring sehingga menghadap.
'' Apa Lo sudah tidak sabar ingin menikmati malam pertama kita hah?'' Gilang berdecak pinggang, sengaja memancing Gadis yang wajahnya sudah mulai pucat.
'' A--apa?'' Gadis langsung duduk mundur dan menarik selimutnya sampai menutupi dadanya.
Melihat Gadis mulai ketakutan, Gilang makin mendekat dan mencondongkan kepalanya ke wajah Gadis. Hingga deru nafas hangat Gadis menyapu wajah dinginnya yang masih basah.
'' Aku minta hakku sekarang.'' Ucap Gilang dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan. Sekali tarik, selimut yang menutupi Gadis terhempas ke lantai. Reflek Gadis menyilangkan dua tangannya di dadanya.
Mengingat belum ada cinta diantara mereka, Gadis berfikir keras bagaimana caranya menolak agar duren montongnya tidak dibelah Gilang. Bisa rugi besar Gadis jika sampai dibabat Gilang malam ini.
' Waduh, mampus Gue. Masa Gue dicoblos Sendal Jepit sih. Enak aja, ga bisa. Gue harus cari cara. Tapi apa? Duh kok oneng Gue malah kumat disaat yang tidak tepat. Ayo Gadis, pikirkan pikirkan.' Batin Gadis dengan cemas tingkat tinggi.
'' Kenapa sayang? Bisa aku mulai?'' Gilang mengedipkan mata semakin menggoda Gadis yang sudah pucat ketakutan.
Entah keberanian dari mana, Gadis mendekat dan menggalungkan kedua tangannya keleher kokoh Gilang hingga membuat pria itu yang kini memucat. Mata mereka saling bersitatap, tak lupa senyum manis sejuta umat dia sematkan dibibir seksinya.
Tangan nakal Gadis mulai mengusap lembut pipi Gilang. Menyentuh alis, hidung hingga telunjuk nakalnya berhenti dibibir Gilang yang terlihat sedikit merah muda karena memang Gilang tidak merokok.
Kini mata Gilang melotot sempurna. Laki-laki mana yang tidak akan tergoda jika sudah kena usapan lembut apalagi wanitanya secantik Gadis.
Mata liar Gilang langsung tertuju pada dua tonjolan bulat dari balik piyama Gadis. Saat ini Gadis memakai piyama dress selutut dengan dua tali spageti yang mengantung dibahu seksinya.
Ketika datang pertama kali ke mension Tuan An, semua keperluan Gadis telah telah disiapkan oleh Joe. Mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Satu lemari, penuh berisi pakaian untuk Gadis. Dari pakain tidur, santai, hingga pesta. Semuanya berkelas dan sesuai ukuran Gadis.
Joe memang total kalau dalam perintah Tuan An. Berhubung dia pernah menemani Gadis berbelanja, maka dari situ Joe sudah tau ukuran dan selera Gadis tantang pakaian.
Memang banyak baju tidur yang terdapat di dalam lemari, tapi hampir semuanya sangat minim bahan. Hanya dress inilah yang bisa menutupi dua aset berharganya. Meski tipis, tapi tidak tembus pandang.
Berlahan tapi pasti, Gadis membalikan posisi Gilang hingga duduk di atas pangkuan Gilang. Gadis mengalungkan tangan keleher Gilang, dan mendekatkan dua gundukan melonnya tepat ke wajah Gilang.
Dapat Gadis rasakan, satu batang keras milik Gilang sudah tegeak sempurna. Gadis yakin, saat ini dibalik handuk itu tidak ada kain pelapisnya. Alias polos sempurna.
Wajah rakus Gilang sudah terlihat jelas. Apalagi tangan nakalnya sudah meremas bagian belakang Gadis yang empus dan kenyal. Nafas Gilang sudah turun naik memburu, seakan tak sabar ingin melahap dua cokocip yang ada dibalik kain tipis itu.
'' Apa sekarang kamu sudah mulai berselera dengan cewek ****** dan miskin seperti aku hah? Apa kamu ga nyesel mencelupkan cacing tanah milikmu ke dalam lobang yang sudah sering dilewati banyak cacing? Meski aku ga perawan lagi, tapi aku bakal jamin cacingmu pasti menggeliat nikmat di dalam lobang kehangatanku.'' Bisik Gadis tepat ditelinga singa lapar itu. Kemudian Gadis mengedipkan matanya seperti wanita nakal.
Mendengar perkataan Gadis, sontak Gilang mendorong tubuh Gadis ke samping. Wajah penuh naf su yang tadi terlihat jelas, kini berubah menjadi merah padam. Tanpa menoleh dan tanpa berkata, Gilang berjalan kembali masuk ke kamar mandi.
'' Alhamdulillah, Gue selamat.'' Gadis terlihat bernafas lega. Jujur tadi Gadis sangat takut jika Gilang tetap ngotot ingin melahapnya.
Di dalam kamar madi tampak Gilang melemparkan tinjunya keudara. Gilang sangat frustasi, padahal dia masih berharap jika Gadis masih Gadis seperti namanya. Tapi apa, rasa kesal, kecewa dan bahkan jijik sudah merasuk dalam hatinya. Ternyata memang Gadis bukan wanita baik-baik.
'' Ternyata kamu cuma sampah yang dipungut dan didaur ulang. Menjijikan!''
-radiant knight selalu menunggumu :)
-radiant knight