Nama nya Nadia biasa di panggil Diah
Hari ini Nadia berangkat kekota bersama Abang Sugi, saudara jauh dari Almarhum Ayah.
Abang Sugi mengajak Nadia bekerja di rumah majikan nya di kota, sebagai perawat yang mengurus orangtua majikan nya yang sudah lansia dan memiliki riwayat penyakit stroke.
Demi Mak, Nadia putus kan tidak melanjutkan Sekolahnya dan Ikut Abang Sugi bekerja di kota.
Mak sakit-sakitan dan butuh obat setiap bulan nya agar bisa bertahan melawan penyakitnya.
Datuk Iskandar, Nama Tuan Besar yang akan di rawat oleh Nadia.
Datuk Iskandar memiliki anak bernama Encik Rafiq yang merupakan seorang pewaris tunggal Belibis group.
Encik Rafiq merupakan sosok yang kharismatik dan baik namun pendiam. umurnya kurang lebih 30 tahun.
Nadia memanggilnya Pakcik.
Sesuai permintaan Datuk Iskandar.
karna masih dalam satu rumpun melayu.
Keadaan akhirnya memaksa Encik Rafiq menikahi Nadia secara Siri.
karna sebenarnya beliau telah memiliki seorang istri yang sedang melanjutkan kuliahnya di Sidney Australia.
Pernikahan siri antara Nadi dan Encik Rafiq menimbulkan banyak konflik diantaranya.
Akankah pernikahan Nadia dan Encik Rafiq mampu bertahan?
Bagaimana akhir pernikahan Nadia?
Akankah harapan Nadia untuk menjadikan pernikahan mereka sah di mata hukum dan pemerintah dapat terwujud?
Yuk simak ceritanya dalam novel terbaru author berjudul 'Menikah Siri'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. Kesepakatan
Pukul 16.25 wib Rafiq kembali kerumah sakit setelah seharian bekerja di kantor nya.
Sebenar nya dia sangat lelah, namun demi bakti nya kepada Papa iya tetap melajukan mobil nya menuju rumah sakit tempat Papa nya di rawat inap.
Lagi pula iya kasian pada Nadia disana yang sedang menjaga Papa sendirian.
"Assalamualaikum.." ucap Rafiq pelan ketika masuk kedalam ruang rawat inap Papa nya.
"Waalaikumsalam.." jawab Nadia yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv dan membuka sosmed di layar hp nya.
"Datuk baru saja tidur Pak Cik.. " Ujar Diah sembari mengambilkan segelas air putih dingin di kulkas yang memang disediakan oleh pihak rumah sakit.
Datuk Iskandar di rawat di ruang mawar kamar 105 yang merupakan kamar rawat inap kelas president suit. Sehingga kamar nya memiliki fasilitas yang sangat mewah.
Didalam nya terdapat sofa, pantri, tv, kulkas, lemari, dan juga satu buah tempat tidur untuk keluarga yang menjaga pasien.
Selain itu juga terdapat fasilitas-fasilitas tambahan lainnya yang mengacu pada standar operasi rumah sakit seperti pelayanan kebersihan atau perawat yang selalu stay berjaga di bagian luar depan.
"Kamu sudah makan?" tanya Tuan Muda pada Nadia setelah menghabiskan segelas air putih pemberian Nadia tadi.
"Sudah.." jawab Nadia singkat.
"Ada yang ingin saya bicarakan penting dengan kamu, tapi sebaiknya tidak disini. Bagaimana kalau kita pergi minum sebentar di luar? lagi pula Papa sedang tidur istirahat. Biar nanti saya minta perawat di depan untuk berjaga-jaga" ujar nya lagi pada Nadia.
Nadia hanya mengangguk pelan tanda setuju.
Rafiq dan Nadia kemudian berjalan beriringan menuju lift yang membawa mereka ke lantai 8 rumah sakit.
Nadia sungguh tidak menduga ternyata rumah sakit ini memiliki sebuah restoran yang sangat bagus yang berada di lantai 8 rumah sakit.
Healty cafe & Bistro nama restoran nya.
Sebuah restoran yang sangat homey dan kasual sehingga memberi kesan sangat santai dan nyaman.
Nadia dan Rafiq kemudian duduk berhadapan di kursi yang terdapat pada bagian pojok kiri restoran.
Kursi yang mereka tempati berada tepat di tepi kaca pembatas. Sehingga tampak jelas oleh mereka suasana kota dari ketinggian lantai 8 rumah sakit.
Suasana sore membuat kota terlihat sangat indah dengan sinar matahari yang agak redup berwarna jingga.
"Cantik sekali" ujar Nadia dalam hati.
Nadia kemudian memesan milkshake strawbery smoothy dan banana cheese nutela yang terlihat enak pada gambar menu makanan yang di berikan oleh pramusaji.
Sementara Tuan Muda hanya memesan secangkir kopi expresso saja untuk diri nya.
"Bahkan di dalam restoran semegah ini dengan berbagai macam menu minuman, Dia tetap saja memilih kopi. Huh!!" ujar Nadia lagi di dalam hati nya.
"Apa kamu sudah mempertimbangkan permintaan aneh Papa pada kita? Kamu mau menerima nya?? Saya tau, kamu pasti tidak bisa menolak nya kan?? karena merasa memiliki hutang jasa terhadap Papa??" tanya Rafiq bertubi-tubi menyudutkan Nadia.
Nadia hanya diam tanpa menjawab.
Pramusaji datang membawakan pesanan mereka berdua.
Nadia segera meminum pesanan nya dengan perasaan gugup sekali.
Nadia tidak menyangka kalau Rafiq mengajak nya ke restoran ini adalah untuk membicarakan soal permintaan Tuan Besar tadi pagi pada mereka berdua.
"Kalau tau Pak Cik mau membicarakan hal ini, lebih baik saya tolak ajakan nya tadi.. huh!!" gerutu Nadia dalam hati.
"Diah tidak punya pilihan Pak Cik.. Diah tidak punya alasan untuk menolak nya.. Tuan Besar terus memohon pads Diah agar sudi menikah dengan Pak Cik.. Diah bisa apa??" jawab Diah memberanikan diri.
"Saya tau.. Saya paham posisi kamu yang tidak bisa menolak permintaan Papa.. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan? Seharian saya memikirkan hal ini hingga pekerjaan saya terbengkalai.. Saya juga tidak bisa menolak nya karena beliau bilang ini adalah permintaan terakhir nya. Karena itulah, bagaimana jika kita turuti saja keinginan nya.?" ujar Encik Rafiq lagi mengagetkan Nadia.
"Tapi Pak Cik.. Diah belum siap menikah. Diah berharap Pak Cik menolak permintaan Datuk sehingga perjodohan ini bisa batal.." ujar Diah lagi pada Encik Rafiq.
"Berat bagi saya untuk menolak nya ketika beliau mengatakan ini adalah permintaan terakhir nya. Saya takut akan menyesal nanti nya karena tidak bisa mewujudkan permintaan nya ini. Kondisi Papa sangat tidak stabil. Saya tidak ingin Kesehatan nya semakin menurun setelah mendengar penolakan dari saya.. Oleh sebab itulah saya mengajak kamu untuk membuat kesepakatan. Kita turuti saja keinginan Papa. Kita menikah. Tapi cukup dengan pernikahan siri saja. Kita akan membuat kontrak perjanjian yang akan menguntungkan kita berdua selama pernikahan. Bagaimana?" tanya Rafiq lagi pada Nadia.
Nadia diam tanpacmenjawab.
Pikiran nya berkecamuk tak menentu.
Lama suasana hening diantara Nadia dan Rafiq.
"Baiklah jika itu memang jalan terbaik nya.." jawab Nadia kemudian menyetujui kesepakatan yang telah di rencanakan Encik Rafiq.
"Demi kesehatan Datuk.." ujarnya lagi pada Tuan Muda.
mksh ya thor🙏