NovelToon NovelToon
Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi

Status: tamat
Genre:Patahhati / Romansa / Tamat
Popularitas:621k
Nilai: 5
Nama Author: Sina Tu Narti Ajj

📖Harap sediakan tissue karena cerita mengandung bawang. 📖


"Kak Dibi, bolehkah Pelangi minta gendong?"

"Pe, kamu lagi hamil! Kalau jatuh bagaimana?"

"Kalau minta suap, mau nggak?"

"Jangan manja ya, Pe. Kakak sedang buru buru!"

"Oh...ya uda tak apa. Tapi Kak, jangan lupa tutup pintu rapat-rapat ya. Takutnya, Pe pergi dan hanya ada badai yang menggantikan kepulanganku."

Galaksi Miller Al Malik, kerap disapa Dibi, tidak tahu kalau istrinya--Pelangi Sagara sedang sakit keras seraya mengandung. Permintaan sederhana terakhir istrinya itu tidak terpenuhi olehnya sampai sang istri meninggal.

Selama pernikahan terpaksa itu, Dibi hanya mempedulikan seorang mantan kekasihnya yang sama halnya sedang sakit dan minta perhatian seorang Dibi.

Sampai saatnya, Istrinya meninggal baru ia menyadari kalau cinta besarnya itu hanya pada sang istri.

Penyesalan tak terkira dan tiada henti menggerogoti hari Dibi setelah kepergian Pelangi.

Benarkah Pelangi meninggal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sina Tu Narti Ajj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenyataan Kiara! Goyah Kembali!

Hari penat Dibi tidak ada selesai selesainya.

Tadi, saat perjalanan pulang di jam sudah malam, ia mendapati korban tabrak lari di jalan. Mau tak mau ia harus mengabaikan waktunya sendiri demi kepedulian sesama, apalagi ia seorang polisi yang wajib berbakti pada warganya.

Dan beberapa menit lalu, ia berada di rumah sakit untuk mengurus korban.

"Selesai hari ini, lanjut besok."

Dibi pun sejenak melirik jam tangannya yang menunjukan jam 11 malam.

"Pasti Pe masih menunggu di ruang tamu," batinnya mengingat kebiasaan Pe yang menurut Dibi sangat berlebihan. Padahal ia sering menasehati dengan lembut, kalau suatu saat ia pulang malam, maka tak apa istrinya itu tidur duluan. Namun Pelangi sering keras kepala di bilanginnya.

"Om Aksa?"

Dalam langkah terburu-burunya, Dibi melihat sosok Papa Kiara yang keluar dari ruangan inap kelas VIP.

"Siapa yang sakit?" lirih Dibi seraya melangkah ke arah pintu yang sudah ditinggal pergi oleh orang tua mantan terindah nya itu.

"Tunggu dulu!?" Dibi tetiba terhenti. Ia merasa ada keganjilan pada kata kata Kiara waktu itu, yang katanya Om Aksanya itu akan memboyong keluarganya ke luar Negeri. Tetapi kenapa mantan kekasih Mamanya itu berada di rumah sakit?

Gegas, Dibi berlari kecil ke arah kamar rawat tersebut.

Kreek...

Perlahan, Dibi membuka pintu sedikit demi sedikit. Penasaran, ia pun membukanya lebar lebar namun pelan karena tidak mau menggangu orang yang terbaring di atas bed. Wajah itu belum terlihat, namun dari segi postur, Dibi sudah menebak kalau yang terbaring itu adalah Kiara.

Akan tetapi, ia tidak mau percaya kalau Kiara di Indonesia apalagi sedang terbaring dengan hidung itu di bekap menggunakan alat bantu pernafasan.

Deg...

"Ki_Kiara..."

Jantung Dibi terkesiap hebat setelah meyakini bahwa wanita yang terbaring lemah itu benar benar Kiara.

"Kiara... Kamu sakit apa? Kenapa__"

Ceklek...

Dibi sigap menoleh ke arah pintu yang baru terbuka. Aksa sudah kembali begitu cepat.

"Dibi?"

Aksa tidak menyangka akan kedatangan tamu spesial. Ia pun melangkah ke arah meja yang ada di sudut ruangan untuk menaruh segelas kopi yang baru dibelinya di kantin rumah sakit.

"Om, Kiara kenapa, Om?" Dibi langsung mencerca Aksa. "Bukannya kalian ada di Jerman? Tapi ini....?" Dibi benar benar penasaran. Ada rasa iba yang ia rasakan pada Kiara.

Aksa tidak langsung menjawab, melainkan menepuk sofa sampingnya.

"Duduklah, Dibi! Karena kamu sudah mengetahui keadaan Kiara dengan sendirinya datang kemari, tanpa Om melanggar janji pada Kiara untuk membawa mu kemari. Maka Om akan bercerita."

Tidak sabaran, Dibi segera duduk dengan mata lurus lurus menatap Kiara yang tidak terganggu.

"Anak Om lagi tahap perjuangan hidup atau kalah! Kiara mengalami kanker pankreas stadium tiga masuk stadium akhir kalau Kiara menyerah dalam perjuangan nya."

Deg... Jantung Dibi merasa sakit mendengar kenyataan pahit yang di alami oleh orang yang masih setia menggangu pikirannya .

Lidahnya keluh serta bibirnya itu bergetar, tak mampu mengatakan satu patah katapun saking shocknya mendengar berita menyedihkan orang terkasihnya, sedang ia... Ia malah leha leha dan mencoba melupakan masa lalunya. Jahat sekali bukan dirinya ini?

"Kenapa masalah besar ini, Kiara tidak berbagi padaku, Om?"

"Karena anak Om tidak mau melihat kekasihnya bersedih. Dia terlalu mencintai mu, Dibi! Dengan itu, ia tidak mau melihat ada kesedihan di wajahmu. Om sebenarnya ingin memberi tahukan padamu, namun Kiara membuat Om bersumpah. Lebih-lebih, saat Om ingin menemuimu untuk melanggar sumpah itu, langkah Om tiba-tiba di hentikan dengan pernikahan mu bersama Pelangi tepat di depan mata Om. Apa kamu tau anak muda? Kamu telah menaruh Om di dalam posisi sulit. Ingin rasanya Om mau mengamuk di hari akad kalian karena kamu telah mengkhianati anak Om. Akan tetapi, Om terhenti karena Om masih memandang persahabatan Om dengan orang tuamu serta orang tua Pelangi juga. Maka dari itu, pergilah dari sini sebelum besok pagi Kiara membuka matanya dan melihatmu dengan kebahagian semu doang."

Dari wajah lelah Aksa, terlihat menahan emosi. Ia takut khilaf memukuli Dibi bilamana orangnya masih di dekatnya.

" Om, aku dan Pe terlibat kesalah pahaman yang rumit pada waktu itu, sehingga kami di nikahkan paksa. Om, ku mohon! beri aku waktu untuk menjelaskannya, agar Om suka rela membiarkan aku di sini menjaga Kiara. Boleh ya, Om?!"

Tidak ada respon dari Aksa, namun tidak bertindak mengusirnya juga. Dengan itu, Dibi menjelaskannya dengan cepat tentang kesalahpaham malam itu di kamar Pe.

Selesai memberi waktu singkat untuk Dibi, Aksa tetap mengusir nya.

"Kamu membuat kerumitan Dibi! Pergilah sekarang. Lagian kamu sudah terlanjur bersatu dengan Pe. Aku hanya berharap kamu tidak melukai hati anak ku di saat sisa sisa hidupnya. Tolong! Jangan toakan adanya kabar pernikahan kalian, tanpa mendengar nya pun, ia sudah tidak semangat berjuang, bagaimana kalau mendengarnya? Om masih ingin merawat putri Om, meski dalam posisi terbaring lemah. Sungguh, Om tidak kuasa nanti melihat ada gundukan tanah dengan nisan bertulis namanya."

Aksa menangis tanpa isak. Dibi pun demikian.

Tidak mau membuat keributan malam malam di rumah sakit, Dibi akhirnya pergi dengan berkendara ugal ugalan di jalan. Biasanya, ia dan kesatuannyalah yang menjadi panutan dalam berkendara baik, tapi khusus malam sepi ini, ia melebihi gilanya pembalap mobil yang sedang kesetanan.

Perasaan Dibi dalam dilema luar biasa! Hancur dan rumit! Tidak ada kata-kata lagi yang bisa mendeskripsikan perasaannya yang kacau balau.

Braakk...

Sampai rumah, ia tidak sadar membuka pintu secara kasar. Membuat Pelangi terloncat kaget yang tadinya tertidur menunggu kepulangan Dibi di sofa itu.

"Kak! Kamu membuat ku kag__Kakak kenapa? Kok matanya merah?"

Dibi tak menghiraukan kecemasan Pelangi. Ia terus berjalan menelusuri ruangan menuju kamar. Melihat wajah tulus Pe semakin membuat nya bersalah pada dua pihak. Ia, kebingungan.

Tok tok tok....

"Kak Dibi!" Pelangi menggedor gedor pintu kamar mandi. Ia cemas melihat wajah suram Dibi yang tak biasa seperti itu. Secapek capek nya suaminya itu dalam berkerja, Dibi tidak pernah pulang pulang dalam keadaan murka tertahan.

"Kakak tidak apa apa, tadi kakak hanya lagi nahan BAB!" jawab Dibi sebisa mungkin mengontrol oktafnya untuk tidak membuat Pe curiga lagi.

Apa Pe langsung percaya? Tentu tidak! Namun ia menurut untuk diam. Biarkanlah Dibi selesai dalam hasratnya terlebih dahulu. Bila sudah tenang, mungkin ia bisa bertanya baik baik untuk kedua kalinya.

Namun, satu jam setengah. Pe masih dibuat menunggu. Ia tidak tahu aja, Dibi sedang meninju ninju tembok kamar mandi seraya mengguyur tubuhnya dengan air shower yang dingin.

"Pria jahat kamu Dibi! Kiara lagi sakit tapi kamu enak enakan nikah sama wanita lain! Jahat! Jahat dan bajingan!" tangan Dibi sudah berdarah darah karena terus melampiaskan segala kemarahannya pada dinding itu.

Pendirian Dibi untuk melangkah maju bersama Pe, sudah mulai goyah lagi karena kenyataan Kiara yang baru ia ketahui.

1
umi istilatun
👍
Nur Aini
ya Alloh sakit nya💔💔💔😭😭😭😭😭😭
Rosdiana Dian
sumpah nyesek,,🥲yah semoga aja ada keajaiban
Tri Wulandari
Luar biasa
guntur 1609
dibi kau tu bukan cinta lagi sm pelangi tapi obsesi mu dengan rasa bersalah mu. kau harus bnyak belajar dari guntur
guntur 1609
sudah tahu salah. tapi omonganmu itu loh dibi. gak enak di dengar
guntur 1609
apa mngkn badai yg menyelamatkan pelangi ya
guntur 1609
oh brti biru sm bintang yg sepupuan
guntur 1609
rasakan kau dibi. seorang perwira kok gak pakai otak. masih sj berkhianat dengan mudahnya. waktu hamil. istrimu kau abaikan sekarang kau dikasih pelajaran sm pelangikan
guntur 1609
aku rasa pelangi belum mati
guntur 1609
sedih kata2 terakhir pelangi
guntur 1609
dasar bodat kau dibi. sanggup istrimu hamil kau gitukan. pantaslah kau dipukuli sm si kembar
guntur 1609
kau ja yg gak punya otak. ketika istrimu periksa. di alihat kau sm oelakormu
guntur 1609
mampus kau dibi, nyesal kau kn
guntur 1609
sekarang kau bru nyesal
Shifa Burhan
pelukan teman, ujung ditebut juga

pelakor dan pebinor sama laknat

jika ada yang membela pelakor dia sama laknat nya begitu juga kalau ada yang membels pebinor sama laknat nya juga

dan lagi thor apakah jika suami berpelukan dengan wanita lain dengan alasan pelukan teman, apakah kau Terima begitu saja dan anggap itu hal benar

thor jadi lah wanita bijak
Sri Watigustami
kecewa aq thor,emg didi bersalah to masa gk ada kesempatan kdua,maunya cinta didi dan pelangi bersatu,to malah gini endingnya🤦
Sri Watigustami
ya Allah thor knp aq 😭😭 terus.
3sna
ini suraat
Ran Aulia
huwaaa kejer. 😥😥😥😥😥😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!