Delima Anastasia : Hidup dengan sederhana, dipertemukan dengan CEO di temat ia bekerja. Semenjak bertemu dengan CEO itu, ia sudah mempunyai perasaan kepada bos muda di kantornya, dengan hobinya menulis maka ia salurkan menjadi sebuah cerita didalam novelnya.
Sampai suatu hari ia merasa bahwa CEOnya itu mengawasinya dari jauh dan mulai bersikap tidak wajar, membuat Delima merasa selalu di awasi.
"Aku tidak tau takdir membawaku kemana, yang jelas jangan buat aku menderita Tuhan."
Derel Sean Miller :
"Setelah kau jadikan aku fantasimu membuat sebuah cerita, apakah aku akan membiarkanmu pergi dengan mudahnya?"
Tidak akan Delima, kau akan tetap di sini, di tempat yang seharusnya yaitu di sisi ku, kau adalah milikku dan siapapun tak akan ku biarkan milikku di ganggu ataupun disentuh orang.
Kau akan menjadi milikku, karna dari awal kau memanglah tercipta untukku. Apapun caranya itu pasti akan aku buktikan tidak akan lama lagi Del.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KarismaAd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Nampak di pagi yang cerah, seorang gadis sedang memandang pantulan dirinya di cermin. Yang senantiasa memberi semangat untuk dirinya.
Kemaren, ia melihat pemandangan yang membuat hatinya hancur. Saat ini ia seperti orang tanpa kehidupan, yang lesu, lunglai, dan lemah. Lengkap sudah yang ia rasakan.
Coba tebak, siapa gadis itu?
Youpss,, tebakan kalian benar, ia adalah Delima Anastasia.
Mencoba melupakan, tapi tak bisa. Berjuang eh malah sudah mundur duluan. Ya begitulahDelima.
Mencintai tak semuanya harus memiliki, cukup dalam diam, bahkan dia yang dicintai tak tau, tentang perasaan Delima padanya.
Walau menyakitkan perasaannya, tapi ia akan tetap menerimanya. Mencintai tanpa syarat itu adalah cinta murni dan tulus.
Tapi disisi lain, ia bimbang. Disaat ia melupakan orang di masa lalunya. Meskipun masih samar-samar, walau tak sepenuhnya, tapi itu cukup membuatnya rindu, dengan prince lumba-lumbanya.
Delima baru mengingat prince lumba-lumbanya, waktu ia masih SMA. Itupun di semester akhir dan hannya di ketahui oleh adiknya.
Pantasan saja, sebelum mendapatkan kepingan-kepingan memori yang samar, ia serasa hatinya dijaga, bahkan ia merasa heran sendiri dan tak tau siapa itu.
Setiap ada cowok yang mendekatinya, dan mengajak pacaran, ditolak mentah-mentah. Karna hati, jiwa dan raganya serasa sudah ada yang memiliki. Bahkan celah sekecil apapun, tidak diperbolehkan masuk. Untuk meraih hatinya.
Bukannya Delima tidak mencoba, untuk membuka hatinya. Disaat dia menerima dengan keras perasaan dari orang yang mencinyainya di srkolah dulu. Maka dengan keras pula hatinya menolak, dan membuat dia sakit selama dua minggu.
Semenjak itu, ia tidak pernah memaksakan hatinya, untuk menerima perasaan orang yang menembaknya.
Tapi beda halnya dengan waktu pertama ia masuk kerja. Saat pertama kali, ia melihat CEO di kantor, walaupun hanya sebuah foto yang di tempel di majalah. Itu sukses memporak porandakan hatinya.
Ia merasa tertarik dengan bosnya, seakan hati dan jiwannya tidak berontak sedikit pun. Bahkan hatinya welcome, menyambut peraaannya kepada pak bosnya.
"Derr... Derr..." Bunyi hendphone, yang membuyarkan lamunan Delima.
Sebelum Delima mengankat hendphone, ia melihat siapa yang menelfonnya. Langsung saja ia mengangkat.
"Hello, Dea ada apa?" tanya Delima, dengan seseorang yang berada di seberang hendphone sana.
"Ya ampun Adel, lo kebiasaan ya. Lo lupa hari ini kita ada rapat di kantor. Dan coba gue tebak, lo masih di rumah ya. Gue capek tau terus ngigetin lo mulu." Ucap Dea panjang lebar, seakan ia memarahi gurunya yang gak patuh.
"Iya.. Iya.. Ma'af deh. Gue segera meluncur, menuju ke lokasi di tempat lo sekarang.
"Ya udah gue tunggu, cepat ya. Soalnya bentar lagi kita meeting, sama pak bo.."
"Tut..Tut.. Tut..."
Ya elah langsung dimatiin, gue mau bilang kalau kita itu meeting sama pak bos pemimpin perusahaan ini. Biarin aja, nanti dia tau sendiri." Gumaman Dea.
Setelah 25 menit berlalu, akhirnya Delima sampai juga. Dengan nafas yang tidak teratur, keringat yang bercucuran mengalir di dahi dan pelipis matanya.
"Untung saja ada waktu sekitar 10 menit lagi. Kalau tidak kelarlah dirimu Delima, harapan untuk naik jabatan akan segera pupus, kemungkinan di pecat peluangnya sangatlah besar. Segera ucapkan goodbay, pada rekan-rekanmu." Monolog Delima.
Seketika ia terkejut dengan suara yang menggelegar, siapa lagi kalau bukan sahabatnya, yang tak lain ialah Dea cerewet.
" Adel, astaga... Lo habis di kejar anjing atau hantu sih. Sampai kayak gini penampilan lo." Dea berucap histeris kepada Adel, kerena melihat penampilan dari sahabatnya sangat berantakan.
"Dea, sejak kapan lo jadi secerewet ini sih, biasanya yang cerewet itu Dista." Keluh Delima, sambil merapikan tampilannya yang berantakan dan mengelap peluh di wajahnya.
"Ya, karna Dista gak ada, ya gue yang gantiin sementara, gimana cocok gak, gue jadi cerewet." Menaik turunkan alisnya dan tersenyum, bukannya imut, malah buat orang jengkel.
"Yaudah, terserah lo deh." Dengan malas delima menjawab.
Sekarang mereka sudah berada di interior di khusus untu meeting karyawan dan petinggi lainnya.
Untung saja hari ini yang meeting cuma karyawan khusus staf keuangan. Tapi entah mengapa yang turut hadir rapat kali ini Pak Boss besar, yaitu Derel Sean miller, dan itu tidak diketahui oleh Delima.
Barusaja Delima duduk, sudah ada aja yang memanggilnya.
"Hello kak Adel, kakak kok baru datang sih, dari tadi aku cariin," Dengan menampilkan puppy eyes ya ke delima, dengan berkata penuh manja.
Seketika orang yang berada di situ, memalingkan wajahnya, karna tidak kuat melihat keimutan, makhluk tuhan yang satu ini.
"Hallo juga adeknya kakak, ya ampun kamu imut sekali, sayang." Delima merentangkan kedua tangannya dan langsung di sambut oleh Resti.
Dea juga tidak tinggal diam, dia juga memeluk ke duanya. Jadilah mereka saling memeluk bertiga.
"Kak Dea, aku susah nafasnya, jangan terlalu erat pelukannya." Dengan kesalnya Resti berucap.
"Hehehe.. Kakak kan gak sengaja, soalnya kalian pelukan gak gajak-gajak." Dea berucap sambil cengengesan.
Sambil menunggu bosnya, mereka melakukan pengecekan tentang laporan keuangan, yang mereka kerjakan.
Berbeda dengan Delima, bukannya melihat berkas yang sedang ia kerjakan. Malahan melihat dan membalas komentar dari pembacanya, sambil senyum-senyum sendiri.
Sampai Delima tak sadar kalau CEO di kantornya sudah datang bersama dengan sekretaris dan asisten pribadinya.
Sampai mereka telah duduk di meja masing-masing, semua orang sudah tegang, tapi beda dengan Delima. Ia masih senyum-senyum tak jelas sambil mengetik sesuatu di hpnya.
"ekhem.." Berdehen sambil menatap Delima, dengan tatapan yang sulit di atrikan.
Yang sedang didehemin malah tidak mendengar, malah asik dengan kegiatannya sendiri. Semuanya sudah tegang dan berdo'a agar Delima tidak dapat SP atau PHK. Mereka kasihan kepada Delima, apalagi di antara mereka, Delima yang paling berpotensi di antara yang lain.
Jika sampai Delima di keluarkan, maka pekerjaan mereka, bertambah banyak dan akan keteteran semua.
Seakan tahu apa yang membuat bosnya berdehem, Bram langsu berdehem juga.
"Ekhem... Ekhemm.." Bram berdehem sambil tersenyum dengan sedikit menggeleng.
Baru Delima tersadar, karna terdengar deheman dari seseorang. Ia mengangkat kepalanya dan melihat ke depan, seketika ia terkejut.
"Deg.. Nasib gue memang kayak gininya, Gue menghindar, eh malah di pertemukan bahkan sering ketemu, kebetulan macam apa lagi ini." monolong Delima, sambil menunduk.
Karna saat ini telinga dan wajahnya sudah merona merah. Bukan hanya karna malu, tapi juga menyembunyikan rasa sukanya pada Pak Bosnya.
Rasanya Delima ingin menenggelamkan dirinya saja ke laut, Sungguh sangat malu, bahkan semua mata tertuju pada delima.
Karna yang memimpin rapat kali ini adalah orang yang sangat ia hindari selama ini.
Disisi lain, dua pria sedang melihat ke arah Delima, seketika keduanya tersenyum dengan melihat tingkah Delima.
Walaupu senyumnya cuma sekilas, tapi mempunyai makna tersembunyi. Entahlah apa yang ada di fikiran mereka masing-masing.
Tanpa mereka sadari, ada seorang gadis yang melihat ke arah Derel, dengan tatapan yang tidak biasa. Seakan mempunyai makna tersembunyi.
"Jadi aku tau, siapa yang membuat kamu bahagia, dan aku tidak salah pilih." Suara hati gadis itu, dengan senyum misteriusnya.
Setelah kejadian tadi berlalu, mereka akhirnya lenga. Karna mereka selamat dari amarah dari CEO. dan bersyukur kalau temannya Delima juga selamat dari tatapan maut itu.
Delima dan rekan-rekannya sekarang berada di meja masing-masing.
"Pokoknya gue gak boleh lakuin hal konyol kayak tadi, Adel lain kali lo harus hati-hati lagi ok." Bicara dalam hati, dengan memberikan peringatan. Supaya tidak melakukan hal yang sama lagi, tekan di dirinya sendiri.