Novel ini berkisahkan tentang pernikahan yang terjadi karena adanya perjodohan,
Namun pernikahan yang mulanya berjalan tanpa Cinta itu, dapat berubah. Dua insan yang mulanya tidak saling mengenal, kini saling tidak ingin meninggalkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANISA RANI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALAH MEMILIH
Lalu, sesampainya dirumah Zahra langsung membantu para ART dirumahnya untuk menyusun hidangan makanan. Dan setelah selesai membantu menyusun hidangan-hidangan makanan itupun, Zahra masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan menyiapkan dirinya guna menyambut teman lama ayahnya serta putranya
Setelah Zahra selesai dengan acara mandinya juga berpakaian, diapun turun ke lantai bawah. Dilihatnya keluarganya dan para ART dirumahnya sangat sibuk kesana kemari. Sedangkan Zahra yang merasa bosan, karena mendapati semua orang-orang dirumahnya sibuk itupun memutuskan untuk duduk diayunan taman belakang rumahnya
"Huufft.. ini baru perjodohan, bagaimana kalau sudah ditahap pernikahan nanti ya?" (Ucap Zahra yang bicara seorang diri)
"Memangnya pria seperti apa sih yang abah pilih untukku itu? apa benar dia sangat baik juga bertanggung jawab, seperti yang dibilang oleh kakak?" (Ucapnya lagi)
Dan saat dia sedang asik menatap langit malam, Mujnah pun memanggilnya
"Dik, ayo masuk. Tamu kita sudah datang" (Ucap Mujnah yang membuat Zahra seketika menoleh pada kakaknya)
"Iyaa kak" (Jawab Zahra singkat seraya turun dari ayunan dan melangkah menyusul kakaknya kedalam rumah)
Ketika Zahra berjalan kearah ruang keluarga, Zahra sejenak memandang seorang remaja pria yang sedang duduk disamping pria paruh baya seumuran ayahnya itu. Dan, perawakan itu tidak asing juga untuk Zahra
"Zahra, kamu duduk disebelah sana dulu nak. Kami masih membicarakan hal-hal mengenai khitbahmu, sebentar lagi abah akan memanggilmu kemari" (Perintah ayah Abidzar pada Zahra)
Deggg
"Zahra? apa mungkin? ahh tidak, tidakk" gumam Izzan dalam hati ketika mendengar nama Zahra yang disebutkan oleh ayah Abidzar
Sementara Zahra, kini dia berada dibalik tembok ruang keluarganya. Dia ditemani oleh Fatimah, dan Fatimah yang merasa tangan adiknya bergetar itupun dengan cepat menggenggam tangan sang adik
"Zahra... percayalah pada abah, pastinya abah sudah memilih pria yang tepat untukmu" (Ucap Fatimah yang mencoba menenangkan Zahra)
"Tapi kak, kalau tahap pengenalanku ini dipercepat bagaimana?" (Tanya Zahra pada kakaknya dengan nada yang sangat pelan)
"Itu malah lebih baik dik" (Jawab Fatimah yang membuat Zahra mengangguk dan tersenyum terpaksa)
Bila Zahra merasa takut dengan perjodohannya, hal itu berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Izzan. Izzan tampak biasa saja dengan perjodohan ini. Karena bagi Izzan yang memang sudah beberapa kali mempunyai hubungan cukup dekat dengan wanita pun, tidak pusing nantinya untuk menyikapi sikap-sikap wanita
Izzan terus mendengarkan apa yang diucapkan oleh papa Irfan, ayah Abidzar, kak Aziz juga kak Hafidz. Sementara, ummi Marwah juga Mujnah hanya ikut mendengarkan pada ke empat laki-laki dewasa itu berbicara. Dan setelah selesai membahas tentang hal-hal mengenai perjodohan Zahra pun, ayah Abidzar meminta Mujnah untuk memanggil adiknya
Zahra yang sudah mendapat panggilan dari ayahnya pun langsung berjalan mendekat ke arah sofa besar, yang ada diruang keluarganya itu. Ketika Zahra ingin menyalimi papa Irfan, Zahra pun tersentak kaget. Ternyata, anak dari pemilik sekaligus pemimpin yayasan sekolahnya lah yang akan dijodohkan dengannya
Tangan Zahra kembali bergetar, tangan dan lidah Zahra merasa kelu untuk menyalimi serta memberi salam pada papa Irfan. ummi Marwah yang melihat itupun, mendekat ke arah Zahra dan ditepuknya pundak Zahra dengan pelan
"Nakk..kamu kenapa..? ciumlah punggung tangan calon ayah mertuamu ini" (Ucap ummi Marwah dengan lembut, yang membuat Zahra tersadar dan langsung mencium punggung tangan papa Irfan)
"Assalamualaikum, om" (Ucap Zahra memberi salam, sambil mencium punggung tangan papa Irfan)
"Waalaikumussalam, nak" (Jawab papa Irfan sambil mengelus puncak kepala Zahra)
Zahra tersenyum kikuk pada papa Irfan, sementara Izzan yang juga sedari tadi merasa lidahnya kelu pun hanya menatap wajah Zahra dengan tatapan yang tidak bisa diartikan
Zahra kini sudah duduk disamping kak Fatimah, Zahra hanya menundukkan kepalanya sambil mendengarkan apa saja yang dibicarakan oleh keluarganya mengenai perjodohannya itu. Zahra pun menjadi sangat canggung untuk menatap wajah Izzan, dia merasa ini semua terlalu cepat untuknya
"Ya Tuhan, apakah Izzan memang laki-laki yang baik? apakah dia benar-benar penyayang? Dan, apakah abah tidak salah memilihkan pria untuk menjadi imamku ini?" gumam Zahra dalam hati dengan penuh rasa takut yang bergejolak
"Aku masih tidak percaya, kalau gadis keras kepala inilah yang akan ku miliki. Apa papa yakin aku dan dia bisa saling mencintai nanti?" gumam Izzan sambil menatap Zahra yang masih saja menundukkan kepalanya