Aisyah, seorang gadis cantik dari keluarga yang sederhana. Diumurnya yang ke 17 tahun, ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya harus bercerai, dan itu sangat melukai hatinya. Sangat sulit baginya untuk mencerna apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya.
Diumur Aisyah yang terbilang masih remaja kecil, Aisyah harus memikul beban yang sangat berat. Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Bagaimanakah nasib seorang anak seumuran dia harus memikul tanggung jawab seberat ini?
Simak terus kisahnya hanya di Noveltoon.
Follow ig author ya
@rafizqi0202
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Hari Raya Lebaran
"Tidak apa-apa, ini rejeki untuk kamu, jangan menolak rejeki" Ujar Pak Rangga dengan terus menolak uang kembalian dari Asiyah.
"Baik pak. Terimakasih" Balas Aisyah, lalu Rangga pun mengangguk pelan dan pergi dari sana dengan membawa kue yang ia beli tadi menuju ruangan guru.
**
Jam pulang sekolah pun tiba. Aisyah bersiap-siap untuk menjemput adiknya dengan motor Beat Pink kesayangannya menuju sekolahan tempat adiknya bersekolah.
Setelah sampai.
Terlihat Emi sedang duduk di kursi panjang bawah pohon depan sekolahannya. Mungkin sudah cukup lama ia menunggu Aisyah disana, itu terlihat dari keringat yang membasahi wajahnya karena terik matahari siang ini yang sangat luar biasa panasnya.
Motor yang Aisyah bawa pun berhenti tepat di depan Emi, membuat gadis kecil itu tersenyum senang melihat kakaknya sudah sampai.
Tidak butuh waktu lama, Emi pun segera menaiki motor kakaknya. Tidak lupa ia mengambil keranjang jualan dari tangan kakaknya untuk ia pegang.
Aisyah pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah kontrakan mereka.
Tidak butuh waktu lama, kini Aisyah memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Mereka masuk secara bersamaan, dan tidak lupa menyapa sang ibu dan juga si adik bayi yang masih di dalam gendongan ibunya itu.
****
Tidak terasa, hari raya idul Fitri pun telah tiba. Hari dimana sudah menjadi kebiasaan semua umat muslim untuk berkumpul bersama keluarga serta kerabatnya yang ada.
Hari raya adalah hari yang selalu di tunggu-tunggu setiap orang untuk menyambut kebahagiaan setelah berakhirnya bulan suci Ramadhan.
Suara takbir pun ikut menyeru dari berbagai penghujung Masjid. Sungguh irama yang sangat menyentuh kalbu.
Sementara itu, terlihat Aisyah masih duduk termenung di pinggir jendelanya. di tatapnya hamparan langit yang luas berwarna biru dengan sedikit di hiasi awan putih yang indah di atas sana.
Ada rasa bahagia dihatinya, namun juga ada rasa sedih yang melanda hatinya. Aisyah mengingat dengan jelas, hari ini adalah lebaran pertama paska perceraian antara ibu dan ayahnya beberapa bulan yang lalu. Itu artinya, lebaran kali ini tidak ada kehadiran seorang ayah di rumah mereka. Entah hanya untuk kali ini atau malah untuk selamanya tanpa ayah.
Rumah terasa begitu sunyi. Tidak ada suara tawa kebahagiaan yang biasa terdengar riuh, tidak ada lagi keributan serta drama yang terjadi di sana, yang terlihat hanyalah sebuah kesunyian tiada arti.
Terkadang rasa iri menyelimuti hati, kala melihat anak-anak lain bersuka ria bersama keluarganya.
Bayang-bayang semu sebuah kenangan, membuat hati seorang anak merindukan kehangatan di dalam keluarganya. Namun semua itu terasa mustahil, ketika kenyataan terasa lebih pahit dari sebuah harapan, hingga menyisakan penderitaan.
Aisyah terus meratapi nasib yang ia terima, ada rasa benci, bahkan sebuah ketidakadilan ia rasakan kepada hidupnya saat ini.
"Kenapa? Kenapa sesakit ini?"
"Kenapa kau berikan rasa sakit ini yang tidak bisa aku atasi? Merindu kepada seseorang yang tidak perduli kepadamu apakah itu pantas kau lakukan? Kenapa hidup ku tidak seperti kehidupan orang lain? Kenapa kau berikan aku cinta oleh kasih sayangmu, lalu kemudian kau hempaskan begitu saja hingga menyisakan kebencian. Kenapa ayah, kenapa? Aku benci hidupku, aku benci dirimu"
Aisyah menangis dalam diam dengan menerutuki dirinya sendiri, lalu seketika tangannya merobek dengan geram foto sang ayah yang ia pegang sejak tadi hingga menjadi potongan-potongan kecil tanpa tersisa sedikitpun.
.
.
.
.
.
Bersambung.
aku di tinggal ayah dan ibu semenjak berpisah aku dan sodara" ku di rawat nenek kakek dari ibu singkat cerita aku sudah berumah tangga dan punya anak dua lalu ayah ku datang sudah sakit keras gagal ginjal aku rawat di bawa ke rumah sakit bergantian sama sodara" ku yg sekota kadang adik ku yg bawa ke rumah sakit untuk cuci darah seminggu dua kali kalou pulang bapak tetap mau ke rumah ku ga mau tinggal di anak yg lain terus yg 2 lagi kakak dan adik laki" ku tinggal nya di Kalimantan
kakak dan adik ku ngirim uang buat keperluan bapak kita gotong royong saling menjaga bapak..
aku suka kesel kalou ingat ibu tiri dan anak dari bapak mereka semua membuang bapak ku ketika bapak sakit keras😭 ko ada yah perempuan sekejam ibu tiri ku kirain di novel saja😂 sebelum bapak menghembuskan napas terakhir nya beliou mengaku bahwa menyesal karna telah menelantarkan kami anak" nya kalou inget bapak sekarang saya cuman bisa berdoa
bapak belum lama pergi belum ada 100 hari Al-Fatihah buat bapak ku🤲😭🙏