Ini kisah cinta yang rumit. Antara seorang duda labil bernama Arfan Rahardian dan gadis mini bernama Rea Kusuma.
Di tahun sebelumnya, sepasang kekasih ini pernah batal menikah. Dan dua tahun setelahnya mereka kembali dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
Ego, salah faham, dan tinggi hati, mewarnai hari-hari dalam pernikahan Rea dan Arfan. Sikap dingin dan keras kepala dalam diri Arfan sangat bertolak belakang dengan Rea yang super hangat serta perhatian.
Bagaimanakah kisah mereka? Baca saja di episodnya:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ranimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duda Labil!!!
"Katanya mau dapetin hati aku! Tapi ketemuan sama cowok laen!" Rutuk Arfan didalam kamar, kakinya ia bawa mondar-mandir tepat di sebelah dipannya.
"Arrrgh si*l kenapa lelaki itu harus datang hari ini, merusak moodku saja, cih." Mengacak-ngacak rambutnya kemudian duduk diatas dipannya dengan melipat kedua tangan dibawah dada.
Sejenak ia terdiam, sebenarnya apa yang sedang ia lakukan saat ini? Otaknya terus berfikir, perihal apa ia harus meninggalkan cafe seperti itu tadi? Dan apa yang ia lakukan pada Rea tadi, dengan tiba-tiba ia berkata jutek padanya. Apa ia masih mencintai Rea?
Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar. Firasatnya mengatakan itu adalah Rea. Hatinya masih terenyuh saat melihat pertemuan Rea dengan lelaki yang sangat ia hindari tadi sore.
Tangannya segera mengambil sebuah buku, kemudian kembali duduk diatas dipannya sembari membuka buku tersebut. Berhubung tidak dikunci, Arfan menyuruh orang diluar tersebut untuk masuk tanpa membuka pintunya terlebih dahulu.
"Kak? Kok belum turun, makanannya sudah siap." Firasat Arfan seratus persen benar, dia Rea. Lelaki angkuh itu masih diam dan fokus pada buku yang seolah sedang ia baca.
"Kak, Kau mendengarku?" Masih tidak ada jawaban, pria itu malah membuka lembaran baru dari buku yang ia pegang.
"(Menghela nafas) Aku ada salah apa sama kakak, bilang aja jangan diem kayak gitu." Namanya juga pria angkuh, ia tetap bersikeras dengan sikapnya, diam.
"Suatu hari kakak akan merasakan, bagaimana rasanya saat kakak ngomong tapi gak direspon! Terserah kakak mau apa." Kata Rea kemudian meninggalkan kamar Arfan tersebut.
Nyuut ...
"Itu, dia nyumpahin aku ya?" Lirih Arfan saat Rea menutup pintu kamarnya.
Sedangkan diluar sana ...
"Huuu ... dasar duda angkuh, Ngapain coba ngediemin aku, emang aku salah apa?" Rutuk Rea dengan meremas kedua telapak tangannya.
"Hufft ... udah kayak dinovel-novel aja kan jadinya, dasar Suamiku AC!" Gadis mini ini masih merutuki suaminya yang bersikap dingin bagaikan Pendingin Ruangan. Rasa laparnya hilang, moodnya hancur, sama seperti hatinya, ambyar!
Rea memasuki kamarnya dan melihat Nathan masih tertidur diatas dipannya. Memandang dengan tatapan sendu pada anak tirinya tersebut. Rea berfikir, sampai kapan ia bisa bertahan dengan sikap Arfan yang seperti ini. Lelaki itu sudah dewasa, ia memiliki satu anak, tapi kelakuannya seperti anak kecil, membuat frustasi saja.
Dert ... Dert ... Gawainya bergetar.
"Siapa, malam-malam begini telphone aku? Mana belum disimpen lagi nomernya." Rea menekan ikon merah digawainya tersebut, ia tidak biasa mengangkat nomer tidak dikenal.
Dert ... Dert ... Benda pipih itu kembali bergetar, kali ini Nathan terganggu dengan suara getaran benda itu, tak ingin membuat Nathan terbangun, terpaksa ia angkat.
"Hallo ini siapa?" To the point Rea, dia malas bertele-tele dengan orang yang tidak dikenal.
📞 "Waalaikumssalam warahmatullahi wabarakatuh." Ucap lelaki diujung sana.
"Faruk! Kamu dapet dari mana nomer aku?" Tanya Rea saat mendengar suara lelaki itu, ia sangat hafal dengan suara khas lelaki diujung sana.
📞 "Kamu lupa tadi kita udah tukeran nomer waktu di Cafe?"
"Ya ampun, iya aku lupa, ada apa kamu telphone aku malam-malam kayak gini?" Tanya Rea dengan suara memelan, ia takut anak tirinya itu akan terbangun jika ia berbicara dengan lepas. Gadis mini itu membawa tubuhnya mendekati jendela kamarnya, menjauh dari Nathan.
📞 "Gak apa-apa sih, aku tuh kangen aja bisa kumpul bareng sama kamu, kamu kapan ada waktu luang?"
"Besok aku dirumah aja sih, kenapa emang?" Tanya Rea, tanpa ia sadari pintu kamarnya sudah terbuka dengan seorang lelaki berbadan kekar dibelakangnya.
"Dia sedang bicara dengan siapa itu?" Batin Arfan.
📞 "Ada deh, surprise." Dengan sumringah diujung sana.
"Faruk!!! Sifat kamu yang bikin kepo gak pernah luntur ya!" Rea mendengus kesal, tapi ia tidak tahu ekspresi apa yang Arfan berikan dibelakangnya.
"Lelaki itu lagi!!!" Tetiba mood Arfan kembali ambyar, saat mendengar nama lelaki itu, bayangan perjuangannya merebut Rea dua tahun lalu seketika mencuat dari otakanya.
Itulah salah satu alasan mengapa Arfan mempunyai rasa kekecewaan pada Rea, ia sudah berjuang untuk bisa bersanding dengannya mati-matian, tetapi Rea malah menolaknya tepat dihari pernikahan mereka.
Arfan masih sangat ingat bagaimana pertemuan terakhirnya dengan Faruk saat itu yang memutuskan untuk melepaskan Rea.
"Rea sama gue itu saling cinta, lo tuh sadar diri Ruk!" Kata Arfan, menunjuk wajah Faruk dengan telunjuknya.
"Lo egois Fan! Gue juga manusia, gue berhak perjuangin apa yang gue suka!" Timpal Faruk tak mau kalah.
"Kalau lo cinta sama Rea, lo harusnya lepasin Rea, biar dia bisa bahagia sama gue!" Kata Arfan penuh penekanan.
"Dari mana lo tahu dia bakal bahagia sama lo? Jelas-jelas gue ini sahabatnya, pasti dia bakal lebih bahagia sama gue!" Telunjuk Faruk menekan dada Arfan menunjukan intimidasinya.
"Gue tau semuanya Ruk, lo udah nyatain perasaan kan sama Rea? Dan gue juga tahu pasti jawaban yang diberikan Rea untuk lo!" Arfan menepiskan telunjuk Faruk yang mengintimidasi dirinya.
"Rea gak nerima lo kan! Dia bilang, lo itu udah kayak kakak kandung dia sendiri, dia gak mau kehilangan lo jika suatu saat terjadi sesuatu pada hubungan kalian!" Kali ini Arfan yang mengintimidasi Faruk dengan tatapan super tajamnya.
Faruk terdiam, lidahnya kelu tak dapat menyanggah kalimat Arfan, karena memang yang Arfan katakan itu benar adanya. Sedih, hatinya berdesir dunia sedikit tidak adil padanya. Kenapa ia terlahir hanya menjadi teman karib Rea, bukannya teman hidup Rea.
"(Menghela nafas) Lo jaga baik-baik Rea! Jangan buat dia sakit hati! Atau! Gue akan ngehajar lo habis-habisan!" Pria yang tidak terlalu tinggi ini menepuk bahu Arfan kemudian pergi meninggalkan saingannya itu.
"Iya-iya lain kali aku ucapin salam dulu." Kalimat yang terlontar dari Rea itu membuyarkan bayangan Arfan dua tahun lalu bersama Faruk.
Hati Arfan geram, bagaimana mungkin istrinya ini berbicara lewat telphone dimalam hari bersama lelaki lain, tidak bisa dibiarkan!
"Rea?" Panggil Arfan sedikit Keras, sengaja ia lakukan supaya Faruk diujung sana mampu mendengar suaranya. Seketika gadis mini itu membalikkan wajahnya. "Ini bukan imajimasi aku kan?" Lirihnya, ia masih terbayang akan khayalannya tadi pagi.
"Ayo makan malam? Katanya sudah siap!" Lagi-lagi ia meninggikan suaranya, sengaja supaya lelaki diujung sana panas!
Ibu tirinya Nathan itu memasang wajah datar, ia sedikit bingung dengan sikap Arfan yang suka berubah-ubah, dasar duda labil!
Rea juga masih mencerna yang baru saja terjadi, apakah ia kembali berimajinasi? Barusan Arfan memanggil namanya.
"Kau sedang berbicara dengan siapa? Matikan dulu ya? TIDAK PENTING, ayo kita makan." Kata Arfan penuh penekanan saat mengatakan 'Tidak Penting'.
Mengambil gawai milik istrinya kemudian mematikan sambungan telphone tersebut. Tangannya memegang pergelangan tangan Rea dan menariknya untuk keluar ruangan.
Rea hanya diam tak berkutik, baginya ini seperti mimpi. Pertama, Arfan memanggil namanya, kedua, suaminya ini memegang tangannya, sungguh sulit dipercaya.
Saat ini keduanya sudah berada dimeja makan, semua sudah tersusun rapih disana. Namun masakannya sudah cukup dingin.
Arfan sudah duduk dikursinya, tetapi Rea masih terpaku menatap suaminya itu.
"Ayo cepat sajikan makananku." Kalimat Arfan membuyarkan tatapan kosong Rea. Istrinya itu mulai menuangkan nasi dan lauk kesukaan suaminya.
Keduanya makan bersamaan, tidak ada kalimat yang keluar, hanya suara sendok dan piring bertabrakan yang mengisi kesunyian dalam ruangan itu. Saat ini Rea lebih banyak diam, tidak ada basa-basi sedikitpun yang keluar dari mulutnya, Arfan mulai resah!
"Sepertinya aku harus berbuat sesuatu untuk membatalkan rencananya itu!" Kata Arfan sembari melirik wajah istrinya.
Bersambung ...
🌷🌷🌷
Kira-kira babang Arfan mau ngelakuin apa ya buat batalin rencana si Faruk? Sertakan jawaban kalian di comentar ya? Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca cerita simpel ini☺ salam hangatku😊Rani.
ceritanya bagus bangettt,,,semangat ya kk😁
hai teman teman ayo mampir di novel ku yang berjudul "ANA UHIBBUKA FILLAH USTADZ" ayo vote dan like yaa kakak kakak adik adik supaya saya bisa semangat up ceritanyaa
mataku samoek bengkak 😭😭😭