Judul : Fighter System/I Can Fight Better than You
Author : Miku
****
Budi yang telah lelah dirundung oleh teman-temannya, mulai berani unjuk gigi. Ia menantang preman di sekolahnya untuk bertarung. Semua tertawa saat mendengarnya, tentu saja, mana bisa Budi menang dengan tubuh krempeng seperti itu.
Ding!
[Apa Anda ingin menjadi lebih kuat?]
Sebuah panel transparan tiba-tiba muncul di depan Budi saat dia merasa putus asa. Tulisan dengan font futuristik ini memberikan dua pilihan kepadanya. Ya atau Tidak!
Ya!
Siapa sangka, sejak hari itu kehidupan Budi mulai berubah.
Balas dendam kepada para pembully untuk menaikkan status di sekolah! Memukul dan menendang demi menyelesaikan misi yang ada! Bertambah kuat setiap harinya demi memperoleh kepercayaan!
Persetan dengan Taekwondo, Muaythai, Tinju, atau apalah itu!
Budi bertekad menjadi master pertarungan jalanan yang disegani semua orang!
Fighter System.
Kategori Urban - Tag 3 : Sistem
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 12 : Ran, Teman Masa Kecil
...****...
"Loh, hahaha! Kamu masih inget aku?" Gadis itu tersenyum lepas, membuat siapapun yang memandangnya akan terpana.
Kirana Permatasari, atau gadis yang sering disapa dengan panggilan Ran, nama yang sudah tak asing lagi bagi Budi. Seorang gadis pintar nan baik hati yang sering menjadi teman bermainnya dulu semasa kecil. Karena kepribadiannya yang sangat ramah dan rendah hati, membuat Kirana menjadi idaman para cowok sejak dulu.
Termasuk Budi. Hidupnya yang sangat kelam mendadak berubah menjadi penuh warna saat Kirana hadir. Perlahan, benih-benih cinta mulai tumbuh dalam hatinya.
Sampai hari ini. Hari di mana dia dipertemukan oleh cewek yang telah dia sukai setelah lima tahun lamanya. "A-Ah, ya ...." Budi menjawab dengan perasaan gugup yang menyelimuti benaknya. Terlebih lagi, wajahnya semakin memerah setiap detiknya. Ia tak ingin membuat Kirana merasa tidak nyaman dengan hal itu.
"Eh? Kalian saling kenal?" Di saat Budi tengah terjebak dalam situasi canggung, Riyan menyela pembicaraan, "Wahh ... beruntung banget!"
Kirana menatap adiknya itu sambil tertawa. "Yah, kakak ini namanya Kak Budi. Dia itu teman masa kecil Kakak," jelasnya lalu beralih melirik Budi, "tapi, waktu SMP kita beda sekolah. Jadi pisah deh haha!"
Budi tak mengucap satu kalimatpun. Ia hanya terdiam dengan seluruh uneg-uneg dalam hatinya yang menjerit agar dia dapat pulang dengan cepat.
"Oohh ... kisah cinta yang manis!" goda Riyan, membuat Kirana seketika salah tingkah.
"Apa sih~?" Gadis itu memegangi kedua sisi pipi adiknya. "Masih kecil gitu mana tau soal cinta-cintaan? Udah, ganti baju sana!" lanjutnya memerintah seraya melepaskan tangan yang mengunci pipi tersebut.
Riyan menatap tajam kakak perempuannya. "Jadi, kakak nggak mau diganggu nih?" Ia membuat wajah aneh dengan kalimat godaan yang mendukung.
"APA SIH?!" Wajah Ran semakin memerah.
Riyan segera berlari dari tempat awal dia berdiri. "Khiihihihi ...." Anak itu berlari dengan ekspresi wajah penuh kepuasan.
Ran tersipu malu dan Budi nyaris pingsan.
Jantung mereka berdua berdetak lebih cepat dari biasanya, akan tetapi, Budi lah yang lebih cepat. Jika ia mendengar kalimat-kalimat tentang dirinya dan Ran lagi, mungkin, ia akan benar-benar pingsan.
"Bud, anu ... jangan terlalu dipikirin, ya?" ucap Ran memecah keheningan, "adikku emang kadang suka jahil. Tapi, sebenernya dia cuma lagi bercanda kok. Jadi, nggak usah dipikirin terlalu dalam, ya?"
Budi menatap kosong gadis di depannya. Ia lantas mengangguk gugup untuk menyetujui apa yang dikatakan. "O-oke."
"Ya-ya udah. Masuk dulu, Bud! Aku buatin minuman," ajaknya, "kamu mau minum apa?"
Budi spontan menggeleng. "Eh, ngg-nggak usah! Lagian, aku juga mau pulang–"
Sebelum Budi menyelesaikan kalimat penolakannya, Ran langsung menarik tangan cowok itu dan memaksanya masuk. "Udah, nggak usah sungkan! Orang tuaku lagi kerja di luar kota hihi!" bujuknya kemudian.
Budi tak bisa melakukan apapun. Ia hanya terdiam mengikuti alur. Ran menyeretnya masuk ke dalam rumah.
Seorang laki-laki dan perempuan di rumah berduaan.
Untuk sekarang, Riyan yang sedang sibuk menonton lanjutan dari series film anime favoritnya, tak diperhitungkan.
"Duduk dulu, Bud. Aku buatin teh aja, ya?" Ran tersenyum mempersilahkan sang tamu untuk duduk.
Budi menganggukkan kepala. "Iya," jawabnya singkat.
Selepas mendapat pengakuan, Ran lantas berjalan menuju bagian dapur dalam rumahnya. Meninggalkan Budi yang masih terjebak dalam situasi menegang.
Ran keliatan makin cantik, batin Budi sambil membentuk senyuman tipis.
~Bersambung~
Hola hola author di sini! Ehm, jadi begini aja ... nggak perlu lama-lama lagi, aku selaku othor–Miku–cuma mau bilang kalo 8 hari ke depan, aku nggak bisa update kata banyak-banyak.
Ini karena faktor real life ya guys ya. Aku harus nyiapin diri buat ujian. Terlebih lagi, udah masuk bulan Ramadhan. Aku juga musti bisa ngatur waktu biar nggak kecapekan.
Tapi tenang aja, aku bakal tetep usahain update kok.
Ok, sekian pemberitahuan singkat dariku.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan!
- Miku
One-Way
Hanazawa Ryuki, seorang berandal yang kini menjadi murid di salah satu SMA bergengsi demi menepati janjinya di masa lalu. Akan tetapi, satu kejadian membawanya ke kejadian lainnya, perlahan menarik Ryuki ke dalam sisi gelap dimana setiap pilihan tidak memiliki jalan kembali. Ini adalah perjalanan satu arah. Apakah Ryuki dapat menemukan ending yang tepat di ujung jalan satu arah ini?
Semangat Thor....💪💪💪💪💪
Alvaro