Jalan kehidupan memang tak selamanya mudah dan mulus, ketika kaki sebelah tersandung maka kaki yang lain harus kuat menopang tubuh agar tak sampai terjatuh.
Berkisah tentang seorang perempuan yang harus menyandang status janda di usianya yang masih muda, berjuang mematahkan opini masyarakat jika 'janda' itu tak mempunyai hak dan keistimewaan yang sama dengan perempuan lainnya. Berbagai ujian, cercaan, fitnah dan gunjingan menjadi makanannya sehari-hari, namun senyumnya tak pernah surut, menyembunyikan luka yang semakin lama semakin menggunung.
Sampai seorang Presdir perusahaan besar tempatnya bekerja mengajaknya berkompromi dalam sebuah pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Alifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WAFA DAN ARSYA
Malam ini hujan turun mengguyur kota Surabaya, menjadi teman sepi salah satu penghuni kamar kost di daerah pusat kota.
Wafa, perempuan yang baru saja di ajak menikah itu, ah bukan bukan, lebih tepatnya di paksa menikah itu tengah memasak mie instan di dapur kecilnya. Hanya mie instan yang bisa Wafa beli dari warung yang tak jauh dari kamar kostnya, selain karena waktu yang tak lengang untuk berbelanja bahan makanan, hujan yang turun juga membuat Wafa enggan pergi jauh.
Satu mangkuk mie instan yang di atasnya terdapat telur rebus bulat itu tampak masih mengepulkan asap, wangi yang menggoda membuat perut Wafa meminta di isi yang sedari beberapa menit yang lalu sudah meronta karena lapar.
Wafa melupakan satu hal, lambung yang tadi siang kambuh itu bisa saja kembali kambuh karena ia telat makan dan memakan mie instan di tambah dengan cabai merah beberapa biji.
Di tengah ke sibukkannya menyantap mie instan itu, ponsel yang ia letakkan di hadapannya terlihat menyala, menandakan ada pesan singkat masuk pada benda itu. Wafa meraihnya, mengusap layar untuk membuka kunci kemudian menekan tombol room chatnya. Matanya menyipit saat mendapati satu nomor tak bernama mengirimkannya pesan.
"Nomor baru? Siapa nih?" Perempuan berhidung mancung itu bermonolog sendiri.
+62812233.....
"Simpan nomorku".
Hanya kalimat itu, dan sesingkat itu. Wafa berdecak, mengabaikan pesan itu dan kembali menyantap mie instannya. Beberapa menit kemudian pkbseknya kembali menyala, Wafa kembali membukanya.
+62812233....
"Hey!!! Apa kau tidak punya jari untuk membalas pesan ku??!!!"
Wafa kembali berdecak, "siapa sih ni orang?? Sok kenal banget". Gumamnya, kali ini Wafa membalas pesan itu.
WAFA
"Waalaikumsalam, maaf apa saya mengenal anda? Kenapa saya harus menyimpan nomor anda?"
+62812233......
"Assalamualaikum, aku bos mu!!! Dan.......calon suami mu".
Wafa membulatkan matanya, nyaris saja tersedak mie yang belum sepenuhnya terkunyah di mulutnya. "Astaghfirullah, pak Arsya, isshhhh dari mana dia tahu nomor ini".
WAFA
"Dari mana anda tahu nomor ini??"
+62812233.....
"Astaga, wanita ini!!!! Saya bos kamu, tentu saya tahu nomor kamu!"
WAFA
"Iya iya, anda tidak perlu nyolot pak. Jangan ganggu saya, ini di luar jam kantor!"
***
Di seberang sana, seorang pria berpostur tubuh tinggi dengan alis tebal dan rahang yang tegas dan tentu saja parasnya teramat tampan, namun kini paras tampan itu tampak memerah menahan kesal. Ponsel yang ia pegang nyaris ia banting karena membaca pesan balasan dari sang sekretaris. Perempuan cantik yang beberapa jam yang lalu di dapuk oleh sang mami sebagai calon menantunya.
Tidak pernah ada perempuan yang menolaknya, mereka akan dengan senang hati melempar dirinya pada pria benama Gala Arsyanendra itu. Harta berlimpah, kesuksesan, dan paras yang tampan membuat Arsya menjadi idaman kaum hawa, dari gadis, janda, sampai yang masih bersuami.
Arsya mengeram kesal, Wafa berhasil merusak moodnya malam ini. "Siall....wanita ini!!! Lo benar Ren, Wafa berbeda, selain menyebalkan dia juga jual mahal".
***
Malam semakin larut, namun tak menyebabkan kantuk di pasang mata dua manusia yang tengah memikirkan hal yang sama 'pernikahan'. Waktu sebulan terlalu singkat untuk saling mengenal, dan satu hal lagi yang pasti, mereka tidak saling mencintai. Sang pria yang merasa tertantang untuk menerima tawaran menikah, namun sang perempuan justru sedikit trauma dengan hubungan sakral itu.
Arsya menatap langit-langit kamar yang di dominasi warna putih dengan lampu hias unik di tengahnya. Wafa benar-benar mengganggu fikirannya, entah mengapa tangannya terulur untuk memencet tombol-tombol di layar ponsel pintarnya.
ARSYA
"FA.."
Lama tak ada balasan, membuatnya berfikir jika Wafa pasti sudah terlelap. Ia menatap jam yang tergantung di dinding kamarnya. "Jam sebelas, pasti udah tidur". Gumamnya
Arsya kembali menyimpan ponselnya, mencoba memejamkan mata agar bisa tertidur. Tapi sialnya wajah cantik Wafa muncul begitu saja di benaknya. "Siaalll". Erangnya.
TIT TIT TIT
Bunyi yang berasal dari ponselnya membuat Arsya menoleh ke arah nakas dimana ponselnya tergeletak. Tangannya terulur untuk mengambilnya, mengusap layarnya untuk membuka kunci. Matanya sedikit membulat saat ia mendapati nama kontak yang sedari tadi mengganggu pikirannya ternyata membalas pesannya.
WAFA
"Tolong saya.."
Hanya dua kata itu, tapi terasa memompa jantungnya sehingga berdetak lebih cepat dengan darah memanas. Rasa cemas tiba-tiba saja muncul, berbagai kejadian buruk tentang perempuan itu berseliweran di dalam benaknya.
ARSYA
"Kamu kenapa?? Share lokasi kamu sekarang".
WAFA
"Lambung saya kambuh lagi."
Arsya berdecak kesal, rasa cemas semakin menghantui saat ia ingat Wafa tak sadarkan diri karena lambungnya. Dan untungnya, Niko sempat memberikan resep obat yang sudah Reno beli di apotik siang tadi tapi belum sempat Arsya berikan pada Wafa.
Arsya beranjak mengambil jaketnya, mengambil kunci mobil juga ponsel dan dompetnya. Tidak lupa juga ia mengambil obat yang ia letakan di dalam laci nakas. Pria itu mengikuti petunjuk lokasi yang sudah Wafa berikan lewat pesan chat.
Sementara itu, sehabis menyantap semangkuk mie instan Wafa tak lekas tidur. Ia mengotak-atik ponselnya dan berselancar di dunia Maya. Namun rasa perih yang sedikit menusuk membuatnya mengelus area perutnya, awalnya ia abaikan, namun semakin lama rasa sakit itu semakin terasa. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, ingin meminta tolong pada Lastri tapi Lastri tengah pulang ke Malang setelah sore tadi ibunya mendadak meminta gadis itu untuk pulang. Besok pagi ia baru kembali ke Surabaya.
Meminta tolong pada ibu kost rasanya tidak sopan, di tengah rasa perih di lambung juga rasa paniknya hanya satu nama yang terbersit di benaknya, 'Arsya'. Karena beberapa saat yang lalu pria itu mengiriminya pesan, namun Wafa mengabaikannya.
Jarak dari rumah Arsya ke kost Wafa hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja. Tak terlalu jauh memang, karena rumah Arsya juga tak jauh dari kantornya dan masih terletak di salah satu perumahan elit di pusat kota.
Arsya memarkirkan mobilnya di halaman kost Wafa yang lumayan luas. Ia segera turun dari mobil dengan membawa obat dan sekantung makanan yang sebelumnya ia sempatkan beli di jalan. Arsya mengetuk pintu kamar kost Wafa. Tak lama, pintu terbuka.
Wafa tampak menggigit bibir bawahnya menahan sakit, keringat juga membanjir di area dahinya, membasahi hijab instan rumahan yang di pakainya persis seperti kejadian siang tadi.
"Masuk pak". Lirih Wafa, Wafa sengaja membuka pintunya agar tak menimbulkan pitnah.
Arsya masuk, duduk lesehan di atas karpet yang cukup hangat karena memang tidak ada kursi di sana.
"Kamu tuh makan apa sih? Kok sampai kambuh lagi??" Tanya Arsya.
"Mie instan pak, maaf, saya jadi merepotkan bapak. Saya tidak tahu lagi harus minta tolong ke siapa". Lirihnya
"Mie instan??". Arsya menatap Wafa dengan tajam, membuat Wafa menunduk dan mengangguk lemah. "Kamu tuh giaman sih? Udah tau punya riwayat lambung, malah makan sembarangan!!"
"Maaf pak, tapi hanya itu yang ada di sini. Saya belum sempat beli bahan makanan karena keburu hujan".
"Ah sudahlah, ini makan dulu, abis itu minum obatnya".
Wafa mengangguk, mengambil satu box makanan berlebel salah satu cafe yang terkenal di kota itu. Memakannya dengan perlahan dengan sesekqlo meringis merasakan sakit. "Bapak gak langsung pulang??"
Arsya menatap Wafa dengan sebelah alis terangkat. "Kamu udah ngerepotin saya dan sekarang saya di usir?? Bahkan kamu belum menyuguhkan air minum ke saya".
Wafa tergagap, "Bu..bukan gitu maksud saya pak, saya hanya takut mengganggu waktu istirahat bapak".
"Jangan pikirkan itu, lagi pula kamu memang sudah terlanjur mengganggu saya. Saya akan pulang kalau saya sudah memastikan kamu baik-baik saja, ngerti??!!".
Wafa mengangguk, kemudian melanjutkan makan. Hening, suasana sangat terasa canggung. Tapi Arsya bersikap sangat santai walau hanya berdua saja di sana. Mungkin pria itu memang sudah terbiasa berada di satu tempat dengan seorang perempuan, berbeda dengan Wafa yang merasa sangat canggung, malu dan takut.