Pernikahan yang bahagia adalah dambaan setiap insan. Namun didalam perjalanan mahligai pernikahan tidak selalu indah seperti yang diimpikan. Karena setiap pernikahan pasti ada masalah dan cobaan yang datang silih berganti. Kerikil dan bebatuan datang menghadang langkah tiada henti.
Guntur dan Sovia adalah sepasang kekasih yang belum lama mengarungi bahtera rumah tangga. Pernikahan yang berawal dari perjodohan tidak membuat Sovia membenci suaminya. Ia berusaha sepenuh hati untuk menjadi istri yang shalihah.
Apakah Sovia bisa melewati halangan dan rintangan yang dihadapinya? Apakah Sovia dan suaminya bisa bahagia dalam membina rumah tangga?
Buruan baca dan subscribe novel ini sekarang juga! Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Walet Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Pagi itu terlihat Wina tengah menikmati sarapan pagi bersama Lala dan kedua orang tuanya di ruang makan. Nasi goreng dengan lauk telur dadar dan sosis adalah makanan yang menjadi menu sarapan pagi itu.
"Bu, kok sampai sekarang Guntur maupun Tante Maya belum menelpon ya?" Tanya Wina. Ia pun kembali memakan sesendok nasi goreng yang berada di atas piring di hadapannya.
"Iya ya! Kok belum ada kabar dari mereka ya?" Tanya balik Bu Hamidah.
"Apa jangan-jangan Guntur membohongiku Bu?" Tanya Wina dengan cemas.
"Coba sekarang Kamu telpon Bu Maya!" Pintanya.
"Iya Bu." Balasnya. Wina pun bergegas mengambil handphone miliknya yang berada di sebelah kanan piring di hadapannya. Begitu handphone sudah berada di dalam genggamannya, ia langsung menelpon Bu Maya.
"Hallo Assalamu'alaikum Wina!" Sapa Bu Maya begitu mengangkat panggilan teleponnya.
"Wa'alaikumsalam Tante!" Balasnya.
"Gimana kabar Kamu dan keluargamu?" Tanyanya.
"Baik Tante. Tante sendiri gimana kabarnya?" Tanya Wina.
"Kabar Tante baik juga! Tumben sekali, pagi-pagi begini Kamu sudah nelpon Tante lagi! Apa sudah ingin bertemu dengan Guntur lagi? Apa Kamu nggak berangkat kerja, Wina?" Tanya Bu Maya.
"Kerja Tante! Ini lagi sarapan!" Jawabnya.
"Oh, sebenarnya Tante sih setuju-setuju aja kalau Kamu sering ketemuan sama anak Tante! Orang Tante lebih setuju kalau Kamu yang jadi menantu Tante!" Ucapnya dengan perlahan.
"Sebenarnya Wina menelpon Tante, Wina mau menanyakan sesuatu hal penting kepada Tante!" Balasnya.
"Tanya hal penting apa Wina?" Tanya Bu Maya penasaran.
"Sejak Wina dan Guntur bertemu hari minggu kemarin, apa Guntur pernah bicara sama Tante, tentang rencana yang sudah menjadi kesepakatan Kita berdua?" Tanya Wina sedikit tegang.
"Rencana apa Wina? Perasaan dari kemarin Guntur nggak pernah bicara serius soal kesepakatan Kalian!" Jawabnya.
"Jadi Guntur belum bicara soal rencananya yang sebentar lagi akan tiba?" Tanya Wina dengan darah mulai mendidih.
"Belum Wina! Dari kemarin Guntur nggak bicara apa-apa, soal yang Kalian telah rencanakan. Memangnya rencana apa sih Wina?" Tanya balik Bu Maya.
"Lebih baik sekarang itu, Tante Maya tanya sendiri sama Guntur! Sudah dulu ya! Aku mau siap-siap berangkat kerja! Assalamu'alaikum!" Salamnya. Wina pun memutuskan panggilan teleponnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Bu Maya yang pikirannya penuh tanda tanya.
"Gimana Wina? Apa Bu Maya belum tahu kalau Guntur mau melamarmu?" Tanya Bu Hamidah penasaran.
"Iya Bu! Ternyata Guntur sama sekali belum bicara sama Tante Maya, soal niatnya untuk melamarku! Apa jangan-jangan Guntur berdusta Bu? Apa mungkin Dia nggak mau melamarku?" Tanya Wina cemas.
"Kurang ajar itu Guntur! Jangan harap Dia bisa lepas dari genggaman Kita!" Balas Bu Hamidah marah.
"Kalau Guntur nggak mau menikahimu, lebih baik Kamu Bapak kenalkan sama anak teman Bapak! Teman Bapak tidak kalah kaya dari pada Guntur! Lelaki brengsek itu!" Bapaknya Wina baru mengeluarkan suara.
"Nggak mau Pak! Wina nggak mau laki-laki lain! Wina sudah jatuh cinta sama Guntur, Pak!" Balas Wina dengan berlinangan air mata.
"Tenang aja Win! Nanti malam Kita datangi rumah Bu Maya! Kita katakan pada Bu Maya, kalau anaknya telah menghamili Kamu! Kalau memang Guntur nggak mau menikahimu, Kita ancam Dia! Sekarang Kamu tenang aja! Selagi masih ada Ibu disampingmu, Kamu nggak akan Ibu biarkan menderita!" Katanya.
"Terima kasih Bu! Ibu selalu ada buat Wina!" Ucapnya.
"Apa sih yang nggak lakukan untuk anak Ibu yang cantik ini! Lebih baik sekarang Kamu berangkat kerja!" Pintanya. Mendengar ucapan ibunya, Wina bergegas melihat jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya. Kedua matanya melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 07.10 WIB. Wina pun langsung mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.
"Ya sudah, Wina berangkat dulu ya Pak, Bu!" Ucapnya sambil bangkit berdiri.
"Hati-hati di jalan ya!" Pinta Bu Hamidah.
"Nggak usah ngebut-ngebut Win!" Pinta bapaknya Wina yang bernama Pak Santoso.
"Iya Pak Bu! Assalamu'alaikum!" Salamnya sambil berjalan menuju ruang garasi.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Bu Hamidah dan Pak Santoso berbarengan.
Sementara itu, selesai berbicara dengan Wina lewat telepon, Bu Maya langsung menghampiri Guntur yang sedang sarapan bersama Sovia, istri yang dicintainya.
"Guntur, sebenarnya apa rencana yang telah disepakati oleh Kamu dan Wina?" Tanya Bu Maya.
"Rencana apa sih Bu?" Tanya Guntur pura-pura tidak tahu.
"Ya Ibu nggak tahu! Kok malah balik bertanya sama Ibu! Barusan Wina menelpon Ibu. Dia menanyakan rencana yang telah ditetapkan oleh Kamu dan Wina! Jadi, lebih baik sekarang Kamu jujur sama Ibu! Apa rencana yang Wina maksud?" Bu Maya mencoba mengintrogasi anak tunggalnya itu.
"Iya Mas, sebenarnya apa rencana Mas dan Wina?" Tanya Sovia merasa tidak nyaman.
"Rencanaku yaitu Aku ingin memperkenalkan Wina sama Ferdi!" Jawab Guntur berdusta.
"Maafkan Aku, Dek! Mas terpaksa berbohong sama Kamu dan Ibu!" Tambahnya dalam hati.
"Oh begitu! Kirain apaan!" Seru Sovia tersenyum lega.
"Masa sih itu rencana Kalian, Gun? Tadi perasaan sewaktu bicara di telpon, Wina sangat serius dan terdengar kecewa saat Ibu belum tahu rencana Kalian!" Tanya Bu Maya masih belum percaya.
"Ya memang itu rencana Kita, Bu!" Balasnya. Guntur pun kembali memakan sesendok nasi, lauk, dan sayur.
"Tapi kenapa Ibu harus tahu?" Tanya Bu Maya bingung.
"Ya, kalau Ibu sudah tahu, kan Ibu bisa bicara sama Budhe Mirna!" Balasnya.
"Oh begitu!" Serunya. Bu Maya pun pergi berlalu dari hadapan Guntur dan Sovia.
Seperti yang dikatakan oleh Bu Hamidah sebelumnya, malam itu Wina dan kedua orang tuanya pergi ke rumah Bu Maya menggunakan mobil milik Pak Santoso. Sedangkan Lala ditinggal di rumah bersama pembantunya.
Begitu sampai didepan rumah Bu Maya, Pak Santoso memarkirkan mobilnya di tepi jalan di depan pagar. Mereka pun bergegas turun dari mobil dan berjalan dengan cepat menuju pintu depan rumah Bu Maya.
Tokkk...tokkk...tokkk...
Mendengar suara ketukan pintu depan, Sovia yang sedang menonton TV bareng suami dan mertuanya, langsung berdiri dan berjalan kearah pintu depan rumah.
"Kayaknya ada tamu. Sebentar Saya bukakan pintu dulu ya Mas!" Ucapnya sebelum meninggal suaminya.
"Iya Dek!" Balas Guntur tanpa ada perasaan curiga sama sekali.
Begitu sampai di depan pintu, Sovia langsung membuka pintu di hadapannya. Ketika pintu itu berhasil dibukanya, Ia sedikit kaget saat melihat ketiga orang yang berdiri di depan pintu, yang ternyata adalah Wina dan kedua orang tuanya.
"Oh Mba Wina, Tante, dan Om! Kirain siapa! Silahkan masuk!" Pintanya sambil tersenyum manis dan membuka pintu lebar-lebar.
"Bu Maya dan Guntur ada di rumah?" Tanya Bu Hamidah dengan ketus.
"Ada Bu! Duduk dulu Bu! Biar Saya panggilkan!" Pintanya. Sovia pun kembali berjalan menuju ruang keluarga. Sedangkan Wina dan kedua orang tuanya duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu.
"Tadi itu siapa Bu?" Tanya Pak Santoso penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan istrinya Guntur! Norak dan kampungan kan Pak?" Tanya Bu Hamidah.
"I..iya Bu! Masih cantikan Wina anak Kita!" Balasnya dengan sedikit gugup.
"Pantes aja Guntur memilih perempuan itu dari pada Wina! Ternyata orangnya cantik banget! Nggak kalah sama artis-artis yang nongol di TV!" Seru Pak Santoso dalam hati. Senyum pun terpancar dari wajahnya.
"Tamu siapa Dek?" Tanya Guntur ketika melihat istrinya berdiri di sampingnya.
"Wina Mas! Wina datang bersama kedua orang tuanya!" Jawabnya.
"Wina...???" Tanya Guntur dengan kedua matanya melotot. Ia seolah masih tidak percaya dengan ucapan istrinya.
"Iya Mas! Mereka ingin bertemu dengan Mas dan Ibu!" Balasnya.
"Ayo Guntur Kita ke depan! Mereka pasti ingin membicarakan tentang Ferdy!" Ajak Bu Maya sambil bangkit berdiri.
"Iya Bu." Balas Guntur dengan lemas.