Bijaklah dalam memilih bacaan dan dalam berkomentar. Semua hanya fiksi, tapi maaf jika mengundang banyak emosi.
Happy reading!
Bertahan demi anak, adalah sebuah kata yang mudah di ucapkan, tapi begitu sulit untuk dilakukan. Sakit, dan perih, namun harus berusaha kuat dan tetap tersenyum di depan buah hati mereka. Apalagi, ketika terpaksa harus terus tinggal bersama.
Isti wulandari, seorang wanita karier dengan seorang anak perempuan berusia Sepuluh tahun. Dengan semua kesuksesan, kecantikan, dan bahkan kekayaan yang Ia miliki, nyatanya tak menjadikan sebuah jaminan untuk sang suami agar tetap setia. Suaminya kepergok selingkuh, dengan seorang wanita yang Dua belas tahun lebih muda darinya. Dan parahnya lagi, sang suami kekeuh menolak untuk diajak bercerai, dengan alasan anak mereka.
Berhasil mempertahankan rumah tangga, atau akhirnya Isti akan menyerah dan menjelaskan pada sang anak akan permasalahan ini meski harus sakit dengan keadaan yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegasan Isti
"Mba Is, nanti malam ada undangan untuk penyambutan dokter baru." ucap Ririn, salah seorang rekan Isti.
"Iya, dimana?"
"Di hotel deket Rumah sakit sini. Direktur sendiri yang ngundang, karena kebetulan keponakan beliau." jawab Ririn dengan memberikan selembar undangan mewah untuk Isti.
"Harus suami istri?" tanya Isti, yang melihat namanya beserta Sang suami tertera di sana.
"Lah, iya kan? Mba Isti sama Mas Fikri kan selama ini memang jadi couple terdebest, Mba. Dimana ada Mba Isti, disana ada Mas. Itu pak Direktur sendiri yang minta."ujar Ririn, yang kemudian pergi untuk ke ruangan lain membagikan undangan yang sama.
"Menyebalkan. Lagi-lagi harus bersamanya malam ini." gerutu Isti, yang meletakkan Undangan itu dengan kasar diatas meja.
Selepas adzan dhuhur. Isti melaksanakan shalatnya sejenak sembari duduk istirahat di ruang kecil yang ada di ruangannya. Ia membuka Hp, dan menatap foto Zalfa disana. Dan beberapa foto kenangan, ketika mereka berlima berlibur bersama di sebuah objek wisata terbesar di kotanya. Isti seketika menangis, tak menyangka karena sejak hari itu, Fikri ternyata telah membagi cinta pada wanita itu..
"Sekian lama sudah semua ini kamu sembunyikan, Mas. Hebat sekali cara kalian menutupi hubungan itu. Kamu lihat, seberapa kuat dia menggenggam kamu dalam pelukannya. Kamu akan dapat balasan yang setimpal atas perbuatan kamu ini." gumam Isti dalam tangisnya.
Cliiiing! Sebuah notifikasi Wa datang pada Isti, dari Rani.
" Mba, Rani tiba-tiba di suruh konsul sama dosen. Jadi ngga bisa jemput Zalfa, gimana? "
" Yaudah, Mba aja yang jemput sebentar. Bilang ke Ibu, Zalfa Mba bawa ke Rumah sakit." balas Isti pada pesan itu.
Rani tak membalas lagi pesan itu, daj Isti tahu juka Ia sudah menyampaikan pesaannya itu pada Bu Laksmi. Isti sengaja, ingin membawa Zalfa ke Rumah sakit untuk berkenalan dengan Laras. Ia ingin Laras senang karena merasa punya teman dan orang yang masih mau perduli padanya.
"Rin, Mba jemput Zalfa dulu, ya?" pamit Isti pada rekannya itu.
"Iya, mba."
Isti kemudian berlari dan menaiki mobilnya. Melaju cepat menjemput sang buah hati di sekolahnya. Ia menjemput sampai ke dalam sekolah dengan berjalan kaki karena gang yang sempit.
"Mama.....!" pekik Zalfa ketika tahu Mamanya menjemput.
Zalfa berjalan menuju Sang Mama, bersama sahabatnya yang tadi pagi bertemu.
"Ini Aisyah, temen Zalfa yang baru. Dia baru aja pindah Sebulan lalu." ucap Zalfa yang memperkenalkan sahabat barunya.
"Aisyah, Mamanya mana sayang, belum jemput?" tanya Isti dengan lembut.
"Mama Aisyah udah di surga. Nanti Papa Aisyah yang jemput." jawab Gadis kecil itu.
Deg! Hati Isti langsung bergetar, dan merasa bersalah karena membuat sedih Aisyah.
"Maaf, sayang, Tante ngga tahu." sesal Isti.
"Iya, ngga papa. Aisyah ngga sedih kok, buktinya Aisyah bisa senyum waktu ngomong Mama."
Untuk menebus rasa bersalahnya, Isti memutuskna untuk menemani Aisyah menunggu hingga Papanya menjemput. Agak lama, karena Ia bilang jika Papanya itu adalah orang yang begitu sibuk dengan pekerjaannya.
Bunyi klakson memecah keheningan. Sebuah mobil Pajero hitam datang dengan perlahan, dan sebuah tangan melambai pada Aisyah..
"Nah, itu Papa." tunjuk Aisyah.
Seorang pria turun, dan menyapa mereka semua dengan begitu ramah.
"Lah, ini Pak Bardo 'kan?" tanya Isti, yang mengenali Pria itu.
"Wah, iya. Anda?"
"Saya istrinya Mas Fikri, mandor pabrik anda." jawab Isti, menmperkenalkan dirinya.
"Owh, iya. Istrinya Fikri, maaf saya lupa. Maaf, Aisyah bilang kalau Istri Bapak sudah...."
"Owh, iya. Istri saya Hanifah sudah meninggal karena penyakit yang di deritanya. Tapi, meninggalnya dikampung halaman kami. Jadi ngga ada layatan disini."
"Owh, pantas, Mas fikri ngga ada ngajak melayat kesna. Turut berduka cita, Pak. Semoga almarhumah husnul khatimah. Beliau orang baik dan ramah." ucap Isti, yang pernah bertemu sekali dengan Ibu bos suaminya itu.
Mereka menyelesaikan perbincangan, karena memiliki kesibukan masing-masing. Isti pun kembali ke Rumah sakit dengan segala rutinitasnya.
" Zalfa ikut Mama dulu, ya. Soalnya Nenek mau istirahat di rumah"
"Iya, Ma." jawab Zalfa, yang memang begitu menurut pada Mamanya.
Zalfa anak yang periang, humble pada semua orang. Hingga ketika Isti memintanya mengajak Laras bermain, Zalfa pun segera menurutinya dengan baik.
"Laras, main sama Zalfa, ya? Ibu mau urus pekerjaan Ibu dulu." pinta Isti, padahal Ia sebenarnya tak terlalu sibuk kali ini.
Isti duduk di meja kerjanya, memperhatikan Zalfa dan Laras bermain. Begitu ceria dan bahagia, tampak dari senyum keduanya.
Cling, Sebuah notifikasi Wa masuk dari Fikri.
"Is, malam ini aku menginap di tempat Naya." ucapnya dalam pesan itu.
Isti tak cemburu, tak marah, bahkan tak kesal sama sekali. Raut wajahnya pun datar ketika melihat pesan itu, dan Ia langsung membalasnya
"Direktur Rumah Sakit mengundang kita berdua untuk datang ke sebuah pesta. Kau harus ikut dengan ku." balas Isti.
"Beliau yang mengundang kita secara langsung." imbuhnya, di balasan ke dua.
Fikri tak menjawab lagi. Tapi kemudian Ia menelpon Isti dengan terburu-buru.
"Ya, kenapa?"
"Is, jangan begitulah. Aku sudah begitu lama tak mengunjungi Naya."
"Apa perduliku?"
"Kalian sama-sama wanita loh, Is. Harusnya bisa saling memahami satu sama lain."
"Jika dia sadar, kami sama-sama wanita. Harusnya dia faham, agar tak mendekati pria yang telah memiliki keluarga, Mas. Itu resiko dia, ketika memilih untuk mau menjadi yang kedua."
"Kamu egois, Is."
Isti diam bergeming, tak membalas lagi kata-kata Fikri. Hp yang sudah Ia matikan, diletakannya lagi dalam handbagnya.
*~*
"Mas, gimana? Ngga boleh ya?" tanya Naya, yang melihat ekspresi lusuh Fikri.
"Nanti malam, dia ada acara penyambutan dokter baru. Direkturnya juga mengundangku."
"Oke, baiklah. Lagi dan lagi aku harus mengalah. Kau harus menuruti semua permintaannya, kau harus menuruti apa yang dia perintahkan. Dan aku, aku harus terus mengesampingkan kemauanku. Padahal aku juga perlu kau, Mas."
"Nay, kau kan sudah tahu, jika....."
"Jika aku hanya lah istri siri, yang bahkan belum bisa kau akui pada siapapun. Sudah, kembalilah bekerja. Aku tak ingin kau ditegur lagi, dan gagal naik jabatan. Aku juga ingin menjadi istri yang mendapatkan haknya, Mas." usir Naya pada Fikri, yang memang sudah selesai dengan makan siangnya.
Fikri pun menghela nafas, dan pergi sesuai permintaan Naya. Ia tahu, jika Naya begitu kecewa padanya saat ini. Tapi, apa boleh buat. Kembali lagi jika itu adalah resikonya.
"Andai aku bisa menggenggam erat tangan kalian berdua. Pasti akan begitu indah rasanya. Berjalan bersama, tersenyum menghadapi masa depan bersama. Is, cobalah buka hatimu untuk kami, Is." gumam Fikri, dalam perjalanan dengan mobilnya.
cb klo aq ogah lah.
lbih baik sendiri jga ank drpd mkn ati doang tiap hari liat wajahnya