'Uang adalah segalanya'
Begitulah prinsip hidup Resti Belangi. Yang sejak kecil sudah giat mencari uang untuk menghidupi dirinya sendiri karna keluarganya yang miskin. Dia tidak percaya dengan ungkapan yang menyatakan uang bukanlah segalanya.
Resti hanya ingin hidup nyaman tanpa mengkhawatirkan besok bisa makan atau tidak. Dia sudah lelah bekerja keras, yang ternyata tidak mengubah apapun dihidupnya.
Saat ia hampir menyerah, ketidak beruntungan kembali menghampirinya bersama seorang pria dingin bernama Jun. Yang ternyata adalah pewaris tahta kerajaan GD Group, tempatnya bekerja.
*setiap tokoh, tempat, dan kejadian hanya fiksi semata. (cuma ada diotak kriting Mak ya).
*karya ini hanya terbit di NovelToon. Tidak di platform lain.
*cus follow ig➡️ makee949
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep12. Lambang Ketidak Beruntungan.
Resti duduk menyandarkan kepalanya dijendela kaca bis. Matanya liar mengikuti laju setiap kendaraan yang menyalip dari arah kanannya. Ia merogoh kedalam tasnya, mencari ponselnya, tapi tidak menemukan benda itu.
Ia mengobrak-abrik isi tasnya. Tapi tetap tidak menemukan ponselnya. Lantas ia berusaha mengingat-ingat dimana kira-kira dia meninggalkan ponsel itu. Tapi Resti tetap tidak bisa mengingatnya.
Sial! Dengusnya dalam hati.
Dengan memberanikan diri, Resti mencoba meminjam ponsel seorang wanita paruh baya yang duduk disampingnya. Untungnya wanita itu baik, ia memperbolehkan Resti meminjam ponselnya.
“Trimakasih tante.” Ujarnya kemudian.
Resti menekan nomor ponselnya, mencoba menghubungi. Dalam hati ia berharap kalau seseorang akan menemukan ponselnya dan bersedia mengembalikan kepadanya.
“Halo?” Terdengar suara seorang pria yang mengangkatnya
“Oh, syukurlah.” Ujar Resti merasa lega. “Maaf tuan, saya pemilik ponsel itu.”
“Dasar ceroboh.”
“Hah?” Resti yang awalnya merasa senang, sekarang merasa sebal dengan makian pria diseberang telfon.
“Maaf tuan, tapi bisakah anda mengembalikan ponsel saya? Anda dimana? Saya akan mengambilnya.”Jelas Resti kembali.
“Ambil ke rumah sakit.” Jelas Jun. Lantas memutuskan sambungan telfon itu secara sepihak.
Kenapa kerumah sakit?
Sambil berfikir Resti mengembalikan ponsel wanita paruh baya yang ia pinjam. Tidak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada wanita itu.
Resti kembali berfikir. Sepertinya dia mengenali suara itu. Dan rumah sakit? Perlahan dia mulai bisa menyatukannya.
“Jun?” Gumamnya.
Sial. Kenapalah aku harus terlibat lagi dengan pria itu? Dengus Resti dalam hati. Membayangkan bertemu dengan Jun, seolah ia tau kalau ketidak beruntungan akan kembali datang padanya. Pria itu, seperti lambang ketidak beruntungan baginya.
Resti tidak punya pilihan lain. Itu adalah ponselnya satu-satunya. Yang menghubungkannya dengan teman-temannya, juga dengan Irba tentunya.
Dengan sedikit memaksakan diri, plus memberanikan diri untuk menemui lambang ketidak beruntungannya itu, Resti berhenti di halte rumah sakit. Saat ia melangkahkan kakinya memasuki area rumah sakit, jantungnya berdetak semakin cepat.
Bahkan saat dia sudah tiba di bangsal VIP yang ia datangi tempo hari, Resti masih saja mematung didepan sebuah kamar. Hingga pintu kamar itu terbuka dan muncullah seorang wanita dari dalamnya.
“Cari siapa?” Tanya Ruth yang baru saja keluar dari ruangan Nyonya Gundala.
“Jun. Apa dia ada?”
“Jun? Dia ada didalam. Masuklah.” Ruth mempersilahkan dengan ramah.
“Tidak usah, Nona. Tapi bisakah anda memanggilkannya?” Pinta Resti berusaha bicara sesopan mungkin.
“Apa kau temannya? Ayo, masuklah. Tidak apa-apa.” Ujar Ruth kemudian sambil menarik tangan Resti untuk masuk kedalam ruangan.
“Jun! Ada yang mencarimu.” Ujar Ruth. Membuat Jun yang sedang duduk disofa bersama dengan tuan Gundala dan Ayyara langsung menoleh kearah Ruth.
Tatapan ketiga orang itu langsung tertuju kepada Resti yang membeku. Entah kenapa rasanya aneh, membuatnya meringsut.
“Kau sudah datang?” Tanya Jun yang langsung bangkit dari duduknya dan mendekat kepada Resti. Kemudian ia menyodorkan ponsel milik Resti kepada gadis itu.
“Trimakasih. Kalau begitu aku permisi dulu.” Ujar Resti yang hendak pergi. Ia merasa aneh berada didalam ruangan itu. Ia merasa terintimidasi.
“Kenapa buru-buru? Duduklah sebentar disini.” Tawar Ayyara ramah. Ia mengembangkan senyumnya kepada Resti.
“Tante, aku pulang dulu.” Ujar Ruth.
“Aku akan mengantarmu kebawah.” Lanjut Jun.
Dan kedua orang itupun keluar dari dalam kamar. Meninggalkan Resti yang masih terpaku berdiri di dekat pintu.
“Sini..” Ujar Ayyara lagi.
Dan entah kenapa, Resti menuruti ajakan Ayyara. Diapun lantas duduk di sofa, didekat Ayyara.
“Siapa namamu?” Tanya tuan Gundala yang sejak tadi tidak berkedip memperhatikan Resti dari ujung kepala hingga kaki.
“Resti Belangi, tuan. Eh, Kek.” Jawab Resti gugup.
“Hahahahahaha.” Tuan Gundala malah tertawa mendengarnya.
“Jadi kau adalah temannya Jun?” Tanya Ayyara kemudian.
“Bukan, nyonya. Saya hanya kebetulan mengenalnya. Dan saya kemari hanya untuk mengambil ponsel saya yang hilang. Dan ternyata pak direktur yang menemukannya.” Jelas Resti panjang kali lebar.
“O begitu. Tinggal dimana?” Selidik Ayyara.
Dengan ragu Resti memberitahu daerah tempat tinggalnya.
“Oh, jauh ternyata.” Ujar Ayyara.
“Apa kau mau menikahi cucuku?”
Sebuah pertanyaan yang sangat tidak diduga keluar dari mulut tuan Gundala. Pria renta itu menatap Resti dengan senyuman. Sementara Resti hanya ternganga saja demi mendengar sebuah penawaran yang sangat aneh itu.
Bahkan hari ini dia sudah mendapatkan pertanyan yang sama dari Ana. Yang notabenenya juga adalah keluarga Jun.
Ayyara hanya menatap Resti yang kebingungan. “Maaf Resti. Kalau kakek membuatmu bingung.”
“Ehm. Saya harus pergi, Tuan, Nyonya.” Ujar Resti kemudian langsung meninggalkan ruangan itu. Berjalan di sepanjang koridor dengan wajah yang memerah.
“Pa, kenapa Papa bertanya seperti itu?” Tanya Ayyara dengan hat-hati.
“Kenapa? Siapa yang tau jika dia mau menerimanya.”
“Tapi itu pasti membuatnya terkejut. Dia bahkan tidak mengenal kita.”
“Apa pentingnya. Yang penting adalah dia dan Jun saling mengenal. Apa kau tau kalau gadis itu adalah satu-satunya gadis yang terlihat dekat dengannya setelah Ruth? Aku fikir Jun akan mengencani Ruth, atau bahkan menikahinya. Tapi ternyata perasaan Jun tidak lebih dari sahabat kepada Ruth. Tapi gadis itu, aku melihat Jun menatapnya dengan cara yang berbeda.” Ujar Tuan Gudala. Ayyara hanya terdiam mendengarkan penuturan ayah mertuanya itu.
Sementara Resti, terus melangkahkan kakinya masuk kedalam lift yang akan membawanya turun. Bahkan setelah ia sampai dilantai bawahpun, Resti masih menundukkan wajahnya.
Hatinya sedang bergemuruh. Cara bercanda orang-orang kaya itu benar-benar berbeda. Mereka bahkan menganggap sebuah pernikahan sebagai bahan candaan. Menawari pernikahan kepada sembarang gadis yang mereka temui. Dia bahkan tidak mengenal keluarga Jun. Membuat Resti kesal aja.
Resti bahkan tidak melihat saat ia berpapasan dengan Jun yang baru kembali setelah mengantarkan Ruth. Padahal Jun sudah siap-siap untuk menyapanya. Pria itu melihat wajah Resti yang nampak marah dengan sesuatu.
“Hei.” Ujar Jun berhenti tepat di hadapan Resti. “Kau mau pulang sekarang?” Tanya Jun. Mencoba bersikap ramah walaupun terasa aneh baginya sendiri.
Tapi Resti tidak menjawab. Ia hanya menatap Jun dengan tatapan marah. Keningnya berkerut. Bahkan nafasnya memburu, dengan jelas memperlihatkan kalau dia sedang marah.
“Kau ini kenapa?” Tanya Jun heran.
“Saya harap kita tidak akan bertemu lagi, Tuan Direktur. Tapi jangan khawatir. Saya akan tetap membayar hutang-hutang saya.” Tegas Resti. Dia sengaja melampiaskan kekesalannya itu kepada pria yang sebenarnya tidak tau apa-apa itu.
Sementara Jun hanya mengernyitkan dahinya saja mendengar cara bicara Resti yang tidak seperti biasanya. Gadis itu terdengar seperti orang asing kali ini.
Jun bisa merasakan kemarahan gadis itu. Tapi ia tidak mau menanyakan hal yang bukan ranahnya, jadi ia membiarkan saja Resti pergi. Ia hanya melihatnya saja sambil menerka-nerka, kira-kira apa yang membuat Resti semarah itu kepadanya.