Siapa yang tidak mengenal Rayna Almahyra Farobi. Putri satu-satunya tuan Ardhi Al Farobi dan Tsurayya Ednika Frederick
Rayna, alias Ina memiliki seorang kakak lelaki bernama Rayhan Putra Farobi dan dua orang adik lelaki bernama Rayyan Alvarendra Farobi dan Rayendra Putra Farobi
Kebayang ya.. satu anak perempuan dikelilingi bodyguard-bodyguard kesayangan
Ina, gadis yang lembut, berwibawa, cerdas dengan segudang prestasi.
Lean, putra dari Leon (baca Love Story yaa) yang jatuh cinta pada Ina sejak pandangan pertama
Bagaimana kisah mereka?
Akankah Lean menjadi generasi ke 3 yang kandas percintaannya dengan satu keturunan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qnoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 11
Siang yang cukup terik. Matahari tepat berada di atas kepala seolah memanggang seluruh permukaan bumi
Ray melangkahkan kaki menuju parkiran motor. Jarak parkiran umum dengan ruang rapat dewan mahasiswa di gedung utama yang bersebelahan dengan rektorat terbilang cukup jauh. Tempat parkiran yang dekat disediakan untuk para rektor dan jajarannya, sementara parkiran mahasiswa dan umum berada sekitar 500 meter dari gedung utama
Pintu keluar sudah terlihat, sinar matahari pun terlihat garang.
"Ray, belok dulu lah ke kantin. Haus gua habis debat." Kata Marvin
Ray melirik arloji di pergelangan tangan kanannya. Masih cukup waktu untuk hadir di kelas Ekologi Lanskap
"C'mon lah." Kata Ray sambil berbelok ke arah kantin
Dua pemuda itu berjalan sepanjang koridor rektorat. Keberadaan mereka menjadi perhatian tersendiri khususnya bagi kaum hawa karena selain tinggi menjulang, wajah mereka bagaikan magnet yang seketika mengalihkan pandangan para wanita
Marvin sesekali tersenyum pada beberapa gadis yang berpapasan dengan mereka. Sedangkan Ray tetap melihat lurus ke depan
Mereka sampai di kantin. Terlihat Ghea, ketua kelompok hippie sedang memesan gado-gado. Gadis itu terlihat berbeda dari gadis kebanyakan. Dengan dandanan seadanya tanpa polesan makeup, bajunya saling bertabrakan warna dan rambut hitam panjang tebal yang dibiarkan tergerai
Banyak yang bilang rambut Ghea tebal karena berkutu. Namun tidak pernah terlihat gadis itu sering menggaruk kepalanya. Gosip yang mengerikan. Namun Ghea sepertinya tidak peduli
"Hai Ge.. gado-gado lagi?" Sapa Ray
Ghea mendongak menatap Ray. Gadis itu tersenyum sambil mengangguk
"Bu, saya minta nasi sama sayur krecek plus ayam bakar bumbu pedas. Minumnya es jeruk. Elo Ray?" Tanya Marvin
"Samain sama elo." Jawab Ray
Dengan cekatan, ibu kantin menyediakan makanan pesanan Ray dan Marvin. Setelah semua tersedia, mereka segera membayar dan memilih duduk di pojok kantin
"Ge, mau makan bareng di sini?" Tawar Ray
"Terima kasih, aku duduk di sana saja sama Za." Kata Ghea menunjuk Zalynda yang duduk sendiri.
Ray mengangguk mempersilahkan
Ghea dan Zalynda, dua sosok yang sangat bertolak belakang. Kalau Ghea terbilang cuek dengan penampilan, Zalynda kebalikannya. Gadis yang biasa disapa Za itu sangat memperhatikan penampilan. Bajunya selalu pas, matching dan tersetrika dengan rapi
Rambutnya yang di cat brunette pun dibiarkan tergerai dan hanya menyelipkan jepitan bunga warna kuning gold
"Sengklek lu Ray." Kata Marvin
"Maksudnya?"
"Dari sekian banyak gadis, kenapa hippie butut yang elo sapa?" Tanya Marvin
"Hei, nggak baik bilang begitu. Ghea nggak seburuk pikiran elo Vin. Lagian emang gue nyapa karena kenal." Kata Ray
"Ya..ya.. mentang-mentang tadi di rapat di belain sama Ghea." Kata Marvin sambil menyuap nasinya
"Iri? Bilang boss." Goda Ray
"Najis gua.." Marvin mengetok-ngetok meja
Ray tertawa. Tiba-tiba pandangannya terhenti akan sosok yang melangkah masuk ke kantin. Marvin melihat tatapan Ray dan ikut mengalihkan penglihatannya
Andre dan teman-temannya nampak memasuki kantin. Mereka hanya memesan air mineral lalu duduk di pojok yang berjauhan dari tempat duduk Ray
"Cuma pesen air mineral, tapi ngabisin bangku." Ejek Marvin
Ray kembali fokus ke makanannya sesekali mengamati Andre
"Tau nggak kalau ternyata cafe yang pernah kita kunjungi itu milik kelompok Phoenix?" Kata Marvin
Ray menaikkan satu alisnya
"Ohya? Hebat juga mereka." Kata Ray
"Yeah, di sana kabarnya mereka sering mengadakan pesta mahasiswa untuk menjaring suara saat pemilihan. You know lah, kayak party-party fraternity gitu." Kata Marvin
Pemuda itu setengah berbisik
"Kabarnya mereka tengah mendekati kelompok Mapala dan Fabulous Sorority. Walau Zalynda bilang akan mendukung kita, tapi belum tentu anggota Fabulous Sorority yang lain."
Ray melirik sekilas ke Andre. Pemuda itu tampak didekati oleh salah satu anggota Fabulous Sorority yang menggelayut manja di pundaknya
Ray mendecih
***
Bugh.. bugh.. bugh
Leo memperhatikan gadis itu dengan lincahnya bermain dengan samsak Lean. Bukan bermain, lebih tepatnya melatih kekuatan dan kecepatan pukulan serta intuisinya. Gadis itu semakin kuat dan lincah. Leo tersenyum
"Na.."
"Ya un.." In sempat menjawab Leo sebelum samsak berputar dan membentur tubuhnya yang menyebabkan gadis itu terjungkal ke belakang
Bruugh..
"Aaw…"
Ina!" Teriak Leo yang segera menolong Ina
Ina terkekeh saat Leo membantunya berdiri
"Harusnya kau fokus. Jangan sekali-kali lepaskan pertahanan dan kuda-kuda mu." Nasehat Leo
"Lagian uncle kenapa panggil Ina? Refleks lah Ina noleh ke uncle." Kata Ina sambil berjalan tertatih ke sofa. Bo*ong dan pinggangnya cukup nyeri membentur lantai
"Uncle cuma mau nyuruh kamu istirahat." Kata Leo
Ina mengambil air mineral dan meneguknya perlahan
"Gimana uncle? Ina sudah lebih lincah kan?* Tanya Ina
Leo mengangguk.
"Bisa menang lawan bang Ray atau Ian?" Tanya Ina lagi
Leo terkekeh
"Bisa. Uncle yakin kamu yang menang karena Ray atau Ian bahkan Endra pun tidak akan berani membalas pukulanmu."
Ina tertawa kecil. Kembali gadis itu meneguk minumnya
"Bunda tidak pernah menyetujui Ina untuk latihan bela diri." Kata Ina
Leo menyimak
"Kata bunda, seorang anak gadis itu harus lemah lembut,santun, kalem.."
Leo terbahak
"Kenapa uncle? Peraturan bunda aneh ya?" Tanya Ina
"Na.. apa kamu tahu Soraya bisa berkelahi?" Tanya Leo
Mata Ina membelalak
"Yang bener? Seingat Ina, bunda nggak pernah tuh main pukul orang sembarangan, apalagi berkelahi. Bunda itu terlihat…"
"Feminin, lemah lembut? Ya.. begitulah dia." Kata Leo
Ina menatap Leo yang sedang melamunkan sesuatu
"Uncle, apa beberapa hari ini uncle bertemu bunda?" Tanya Ina
Leo menghela nafas, lalu balas menatap Ina
"Ya.."
"Apa uncle juga yang pernah memberikan bunda bunga di butik bunda?"
"Ya.."
"Huuft.. sudah Ina duga." Kata Ina sambil menghembuskan nafas kasar
"Memangnya kenapa?" Tanya Leo
"Bang Ray.. dia pernah melihat bunda diberikan bunga oleh lelaki saat di butik. Bang Ray pikir bunda bermain api di belakang ayah, jadi bang Ray marah ke bunda."
"Bagus dong, dengan begitu uncle bisa dengan mudah merebut bundamu.."
"Uncle! Kok jahat siy?!" Teriak Ina
Leo terbahak
"Becanda Na… Uncle hanya memberikan bunga sebagai salam pertemuan kami saja. Tidak lebih."
Ina manyun
"Kenapa uncle memutuskan menemui bunda?" Tanya Ina
"Karena Lean.." kata Leo
"Bang Lean?"
Leo mengangguk
"Lean ingin serius denganmu. Dia harus muncul sekarang untuk bisa berkenalan dengan Ardhi dan Soraya. Mau tidak mau, uncle juga harus muncul."
Pipi Aya terasa memanas. Bang Lean tidak main-main ternyata
Keduanya terdiam
"Na.. bagaimana kalau hari ini antar uncle ketemu bunda? Jangan sampai terjadi salah faham lagi. Kasihan Soraya.." kata Leo
"Uncle.."
"Uncle sampai sekarang masih merasa berdosa pada bundamu akibat peristiwa dahulu.." Leo menunduk
Keduanya kembali terdiam. Ina lalu berdiri dan menghampiri Leo
"Ayo uncle, Ina temenin ketemu bunda.."
ga seru klo ga baca novel sebelumnya..
cerita ini sebenarnya sangat bagus
ayo bantu ramaikan
sedih tapi Yo pingin ketawa
mati aku 🤣🤣🤣
ternyata kisahnya sambung menyambung...
aku jadi fans mu sekarang Thor...
cerita mu keren keren...