Jangan di baca, novel ini sedang diperbaiki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkeliling kota Medan
Bonar mengajak Reino dan keluarganya berkeliling kota Medan, tak lupa juga dia mengajak Raja dan Dino.
Bonar menjelaskan setiap tempat yang mereka lalui, dan tibalah mereka di depan istana megah yang di dominasi warna kuning cerah.
"Wah ... jadi ini yang namanya istana Maimun? Bagus sekali!" Ujar Vie heboh, selama ini dia hanya melihat gambar istana itu di buku dan internet saja.
"Iya, istana Maimun adalah peninggalan Kesultanan Deli, ini ikonnya kota Medan. Istana ini dibangun pada tahun 1888 oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, seorang keturunan raja ke-9 dari Kesultanan Deli. Bangunan bersejarah ini kemudian diresmikan pada 18 Mei 1891" Bonar menjelaskan dengan rinci.
"Hmmm ... pantas saja Medan itu dijuluki tanah Deli." Dino berkomentar.
"Iya, ini tanah suku Melayu Deli. Tapi karena suku Batak juga banyak berdomisili disini, jadilah di kota ini lebih terkenal dengan kata Horas, yaitu salam khas Batak. Dan yang membuat Medan itu semakin indah karena walaupun disini ada berbagai suku, tapi semuanya saling menghargai dan akur." Jawab Bonar.
Vie dan semua orang begitu terkesan dengan penjelasan dari Bonar itu.
Mereka pun kemudian mengambil beberapa foto di depan istana Maimun, dan Vie orang yang paling antusias.
***
Setelah puas melihat-lihat dan berfoto ria dia istana Maimun, Bonar pun mengajak mereka ke semua ke ikon kota Medan lainnya yang tak kalah terkenal.
"Kalau yang ini salah satu mesjid terbesar di kota Medan, namanya Mesjid Raya Al Mashun. Ini adalah mesjid bersejarah peninggalan Kesultanan Deli juga dan menjadi saksi sejarah kehebatan suku Melayu dari sang pemilik, yaitu Sultan Deli. Mesjid ini dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909." Bonar kembali menjelaskan tentang mesjid bersejarah nan megah itu.
"Wah ... hebat sekali. Mesjid ini tak kalah indahnya dengan istana Maimun tadi. Tapi apa mesjid ini masih digunakan untuk beribadah?" Tanya Reino.
"Tentu saja, Bang. Mesjid ini masih menjadi tempat beribadah masyarakat kota Medan, bahkan setiap tahun di bulan puasa, di mesjid ini selalu diadakan pembagian bubur sup gratis untuk berbuka." Lanjut Bonar.
"Enak sekali? Andai saja aku bisa kesini saat bulan puasa, pasti aku bisa makan bubur sup gratis." Celetuk Dino.
"Otakmu hanya dipenuhi dengan makanan saja." Sela Raja.
"Biarin! Daripada dipenuhi pikiran kotor." Sahut Dino seenaknya.
"Bukankah otakmu memang sudah kotor ya?" Balas Raja.
"Itukan otakmu!" Jawab Dino.
"Hee ... kalian ini apa-apaan sih? Selalu saja meributkan hal-hal yang tidak penting!" Protes Ayumi.
"Boneka Jepang jangan ikut-ikutan!" Sergah Dino.
"Iya, mending diam saja deh Shizuka!" Raja menimpali.
"Dasar tidak tahu malu!" Ayumi melengos.
"Kalau ribut terus klen, ku buang klen ke penangkaran buaya Asam Kumbang." Ancam Bonar.
"Ampun, Tulang!" Cicit duo gesrek.
Reino, Venus, Andra dan Vie hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah duo gesrek yang selalu membuat keributan.
Dan dari semua orang yang ada di rombongan ini, hanya Andra dan Venus lah yang paling pendiam.
Andra sedikit banyak memang sudah mengetahui tentang kota Medan, karena sebagai seorang mantan guru, dia harus tahu banyak hal. Sementara Venus memang tidak begitu ingin tahu, makanya dia lebih memilih menjadi pendengar saja.
***
Dari Mesjid Raya Al Mashun, mereka bergerak menuju arah pulang dan kali ini Bonar mengajak mereka ke sebuah tempat yang selalu menjadi tujuan wisatawan jika berkunjung ke kota Medan.
"Waow ... durian!" Teriak Dino heboh saat melihat tumpukan durian di sebuah lapak jualan.
"Ini salah satu tempat penjualan durian yang tak pernah habis, yaitu Ucok Durian. Disini kalian bisa bebas makan durian sepuasnya. Jangan bilang pernah ke Medan kalau belum mampir kesini." Ucap Bonar penuh semangat.
"Wuih ... kita boleh makan durian sepuasnya, Tulang?" Tanya Dino antusias.
Bonar hanya mengangguk.
"Gratis?" Lanjut Dino lagi.
"Makannya gratis, tapi begitu angkat kaki bayar." Sahut Bonar.
"Yeee ... sama saja." Dino melengos.
"Dasar kaum dhuafa, maunya cari gratisan saja." Sela Vie sombong.
"Hari gini mana ada yang gratis! Kamar mandi umum saja bayar." Raja ikut menimpali.
"Kali saja!" Dino cemberut.
"Sudah-sudah! Yuk kita makan durian dulu." Bonar menengahi dan mengajak mereka menikmati durian yang sungguh menggugah selera.
"Mantap kali, bah!" Ucap Raja sembari menjilati jari jemarinya yang terdapat sisa-sisa durian.
"Ternyata durian Medan luar biasa." Ucap Reino tak mau kalah.
"Iya, Bang. Durian disini persis seperti anak Medan. Keras di luar tapi lembut dan manis di dalamnya. Eeaaakk ..." Ujar Bonar bangga, dan disambut gelak tawa semua orang.
"Sayang, kau jangan makan terlalu banyak! Kasihan anak kita, kau kan harus menyusui." Akhirnya Andra bersuara untuk memperingati sang istri yang mulai kalap makannya.
"Hmmm ... iya." Jawab Vie.
Dan disini, Dino lah yang paling rakus. Dia menggadaikan rasa malunya demi bisa menikmati durian sampai puas.
Dan satu-satunya yang tidak bisa makan durian itu adalah baby Al, karena dia masih terlalu kecil. Jadi baby Al hanya bisa menelan ludah melihat Mamanya dan semua orang menikmati raja buah itu.
***
sikit kali kutengok,,🤭🤭
makasih cerita kocaknya thorrr..👍👍
Dino keren,,to the point & tegas meskipun kata-katanya g d saring tapi aku suka karakter laki2 tegas berterus terang gitu..suka bilang suka enggak bilang enggak..👍👍
ahhh cieee Ayumi menang banyak nih..🤭🤭🤭
ternyata kakak othor penggemar naruto sampe hafal nama2 jurusnya..
Aq tunggu bucin nya Raja 🤭