Ibarat air susu dibalas dengan air tuba. Itulah yang Mauli dapatkan. Niat hati ingin membantu sahabatnya Naila, Mauli justru mengalami akibatnya.
Mauli yang sudah menjalani hidup berumah tangga selama 7 tahun harus kehilangan suaminya karena Akmal mencintai Naila sahabatnya.
Awalnya Mauli dan Akmal ingin menyelamatkan Naila yang selalu mengalami kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Akan tetapi seiring berjalannya waktu kebaikan dan perhatian Akmal kepada Naila berubah menjadi cinta.
Begitupun sebaliknya, Naila yang selama ini selalu merasakan kesedihan dan kepahitan dalam hidupnya justru menjadi angin segar karena kehadiran Akmal.
Bagaimana kehidupan rumah tangga Mauli dan Akmal selanjutnya?
Bagaimana pula persahabatan antara Mauli dan Naila?
Yuk ikuti kisah mereka selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ERNI HANDAYANI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erni Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Besar
Dalam perjalanan Naila tidak sabar agar hari ini cepat berlalu. Naila ingin segera menceritakan semua yang ada dalam dadanya.
Keesokan harinya Naila datang ke rumah Mauli. Kali ini Naila beruntung karena Mauli dan Akmal tidak ada pekerjaan. Jadi mereka bisa menghabiskan banyak waktu untuk berbincang. Akmal yang mengetahui kedatangan Naila tidak sabar untuk segera menemuinya.
"Naila apa kau sudah datang dari tadi?"
apa Mauli yang memang sejak kemarin sudah menunggu kedatangan Naila.
"Iya, sejak kemarin aku tidak sabar untuk segera datang ke sini. Aku ingin menceritakan segalanya kepadamu." Jelas Naila yang langsung memeluk Mauli.
"Ada apa Naila? Apa kau baik-baik saja?"
Tanya Mauli yang merasa heran karena tiba-tiba Naila memeluknya.
"Aku lega karena akhirnya aku berani menghadapi Abraham. Aku menamparnya dan aku sudah bilang jika aku ingin segera berpisah dengannya." Dengan wajah yang ceria Naila mulai menceritakan semuanya.
Mauli yang mendengarkan cerita Naila sejak tadi merasa senang karena akhirnya Naila sangat berani. Mauli sangat bahagia karena akhirnya Naila akan berpisah dari Abraham. "Sayang, aku senang karena akhirnya Naila akan berpisah dari Abraham" Mauli langsung memeluk Akmal karena ia begitu bahagia.
"Aku juga ikut bahagia sayang."
Akmal kembali membalas pelukan Mauli.
Dalam hatinya Akmal merasa lega dan sangat bahagia karena akhirnya Naila benar-benar berpisah dari Abraham. Akmal lega karena sekarang Naila sudah terbebas dari Abraham.
"Sayang, apa kau memikirkan sesuatu."
Mauli melambaikan tangannya ke hadapan Akmal.
"Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa."
Akmal berusaha mengelak dari lamunannya.
"Bagaimana jika besok kita makan direstoran untuk merayakan keberanian Naila?" Ajak Akmal.
"Benarkah sayang? I love you."
Mauli merasa senang karena ajakan Akmal.
"Iya sayang, i love you too." Jelas Akmal yang langsung memeluk Mauli.
Keesokan paginya saat Mauli selesai mandi, Mauli mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah ke wajah Akmal. Karena Mauli perhatikan Akmal masih belum terbangun dari tidurnya.
"Sayang, kemarilah." Akmal yang mulai membukakan matanya tiba-tiba memeluk Mauli dan mengajak Mauli tidur bersamanya.
"Sayang, lepaskan aku." Mauli berusaha melepaskan pelukan Akmal.
Bukannya melepaskan tangannya yang melingkar pada tubuh Mauli, Akmal justru semakin mempererat pelukannya. Dan mereka berada dalam satu selimut.
"Sayang diamlah, kita jarang mendapatkan waktu yang berkualitas seperti ini. Aku ingin selalu bersamamu dan selalu memelukmu." Pinta Akmal.
"Baiklah sayang, lakukan apa yang kau inginkan." Jawab Mauli.
Mauli menyerahkan apa yang akan dilakukan Akmal, karena Mauli sadar jika dirinya terlalu sibuk bekerja. Karena kelelahan bekerja Mauli terkadang melupakan Akmal.
Saat itulah waktu yang berkualitas diantara mereka pun terjadi. Sesuatu yang jarang mereka lakukan karena kesibukan mereka masing-masing. Waktu yang sangat jarang mereka habiskan bersama.
Sebenarnya Akmal berusaha mengalihkan perhatiannya. Sejak semalam Akmal tidak bisa tertidur karena pikirannya selalu memikirkan Naila. Setelah menjelang subuh barulah ia bisa tertidur.
"Apa kamu sudah puas sayang?"
Tanya Mauli yang merasa canggung.
"Iya sayang, terima kasih karena sudah melayaniku. Cup.." Akmal mengecup pucuk kepala Mauli.
"Sama-sama sayang. Yasudah sayang aku akan mandi. Bukannya kita akan makan diluar." Setelah mandi mereka pun keluar kamar untuk menemui Naila.
"Naila ayo bersiap kita makan diluar."
Ajak Mauli.
"Iya sayang." Dengan melangkahkan kakiknya mereka pergi ke luar kamar.
"Naila ayo kita makan diluar." Ajak Mauli.
"Mmmhh, kalian saja. Aku akan dirumah saja." Naila merasa tidak enak jika harus pergi bertiga.
"Ayolah, kita kan jarang pergi bersama."
Mauli merengek layaknya anak kecil.
"Baiklah kalau kau memaksa." Naila pun mengiyakan dan segera bersiap-siap.
Beberapa saat kemudian keluar dari kamarnya. Akmal terpesona melihat kecantikan Naila yang tampak anggun menggunakan dress merah itu ditambah senyumannya yang membuat Akmal semakin jatuh cinta pada Naila.
"Perasaan apa ini. Apa yang aku pikirkan? Naila terlihat begitu anggun. Tidak pernah aku melihatnya secantik ini." Gumam batin Akmal.
"Hey! kenapa bengong? Apa kau terpesona melihat kecantikan Naila?" Mauli tiba-tiba melambaikan tangannya di hadapan wajah Akmal.
"Ti, tidak biasa saja." Akmal pura-pura tidak memperhatikan Naila.
"Naila memang terlihat berbeda dan sangat cantik menggunakan dress itu. Aku saja terpesona melihatnya. Temanku memang cantik." Mauli memuji Naila sambil memegangi pundaknya.
"Apaan sih, biasa aja.." Naila yang tersipu malu nampak merah dikedua pipinya.
"Yasudah, ayo kita jalan." Ajak Akmal mengalihkan pembicaraan mereka.
Mereka bertiga akhirnya pergi ke salah satu restoran yang sangat indah di kota itu. Suasana kota yang tidak terlalu panas, tidak juga hujan seakan mendukung acara mereka. Didalam mobil Mauli tidak berhenti bicara.
Akmal sesekali memandang Naila dari balik kaca spion. Naila yang tak sengaja memergoki Akmal yang sedang melihatnya merasa malu dan mengalihkan pandangannya.
"Terima kasih Akmal, kau memang malaikatku. Tanpamu aku tidak akan seberani ini. Apa yang aku pikirkan? Mengapa tiba-tiba aku memikirkan Akmal, suami temanku sendiri." Gumam batin Naila.
Setelah satu jam kemudian, mereka tiba di restoran itu. Mauli mulai memesan makanan.
"Selamat datang tuan, nyonya?"
Sapa salah seorang waiters yang ada direstoran itu sambil memberikan buku menu.
"Naila kamu mau makan apa?" Tanya Naila dengan matanya yang sibuk melihat buku menu.
"Aku samakan saja denganmu." Jawab Naila.
"Kamu sayang, mau makan apa?"
Mauli menanyakan Akmal yang terlihat sedang melamun.
"Aku juga samakan saja dengan kalian."
Akmal seketika terbangun dari lamunannya.
"Ada lagi yang lainnya nyonya?"
Waiters itu menuliskan pesanan Mauli dan berlalu menyiapkan makanannya.
Sambil menunggu pesanan mereka membicarakan tentang perpisahan Naila. Naila meminta maaf kepada Mauli karena ia pernah menyakitinya dengan memilih Abraham. Akan tetapi walau bagaimana pun Mauli tetap memaafkan Naila.
Akmal yang merasa salah tingkah pamit kepada Mauli dan Naila untuk pergi ke toilet sebentar. Tak berapa lama ada seseorang yang menghampiri mereka.
"Hai, kalian sedang ada disini juga."
Sapa seorang pria itu.
"Hai, kamu Andri ya? Apa kabar? Long time no see." Sapa Mauli.
"Aku baik, kalian bagaimana?"
Tanya Andri yang dulu teman satu sekolah saat mereka Sekolah Menenga Atas (SMA). Andri merupakan pacar pertama Naila. Dulu mereka adalah pasangan yang begitu serasi. Namun hubungan mereka harus kandas di tengah jalan karena Andri berselingkuh dengan wanita lain.
Hal itulah yang membuat Naila tidak bisa melupakan pacar pertamanya saat itu. Walaupun kejadian itu sudah berlalu begitu lama, namun kenangan itu seakan tidak pernah mau pergi dari pikiran Naila.
Seseorang yang sangat ia cintai, ternyata dia tega mengkhianati Naila. Dalam pikirannya seolah Naila kembali ke dalam kisah beberapa tahun silam. Kisah yang memiliki begitu banyak kenangan.